BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 21. Kebodohan Tanpa Di Sadari



Setelah keduanya beradu mulut sedikit, kini sudah tidak ada lagi kata - kata yang keluar dari mulut Iin maupun dari mulut Bobby.


Keduanya kini saling diam dengan posisi tubuh yang semakin terlihat jelas jarak diantara keduanya.


Kini Iin mulai menjauhkan tubuhnya dari belakang tubuh Bobby.


"Rupanya dia benar - benar marah dengan sikapKu, aku harus bagaimana?". Pikir Bobby menanggapi sikap Iin.


Setelah sudah dekat dengan tempat kerjanya, iin pun langsung berkata.


"Sudah, berhenti disini saja!". Kata - kata yang keluar dari mulut gadis itu dengan nada suara ketus.


"Kenapa? Kamu takut di lihat oleh pacarMu?". Tanya Bobby.


"Kalau iya kenapa?". Jawab Iin dengan nada suara seperti membentak.


Mendengar kata - kata serta nada suara gadis itu, Bobby pun hanya menanggapinya dengan senyuman sambil memberhentikan sepeda motor miliknya di trotoar jalan.


Iin segera turun dari sepeda motor Bobby sambil mengulurkan tangannya yang menggenggam uang 20 ribu rupiah kearah Bobby.


"Ini, ambil bayaranMu!". Ujar Iin dengan nada suara yang ketus.


"Apakah semua itu bayaranKu?". Tanya Bobby penasaran.


"Iya! Ini bayaranMu!". Jawab Iin enteng.


"Apakah tidak terlalu banyak?". Tanya Bobby lagi.


Memang biasanya tarif bayaran untuk jarak yang diantarkan Bobby itu hanya senilai 10 ribu rupiah saja, sehingga Bobby melontarkan pertanyaan seperti itu kepada Iin.


"Kenapa? Tidak mau?". Tanya Iin.


Mendengar perkataan gadis itu, dengan cepat tangan Bobby langsung meraih uang tersebut.


"Siapa juga yang tidak mau? Rejeki di pagi hari bagaimana mungkin aku menolaknya!". Ujar Bobby sambil tersenyum dan memasukkan uang tersebut ke dalam sakunya.


Bobby pun kembali menatap wajah Iin dan berkata.


"Terima kasih yah!?". Ucap Bobby yang langsung pergi meninggalkan gadis itu untuk kembali ke tempat mangkalnya.


Iin hanya bisa menggelengkan kepalanya menatap kearah perginya pria tersebut.


"Lucu juga, sepertinya dia tidak merasa bersalah". Gumam Iin sambil tersenyum dan melangkahkan kaki untuk menuju ke tempat kerjanya.


Tidak lama kemudian akhirnya Bobby sudah tiba di tempat yang biasa dia mangkal.


Kedatangan pria itu langsung di sambut oleh Stenli.


"Cie...cie! Rupanya ada yang lagi berbunga - bunga hatinya di pagi ini". Ucap Stenli. yang berniat untuk menggoda Bobby.


"MaksudMu siapa? Aku? Biasa saja!". Balas Bobby.


"Sudahlah, tidak usah menyembunyikannya dariKu". Balas Stenli dengan rasa ingin tau apa yang terjadi di antara Bobby dan Iin.


"Jangan terlalu kepo dengan urusan orang lain, nanti kamu bisa melupakan urusanMu sendiri". Sambung seorang pria yang sudah berusia 40-an tahun.


"Betul sekali! Aku sangat setuju dengan kata - kata Om Diksi". Ujar Bobby.


Mendengar perkataan kedua orang tersebut, kini Stenli tidak bisa berkata - kata lagi dan hanya bisa tersenyum pahit.


"Tadi kamu dibayar berapa Bob?". Tanya Diksi.


"Ini bayarannya". Jawab Bobby sambil menunjukkan uang kertas 20 ribu rupiah.


"Wah...baik juga gadis itu". Ucap Diksi menanggapi apa yang baru saja di tunjukkan oleh Bobby.


Mereka pun melanjutkan aktivitas mereka seperti biasanya.


Tidak ada hal yang istimewa di sepanjang hari itu.


Saat hari sudah sore, Bobby pun segera pulang ke rumahnya untuk membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya.


Iin pun turun dari angkot serta langsung membayar biaya angkot.


Gadis itu langsung menyusuri setiap tukang ojek yang mangkal di tempat itu.


Namun dia tidak mendapati Bobby diantara mereka.


"Hallo nona! Apakah kamu mau menggunakan ojek?". Tanya seorang tukang ojek.


