BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab. 22. Mencari Posisi Aman



Di tempat mangkal, Stenli pun sedang memikirkan sikap yang di tunjukkan oleh Iin.


"Sepertinya iin sangat menyukai Bobby, tetapi mengapa Bobby tidak menjemputnya!?".


"Woi! Jangan terlalu serius! Apa yang sedang kamu pikirkan sehingga terlihat seserius ini?".


Kata - kata Adi yang adalah rekan se profesinya membuyarkan lamunan Stenli.


"Apakah kamu sedang memikirkan wanita yang tadi itu?". Adi lanjut bertanya.


"Ah, tidak! Aku tidak sedang memikirkannya". Jawab Stenli yang terlihat menjadi salah tingkah.


"Terus, apa yang sedang kamu pikirkan?".


"Kenapa kamu ingin mengetahui apa yang aku pikirkan? Pikirkan saja urusanMu sendiri". Ucap Stenli dengan nada suara serius.


"Oh, jadi seperti itu tanggapanMu? Baiklah, untuk kedepannya aku tidak mau lagi menjadi tempatMu untuk curhat". Balas Adi.


"Bukan begitu maksudKu". Stenli menyela perkataan Adi.


"Terus, apa maksud dari perkataanMu barusan!?".


"Sudahlah! Kita tidak usah membahasnya lagi...tidak ada gunanya kita membahas hal itu". Stenli menanggapi pertanyaan Adi.


"Jadi apa yang harus kita bahas?". Adi tetap melontarkan pertanyaan kepada rekan se profesinya itu.


***


Bobby yang sudah selesai dengan aktivitasnya dirumah kini dengan penuh semangat berniat untuk kembali ke tempat mangkalnya sebagai tukang ojek.


Di saat dia hendak melewati depan rumah dimana Iin tinggal, nampak sosok perempuan muda sedang duduk di pores rumah tersebut.


Walau Bobby mengenalnya, akan tetapi dia bersikap seperti tidak melihat sosok perempuan muda itu.


Disaat Bobby hendak menambah kecepatan lari sepeda motor miliknya, terdengar suara seorang wanita memanggil namanya.


"Bobby...!!!". Panggil Iin.


Meskipun Bobby mendengar panggilan tersebut, akan tetapi dia tetap melanjutkan niatnya untuk menuju ke tempat biasa dia mangkal.


"Sial! Apakah dia tidak mendengar aku memanggilnya!?".


"Itulah akibatnya jika kebiasaan ngebut itu tidak di hilangkan".


Iin terus mengerutu karena Bobby tidak merespon panggilannya.


Akhirnya gadis itu bangkit dari tempat duduknya dan berjalan ke sisi jalan agar dirinya bisa lebih awal melihat setiap tukang ojek yang akan lewat.


Dan benar saja, tidak membutuhkan waktu yang lama salah satu rekan tukang ojek pun kini sudah terlihat sedang menuju ke arahnya.


Iin pun segera menghentikan tukang ojek tersebut dan langsung menitip pesan agar bisa di sampaikan kepada Bobby.


"Pak, tolong sampaikan kepada Bobby, aku menunggunya disini yah!?". Ucap Iin dengan ramah.


"Ok, nanti saya sampaikan". Jawab tukang ojek tersebut.


"Pak, terima kasih yah!?".


"Iya, sama - sama". Balas tukang ojek tersebut dan langsung melanjutkan perjalanannya.


Iin pun segera kembali di tempatnya semula dan duduk untuk menunggu Bobby.


Karena pada saat itu jam sudah menunjukkan pukul 8 malam, sosok wanita cantik kini turun dari angkot.


Di saat tatapan Bobby dan Siska saling bertemu, keduanya pun saling tersenyum.


"Ojek?". Tanya seorang tukang ojek.


"Iya, tetapi aku sudah memberitahukan terlebih dahulu kepada Bobby untuk menjemputKu disini". Jawab Siska.


Mendengar perkataan Siska, hati Bobby langsung berbunga - bunga.


"Bob! Ternyata kamu sangat populer juga di kalangan para gadis". Ucap Diksi sambil tersenyum menggoda Bobby.


"Ach, kamu bisa aja...menurutKu tidak begitu juga". Ujar Bobby menanggapi candaan Diksi.


"Ayo Bob, kita pergi". Ajak Siska yang tidak mau mendengar para tukang ojek menggoda Bobby.


Mendengar ajakan Siska, Bobby segera bangkit dan berjalan menuju kearah dimana sepeda motornya berada.


Keduanya pun saling berboncengan dan pergi meninggalkan tempat itu.


Tukang ojek yang dititipkan pesan oleh Iin saat berpapasan langsung berkata.


"Bob! Kamu sedang di tunggu di rumah Om Guntur". Ujar sang tukang ojek dengan suara yang lantang.


"Siapa lagi yang sedang menunggu diriKu!?". Gumam Bobby.


