BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 37. Kecemasan Siska



Beberapa saat kemudian, akhirnya apa yang Siska harapkan pun terwujud. Bobby terlihat melintas didepan rumah Selly sambil membonceng seorang penumpang yang memang tinggal di kompleks itu.


"Akhirnya lewat juga." Pikir Siska dan langsung tersenyum meski sedikit ditahan.


"Kenapa hatiku merasa senang setelah melihat Bobby? Sebenarnya apa yang membuatku merasa seperti ini?" Gumam Siska yang merasa heran dengan perasaannya sendiri.


"Sebenarnya Bobby itu baik juga, tetapi menurutku, bersama Natan bisa membuat masa depan ku akan menjadi lebih baik lagi." Pikir Siska.


Wanita itu segera bangkit dari tempat duduknya dan bersiap untuk menghentikan Bobby saat akan kembali melalui jalan itu.


Saat melewati depan rumah Selly, memang Bobby samar-samar melihat bayangan Siska dengan ekor matanya.


"Apa yang akan dia lakukan?" Pikir Bobby.


"Jika dia berniat untuk menghentikan ku, aku akan tetap bersikap seperti biasa." Lanjutnya.


Setelah selesai mengantarkan penumpangnya, Bobby pun segera berbalik arah untuk kembali ke pangkalan ojeknya.


Dan benar saja, kini Siska telah berdiri di jalan untuk menghentikannya.


Bobby pun tetap menunjukkan sikap yang terlihat tidak membenci wanita itu.


Dia segera menghentikan sepeda motornya tepat di samping Siska.


"Bob...bisakah kau mampir sebentar?" Ucap Siska.


Bobby tidak menjawabnya, namun segera meminggirkan sepeda motor miliknya ke bahu jalan dan segera turun serta langsung berjalan ke arah Siska.


"Ayo..." Ucap Bobby.


Siska pun segera melangkah memasuki pekarangan rumah Selly dan menuju ke kursi yang telah tersedia di pores rumah itu diikuti oleh Bobby dari belakang.


Saat Siska duduk, Bobby pun segera duduk juga di salah satu kursi yang dipisahkan oleh sebuah meja dengan kursi yang diduduki oleh Siska.


"Apa yang ingin kau bicarakan?" Tanya Bobby sambil tersenyum menatap Siska.


"Sepertinya kau terlihat bahagia?" Ucap Siska.


"Jadi kau ingin aku harus terlihat menyedihkan?" Balas Bobby dengan masih mempertahankan senyumnya.


"Tidak...aku tidak bermaksud seperti itu...tetapi kenapa kau tidak menghubungiku sejak kita bertemu di kampusku?" Balas Siska dengan pertanyaan.


"Itu karena aku tidak ingin mengganggumu...kau itu selalu sibuk dengan tugas yang diberikan oleh dosen mu...jadi aku tidak ingin mengganggu waktumu saat mengerjakan tugas-tugas mu." Jawab Bobby untuk memberikan alasan.


"Terus, mengapa kau tidak membalas pesan dan menjawab panggilanku?" Tanya Siska lagi.


"Ohh...sorry...sorry...aku memang sedang menggunakan mode diam untuk ponselku." Jawab Bobby dengan sikap yang terlihat sedikit merasa bersalah dan segera merogoh sakunya.


"Sudahlah...itu sudah tidak penting lagi, sebab saat ini kau sudah ada disini." Siska menghentikan tindakan Bobby.


"Bob...saat ini, aku ingin mengakhiri hubungan kita." Lanjut Siska.


"Kenapa? Apakah itu karena kau ingin fokus dengan kuliahmu?" Tanya Bobby menanggapi perkataan Siska.


Siska pun sejenak terdiam sebelum menjawab pertanyaan Bobby.


"Sis...aku tidak akan marah dengan keputusanmu jika itu demi kuliahmu...yang terpenting adalah, kau telah mencoba untuk menerimaku menjadi pacarmu."


"Tetapi mungkin kau berpikir hubungan kita itu mengganggu kuliah mu, sehingga kau memutuskan untuk mengakhirinya."


"Bob...apa yang kau katakan itu keliru, sebab itu bukanlah alasan sehingga aku ingin mengakhiri hubungan ku denganmu."


"Terus, apa yang menjadi alasannya?" Tanya Bobby.


"Aku sudah memiliki sosok pria yang lebih baik darimu." Ungkap Siska.


"Hmmmphh...apakah pria yang bersama denganmu di kampus itu adalah sosok yang menggantikan posisi ku dihatimu?" Tanya Bobby dengan nada suara yang datar.


"Iya...dialah orangnya." Jawab Siska.


"Memang dia terlihat lebih baik dari ku, untuk itu, aku tidak merasa kecewa dengan keputusanmu itu."


"Setiap manusia pasti selalu berharap mendapatkan sosok yang sempurna untuk bisa menjadi pasangan mereka."


"Namun menurutku, dipilih seseorang lebih baik dari pada memilih seseorang untuk menjadi pasangan kita."


"Apa yang kau maksudkan itu?" Tanya Siska.


"Yang aku maksudkan itu, jika kau dipilih untuk menjadi kekasihnya, itu adalah suatu keberuntungan...tetapi yang kau harus ingat, jika dia memilihmu sekedar untuk bisa dia permainkan, apa gunanya itu?"


