BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 31. Pesan Dari Siska



Bobby dan Iin kini sudah berada dikamar tempat dimana mereka berdua telah mengarungi dan merasakan apa itu kenikmatan dunia.


"Bob...sepertinya aku harus cepat pulang malam ini...jika tidak, nanti aku bisa sakit." Ucap Iin.


Mendengar ucapan wanita yang kini sedang berada di dalam pelukannya itu, Bobby pun langsung menyadari jika Iin tidak memiliki waktu yang cukup untuk beristirahat saat dia mengantarnya pulang.


"Baiklah...aku akan mengantarmu pulang." Balas Bobby.


"Apakah kau tidak marah kepadaku?" Tanya Iin.


"Tidak...kenapa aku harus marah kepadamu? Bukankah kau yang seharusnya marah kepadaku?" Balas Bobby lagi.


"Iya juga...mengapa dia yang akan marah kepadaku? Mengapa aku semakin bodoh seperti ini?" Pikir Iin sambil tersenyum.


"Kenapa kau tersenyum?" Tanya Bobby lagi.


"Terus...apakah aku harus bersedih?" Iin balik bertanya.


Bobby langsung tersenyum dan menjepit hidung wanita itu kemudian mrngecup keningnya.


"In...terima kasih yah karena kau sudah memaafkanku?" Ucap Bobby dengan tulus.


"Siapa bilang aku telah memaafkanmu?" Tanya Iin sambil menunjukkan sikap acuh tak acuh.


"Jadi kau masih tidak memaafkanku?" Balas Bobby dengan wajah yang penuh harap.


Iin langsung mencubit dengan manja pipi Bobby sambil berkata "Dasar munafik...lihat wajahmu itu, seperti orang yang meminta dikasihani." Ucap Iin sambil tersenyum.


"Itu benar, aku memang ingin dikasihani oleh mu." Ucap Bobby sambil menatap wajah Iin.


"Sebenarnya dia tidak kalah cantik dengan Siska, tetapi mengapa aku lebih mencintai Siska dibandingkan dirinya?" Pikir Bobby.


"Sudahlah...ayo kita pergi." Tutur Bobby yang langsung bangkit dari pembaringannya.


Iin pun segera mengikuti Bobby dan merapihkan pakaiannya agar tidak dicurigai oleh ibunya saat tiba dirumah nanti.


Bobby pun mengantarkan Iin sampai didepan rumah Om Guntur.


Setelah turun dari sepeda motor milik Bobby Iin tidak lupa berpesan "Bob...jangan kau pergi lagi kerumah Om Pasla yah!? Nanti kau miras lagi... ingat! besok pagi kau harus mengantarku."


"Siap bos!" Balas Bobby.


"Aku masuk dulu." Ucap Iin sambil berbalik dan berjalan memasuki rumah Om Guntur.


Bobby pun segera kembali ke rumahnya untuk beristirahat agar keesokan paginya, dia bisa mengantarkan Iin ke tempat kerjanya.


***


Dua hari kemudian akhirnya Siska menitipkan pesan kepada Meylan untuk memberitahukan kepada Bobby jika dirinya ingin bertemu dengan pemuda itu, sebab ada hal penting yang ingin dia bicarakan.


Meylan pun segera memberitahukan hal itu kepada Bobby saat pemuda itu melintas di depan rumahnya.


"Bob...jangan lupa sebentar jam delapan malam untuk menunggu Siska di pangkalan ojek, sebab ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganmu."


"Oke...terima kasih yah atas informasinya." Balas Bobby.


Saat Bobby hendak pergi, Meylan kembali menghentikannya "Bob, tunggu dulu...apakah aku boleh sedikit bertanya kepada mu?"


"Iya, ada apa?" Jawab Bobby yang juga balik bertanya dengan penasaran.


"Apakah kau sedang bertengkar dengan Siska?" Tanya Meylan.


"Tidak...aku merasa tidak pernah bertengkar dengannya...memangnya kenapa?" Bobby mencoba untuk menggali informasi dari Meylan.


"Begini...aku melihat sikap Siska sangat aneh akhir-akhir ini...sebab aku juga mendengar dari Meyna, sepertinya kau punya pacar yang lain... apa benar seperti itu?" Tanya Meylan.


"Itu benar...aku memang memiliki seorang pacar selain Siska." Jawab Bobby jujur.


"Apa? Jadi informasi itu memang benar? Aku pikir informasi itu hanya dikarang oleh Meyna." Meylan menanggapi dengan terkejut.


"Mey...aku memang sebelumnya memiliki seorang pacar, namun setelah aku mengenal Siska, dia mengetahui kedekatan ku dengan Siska...dan hal itulah yang membuat hubungan kami bubar." Bobby menjelaskan untuk menyembunyikan fakta yang sebenarnya.


"Ohhh...aku pikir kau memacari mereka berdua secara bersamaan." Ucap Meylan.


"Bob...kau harus tahu...sikap Siska dua hari ini sangat berbeda, jadi kau tidak boleh membuatnya tersinggung atau terluka." Lanjut Meylan.


"Sudah...hanya itu yang ingin aku sampaikan dan tanyakan kepadamu." Ucap Meylan.


"Mey...aku pergi dulu yah!?" Ucap Bobby dan segera pergi meninggalkan Meylan.


Dirinya segera menuju ke pangkalan ojek dan mulai berpikir jika dirinya bertemu dengan Siska dia akan mencoba untuk menutupi perasaannya yang masih sakit saat itu.


