
Setelah dua bulan menjalani hubungan dengan dua wanita sekaligus, akhirnya Iin mengetahui hubungan Bobby dengan Siska yang di ketahuinya dari Stenly.
Iin pun segera berinisiatif untuk mengakhiri hubungannya dengan Bobby dan meminta pemuda itu untuk bertemu dengannya malam itu juga.
Bobby pun merasa terkejut saat mendapatkan permintaan dari Iin melalui rekan seprofesinya.
Namun Bobby tidak langsung pergi untuk menemui wanita itu dan masih menunggu gilirannya untuk mengantarkan penumpang.
Setengah jam kemudian, akhirnya Bobby mendapatkan gilirannya dan mendapatkan seorang penumpang yang akan diantarkan dengan jarak terjauh dari rute yang biasa mereka layani.
Saat melewati rumah Om Guntur, Bobby sempat melihat sosok wanita yang sedang duduk diteras rumah itu.
"Sebenarnya apa yang ingin dia bicarakan denganku? Bukannya tiga jam yang lalu kita baru saja bertemu?" Pikir Bobby sambil memacu sepeda motor miliknya.
Iin yang melihat pemuda yang dia tunggu itu baru saja melintas didepannya hanya bisa menggerutu "Sial...bukannya langsung datang menemuiku, malahan masih sempatnya dia mengantar penumpang...ternyata dia memang benar-benar tidak menganggap ku sama sekali."
"Malam ini aku benar-benar harus mengakhiri hubunganku dengannya." Lanjut Iin menggerutu.
Stenly yang melintas didepan rumah Om Guntur sempat melirik Iin dan segera memutar balik untuk menemani wanita itu.
"Hallo Iin...sedang apa dirimu?" Tanya Stenly yang berpura-pura tidak mengetahui apa yang Iin pikirkan.
Pemuda itu segera memarkirkan sepeda motornya dan segera mendekati Iin serta langsung duduk disampingnya.
Iin hanya diam dan tidak menyambut kedatangan Stenly seakan tidak ada seseorang yang datang mendekatinya.
"Apakah kau sedang menunggu Bobby?" Tanya Stenly.
Iin tidak menjawab dan masih terlihat seperti tidak memperdulikan kehadiran serta pertanyaan yang dilontarkan oleh Stenly.
"Bukannya Bobby baru saja lewat?" Lanjut Stenly bertanya lagi.
"Sten...aku mohon untuk tidak menggangguku saat ini...jadi aku harap agar kau kembali melanjutkan aktivitas mu." Ucap Iin dengan nada suara yang datar.
Mendengar ucap Iin, akhirnya Stenly pun memutuskan untuk tidak lagi mengganggunya dan berkata "Baiklah...sorry jika kehadiranku telah membuatmu tidak nyaman...aku pergi dulu." Tutur Stenly dan segera pergi meninggalkan Iin duduk sendiri.
Karena ibu Iin mendengar apa yang di katakan oleh Stenly serta tanggapan yang diberikan oleh Iin, wanita paruh baya itu pun segera keluar dan berkata "In...mengapa kamu bersikap seperti itu kepada Stenly? Bukankah seperti biasanya dia selalu dekat dengan mu?"
"Ibu...malam ini aku sedang tidak ingin untuk berbicara dengannya." Jawab Iin.
"Sebenarnya ada apa denganmu? Apakah ini ada hubungannya dengan Bobby?" Tanya Ibu Iin karena merasa penasaran dengan perubahan sikap yang ditunjukkan oleh putrinya itu.
"Sudahlah Bu...aku tidak ingin membahasnya." Balas Iin.
"Jika ada masalah, kau katakan saja kepada ibu, mungkin ibu bisa membantumu untuk mendapatkan solusinya." Kata ibunya.
"Iya Bu...jika aku sudah merasa saatnya sudah tepat, pasti aku akan memberitahukan hal ini kepada ibu." Balas Iin lagi.
"Terus, apa yang kau lakukan disini?" Tanya ibunya lagi.
"Aku sedang menunggu Bobby, karena ada hal yang ingin aku tanyakan kepadanya." Jawab Iin lagi.
"Baiklah, ibu tidak akan mengganggumu lagi...kalau begitu, ibu masuk dulu." Tutur ibunya dan langsung kembali ke kamarnya.
Sedangkan Iin masih tetap duduk sendiri di teras rumah itu.
Sesaat kemudian, datang Om Guntur dan langsung menyapa Iin "Hei Nona! Mengapa duduk sendiri disini? Apakah kau sedang menunggu buah hatimu?" Tutur Om Guntur dengan candaan.
"Huuu...tambah satu orang lagi yang membuatku pusing." Iin membalas candaan Om Guntur dengan senyum yang dipaksakan.
"Oh...jadi nona ini sedang merasa pusing yah? Siapa yang membuatmu merasa pusing? Apakah itu kekasihmu?"
"Om Guntur...! Dasar pemabuk, tidak mengerti dengan perasaan perempuan..." Teriak Iin dengan manja membalas candaan Om Guntur.
"Oke...oke...anggap saja Om Guntur tidak pernah menyapa mu..." Balas Om Guntur dan langsung pergi meninggalkan Iin.
