BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 27. Ketakutan Dan Kenikmatan



Situasi malam itu semakin memanas, sebab tangan dan bibir Bobby semakin berani untuk bergerilya di bibir dan bagian sensitif milik Iin.


Karena Iin juga mulai terpengaruh dengan apa yang dilakukan oleh Bobby, sehingga wanita itu juga mulai mengikuti permainan yang pemuda itu mainkan.


Saat keduanya ingin melangkah lebih jauh lagi, seberkas cahaya terang menerangi tempat dimana mereka berdua berada dan membuat keduanya terkejut dan menghentikan tindakan mereka.


Bobby langsung melihat ke arah daratan dimana sudah terlihat sebuah mobil terparkir dan memiliki lampu berwarna biru diatasnya.


"Ayo kita bergegas...sepertinya itu adalah petugas dari kepolisian." Tutur Bobby dan segera merapikan kembali pakaiannya.


Hal yang sama juga dilakukan oleh Iin dengan perasaan yang sangat takut...tanpa sadar wanita itu pun langsung menangis.


Keduanya pun segera pergi dari tempat itu dan berjalan kearah dimana cahaya senter itu berasal.


Beberapa pria langsung menuruni anak tangga untuk mendekati keduanya.


"Sudah...jangan menangis." Ucap Bobby menghibur Iin yang sudah di selimuti rasa takut.


"Apa yang kalian lakukan disini?" Tanya seorang pria berambut cepak dan bertubuh kekar yang memegang senter ditangannya yang datang bersama dengan beberapa orang lainnya yang menggunakan seragam yang sama.


"Kami hanya duduk saja untuk menikmati udara segar dipantai ini." Jawab Bobby.


"Kalian berdua tinggal dimana?" Tanya pria itu lagi.


Bobby pun memberitahukan jika keduanya berasal dari kampung yang dekat dengan tempat itu.


"Berapa usiamu?" Tanya petugas itu sambil menatap kearah Bobby.


"Sembilan belas tahun." Jawab Bobby.


"Dan kau...berapa usiamu?" Tanya petugas itu lagi sambil menatap ke arah Iin.


"Delapan belas tahun." Jawab Iin.


"Coba tunjukkan identitas kalian berdua." Ucap petugas itu lagi.


Bobby langsung mengambil kartu identitasnya dan menyerahkan kepada petugas itu.


Setelah melihat identitas Bobby, petugas itu pun merasa percaya jika Bobby tinggal tidak jauh dari tempat itu serta telah berusia sembilan belas tahun.


Petugas itu pun kembali menatap ke arah Iin yang masih terisak karena merasa takut dan berkata "Mana kartu identitasmu?"


Iin pun segera memberikan kartu Identitas yang sudah berada ditangannya.


Petugas itu pun melihat usia serta tempat tinggal dari Iin.


Petugas itu pun berkata "Usia mu memang sebentar lagi akan genap delapan belas tahun, tetapi tempat tinggalmu tidak sama dengan tempat tinggalnya."


"Kami baru beberapa bulan tinggal disini." Jawab Iin dengan wajah tertunduk.


"Ini...ambil kartu Identitas mu...sudah selarut ini, mengapa anak gadis seperti mu masih belum pulang ke rumah?"


Iin hanya bisa terdiam dan tidak berani untuk menanggapi perkataan petugas itu.


"Kau juga, sebagai seorang pria sejati, seharusnya kau bertamu ke rumahnya, bukan mengajaknya ke tempat yang sepi seperti ini...itu bisa membuat kalian melakukan hal yang tidak-tidak ditempat ini." Tutur petugas itu menasehati.


"Aku yang mengajaknya kesini." Iin menanggapi karena tidak ingin Bobby dipersalahkan.


Petugas itu hanya bisa terdiam sambil menggelengkan kepalanya dan lanjut berkata "Cepat pulang...ini sudah bukan waktunya untuk menikmati udara segar dipantai ini...yang ada, dialah yang akan menikmati makanan segar dari mu."


"Terima kasih komandan...kami pergi dulu." Ucap Bobby dengan tenang sambil menggenggam tangan Iin dan berjalan kearah dimana sepeda motor miliknya terparkir.


"Sudah...tenanglah...mereka tidak bisa melakukan apa-apa terhadap kita." Ucap Bobby menenangkan.


"Aku takut..." Ucap Iin.


"Ayo naik..." Ajak Bobby setelah sudah siap dengan sepeda motor miliknya.


Keduanya pun segera pergi meninggalkan tempat itu. Namun Bobby tidak mengarahkan sepeda motor miliknya untuk kembali pulang mengantarkan Iin, melainkan mengarah ke arah sebaliknya.


"Kita mau kemana?" Tanya Iin lirih.


"Kita lewat jalan belakang dan pergi ke rumahku saja." Jawab Bobby.


"Untuk apa kita kerumahmu?" Tanya Iin lagi.


"Apakah kau tidak mau melanjutkan apa yang kita lakukan sebelumnya?" Bobby tidak menjawab namun balik bertanya.


Iin hanya bisa terdiam dan hanya mengencangkan pelukannya.


Setelah sampai dirumah Bobby, ibunya langsung menyambut kedatangan pemuda itu dan berkata "Apakah kau sudah makan?" Tanya ibu Bobby.


"Belum...tetapi sedikit lagi aku baru mau makan." Jawab Bobby.