"Apa yang ingin dia bicarakan? Apakah dia ingin memutuskan hubungan kita? Terserah saja, aku sudah tidak ingin lagi merasa terluka lagi." Pikir Bobby memantapkan pendiriannya.


Setelah waktu yang telah ditentukan, Bobby saat itu belum kembali ke pangkalan ojek, karena sedang mengantarkan seorang penumpang.


Siska turun dari angkot dan segera bertanya kepada rekan Bobby yang ada di pangkalan tersebut "Bobby ada?"


"Ohh...dia baru saja mengantarkan penumpang ke salah satu perumahan...jika bisa, kau boleh menunggunya, karena mungkin tidak lama lagi pasti dia sudah kembali." Jawab seorang rekan Bobby.


"Ohh...tidak perlu...aku naik ojek ajah...aku titipkan pesan saja, jika dia kembali, suruh dia untuk menemuiku dirumah." Balas Siska.


"Baiklah...nanti kami akan sampaikan kepadanya." Balas rekan Bobby.


Siska pun segera pergi diantarkan oleh salah seorang tukang ojek di pangkalan itu untuk pulang.


Baru sekitar seratus meter lebih keduanya berpapasan di jalan. Tukang ojek yang mengantar Siska langsung berkata "Itu Bobby...apakah kita balik saja?" Tanya pria itu.


"Ohh...tidak perlu...kita lanjut saja." Jawab Siska.


Bobby saat itu sedang membonceng seorang wanita. Namun yang mengganggu mata Siska, terlihat tangan wanita itu sedang merangkul pinggang pemuda itu.


"Siapa wanita itu? Sepertinya dia terlihat cantik... mengapa dia merangkul pinggang Bobby? Apakah dia adalah kekasihnya?" Pikir Siska.


Saat tiba di jalan raya tepat di depan pangkalan ojek, wanita yang di bonceng Bobby bertanya "Bolehkah kau lanjut mengantarkan ku? Nanti aku akan membayar lebih untukmu." Tuturnya penuh harap.


"Baiklah..." Jawab Bobby sambil menyerahkan helm ke wanita itu.


Keduanya pun segera melanjutkan perjalanan ke tempat yang dimaksudkan oleh wanita itu.


Bobby sendiri kini telah melupakan janjinya untuk bertemu dengan Siska malam itu.


Saat melewati sebuah kawasan pertokoan, wanita itu pun seperti tersentak dan menyuruh Bobby untuk menghentikan sepeda motornya.


Pemuda itu segera menuruti apa yang wanita itu perintahkan sambil melontarkan pertanyaan "Mengapa kita berhenti? Bukankah tujuannya masih jauh!?" Ucap Bobby penasaran.


"Itu pacarku! Sepertinya dia sedang bersama dengan wanita lain...aku harus melabraknya." Balas wanita itu dan langsung turun dari boncengan Bobby.


Bobby hanya memutarkan sepeda motor miliknya dan mengikuti wanita itu dari belakang.


Pertengkaran pun terjadi diantara mereka dan Bobby hanya bisa menyaksikannya tanpa berniat untuk melerai mereka.


Namun saat pemuda itu sudah terlihat semakin emosi, Bobby segera bersiap untuk mencegah agar tidak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.


Dan benar saja, tangan kanan pemuda itu langsung melayang untuk menampar pipi wanita itu.


Dengan cepat Bobby segera memblokir tamparan itu dengan tangannya agar tidak mengenai pipi wanita yang adalah penumpangnya.


Wanita itu hanya bisa terdiam dan menutup matanya untuk menunggu tamparan pacarnya itu mengenai pipinya.


Namun hal itu tidak terjadi, dengan cepat wanita itu kembali membuka matanya dan melihat jika driver ojek itu telah memblokir tamparan tersebut dan berkata "Apakah kau tidak merasa malu memukuli seorang wanita?" Tanya Bobby sambil bertatapan mata dengan pemuda itu.


"Siapa kamu? Mengapa ikut campur dengan urusan kami?" Pemuda itu balik bertanya.


"Siapa aku itu tidak penting...yang terpenting adalah aku tidak ingin membiarkan seorang pria memukuli seorang wanita...itu saja!" Jawab Bobby santai.


"Dia itu pacarku! Jadi..."


"Baru sebagai pacar kamu sudah berani bertindak seperti ini, bagaimana jika dia sudah menjadi istrimu? Apakah dia akan menjadi sansak hidup bagimu?" Balas Bobby mencela pemuda itu.


"Yang perlu kau ingat...mungkin kau baru beberapa bulan mengenal dirinya atau berpacaran dengannya, tetapi kau sudah berani membuatnya terluka...bagaimana jika orang tuanya mengetahui hal itu? Mungkin mereka saja sejak kecil tidak akan melakukan apa yang akan kau lakukan itu...bagaimana mereka bisa membiarkan putri mereka menderita?" Bobby mencoba menasehati.


Pemuda itu hanya bisa terdiam dan tidak bisa membalas perkataan Bobby.


Wanita yang adalah penumpang Bobby hanya bisa terpanah melihat tukang ojek itu. Dimatanya Bobby adalah sosok yang sangat baik dan dewasa.


Meskipun dia hanyalah seorang tukang ojek, namun sikap dan perkataannya itu membuat wanita itu tidak lagi memikirkan profesinya.


~Bersambung~