BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 42. Kekecewaan Bobby



Bobby yang bisa mendengar lelucon mereka itu hanya bisa menahan emosi didalam hatinya.


"Sepertinya hari ini akan menjadi hari terakhir hubunganku dengan Sintia...aku harus memutuskannya saat kembali dari sini."


Sintia pun segera mendekati Bobby dan berkata "Bob, kenapa kau tidak gabung dengan kami?"


"Sudahlah, aku tidak se-level dengan kalian, jadi lebih baik aku menikmati sendiri keindahan pemandangan ditempat ini." Jawab Bobby.


"Kenapa kau berkata seperti itu? Apakah kau marah kepadaku?" Sintia kembali bertanya.


"Tidak, aku tidak marah, tetapi aku merasa sadar diri saja dengan posisi ku sendiri." Jawab Bobby sambil menutupi kekecewaannya.


"Bob...maafkan aku jika telah membuatmu merasa tidak nyaman." Ucap Sintia.


"Sintia! Ayo gabung lagi!" Teriak Natan.


"Sudah, kalian lanjut saja...aku stay disini dulu bersama dengan Bobby." Balas Sintia menolak panggilan Natan.


Karena Sintia menolak panggilannya, Natan pun kini langsung berinisiatif untuk mendekati keduanya agar bisa membuat Bobby dan Sintia terpisah lagi.


"Sin, ayo! Tidak seru jika tidak ada dirimu." Ucap Natan meyakinkan Sintia untuk gabung bersama mereka bertiga.


"Bob, ayo gabung bersama dengan mereka." Ajak Sintia.


"Jika kau mau...pergilah! Silahkan kau ikut saja dengan Natan untuk gabung bersama mereka." Balas Bobby.


"Ayo, mungkin Bobby ingin sendiri." Ucap Natan lagi.


Akhirnya Sintia pun mengikuti Natan untuk gabung lagi bersama dengan Siska dan Linda yang berada di sebuah gazebo.


Saat Sintia pergi, Bobby pun segera berjalan untuk lebih menjauh dari mereka agar tidak ingin lagi mendengarkan lelucon untuk merendahkannya.


Saat tiba di gazebo, seorang pelayan pun mencoba untuk menawarkan menu dari kantin mereka.


Sintia segera memesan makanan dan minuman untuk mereka berempat dan kemudian berkata "Tolong kau tanyakan apa yang ingin dipesan oleh pemuda yang berdiri disana." Sambil menunjuk ke arah dimana awalnya Bobby berada.


Sintia merasa bingung setelah melihat kini Bobby sudah tidak berdiri lagi di tempat yang baru saja dia tinggalkan.


"Oh, itu dulu yang kami pesan." Ucap Sintia lagi setelah melihat Bobby sudah tidak ada ditempatnya.


Setelah pelayan itu pergi, Sintia pun berdiri hendak mencari Bobby. Namun niatnya tersebut kembali dihentikan oleh Natan.


"Sudahlah Sin...Bobby itu bukan anak kecil lagi, jadi untuk apa kau mencarinya? Mungkin saja dia sedang pergi ke toilet." Tutur Natan.


Mendengar apa yang Natan sampaikan, Sintia pun kembali duduk dan melanjutkan kekonyolan mereka.


Beberapa saat kemudian, akhirnya pesanan mereka pun diantarkan. Saat itu mereka seakan telah mengabaikan keberadaan Bobby.


Bobby sendiri kini hanya duduk sendiri sambil menikmati pemandangan ditempat itu.


Tiba-tiba seorang pria menyapanya "Bob, ngapain kau duduk sendiri disini? Dimana teman-temanmu?" Tanya pria itu.


"Ehh, Rizal!? Bagaimana kabarmu?" Balas Bobby.


Rizal sendiri adalah kenalan Bobby saat bekerja diluar kota.


Kedekatan keduanya karena Bobby sempat membantunya saat akan dikeroyok oleh beberapa preman kampung setempat.


Pada saat itu, Bobby bisa membuat salah satu diantara preman kampung itu tidak sadarkan diri dengan tendangan yang tepat mengenai dagunya dan terangkat ke udara kemudian jatuh dengan kepala bagian belakangnya yang membentur lantai beton.


Karena kejadian itu, sehingga membuat Bobby mendapatkan masalah yang sangat serius.


Untung saja dirinya bisa melarikan diri dari amukan warga kampung itu. Jika tidak, sudah pasti dirinya sudah menjadi korban mereka.


Setelah itu, Rizal pun sangat menghormati Bobby dan sangat terkejut setelah melihat sosok yang dihormatinya itu kini terlihat duduk sendiri tanpa ada yang menemani.


Apa lagi tempat itu sangat cocok jika datang bersama dengan pasangan masing-masing untuk bisa menikmati keindahan alam ditempat itu.


"Terus kau datang kesini bersama siapa?" Lanjut Bobby.


"Ohh...aku kesini mengantarkan rombongan yang menyewa bus yang aku bawa." Jawab Rizal.


"Jadi pekerjaanmu saat ini adalah sopir bus?" Tanya Bobby.


"Iya, itulah pekerjaanku saat ini...terus apa pekerjaanmu saat ini?" Jawab Rizal dan balik bertanya.


"Aku saat ini hanya sebagai tukang ojek saja." Jawab Bobby jujur.


"Apakah kalian masih lama untuk kembali?" Lanjut Bobby bertanya.


"Mungkin sekitar jam empat sore, rombongan yang aku bawa akan kembali ke kota...memang kenapa kau bertanya seperti itu? Apakah kau ingin ikut bareng bersama dengan ku?" Tutur Rizal sambil tersenyum dengan maksud bercanda.