Karena mata ibu Bobby tidak bisa melihat, sehingga dia tidak mengetahui jika saat ini Bobby datang bersama dengan seorang wanita.


Iin sudah mengetahui kondisi ibu Bobby karena telah di beritahukan oleh pemuda itu. Sehingga dia tidak merasa terkejut saat ibu Bobby tidak mengetahui keberadaannya.


Karena rumah kakek Bobby tidak ada yang menempatinya, sehingga pemuda itulah yang kini menempati rumah tersebut.


Bobby pun mengajak Iin untuk menuju ke rumah kakeknya yang tetletak tidak jauh dari rumahnya itu.


"Bob...kalau kau mau makan, buka saja pintunya, ibu tidak akan menguncinya." Lanjut ibu Bobby.


"Iya Bu...!" Jawab Bobby dan segera pergi bersama dengan Iin.


"Sepertinya ada orang lain yang datang bersama dengannya...siapa orang itu?" Pikir ibu Bobby.


Keduanya pun segera memasuki rumah yang Bobby maksudkan dan segera menyalahkan lampu serta segera memasuki kamar yang dia tempati diikuti oleh wanita yang bersama dengannya.


Keduanya pun melanjutkan apa yang mereka berdua lakukan sebelumnya saat berada di pantai.


Hal yang sangat tabu untuk dilakukan oleh sepasang kekasih yang belum terikat secara sah dimata hukum dan agama.


Keduanya pun tenggelam dalam kenikmatan surga dunia tanpa memikirkan dampak buruk yang akan terjadi dimasa mendatang.


Kini tubuh keduanya sudah bermandikan pelu dengan tubuh Iin yang kini masih memeluk tubuh Bobby seperti tidak ingin melepaskannya.


"Bob...bagaimana jika aku ha**l? Tanya Iin mulai merasa cemas dengan apa yang baru saja mereka berdua lakukan.


"Tenang saja...pasti aku akan bertanggung jawab dengan apa yang kita lakukan ini." Jawab Bobby untuk membuat kecasan Iin menghilang.


"Apakah kau tidak akan menduakan diriku?" Tanya Iin lagi.


"Aku sudah berjanji padamu jika aku tidak akan mengecewakan dirimu." Jawab Bobby lagi.


"Baiklah...aku percaya padamu." Balas Iin yang semakin mengencangkan pelukannya.


Beberapa saat kemudian Bobby langsung melihat jam yang terpasang didinding kamarnya dan langsung berkata seraya menunjukkan sikap terkejut "In...sekarang ini sudah jam tiga subuh...apakah kau mau pulang?"


"Apakah kau sudah tidak mau lagi bersama dengan ku?" Balas Iin menanggapi perkataan Bobby.


"Aku tidak bermaksud seperti itu, tetapi tinggal beberapa jam lagi kau akan pergi untuk bekerja, jika kau tidak tidur, kau akan sakit nanti." Jawab Bobby.


"Kalau begitu, sekalian saja aku pulang dari sini saat hari sudah terang, agar aku langsung bersiap untuk pergi bekerja." Balas Iin.


" Aduh...bagaimana ini? Jika aku dia pergi dari sini saat hari sudah terang, itu berarti ada banyak orang yang akan melihat kebersamaan kita...jika Siska sampai mengetahuinya, bisa berakhir hubunganku dengannya." Pikir Bobby.


Akan tetapi pemuda itu mencoba untuk tetap tenang dan mencari alasan yang tepat agar Iin mau mendengarkan dan mengikuti apa yang dia katakan.


"In...jika kau pergi dari sini saat hari sudah terang, bagaimana dengan penilaian orang-orang yang melihat kita berdua? Pasti mereka akan berpikir negatif tentang kita." Tutur Bobby.


"Biarin...memang kita telah melakukannya... kenapa harus malu?" Balas Iin.


"Sial...apakah aku harus mengorbankan hubunganku dengan Siska?" Pikiran Bobby langsung menjadi kacau setelah mendengar apa yang Iin katakan.


"Bob...sepertinya kau terlihat sedikit cemas...apa yang kau cemaskan?" Tanya Iin.


"Tidak...tidak ada yang membuatku cemas...aku hanya sedikit berpikir mengenai kesehatanmu jika akan bekerja dan tidak tidur semalaman." Bobby menjelaskan.


"Begini saja...biarkan aku tidur selama kurang lebih dia jam dan kau yang akan membangunkanku...bagaimana?" Tanya Iin.


"Baiklah...kau tidur saja...aku akan membangunkanmu saat hari sudah terang." Bobby langsung menyetujui saran Iin.


Iin pun hanya bisa tersenyum dan langsung mengecup pipi pemuda itu serta berkata "Terima kasih yah!?" Sambil tersenyum bahagia.


Bobby merasa bingung dengan sikap wanita itu, yang ternyata sedang mengetes dirinya apakah mau menyetujui keinginannya.


Iin pun segera merapikan pakaiannya dan berkata "Ayo...antarkan aku pulang."


"Bukankah kau bilang akan tidur disini denganku hingga pagi menjelang?" Ucap Bobby merasa heran.


"Aku pikir apa yang kau katakan itu benar adanya...jadi aku merubah pikiranku dan ingin pulang saja." Ucap Iin menjelaskan.


"Baiklah...ayo kita pergi." Ajak Bobby yang saat ini sudah merasa lega karena Iin tidak jadi tidur bersamanya sampai pagi.


~Bersambung~