Setelah menjawab pertanyaatan tukang ojek tersebut, Iin pun mulai berjalan perlahan untuk menuju ke tempat duduk.


Gadis itu pun langsung duduk dengan tenang.


Beberapa saat kemudian, seorang tukang ojek kembali bertanya kepadanya.


"Apakah sedang menunggu jemputan?".


"Iya!". Jawab Iin singkat dengan mimik wajah yang datar.


Tidak lama kemudian Stenli pun tiba di tempat tersebut dan langsung melihat Iin yang sedang duduk.


"Eh...ternyata Iin...lagi menunggu siapa? Lagi menunggu Si Bobby yah?". Ujar Stenly sambil tersenyum dan memarkirkan sepeda motor miliknya.


Memang Iin walau pun sudah sering melihat Stenli, namun keduanya tidak begitu akrab, sehingga Iin pun hanya menatap Stenli namun tidak menanggapi perkataan pria tersebut.


Karena Iin tidak menanggapi perkataannya, Stenli pun segera mendekati gadis itu dan langsung duduk disampingnya.


"Kalau kamu sedang menunggu Bobby, itu percuma, sebab Bobby saat ini telah pulang ke rumahnya". Ujar Stenli.


"Tidak! Aku tidak sedang menunggu dirinya!". Balas Iin dengan ringan.


"Oh, jadi kamu sedang menunggu Si Bobby? Iya, Bobby sudah pulang ke rumahnya, mungkin sejam lagi baru dia kembali narik". Sambung Adi yang juga biasa mangkal di tempat itu.


"Tidak...aku tidak sedang menunggu Bobby! Aku sedang ingin duduk saja". Iin langsung menepis semua dugaan para tukang ojek di situ dengan kulit wajahnya yang sudah memerah.


Karena dirinya merasa sudah tidak nyaman lagi untuk duduk di pangkalan ojek tersebut, akhirnya Iin segera berdiri dan meninggalkan tempat itu tanpa berkata sedikit pun.


Stenli yang melihat hal tersebut segera menghidupkan sepeda motor miliknya dan langsung menyusul Iin yang berjalan menuju ke arah tempat tinggalnya.


Setelah Stenli sudah bisa menyusul Iin, pemuda itu pun segera menawarkan kepada gadis itu untuk mengantarkannya pulang.


"In! Ayo, aku antar kamu pulang".


"Oh, tidak...terima kasih atas tawarannya". Balas Iin dengan ramah.


"Nanti kamu capek jika berjalan kaki hingga sampai ke rumah".


"Tidak apa - apa kok...aku sudah biasa".


Memang jarak ke tempat tinggal Iin bisa dikatakan sangat dekat jika naik sepeda motor, namun untuk berjalan kaki, itu akan melelahkan, sebab kondisi jalan untuk menuju ke rumahnya sedikit menanjak.


Namun Iin tetap tidak menerima tawaran yang di berikan oleh Stenli.


Stenli pun hanya bisa menemani Iin yang sedang berjalan kaki dengan mengendarai sepeda motornya.


Situasi tersebut menarik perhatian teman - teman seprofesinya sebagai tukang ojek di saat melewati keduanya.


"Wah, ada yang lagi berjuang untuk mendapatkan hati sang gadis nih". Ujar Adi saat melewati keduanya.


Mendengar perkataan Adi, iin pun langsung menanggapi dan berkata kepada Stenli.


"Sudahlah, pergi saja, jangan lagi kamu mengikutiKu, nanti orang yang melihat kita akan menilai yang tidak - tidak tentang kita".


"Biar saja mereka berpikir yang tidak- tidak". Balas Stenli.


"Aku tidak mau! Jadi tolong kamu pergilah!". Balas Iin dengan nada suara yang mulai meninggi.


Stenli yang merasakan perubahan Iin langsung mengalah dan meninggalkan Iin sendiri berjalan menuju ke rumahnya.


"Baiklah! Aku pergi dulu".


Akhirnya hati Iin pun merasa lega saat Stenli telah pergi dan kembali ke tempat biasa dia mangkal.


"Sial! Kenapa situasinya bisa seperti ini!? Ini semua karena kebodohanKu juga, mengaja juga aku menunggu dia". Gerutu Iin di dalam hatinya.


Tidak lama kemudian akhirnya Iin tiba di rumahnya dengan nafas yang ngos - ngosan.


Melihat hal tersebut, ibu Iin langsung berkata untuk menyambutnya.


"Kenapa kamu tidak naik ojek?".


"Aku ingin berolah raga sedikit". Jawab Iin untuk menutupi apa yang sebenarnya terjadi sambil terus masuk menuju ke kamarnya.


~Bersambung~