Tidak lama kemudian, akhirnya Bobby pun memarkirkan sepeda motor miliknya seraya berkata "Apakah benar kau ingin bertemu denganku?" Tanya Bobby.
"Kenapa dengan wajahmu itu? Apakah kau lebih suka terlihat jelek?" Tanya Bobby lagi.
"Biarin..." Balas Iin dengan nada ketus.
"Lagi tidak enak badan yah? Lebih baik beristirahat saja, agar supaya besok kamu bisa bekerja." Tutur Bobby sambil tersenyum menggoda.
"Dasar gombal...! Ayo kita pergi...ada yang ingin aku tanyakan pada mu." Balas Iin yang langsung duduk diatas sepeda motor Bobby.
"Sudah jam segini...kita mau pergi kemana lagi?" Tanya Bobby.
"Jangan munafik...biasanya kau sendiri yang membuatku selalu pulang larut malam...ini kau seperti seorang pria yang lugu." Ujar Iin.
"He...he...he...he...he...menurutmu memangnya aku ini seburuk itu?" Balas Bobby lagi.
"Sudah, jalan saja." Ucap Iin lagi.
Akhirnya Bobby pun kembali menghidupkan mesin sepeda motor miliknya dan langsung pergi meninggalkan tempat itu.
"Terus...kita mau kemana?" Tanya Bobby lagi.
Iin pun memberitahukan kepada Bobby untuk pergi ke salah satu tempat yang belum lama di bangun di pesisir pantai.
Bobby pun segera meluncur ke arah yang di tentukan oleh Iin.
Karena posisi bangunan pemecah ombak berada di bawah jalan raya, sehingga sepeda motor milik Bobby hanya diparkirkan di bahu jalan yang memang cukup luas.
Keduanya pun segera menuruni puluhan anak tangga yang telah disediakan untuk bisa pergi sampai di pemecah ombak yang dibangun ke arah laut sejauh puluhan meter dan terlihat seperti berbentuk huruf "T".
Keduanya pun langsung duduk di sudut pemecah ombak sebelah kirinya. Setelah keduanya duduk, Bobby pun angkat suara "Jadi, apa yang ingin kau katakan kepadaku?" Tanya Bobby dengan santai.
Iin terdiam sejenak kemudian berkata "Aku dengar, kau saat ini juga sedang berpacaran dengan perempuan yang bernama Siska...apa benar yang aku dengar itu?" Dengan nada yang penuh dengan penekanan.
"Ohh...jadi itu yang ingin kau tanyakan kepadaku? Siapa yang mengatakan hal itu kepadamu?" Tanya Bobby dengan tatapan penuh selidik.
"Kau cukup jawab saja pertanyaanku...kau tidak perlu tahu siapa yang telah memberitahukan hal itu kepadaku." Balas Iin.
"Jadi siapa yang lebih kau percaya? Aku atau orang yang memberitahukan hal itu kepadamu?" Tanya Bobby.
"Bagaimana aku bisa mempercayai dirimu? Kau saja belum menjawab pertanyaanku." Balas Iin.
"Kau harus percaya...saat ini tidak ada wanita lain selain dirimu didalam hati dan pikiranku... hanya saja aku saat ini sedang berusaha untuk mengejar setoran sepeda motor milikku, sehingga terkadang aku terlihat seperti acuh tak acuh dengan mu." Bobby menjelaskan agar Iin tetap mempercayainya.
"Apa benar yang kau katakan itu?" Tanya Iin lagi.
"Iya...itu benar...aku tidak akan pernah membohongimu." Ucap Bobby untuk meyakinkan wanita disampingnya sambil mengenggam tangannya.
Iin pun terdiam setelah mendengar penjelasan Bobby kemudian berkata "Kira-kira masih berapa lagi setoran sepeda motor milikmu itu?" Tanya Iin.
"Sudahlah...tidak perlu kau memikirkan hal itu, aku tidak ingin membuat mu merasa terbeban dengan tanggung jawab ku." Balas Bobby.
"Jangan berpikir seperti itu...aku hanya ingin sedikit meringankan bebanmu, jadi kau tidak boleh menolaknya." Tutur Iin.
"Katakan saja, berapa setoran yang masih ingin kau cari?" Tanya Iin memaksa.
"Aku masih membutuhkan uang sebesar lima ratus ribu rupiah...itu jumlah yang tidak sedikit menurutku...untuk itu, kau tidak perlu memikirkan hal itu." Jawab Bobby.
"Sudah, kau tidak perlu memikirkan lagi masalah itu, besok pagi, saat kau akan mengantarkan ku untuk pergi ke tempat kerja, aku akan memberikan uang itu kepadamu." Ucap Iin untuk meringankan beban Bobby.
"Tetapi kau harus ingat...aku tidak ingin lagi mendengar kabar yang tidak baik dari orang lain." Lanjut Iin lagi.
"Iya Sayang...aku janji, aku pasti tidak akan mengecewakanmu." Ucap Bobby dan langsung memeluk dan mencium kening wanita disampingnya itu.
"Mungkin orang itu hanya sirik saja dengan hubungan kita, jadi kau jangan pernah mendengar dan percaya dengan perkataan orang lain." Tutur Bobby untuk lebih membuat Iin percaya kepadanya dan lebih mempererat pelukannya untuk membuat wanita itu merasa nyaman.
~Bersambung~