
Saat pemuda yang di pukuli oleh Bobby mencoba untuk bangkit, remaja itu tidak memberikan kesempatan kepadanya.
Bobby langsung melompat melewati meja yang berada di depannya dan hendak inging menginjak dada pemuda itu.
Saat kakinya baru saja hendak mengenai dada pemuda tersebut, tangan pemuda itu langsung bisa memblok dengan kedua tangannya.
Kedua kaki Bobby langsung terjatuh dan menginjak permukaan tanah yang berada di samping tubuh pemuda tersebut.
Remaja itu pun kemudian langsung kembali menendang bagian wajah dari pemuda yang tubuhnya masih terbaring di tanah.
Karena pemuda itu masih bisa menangkis tendangan yang di lancarkan oleh Bobby, remaja itu langsung bertambah geram.
Bobby langsung meraih pisau badik yang berada di pinggangnya untuk menikam pemuda itu.
Angger dengan cepat langsung memeluk tubuh Bobby dari belakang saat dirinya melihat remaja itu ingin menikam pemuda yang sedang terbaring di tanah itu.
Saat Angger memeluk tubuh Bobby untuk menahannya, pemuda yang di pukuli itu pun langsung bangkit dan melarikan diri saat melihat di tangan remaja itu kini sudah ada sebilah pisau badik.
Bobby pun langsung memarahi Angger.
"Ngger! Lepaskan aku! Jangan kamu menahanKu untuk menikamnya!." Teriak Bobby dengan geram.
"Jangan! Nanti kamu bisa membunuhnya!." Ujar Angger.
"Memang aku ingin membunuhnya, agar dia tahu, tidak boleh bersikap sombong dan sok jagoan di kampung kita ini!." Tutur Bobby menanggapi perkataan Angger.
Karena Angger merasa posisi pemuda tersebut sudah tidak bisa di kejar oleh Bobby, akhirnya Angger pun melepaskan pelukannya.
Orang - orang yang awalnya duduk serta meneguk minuman keras di tempat itu langsung membujuk Bobby untuk meredahkan emosinya.
Mereka pun kembali duduk dan melanjutkan kegiatan mereka tersebut.
Tidak lama kemudian, pemuda itu kini sudah kembali dengan membawa parang di tangan kanannya untuk mencari Bobby.
Saat tiba di tempat tersebut, pemuda itu langsung berteriak dan memanggil nama Bobby.
"Bobby! Keluar kamu! Mari kita bertarung disini untuk menentukan siapa yang terbaik di antara kita!."
Mendengar undangan tersebut, remaja itu langsung berdiri dan bersiap untuk keluar.
Sebelum dirinya keluar dari tempat dimana dia duduk, remaja itu langsung di ingatkan oleh Luter kakaknya.
"Di tangannya ada sebilah parang, jika kamu ingin menghadapinya, itu akan membuat salah satu dari kalian berdua akan terbunuh!." Ujar Luter.
Bobby tidak mendengarkan apa yang Luter katakan.
Remaja itu tetap keluar dan langsung meraih gagang sapu ijuk dan di pegang dengan tangan kirinya untuk menangkis tebasan parang pemuda tersebut.
Sedangkan di tangan kanannya kini dia telah menggenggam pisau badik miliknya.
Remaja itu langsung keluar ke jalan dimana pemuda itu berada sambil berkata.
"Ayo! Jika itu mau Mu! Dengan senang hati aku juga ingin membunuhMu!." Tutur Bobby sambil berjalan mendekat ke arah pemuda tersebut.
Melihat keberanian remaja itu, kini pemuda tersebut langsung waspada dan berhati - hati untuk menyerang Bobby dengan tebasan parangnya.
Bobby tetap mendekati pemuda itu yang kini mulai melangkah mundur.
Remaja itu berpikir, karena saat itu dia menggunakan pisau badik, jadi seharusnya dia harus bertarung jarak dekat dengan pemuda tersebut.
Saat pemuda itu sedang melangkah mundur Bobby langsung berpikir untuk masuk mendekati tubuh pemuda itu dan langsung menikamnya tepat di lambung pemuda itu.
Dan benar saja, bertepatan dengan salah satu langkah kaki pemuda itu terayunkan, di saat bersamaan dengan itu pun Bobby langsung dengan cepat mendekati tubuh pemuda itu dan langsung menikamnya.
Pergerakan Bobby tersebut langsung di sambut juga dengan tebasan parang lemuda itu.
Namun remaja itu sudah mengantisipasi serangan tebasan tersebut dengan gagang sapu ijuk yang terbuat dari batangan bambu yang bisa menahan tebasan itu.