"Iya, aku ingin ikut denganmu saja." Ucap Bobby.


Apa lagi jarak tempat itu dengan perkampungan penduduk sejauh dua kilometer, mana mungkin Bobby sampai kesitu dengan hanya berjalan kaki.


Bob...terus dimana sepeda motor mu?" Tanya Rizal penasaran.


"Aku tidak membawanya." Jawab Bobby.


"Jika begitu, bagaimana kau bisa sampai ditempat ini?" Tanya Rizal lagi.


"Aku datang bersama dengan teman dari temanku, hubungan kami tidak begitu dekat, saat aku kembali dari toilet, aku sudah ditinggal pergi oleh mereka." Tutur Bobby mengarang cerita.


"Bagaimana bisa seperti itu? Benar-benar tidak berakhlak." Ujar Rizal dengan nada yang tinggi.


"Begini saja, kau bisa mengantarkan aku sampai di jalan utama? Jika bisa, tolong antarkan aku, setelah sampai dijalan utama, aku akan menunggu bus angkutan antar kota yang akan lewat." Tutur Bobby.


"Baiklah, aku akan mengantarkanmu." Rizal menyanggupi permintaan Bobby.


Rizal pun segera mengantarkan Bobby sesuai dengan permintaannya.


Setelah tiba ditempat tujuan, Rizal pun kembali lagi ke tempat semula, sedangkan Bobby kini sedang menunggu sebuah bus yang akan lewat.


Memang jalur tersebut akan dilalui oleh berbagai macam bus antar kota dalam propinsi serta bus antar kota antar propinsi, sehingga tidak perlu khawatir.


Bobby segera mengirimkan pesan singkat kepada Sintia untuk memberitahukan jika Sintia tidak perlu lagi mencari dirinya.


Setelah mengirimkan pesan tersebut, Bobby segera menonaktifkan ponselnya.


Sesaat kemudian, bus yang dia nantikan pun terlihat dan langsung dihentikan olehnya serta segera naik untuk kembali ke kota.


Ponsel Sintia pun bergetar, namun karena keseruan mereka, dia tidak mengetahuinya.


Setelah sudah sejam berlalu, Sintia pun segera menyadari jika dirinya telah mengabaikan keberadaan Bobby.


Pandangannya kemudian mengitari setiap sudut tempat itu untuk mencari keberadaan Bobby.


Namun dia tidak melihatnya kemudian berkata "Sebentar yah!? Aku tinggal sebentar." Ucap Sintia dan segera melangkah pergi dari tempat dimana mereka berempat duduk.


"Sin...biar aku temani." Ucap Natan dan segera mengikuti Sintia.


Melihat sikap Natan, Linda pun angkat suara "Sis, sebenarnya Natan itu pacarmu atau bukan?" Sambil menatap dengan penasaran ke arah Siska.


"Entahlah, sejak awal aku juga merasa tidak senang dengan sikapnya itu." Jawab Siska.


"Aku perhatikan sejak awal, dia terlalu sibuk dengan urusan Sintia yang ingin pergi mencari Bobby...tidak hanya itu saja, aku merasa lelucon yang dimulai olehnya itu memang sengaja untuk membuat Bobby tidak nyaman bersama kita." Tutur Linda mengungkapkan kecurigaannya.


Siska pun terdiam setelah mendengar apa yang Linda sampaikan.


"Sepertinya apa yang Linda katakan itu ada benarnya juga...mungkin itu yang menjadi alasan sehingga Bobby tidak mau duduk bersama dengan kita." Pikir Siska.


Sintia kini mulai berkeliling untuk mencari dimana keberadaan Bobby dan terus ditemani oleh Natan.


"Sin...sepertinya Bobby memang tidak mau pergi bersama dengan kami, itulah mengapa dia menjauhi kita."


Sintia tidak mau menanggapi perkataan Natan dan masih sibuk untuk mencari keberadaan Bobby.


Karena sudah tidak menemukan keberadaan Bobby, akhirnya Sintia pun segera kembali ke tempat semula untuk mengambil smartphone miliknya.


"Sepertinya aku telah membuat kesalahan yang fatal...bagaimana mungkin aku mengabaikan Bobby!? Aku sendiri yang mengajaknya kesini untuk menikmati keindahan pemandangan ditempat ini, mengapa aku malah mengabaikan dirinya?" Pikir Sintia dengan perasaan yang bersalah.


"Sin, apakah mungkin Bobby sudah pulang duluan?" Ucap Natan.


"Natan, Siska itu pacarmu, mengapa kau menunjukkan sikap seperti ini kepadanya?" Balas Sintia dengan dingin.


"Bagaimana mungkin aku membiarkan dirimu mencari Bobby sendiri? Jelas aku harus menemanimu...Siska pasti memahami apa yang aku lakukan." Balas Natan membenarkan apa yang dia lakukan.


Keduanya pun tiba ditempat semula dan langsung disambut dengan pertanyaan oleh Siska.


"Sin, dimana Bobby? Mengapa dia tidak kembali bersamamu?"


"Iya, mengapa hanya kalian berdua yang kembali?" Sambung Linda.


Sintia tidak menjawab pertanyaan keduanya dan langsung meraih smartphone miliknya untuk menghubungi Bobby.


Saat Sintia membuka kunci layar ponselnya, dia langsung melihat ada sebuah pesan yang masuk dan langsung membaca pesan tersebut.


"Tidak perlu lagi kau mencariku." Pesan yang dikirimkan oleh Bobby.


Sontak saja Sintia langsung terkejut membaca pesan tersebut dan segera menghubungi nomor ponsel Bobby.


~Bersambung~