
Setelah semuanya duduk di setiap kursi yang sudah tersedia, Bobby langsung angkat bicara.
"Lex, berikan saja uang yang ada padamu itu kepada Hendra...biar Hendra sendiri yang mengaturnya."
Saat Alex hendak merogoh sakunya untuk mengambil uang yang Bobby perintahkan, Sintia langsung bertanya.
"Sebenarnya kalian mau minum apa?"
Mendengar pertanyaan Sintia, Hendra hanya bisa menatap Bobby dengan penuh pertanyaan.
Alex pun segera menyampaikan minuman apa yang akan mereka minum pada saat itu.
Mendengar perkataan Alex, Sintia kembali berkata.
"Biar aku dan Bobby saja yang pergi membelikannya...ayo Bob, kita pergi." Ajak Sintia.
"Lin, ayo ikut untuk membeli cemilanmu." Ucap Sintia mengajak Linda.
Mereka bertiga segera pergi meninggalkan rumah Hendra untuk pergi membeli minuman beralkohol di toko terdekat.
Saat mereka pergi, Hendra langsung angkat suara.
"Lex, sudah berapa lama mereka berdua berpacaran?"
"Aku juga tidak tahu, sebab aku baru saja bertemu dengan Sintia saat bus yang ku kendarai di hentikan dengan mobilnya itu."
"Aku dan Bobby langsung berniat untuk menyaperi sopir mobil yang menghadang jalanku, namun karena mungkin setelah melihat mobil Sintia, Bobby tidak melanjutkan niatnya."
"Saat aku melihat Sintia keluar dari kursi sopir, Aku juga sempat terkejut dengan tindakannya itu, karena dia adalah seorang wanita."
"Ternyata pacar Bobby itu juga bukan wanita sembarangan yah!?" Hendra menanggapi.
"Iya, memang menurutku juga seperti itu, sebab sangat jarang ada wanita yang bisa melakukan seperti apa yang dia lakukan." Ucap Alex membenarkan.
Keduanya terus membahas mengenai hubungan antara Bobby dan Sintia.
Sintia segera mengajak Bobby untuk masuk bersama kedalam sebuah toko untuk membeli minuman beralkohol tetapi yang sudah dikemas didalam botol dan memiliki merek terkemuka.
Bobby tidak mau memberikan masukan apa lagi kritikan terhadap apa yang Sintia lakukan, hal itu karena dirinya tidak ingin memberikan isyarat jika dia telah melupakan masalah yang baru saja terjadi.
Tidak lupa juga Sintia membeli beberapa bungkus rokok dan cemilan untuk mereka semua.
Bobby pun segera memuat ke dalam mobil apa yang telah dibeli oleh Sintia itu.
Setelah selesai, mereka pun segera kembali menuju ke rumah Hendra.
Saat mobil Sintia tiba, Hendra dan Alex segera menghentikan pembahasan mereka mengenai hubungan Bobby dan Sintia.
"Lex, tolong bantu turunkan belanjaan kita!" Pinta Bobby.
Alex pun segera bangkit dari tempat duduknya dan langsung melakukan apa yang Bobby pinta.
Mereka pun akhirnya segera memulai aktivitas yang telah direncanakan oleh Bobby dan Alex.
"Sepertinya kali ini kita merasa dimanjakan oleh Sintia...thks yah Sin!?" Ucap Hendra sekedar basa-basi.
"Ah, jangan bicara seperti itu, aku merasa tidak enak mendengarnya." Balas Sintia sambil tersenyum.
"Sin, jangan dimasukkan ke dalam hati apa yang Hendra ucapkan itu, nanti kau tidak bisa menolak lagi jika dia menginginkan hal yang lain." Sambung Alex dan langsung terkekeh.
"Bob, bagaimana menurutmu? Benar 'kan apa yang aku katakan itu?" Lanjut Alex untuk mendapatkan dukungan.
Bobby hanya menanggapi dengan senyuman sinis dan menatap Alex.
"Sudahlah, itu hanya pemikiran mu saja...tidak perlu kau meminta dukungan dari Bobby lagi." Hendra menanggapi.
"He...he...he...he...bilang saja jika kau ingin untuk menutupi siasatmu itu." Balas Alex lagi.
"Kalian berdua tidak perlu terlalu banyak bicara, cepat laksanakan kewajiban kalian." Ucap Bobby dengan maksud untuk menyuruh keduanya segera menghabiskan minuman yang sudah dituangkan kedalam gelas mereka.
Mendengar apa yang Bobby ucapkan, Alex dan Hendra hanya menanggapi dengan senyuman dan segera meneguk minuman di gelas mereka.
Setelah jam sudah menunjukkan pukul delapan lewat tiga puluh menit, karena sebelumnya Sintia telah berjanji kepada Linda untuk mengantarkannya, sehingga Sintia pun membisikkan hal itu kepada Bobby.
Bobby yang saat itu memang sudah mulai mabuk, langsung mengiyakan niat Sintia untuk mengantarkan Linda.
"Bob, tetapi kau juga harus bareng bersama ku untuk mengantarkan Linda." Bisik Sintia lagi kepada Bobby.
Bobby sedikit berpikir dan kembali berkata.
"Kau saja yang mengantarkan Linda, biar aku disini saja."
"Kenapa kau tetap tinggal?" Tanya Sintia bingung.
"Aku masih ingin duduk dan minum disini bersama mereka berdua." Jawab Bobby.
