BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 48. Menghindari Natan



Jam mata kuliah terakhir telah selesai, sehingga Siska segera menghubungi Sintia untuk bisa menjemputnya bersama dengan Linda.


Natan yang penasaran dengan orang yang dihubungi oleh Siska, terus mengawasi setiap tingkah laku mantan pacarnya malam itu dan belum meninggalkan kampus.


"Lin! Apakah kau sudah melihat jika Natan telah meninggalkan kampus?" Tanya Siska.


"Untuk apa lagi kau memikirkan orang itu? Sudahlah, tidak perlu lagi kau memikirkannya!" Balas Linda menanggapi pertanyaan Siska.


"Aku berpikir, jika Sintia datang menjemput kita, takutnya Natan datang untuk mengganggu. Kau sudah tahu kan bagaimana pikirannya!?" Tutur Siska menjelaskan.


Linda sedikit terdiam setelah mendengar penjelasan dari Siska dan kemudian menanggapi penjelasan tersebut.


"Benar juga yang kau katakan...mengapa hal itu tidak terpikirkan olehku!?"


"Sepertinya dia belum meninggalkan kampus ini. Apakah dia sedang berada disuatu tempat dan sedang mengawasi kita!?" Gumam Linda sambil melihat-lihat untuk mencari posisi keberadaan Natan.


Siska pun melakukan hal yang sama dengan apa yang Linda lakukan.


Setelah beberapa saat mencari posisi Natan, akhirnya Linda segera menghentikan tindakannya dan berbisik kepada Siska.


"Ternyata Natan saat ini sedang memperhatikan kita...lebih baik kita bersikap seperti belum mengetahui keberadaannya..."


"Jika Sintia tiba, kita berdua secepatnya pergi dari sini agar Natan tidak sempat mengikuti kita." Tutup Linda.


Siska hanya mengangguk pelan menyetujui saran sahabatnya itu dan langsung bersikap seperti belum mengetahui jika keduanya sedang di awasi.


Akhirnya handphone Siska pun berdering.


Siska segera melihat layar HPnya dan nampak nama Sintia yang ditampilkan.


Siska pun segera menerima panggilan itu.


"Hallo...bagaimana Sin?"


"Aku sebentar lagi akan tiba didepan kampusmu. Kau saat ini ada dimana?" Balas Sintia.


"Aku bersama Linda sedang duduk dibawah pohon ketapang di dalam area kampus...jika kau sudah sampai, jangan berhenti tepat didepan kampus, biar aku dan Linda yang menyamperi mu." Jawab Siska.


"Kenapa bisa begitu?" Tanya Sintia lagi.


"Aku tidak ingin Natan mengganggu aktivitas kita." Jawab Siska.


"Ohh, jadi begitu!? Oke, untuk menunggu kalian berdua, aku akan memarkirkan mobil ku tiga puluh meter sebelum gerbang kampus kalian." Balas Sintia menyetujui apa yang disampaikan oleh Siska.


Setelah saling berkomunikasi, akhirnya Siska pun segera memutuskan panggilan tersebut dan akan menunggu kabar dari Sintia.


Tidak lama kemudian, akhirnya Sintia pun memberi kabar kepada Siska jika dirinya telah tiba di tempat yang dia katakan sebelumnya.


Siska dan Linda langsung bangkit berdiri dari tempat dimana keduanya duduk serta segera bergegas pergi.


Natan yang terus memperhatikan setiap pergerakan keduanya, segera turun untuk bisa mengikuti kedua wanita itu.


Namun karena posisinya yang berada di lantai dua gedung kampus itu, sehingga ia membutuhkan waktu untuk bisa tiba di lantai dasar dan keluar dari area kampus.


Siska dan Linda pun akhirnya bisa masuk ke dalam mobil Sintia.


"Sebaiknya kita segera bergegas pergi, karena Natan pasti akan mengikuti kita." Ucap Siska setelah duduk di dalam mobil Sintia.


Sintia hanya mengangguk sambil tersenyum mendengar ucapan Siska.


Akhirnya mobil Sintia pun segera meluncur pergi dari tempat tersebut.


Natan yang baru saja keluar dari area kampus, hanya bisa melihat mobil Sintia lewat tepat didepan matanya.


"Itukan mobilnya Sintia!? Sepertinya Siska dan Linda pergi bersama Sintia, aku harus segera menyusul mereka." Gumam Natan sambil bergegas pergi menaiki mobilnya.


Namun tindakannya itu sedikit lambat, sebab area parkiran kampus mereka tidak terlalu luas. Dan karena ada begitu banyak kendaraan yang masih terparkir, sehingga membuatnya tidak bisa cepat keluar dari area kampus.


Sedangkan Sintia kini sudah menginjak pedal gas mobilnya untuk bisa menghindari kejaran Natan sesuai dengan apa yang Siska inginkan.


"Sepertinya benar yang kau katakan, sebab aku bisa melihat Natan sedang berdiri di gerbang kampus kalian dan sempat melihat ke arah kita." Tutur Sintia membuka pembicaraan.


"Tetapi ada yang aneh dengan sikapmu hari ini. Sepertinya kau terlihat seperti sedang menghindari Natan...apa benar begitu!?" Lanjut Sintia bertanya.


"Apa benar yang Linda katakan itu?" Tanya Sintia.


Siska hanya mengangguk pelan menjawab pertanyaan Sintia yang saat itu sedang mencuri pandang kearahnya.


