
Sepeda motor Bobby kini melaju menuju ketempat yang pemuda itu maksudkan.
Setelah tiba di tempat yang Bobby maksudkan, mereka pun turun dan memarkirkan sepeda motor serta segera menuju ke tempat duduk yang sudah tersedia.
Keduanya pun duduk dan saling diam sesaat karena masih merasa canggung.
"Sis...kamu mau makan apa?". Tanya Bobby memecah keterdiaman diantara keduanya.
"Oh, tidak...terima kasih". Jawab Siska dengan malu - malu.
"Terus, kamu mau minum apa?". Bobby bertanya lagi.
"Air mineral saja". Jawab Siska singkat.
"Baiklah, tunggu sebentar yah...!?". Ucap Bobby sambil bangkit dan berjalan menuju ke salah satu kios yang menjual apa yang mereka butuhkan.
***
Di depan rumah Om Guntur, Iin kini sudah mulai merasa gelisah.
Hal itu disebabkan karena sudah sekitar 30 menit dirinya menanti kedatangan Bobby.
"Mengapa dia belum datang juga!? Dimana dia mengantarkan perempuan itu!? Apakah perempuan itu adalah pacarnya!?". Pikir Iin dengan sedikit rasa cemburu mulai mewarnai hati serta pikirannya.
***
Bobby yang sudah kembali duduk disamping Siska segera menyodorkan air mineral di tangannya.
Siska langsung menerimanya.
"Sis...apakah kamu sudah punya pacar?". Tanya Bobby.
Siska yang saat itu sedang meneguk air mineral yang baru saja di berikan oleh Bobby langsung tersedak.
"Uhuk...uhuk...uhuk".
"Sorry...sorry...maaf jika pertanyaanKu membuatKu tersedak". Ucap Bobby dengan nada suara yang merasa bersalah.
Siska pun tidak menanggapi ucapan pria di sampingnya.
"Apakah sekarang kamu sudah merasa lebih baik?". Tanya Bobby lagi.
Siska hanya bisa menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Bobby.
"Terus apa jawaban dari pertanyaanKu barusan?".
"Tidak...aku tidak memiliki pacar". Jawab Siska.
Siska sudah mengerti apa maksud Bobby menanyakan hal itu kepadanya.
"Baguslah kalau begitu...bagaimana jika kamu menjadi pacarKu?".
"Sial, tidak ada romantis - romantisnya". Gerutu Siska didalam hatinya.
"Bagaimana? Apakah kamu mau menjadi pacarKu?". Bobby kembali bertanya.
"Boleh kamu memberikan sedikit waktu kepadaKu untuk berpikir?". Ucap Siska.
"Jika kamu butuh waktu untuk berpikir agar aku bisa menjadi pacarMu, menurutKu hal itu sama seperti kamu sudah memberikan jawaban bahwa kamu tidak mau menerimaKu sebagai pacarMu". Ucap Bobby dengan nada suara yang terdengar sedikit kecewa.
"Bukan begitu maksudKu...akan tetapi saat ini aku masih kuliah, sehingga aku ingin fokus dengan kuliahKu dulu". Balas Siska.
"Jadi jawabannya kamu menolakKu karena kamu masih ingin fokus dengan kuliahMu itu?". Tanya Bobby ingin memastikan.
Siska hanya bisa menganggukkan kepalanya.
"Baiklah, aku bisa menerima alasanMu itu, yang terpenting saat ini, aku sudah mengutarakan isi hatiKu kepadaMu". Ucap Bobby berbesar hati dengan jawaban Siska.
"Bob...sebenarnya ada hal yang masih membebani pikiranKu". Ucap Siska.
"Apa itu?". Tanya Bobby dengan penasaran.
"Begini...sebenarnya aku merasa takut berpacaran denganMu, karena...".
"Kenapa? Karena aku akan memakanMu? Sis...aku ini bukanlah hewan karnifora, aku juga manusia yang memiliki hati, pikiran dan perasaan serta membutuhkan cinta dan kasih sayang dan juga perhatian dari sosok seorang wanita". Ujar Bobby menyela kata - kata Siska.
"Bukan itu maksudKu...aku hanya takut jika kamu masih mempertahankan sikap dan tingkah lakuMu serta cara hidupMu yang sering orang katakan". Siska mencoba untuk menjelaskan.
"Yang akan berpacaran serta yang akan menjalaninya kita, terus kenapa kamu mau memikirkan kata - kata orang lain?". Tutur Bobby.
"Aku sih merasa takut saja di cemooh oleh teman - temanKu karena berpacaran denganMu".