"Jika kau masih ingin minum, kita lanjut saja dirumahmu...bagaimana?" Tutur Sintia menawarkan.
"Kalian berdua saja yang menyelesaikan semua itu...nanti kita cari waktu yang lain saja untuk bisa kembali bertemu seperti ini lagi." Lanjut Bobby.
"Oke! Tetapi jika di lain waktu, kau harus duduk bersama kami sampai selesai, jangan meninggalkan kita berdua seperti ini." Hendra menanggapi apa yang Bobby sampaikan.
"Baiklah, pasti aku akan menemani kalian berdua sampai selesai jika kita bertemu lagi." Balas Bobby.
"Oke, kalau begitu, kami pergi duluan 'yah!?" Lanjut Bobby.
"Hen...Lex...sorry yah!? Bukanya tidak mau berlama-lama disini, akan tetapi memang waktu Linda hanya sampai jam sembilan malam, sehingga aku harus mengantarnya pulang." Ucap Sintia mencoba lebih menjelaskan.
"Iya Sin, tidak apa-apa kok...memang itu sudah seharusnya, aku dan Alex memaklumi hal itu." Balas Hendra.
"Benar apa yang dikatakan oleh Hendra." Sambung Alex menambahkan.
"Okelah kalau begitu, kami pamit dulu yah!?" Ucap Sintia lagi.
"Lex, Hen, nanti ketemu lagi!" Ujar Bobby.
"Oke Bob!" Balas keduanya secara bersamaan.
Mereka bertiga pun segera pergi meninggalkan rumah Hendra untuk mengantarkan Linda pulang.
"Lin, aku antarkan kamu sampai kerumahmu saja yah!? Agar ayah dan ibumu tahu jika kau juga pergi bersama dengan ku, meskipun Siska tidak mengantarkanmu." Tutur Sintia.
"Terima kasih yah Sin!?" Ucap Linda.
"Tetapi aku tidak bisa turun untuk mengantarkan mu, dengan kondisi ku seperti ini, nanti apa yang akan ayah dan ibumu pikirkan!?" Sambung Bobby.
"Iya, itu benar...!" Sintia membenarkan.
"Memang benar, jika ayah dan ibuku melihatmu seperti ini, nanti aku sudah tidak bisa lagi diberikan ijin oleh mereka untuk pergi bersama dengan teman-temanku." Linda menanggapi.
"Nanti jika ada waktu, kita bertiga akan jalan-jalan bersama lagi." Ucap Sintia.
"Aku mau bersama Siska juga, namun Siska pasti akan mengajak Natan lagi." Lanjut Sintia menjelaskan.
"Memangnya kenapa dengan Natan?" Tanya Bobby penuh selidik.
"Sudahlah, tidak usah membahasnya lagi." Ucap Sintia.
Bobby tidak ingin memaksakan diri untuk menanyakan akan hal itu, karena dia berpikir akan membahasnya saat sudah tiba dirumahnya.
Bobby tetap tidak membahas hal itu karena menjaga perasaan Sintia jika keduanya terjadi percekcokan dihadapan orang lain.
Hal terburuk jika terjadi percekcokan telah dipikirkan oleh Bobby. Dan hal itulah yang Bobby inginkan, yaitu Sintia memutuskan hubungan mereka berdua.
Akhirnya mereka pun tiba didepan rumah Linda. Sintia pun segera turun dan mengantarkan Linda sampai masuk ke dalam rumahnya.
Saat keduanya baru saja memasuki pekarangan rumah Linda, kedua orang tuanya telah berdiri di depan pintu untuk menyambut mereka.
"Selamat malam Om, selamat malam tante...aku Sintia temannya Linda! Maaf karena aku baru mengantarkan Linda!" Ucap Sintia.
"Ohh, tidak mengapa, Om dan Tante sangat senang karena nak Sintia sudah mengantarkan Linda sampai ke rumah." Ayah Linda menanggapi.
"Terus, dimana Siska? Kenapa tante tidak melihatnya?" Sambung ibu Linda.
"Ohh, Siska sudah pulang duluan bersama temannya yang lain tante." Ucap Sintia menjawab pertanyaan ibu Linda.
"Ohh, begitu yah!?" Ucap Ibu Linda menanggapi.
"Baiklah tante, om...Sintia balik dulu yah!?"
"Bagaimana jika nak Sintia mampir dulu sebentar!?" Ucap Ibu Linda menawarkan.
"Terima kasih tante! Nanti di lain waktu saja, sebab Sintia saat ini memang sedang buru-buru juga." Jawab Sintia.
"Ohh, begitu yah!? Baiklah, jika ada waktu, Sintia boleh main kesini lagi." Ucap Ibu Linda.
"Iya tante, itu pasti!" Sintia mengiyakan.
"Kalau begitu, Sintia pamit dulu." Lanjut Sintia lagi.
"Iya...terima kasih sudah mengantarkan Linda!" Ucap Ibu Linda.
"Sama-sama tante."
"Hati-hati di jalan yah!?" Ucap Ibu Linda mengingatkan.
"Iya tante." Ucap Sintia dan segera kembali naik ke mobilnya.
Sebelum pergi, Sintia sempat membunyikan klakson mobilnya.
Bobby langsung memperbaiki posisi duduknya lagi. Sebab sebelumnya posisi duduknya sedikit menyembunyikan dirinya dari pandangan kedua orang tua Linda.
~Bersambung~