
Setelah selesai bertemu dengan Siska, Bobby hanya tersenyum saat meninggalkan wanita itu.
"Dia pikir bisa merasa bahagia dengan pria itu, kau lihat saja nanti...pasti kau akan merasakan akibatnya dalam waktu singkat." Gumam Bobby.
"Menurutku, memang kau terlihat sangat cantik dan sangat berharga bagiku, akan tetapi hal itu akan berbeda dimata pemuda itu...sebab dia terlihat tampan dan terbiasa hidup serba kecukupan...pasti kedepannya dia tidak akan menghargai mu." Pikir Bobby.
Memang Natan adalah seorang pemuda yang memiliki paras yang tampan dan ditambah dengan tubuh yang proporsional, sehingga tidak ada wanita yang tidak akan menyukainya.
Dan hal itulah yang membuat Siska sangat tergila-gila dengannya.
Bobby sendiri sebagai seorang pria sudah bisa memikirkan apa yang Natan pikirkan dengan seorang wanita yang tidak dia sukai.
Natan hanya ingin mengambil suatu keuntungan dari setiap wanita yang ingin dekat dengannya.
Dan setiap wanita yang dekat dengannya, tidak pernah berpikir jika mereka selalu di manfaatkan oleh perasaan mereka.
Saat jam sudah menunjukkan pukul 16:00, ponsel Bobby kembali berdering, tetapi karena Bobby telah mengaturnya ke mode diam, sehingga dia tidak mengetahui jika ada panggilan yang masuk.
Sintia merasa jengkel karena panggilannya tidak diterima oleh Bobby.
Setelah setengah jam berlalu saat Bobby hendak pulang, pemuda itu pun segera melihat ponselnya dan langsung merasa terkejut setelah melihat ada belasan panggilan tak terjawab dari Sintia.
Pemuda itu segera menelfon balik ke nomor Sintia untuk meminta maaf serta mempertanyakan tujuan wanita itu menelponnya.
Meskipun panggilannya masuk, namun Sintia tidak mengangkat panggilannya itu.
"Kenapa dia tidak menerima panggilan ku? Apakah dia marah karena aku tidak menerima panggilannya?" Pikir Bobby dan kembali menghubungi Sintia.
Setelah beberapa kali menghubungi Sintia, akhirnya wanita itu pun segera menerima panggilannya itu.
"Hallo...Sin...sorry yah, karena aku tidak menerima panggilanmu sebelumnya?" Ucap Bobby.
Tidak ada tanggapan yang diberikan oleh Sintia, hal itu membuat Bobby kembali berkata.
"Sin...apakah kau mendengar suara ku?" Tanya Bobby.
Sintia tetap tidak menanggapi perkataan pemuda itu.
"Sin...apakah kau marah pada ku?" Tanya Bobby lagi.
"Sin! Saat ini aku sedang narik, sehingga aku tidak tahu jika kau menghubungiku...sorry jika hal itu sehingga membuatmu marah kepada ku."
Sintia masih tetap tidak menanggapinya.
"Baiklah, jika kau benar-benar marah dan tidak bisa memaafkanku, aku akan menutup panggilan ini." Ucap Bobby dengan nada serius.
Bobby menunggu selama lima detik untuk menunggu suara dari Sintia, namun setelah tidak ada tanggapan dari wanita itu, Bobby pun segera mengakhiri panggilan itu.
Pemuda itu segera memasukkan ponsel ke sakunya dan segera pulang ke rumahnya untuk membersihkan diri.
Saat tiba di rumahnya, Bobby pun segera menonaktifkan ponselnya agar tidak bisa dihubungi oleh siapapun.
"Mungkin ini kesempatan ku untuk bisa menjauhi Sintia, sebab hubungan kita pasti tidak akan disetujui oleh orang tuanya, mengingat kehidupan ekonomi ku seperti ini." Gumam Bobby dan langsung meletakkan ponselnya dan segera berjalan menuju ke kamar mandi.
***
Di tempat yang berbeda dimana Sintia berada, wanita itu kini sedang memikirkan apa yang Bobby katakan serta tindakan yang dia lakukan terhadap pemuda itu.
Sintia juga kini sedang memikirkan apa yang Bobby lakukan dengan menutup panggilan tanpa persetujuannya.
"Apakah dia merasa marah dengan apa yang aku lakukan itu? "
"Apa alasan yang akan aku berikan jika dia bertanya tentang sikapku itu?"
"Aku harus menelpon balik kepadanya untuk bisa memastikan apa yang sedang dia pikirkan saat ini kepadaku."
Sintia pun segera meraih ponselnya dan kembali menghubungi Bobby.
"Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif atau berada diluar jangkauan, mohon periksa kembali nomor tujuan anda."
"Sial, apakah dia sengaja tidak mengaktifkan ponselnya agar aku tidak bisa menghubunginya?" Pikir Sintia.
Wanita itu pun beberapa kali kembali melakukan hal yang sama, namun hasilnya tetap sama.
"Ohh...sepertinya dia mencoba untuk menguji kesabaranku...baiklah, seberapa tahan dirimu untuk tidak bertemu dengan ku!?" Gumam Sintia.