"Tetapi jika kau yang memilih dia untuk menjadi pacarmu dan tanpa pertimbangan dia segera menerimamu, itu juga belum bisa menjadi pegangan bahwa kau akan merasa bahagia dengannya."


"Tidak juga, aku tidak berpikir seperti itu...aku hanya sekedar menanggapi saja keputusanmu itu."


"Tetapi ada satu pesanku untukmu...jika dalam waktu satu bulan saja sikapnya terhadap mu telah berubah, berarti dia tidak serius menjalin hubungan dengan mu."


"Sis...terima kasih karena telah menjadi pacarku meskipun waktunya tidak begitu lama...maaf jika aku telah melakukan kesalahan rerhadapmu... Aku pergi dulu." Tutup Bobby dan segera pergi meninggalkan Siska.


Wanita itu hanya duduk terdiam melihat sikap Bobby.


Tidak ada kata-kata yang keluar dari mulut Siska saat Bobby telah pergi dari hadapannya.


Kata-kata pemuda itu terus terngiang di telinganya.


Siska pun segera mengambil ponselnya dan kembali menghubungi pacarnya.


Namun setelah beberapa kali dia menghubungi Natan, pacarnya itu tidak juga menjawab panggilannya itu.


"Apa benar yang Bobby katakan itu?" Pikir Siska.


Hati, pikiran dan perasaan Siska kini mulai tidak tenang, sebab sampai saat itu, Natan belum merespon balik apa yang dia lakukan.


"Jangan sampai itu terjadi disaat aku telah menyerahkan kehormatan ku kepadanya."


"Aku benar-benar tidak akan memaafkan dia."


Kini Siska mulai merasa khawatir dengan hubungannya itu.


"Sis...dimana orang yang berbincang-bincang denganmu? Kemana perginya?" Tanya Selly yang baru saja keluar.


Siska tidak menjawab pertanyaan Selly.


Selly pun segera memperhatikan sikap Siska dan langsung berkata.


"Siapa orang yang membuatmu terlihat seperti ini?" Tanya Selly dengan nada penekanan.


"Sel...tadi itu aku telah memberitahukan kepada Bobby jika hubungan kita telah berakhir...tetapi tanggapan yang dia berikan membuatku kini mulai merasa cemas dengan hubungan yang baru aku jalin itu." Jawab Siska.


"Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?" Tanya Selly penasaran.


"Apa yang Bobby katakan, sepertinya itu telah terjadi." Jawab Siska.


"Apa yang kau maksudkan itu?" Tanya Selly lagi karena tidak mengerti dengan perkataan Siska.


"Intinya dia berkata, jika sudah sebulan menjalani hubunganku dengan Natan dan sikapnya telah berubah, itu berarti dia tidak serius menerima ku sebagai pacarnya." Siska menjelaskan.


"Mengapa kau merasa percaya dengan kata-katanya itu? Yang menjalani hubungan dengan Natan kau sendiri, itu berarti kau yang lebih tahu darinya." Balas Selly menasehati Siska.


"Itu benar...tetapi hampir seharian ini, Natan tidak pernah membalas pesan dan tidak merespon panggilanku." Ucap Siska menanggapi perkataan Selly.


"Jangan berpikir seperti itu, mungkin saat ini dia sedang sibuk." Ucap Selly untuk menghibur.


"Sel...coba kau pikir, apakah kesibukanmu itu bisa membuatmu mengabaikan pacarmu dan tidak merindukannya?" Siska balik bertanya.


"Tidak...aku tetap akan menyempatkan sedikit waktu untuk bisa berkomunikasi dengannya." Jawab Selly.


"Coba kau pikir? Sesibuk apa seseorang sampai tidak bisa merespon sedikitpun pesan dan panggilan tak terjawab dari pacarnya?" Lanjut Siska.


Selly hanya bisa terdiam mendengar apa yang Siska katakan kepadanya.


"Apakah ini sebuah karma bagiku?" Ucap Siska lagi.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Bobby itu bukanlah suamimu, mana mungkin kau berpikir itu sebuah karma!?" Selly menanggapi.


"Benar yang kau katakan itu, tetapi aku telah mengkhianati perasaannya terhadapku." Balas Siska.


"Iya...tetapi kau itu hanya berpacaran dengannya, sehingga tidak ada hubungannya dengan karma."


Selly bersih kukuh mempertahankan argumennya untuk bisa membuat Siska tidak lagi mencemaskan apa yang Bobby katakan.


Namun Siska tetap merasa terbeban dengan perkataan Bobby.


"Sis...sebentar kau akan pergi ke kampus, jadi itu bisa langsung dibuktikan oleh mu." Ucap Selly lagi menghibur Siska.


"Baiklah, aku akan tetap berusaha untuk tenang dan akan menanyakan hal itu kepada Natan saat bertemu nanti." Siska menanggapi perkataan Selly.


Keduanya pun segera memasuki rumah dan langsung menutup pintu depan seperti biasanya.


Itu karena hanya mereka berdua yang tinggal dirumah tersebut, sehingga mereka selalu berhati-hati.


~Bersambung~