"Mungkin itu langganan ojekMu". Ucap Siska sekenanya saja.


"Aku juga tidak tahu". Jawab Bobby yang tidak ingin membahas masalah itu.


Tidak lama kemudian, akhirnya mereka melewati depan rumah Om Guntur, dimana Iin sedang menunggu Bobby untuk menemuinya.


Bobby pun sempat melirik ke arah rumah tersebut.


Di saat Bobby melirik, bertepatan dengan itu, Iin juga sedang menatap ke arah jalan.


Sehingga Iin bisa melihat Bobby yang lewat dan sedang membonceng Siska.


"Bukankah dia baru saja lewat!?".


"Bagaimana mungkin dia sudah mendapat giliran untuk mengantar penumpang!?".


"Siapa perempuan itu!?".


Saat Iin mmelihat Siska yang sedang berboncengan dengan Bobby, banyak pertanyaan yang muncul di benaknya.


Karena yang Iin ketahui, setiap ojek yang mangkal itu harus antri unntuk menunggu giliran mereka.


Sehingga tidak mungkin Bobby yang baru saja tiba di pangkalan dan langsung bisa mendapatkan gilirannya.


Apa lagi saat itu waktu ledakan penumpang itu sudah lewat.


Jadi membutuhkan waktu yang tidak singkat untuk mendapatkan giliran.


Setelah melewati depan rumah Om Guntur, sikap Bobby masih seperti biasa.


Seakan dirinya tidak melihat bahwa Iin sedang duduk di pores rumah tersebut.


Sedangkan Siska yang sudah mengetahui rumah Om Guntur, sempat juga melihat ada sosok wanita yang duduk di pores rumah tersebut.


Karena penasaran, akhirnya Siska pun melontarkan pertanyaan kepada Bobby.


"Apakah kamu melihat perempuan yang sedang duduk di depan rumah Om Guntur!?".


"Yang mana? Aku tidak melihatnya". Jawab Bobby menanggapi pertanyaan Siska.


"Mana mungkin kamu tidak melihatnya, bukankah tukang ojek yang tadi mengatakan bahwa kamu sedang di tunggu oleh seseorang di rumah Om Guntur!?". Ucap Siska seakan ingin mengingatkan lagi.


"Tidak, aku tidak melihatnya...bagaimana mungkin aku yang sedang fokus untuk mengendarai sepeda motor ini dan bisa menyempatkan untuk melirik ke tempat lain!? Itu tidak mungkin bisa aku lakukan". Tutur Bobby yang tidak ingin Siska membahas mengenai hal itu.


Mendengar perkataan Bobby, Siska hanya bisa tersenyum.


"Apakah aku ini terlihat masih seperti seorang bocah? Sehingga kamu ingin menyembunyikan hal itu dariKu?". Balas Siska.


"Bukan seperti itu, akan tetapi memang benar aku tidak melihat jika ada seorang perempuan yang duduk di depan rumah Om Guntur". Bobby tetap teguh mempertahankan apa yang sudah dia katakan.


"Oh, jadi begitu yah!? Baiklah! Aku percaya kepadaMu". Ucap Siska yang juga sudah tidak ingin memaksakan kehendaknya.


"Bagaimana dengan kuliahMu? Apakah berjalan dengan lancar?". Tanya Bobby untuk mengganti topik pembicaraan.


"Baik, semuanya berjalan dengan lancar". Jawab Siska.


"Bagaimana denganMu? Apakah aktivitasMu hari ini berjalan dengan baik?". Lanjut Siska bertanya kepada Bobby.


"Iya, semuanya berjalan seperti biasanya".


"Sis! Kapan kamu memiliki waktu untuk kita jalan berdua?". Lanjut Bobby.


"Maksudnya? Jalan berdua yang bagaimana?". Tanya Siska.


"MaksudKu, apa kamu punya waktu untuk santai berdua denganKu!?". Jelas Bobby.


"Oh, jadi begitu yah!? Terus, kapan kamu punya waktu?". Siska kembali bertanya.


"MenurutKu, kapan saja aku punya waktu jika itu untuk bersama denganMu". Balas Bobby yang tidak secara langsung memberitahukan bahwa Siska adalah wanita yang sangat penting untuk dirinya.


"Oh, jadi begitu yah!? Kalau begitu, bagaimana jika malam ini saja?". Ucap Siska.


"Apakah bisa malam ini?". Tanya Bobby seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.


"Ya iyalah! Terus kamu anggap perkataanKu barusan hanya sekedar ocehan semata?". Ujar Siska.


"Ok, aku percaya...kalau begitu, bagaimana kalau kita pergi ke Boulevard dan duduk santai disana? Apakah kamu suka?". Bobby menawarkan.


"Terserah kamu saja". Siska menanggapi tawaran Bobby.


Mendengar tanggapan Siska, Bobby pun segera merubah arah tujuan mereka berdua.


~Bersambung~