"Memangnya kenapa? Apa yang membuatmu sehingga memutuskan hubungan kalian berdua?" Tanya Sintia lagi.


"Aku hanya merasa sudah tidak nyaman saja untuk melanjutkan hubungan ku dengannya." Jawab Siska seadanya.


"Bukankah Natan itu pria yang tampan dan sangat enak untuk bisa berkomunikasi dengannya!?" Lanjut Sintia bertanya.


"Mungkin itu penilaian bagi setiap wanita yang baru bertemu dan mengenalnya saja. Tetapi bagi wanita yang sudah mengenal lebih lama, pasti akan memberikan komentar yang berbeda." Jawab Siska lagi.


"Ngomong-ngomong bagaimana ceritanya sehingga kau bisa bertemu dan berpacaran dengan Bobby!?" Siska balik bertanya untuk mengubah arah pembicaraan.


"Ha...ha...ha...ha...ha...sebenarnya aku juga tidak pernah menyangka bisa berpacaran dengan Bobby, sebab hal itu terjadi begitu cepat..."


"Aku bertemu dengannya saat aku baru pulang dari rumah temanku dan ingin secepatnya bisa bertemu dengan pacarku, sehingga aku menghentikannya agar bisa menggunakan jasa ojeknya..."


Sintia pun terus menceritakan tentang bagaimana dirinya bisa bertemu hingga jadian dengan Bobby.


Sedangkan Siska dan Linda hanya bisa menjadi pendengar setia dari kisah tersebut.


Setelah selesai menceritakan hal itu, akhirnya Siska pun menanggapinya.


"Ternyata seperti itu ceritanya...aku tidak menyangka kau bisa memilih Bobby untuk menjadi pacarmu..."


"Memangnya kenapa menurutmu? Apakah aku salah karena telah memilih Bobby sebagai pacarku?" Sintia bertanya karena penasaran dengan tanggapan Siska.


"Aku tidak bermaksud seperti itu...tetapi yang aku maksudkan adalah Bobby itu di kampungnya sangat terkenal dengan sifatnya yang sering bertingkah seperti seorang preman, sehingga sangat sulit baginya memiliki seorang pacar di kampungnya sendiri." Siska mencoba untuk menjelaskan.


"Bersikap seperti seorang preman? Apakah dia sangat disegani di kampungnya!?" Lanjut Sintia penasaran.


"Boleh dikatakan seperti itu." Jawab Siska.


"Hmmmphh, jadi seperti itu yah!?" Ucap Sintia menanggapi jawaban Siska.


"Pantas saja dia tidak merasa takut saat berhadapan dengan pacarku...ternyata dia seperti itu." Gumam Sintia.


"Sin, tolong apa yang aku ungkapkan ini, jangan kau beritahukan kepadanya, karena pasti dia akan membenciku." Pinta Siska.


"Kau tenang saja dan tidak perlu merasa khawatir, karena aku pasti akan merahasiakannya." Tutur Sintia meyakinkan Siska.


"Terima kasih yah Sin!? Memang seharusnya aku tidak boleh memberitahukan hal itu kepadamu, karena aku juga tidak tahu apa yang kau pikirkan setelah mendengar apa yang aku katakan itu. Takutnya informasi itu bisa mempengaruhi hubungan mu dengan Bobby." Ucap Siska.


"Sis, jujur saja, sebenarnya aku harus berterima kasih kepadamu setelah aku mengetahui siapa sebenarnya Bobby itu di kampungnya, karena saat ini aku semakin merasa aman jika bersama dengannya, sebab aku sangat menginginkan seorang pria yang bisa melindungiku." Terang Sintia.


Mendengar apa yang disampaikan oleh Sintia, Siska hanya bisa terdiam dan tidak menanggapinya.


"Benar juga yang Sintia katakan itu...aku sendiri ingin seorang pria yang bisa melindungiku juga, sehingga sosok seperti Bobby itu sangat cocok juga bagiku." Sambung Linda.


"Tetapi kau tidak boleh meliriknya, sebab Bobby saat ini sudah menjadi pacarku...he...he...he... he...he..." Sambung Sintia bercanda.


Tawa Sintia itu segera memecahkan gelak tawa Siska dan juga Linda, sehingga mencairkan situasi yang serius diantara ketiganya.


"Terus saat ini kita akan kemana?" Siska kemudian bertanya kepada Sintia untuk mengubah arah pembahasan mereka.


"Malam ini kita akan nongkrong di salah satu kafe yang biasa saya kunjungi." Jawab Sintia.


"Apakah kalian berdua tidak keberatan jika kita stay disitu hingga larut malam!?" Lanjut Sintia bertanya kepada dua wanita yang sedang bersama dengannya.


"Aku akan meminta ijin kepada orang tuaku terlebih dahulu, agar aku tidak akan dimarahi oleh mereka." Jawab Linda menanggapi pertanyaan Sintia.


"Bagaimana denganmu?" Tanya Sintia sambil menatap Siska.


"Kalau aku tidak ada masalah jika pulang larut malam." Jawab Siska.


"Sis, aku ingin memberikan alasan jika kita berdua akan mengerjakan tugas kampus dan akan tidur dirumahmu yah!?" Tutur Linda lagi.


Siska pun segera mengangguk pelan menyetujui apa yang Linda katakan.


~Bersambung~