"Oh..jadi begitu? Ternyata kamu merasa malu jika berpacaran denganKu?".
"Baiklah! Aku tidak marah kok...tidak apa - apa, aku juga tau diri...mana mungkin seorang mahasiswi mau berpacaran denganKu yang hanyalah seorang tukang ojek".
"Preman? Aku merasa aku bukanlah seorang preman".
"Iya, itu menurutMu, tetapi menurut penilaian orang lain seperti itu".
"Sudahlah...ganti topik pembicaraan saja...aku sudah tidak ingin lagi untuk membahas hal itu".
Mendengar perkataan Bobby, Siska pun langsung terdiam, sebab nada suara pria disampingnya sudah semakin meninggi.
Melihat sikap Siska, Bobby pun segera mencairkan suasana saat itu.
"Maafkan aku jika kata - kataKu serta intonasinya membuat kamu merasa takut".
"Tidak kok...aku tidak merasa takut denganMu".
"Mana mungkin orang yang menyukaiKu bisa membuat aku takut".
Bobby pun langsung tersenyum setelah mendengar perkataan Siska.
"Iya, aku memang menyukaiMu, akan tetapi kamu tidak menyukaiKu kan!?". Ucap Bobby sambil tersenyum.
"Tidak juga...aku juga menyukaiMu kok". Balas Siska.
"MenyukaiKu? Mungkin juga...tetapi rasa suka itu hanya sebagai seorang teman toch!?".
"Bukan...bukan seperti itu...aku menyukaiMu lebih dari sekedar seorang teman".
Bobby langsung merasa tersentak mendengar pernyataan Siska.
"Terus...kenapa kamu tidak menerimaKu sebagai pacarMu?". Tanya Bobby penasaran dengan apa yang Siska pikirkan.
"Bagaimana jika kamu berjanji dulu kepadaKu!?". Ucap Siska.
"Apa itu!?".
"Kamu harus berjanji untuk tidak lagi sembarang memukul orang atau pun melakukan perbuatan tindak pidana, bagaimana? Apakah kamu menyanggupinya?".
"Mengenai hal itu, sebenarnya selama ini, aku tidak pernah melakukan apa yang kamu katakan itu tanpa ada alasannya".
"Jika seorang berbuat salah kepadaKu, pasti aku akan melakukan tidakan tersebut".
Bobby ingin mencoba membenarkan setiap perbuatannya.
"Walaupun seperti itu, tetapi kamu tidak boleh melakukannya...bagaimana? Apakah kamu mau berjanji kepadaKu?".
Bobby pun berpikir sejenak sebelum dia menanggapi pertanyaan Siska.
"Bagaimana jika aku baik - baik saja tetapi orang lain yang ingin mencari gara - gara denganKu, apakah aku hanya bisa diam saja?".
"Selagi kamu tidak terluka, kamu tidak boleh melukai orang itu".
"Oh, jadi seperti itu yah..!?".
"Sepertinya aku tidak bisa, karena aku tidak mau membiarkan siapa pun untuk mencoba menginjak - injak harga diriKu".
"Jadi kamu tidak bisa?".
"Iya, aku tidak bisa memenuhi persyaratanMu itu".
"Aku menyukaiMu apa adanya, oleh karena itu, aku juga berharap kamu bisa menerimaKu dengan apa adanya".
Setelah mendengar perkataan Bobby Siska pun mulai berpikir untuk menimbang setiap kata - kata yang Bobby lontarkan.
"Aku memang menyukainya, tetapi aku juga tidak bisa menerima dirinya jika dia masih tidak bisa menahan setiap tindakannya yang sering melanggar hukum". Pikir Siska di dalam hatinya.
"Bob...bagaimana jika aku memberikan jawabannya saat malam minggu nanti..? Kita ketemuan di rumah Selly saja".
"Apakah bisa..?". Tanya Siska lagi.
"Baiklah...aku menyetujuinya, akan tetapi jika kamu tidak menerimaKu, lebih baik kamu katakan saja saat ini, agar supaya aku tidak merasa lebih kecewa lagi".
"Iya...aku mengerti...nanti kita bicarakan saat malam minggu saja". Balas Siska.
Bobby langsung tersenyum saat mendengar jawaban Siska.
Hal itu dikarenakan sudah bisa dipastikan apa jawaban yang akan Siska berikan saat malam migu nanti.
"Kalau begitu, bagaimana jika kita balik saja? Nanti Selly akan merasa cemas jika kamu belum pulang ke rumah".
"Iya...ayo kita pulang". Siska langsung menyetujui saran dari Bobby.
~Bersambung~