Tidak hanya sampai di situ saja, remaja itu terus melancarkan tikamannya ke tubuh pemuda itu, sehingga pemuda itu langsung melarikan diri saat sudah merasa bahwa dirinya sudah terluka dengan beberapa luka tikaman di beberapa bagian tubuhnya.
Remaja itu langsung menjilati bilah pisau badiknya yang terdapat noda darah milik sang korban.
Hal itu di lakukannya agar sang korban tidak akan berani lagi kepadanya.
Hal itu di ketahuinya dari beberapa orang tua yang mengerti tentang sesuatu yang berbau mistik.
Setelah kejadian tersebut, akhirnya semua orang yang ada di tempat tersebut langsung membubarkan diri.
Sedangkan kelompok yang datang bersama - sama dengan Bobby langsung juga kembali ke rumah mereka masing - masing dengan hati, pikiran serta perasaan yang was - was.
Semuanya berpikir, pasti tidak lama lagi anggota dari kepolisian akan datang untuk mencari Bobby dan juga mereka sebagai saksinya.
Dan benar saja, sejam kemudian, mobil patroli dari kepolisian pun tiba di tempat kejadian perkara (TKP).
Sebagian dari mereka langsung mendatangi rumah dimana Bobby dan lainnya duduk sambil menikmati minuman keras tersebut.
Hal itu guna kepentingan penyelidikan untuk menggali kebenaran yang sebenar - benarnya agar mereka tidak salah menangkap orang yang di duga keras telah melakukan tindak pidana penganiayaan tersebut.
Sedangkan sebagian lainnya juga langsung pergi untuk menyergap dan menangkap Bobby.
Tempat yang pertama - tama mereka tuju adalah kediaman kepala lingkungan.
Hal itu di lakukan karena anggota buru sergap tersebut adalah anggota kepolisian resort di kota itu, sehingga mereka belum mengetahui posisi rumah dari Bobby.
Sedangkan di rumah tempat dimana mereka berpesta miras seorang ibu pemilik rumah itu langsung membukakan pintu kepada beberapa anggota dari kepolisian tersebut.
Seorang di antara mereka mulai melontarkan pertanyaan - pertanyaan yang langsung di jawab oleh ibu tersebut dengan lancar.
Mereka pun keluar dari dalam rumah dan ibu itu mulai menjelaskan serta menunjukkan tempat - tempat dimana peristiwa itu terjadi.
Setelah selesai menggali keterangan dari ibu tersebut, sebagian anggota polisi itu langsung kembali ke kantor untuk membuat surat panggilan kepada beberapa orang yang menjadi saksi dari peristiwa itu.
Untuk sebagian anggota polisi yang tergabung di dalam tim buru sergap langsung mengajak kepala lingkungan untuk menunjukkan dimana letak tempat tinggal dari Bobby.
Saat sudah dekat dengan posisi tempat tinggal Bobby, mereka pun langsung mendekati rumah Bobby secara berhati - hati agar tidak bisa di ketahui oleh target mereka itu.
Namun saat mereka menyergap kediaman Bobby, remaja itu bersama kedua kakaknya kini sudah tidak berada di kediaman mereka.
Tim buru sergap tersebut langsung mencari informasi dimana tempat - tempat yang biasanya Bobby kunjungi.
Setelah mengetahuinya, tim tersebut mulai memburu remaja itu.
Sedangkan Bobby bersama kedua kakaknya, kini sedang berada di semak belukar tepat berada sekitar seratus meter di belakang rumah mereka.
Mereka pun mengetahui tim buru sergap itu datang untuk menyergap kediaman mereka.
Setelah tim pemburu itu pergi, ketiganya langsung keluar dari tempat persembunyiannya tersebut.
Bobby pun langsung meminta Luter untuk mengambil beberapa potong pakaiannya untuk persiapan melarikan diri.
Namun sebelum dirinya melarikan diri, remaja itu ingin mengetahui terlebih dahulu bagaimana kondisi korbannya.
Jika korbannya meninggal dunia, Bobby akan langsung menyerahkan diri.
Tetapi jika korbannya selamat, remaja itu akan melarikan diri.
Keesokan harinya, Bobby langsung berpesan kepada kakaknya untuk menyuruh Vence mengecek kondisi dari korbannya tersebut di rumah sakit.
Vence pun menuruti apa yang di perintahkan oleh Bobby.
Hal itu di lakukan Vence sebab dirinya selalu pergi ke rumah sakit untuk menemui ibunya yang bekerja di tempat itu.
~Bersambung~