Setelah nomor ponsel Bobby tidak aktif, keegoisan Sintia pun kini muncul untuk menundukkan keegoisan Bobby yang baru di kenalnya belum genap 1x 24 jam itu.
Dia tidak berpikir jika Bobby memang berniat untuk memutuskan hubungan mereka berdua karena takut tidak direstui oleh kedua orang tua Sintia.
Wanita itu mencoba untuk bisa tertidur dan bisa melewati malam itu tanpa memikirkan pemuda yang baru saja dia kenal itu.
"Sial...mengapa aku selalu memikirkannya? Apakah itu karena aku telah melewati satu malam bersama dengannya?" Gerutu Sintia.
"Tidak! Aku tidak boleh kalah dengannya, mana mungkin aku tidak bisa melupakan dirinya itu?" Lanjutnya.
Sintia mencoba untuk menelpon sahabatnya untuk menjauhkan pikirannya dari Bobby.
"Hallo...kamu dimana?" Ucap Sintia.
"Aku lagi berada di club yang biasa kita kunjungi." Jawab sosok yang Sintia hubungi.
"Dengan siapa?" Tanya Sintia lagi.
"Aku bersama pacarku...ayo, kau kesini saja gabung dengan kita!" Jawab sahabatnya dan langsung mengajak Sintia.
"Aku lagi tidak enak badan nih...jadi aku tidak bisa gabung bersama kalian...sorry yah!?" Balas Sintia menolak tawaran sahabatnya itu.
"Ayolah Sin! Gabung bareng kita disini...disini banyak cowok tampan loh!" Ujar sosok itu agar Sintia bisa gabung bersama mereka malam itu.
"Aku tidak bisa...sudah, kalian lanjutkan saja untuk bersenang-senang, aku nanti gabung dilain waktu saja." Tutur Sintia dan langsung menutup panggilannya.
"Sial! Mengapa situasinya membuatku semakin gelisah?" Gerutu Sintia lagi sambil meletakkan ponselnya.
Sedangkan Bobby sendiri kini sedang berada di pangkalan ojek untuk menanti gilirannya.
Tiba-tiba seorang wanita yang dia kenali, turun dari angkot dan langsung memanggil namanya.
Bobby pun segera menatap ke arah sumber suara tersebut dan melihat bahwa Iin yang memanggilnya.
"Ayo antarkan aku." Ajak Iin.
Bobby segera menghidupkan mesin sepeda motor miliknya dan segera mengantarkan Iin untuk pulang.
"Bob...mengapa ponselmu tidak aktif?" Tanya Iin saat keduanya ditengah perjalanan pulang.
"Ponselku aku tinggalkan dirumah." Jawab Bobby.
"Mengapa kau tinggalkan ponselmu dirumah?" Tanya Iin lagi.
"Batreynya sudah lowbat, jadi ponselku sedang dicars." Jawab Bobby singkat.
Setelah sampai, Iin pun segera turun dan mengajak Bobby untuk turun, namun pemuda itu menolaknya dengan alasan bahwa dia ingin secepatnya pulang untuk beristirahat karena terlalu capek hari itu.
Iin pun tidak bisa memaksa lagi disaat mendengar alasan yang Bobby berikan.
Akhirnya pemuda itu segera kembali kerumah untuk beristirahat dari aktivitasnya setelah mengantarkan Iin pulang.
Pemuda itu tidak ingin berlama-lama untuk bersama dengan Iin karena dia tidak ingin wanita itu mempertanyakan mengenai ponselnya yang tidak aktif.
Saat tiba dirumahnya, pemuda itu segera menghidupkan kembali ponselnya dan kembali meletakkannya di meja yang ada di kamarnya.
"Sebaiknya aku cepat beristirahat agar staminaku bisa pulih dan bisa beraktivitas lagi esok hari." Pikir Bobby dan langsung mencoba untuk tertidur.
Namun pemuda itu lupa untuk mengunci pintunya.
Tepat pukul sebelas malam, tiba-tiba pintu depan rumah yang Bobby tempati dibuka oleh seseorang.
Saat itu Bobby tidak mengetahuinya, sebab dia sendiri kini sudah tertidur.
Hal yang sama juga terjadi dengan pintu kamarnya. Namun pemuda itu tetap tidak terbangun dari tidurnya.
"Hmmmphh...rupanya dia sudah tertidur." Gumam sosok tersebut.
Dan sosok itu tidak lain adalah Sintia, wanita itu tidak bisa menahan kegelisahan yang menyelimuti hati dan pikirannya, sehingga dia memutuskan untuk menyamperi Bobby di rumahnya.
Sintia tidak membangunkan Bobby akan tetapi langsung tidur disamping pemuda itu dan merangkul tubuhnya.
Saat subuh menjelang, Bobby pun sedikit tersadar dan hendak merubah posisi tidurnya.
Tiba-tiba dia merasakan jika ada orang lain yang tidur bersamanya malam itu.
Sontak saja dia merasa terkejut dengan apa yang dia rasakan.
Mata pemuda itu langsung terbelalak setelah melihat sosok itu adalah Sintia.
~Bersambung~