BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 36. Sesudah Bersama Sintia



Handphone Bobby berdering, pemuda itu segera merogoh sakunya dan menarik keluar benda itu.


Dan yang tertulis di layarnya adalah 'Iin memanggil'.


"Hallo!?" Ucap Bobby.


"Kau mau menjemputku atau tidak!?" Tanya Iin.


"Iya...iya...aku segera kesana." Balas Bobby dan segera menutup panggilan itu.


"Sepertinya kamu telah melupakan langganan wajib mu setiap pagi." Goda Diksi sambil tersenyum.


Bobby hanya bisa tersenyum dan segera bergegas pergi untuk menjemput Iin.


Sesampainya didepan rumah Om Guntur, Bobby segera memutar sepeda motor miliknya ke arah yang akan mereka tuju.


"Mengapa kau bisa lupa untuk menjemputku?" Tanya Iin karena melihat arah datangnya Bobby.


"Tadi aku dipanggil oleh Om Diksi, sebab ada hal penting yang ingin dia bicarakan denganku." Jawab Bobby berbohong untuk memberikan alasan.


Iin segera naik di boncengan dan segera berkata untuk menanggapi perkataan Bobby.


"Oh...jadi seperti itu yah!?" Dengan nada yang datar.


Keduanya pun segera meluncur untuk menuju ke tempat kerja Iin sambil berbincang-bincang seperti biasanya.


Tidak ada hal spesial yang terjadi diantara keduanya hingga Bobby kembali lagi ke pangkalan ojek.


Handphone Bobby disaku celananya pun bergetar. Pemuda itu pun segera mengeluarkan ponselnya itu dan melihat pesan yang masuk.


"Bob...apa yang sedang kau lakukan?" Bunyi pesan tersebut.


"Aku sedang narik nih!" Tulis Bobby dan mengirimkan untuk membalas pesan dari Sintia.


"Oh...aku pikir kau tidak ngojek!?" Balas Sintia lagi.


"Terus, aku mau makan apa jika tidak narik!?" Balas Bobby.


"Terus apa yang kau lakukan?" Lanjut Bobby bertanya.


"Aku saat ini sedang berada di kamar" Balas Sintia untuk menjawab pertanyaan Bobby.


"Bob...aku istirahat dulu yah!? Jangan lupa, sebentar sore aku akan pergi ke rumahmu... kau tidak perlu narik." Lanjut Sintia sebelum Bobby bisa membalas pesannya.


"Iya." Balas Bobby singkat.


Sintia kini tidak lagi membalas pesan dari Bobby.


Sedangkan ponsel Bobby kini kembali bergetar. Sebuah pesan kembali masuk.


Bobby berpikir itu pesan dari Sintia. Namun saat dia membuka untuk membacanya, terlihat sebuah nama yang tidak asing baginya.


Pesan itu dari Siska dan berbunyi "Bob...mengapa kau tidak datang semalam?"


Bobby tidak membalas pesan tersebut dan kembali memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.


Beberapa saat kemudian ponselnya berdering.


Bobby kembali mengeluarkan ponselnya dan melihat siapa yang melakukan panggilan.


Di layar ponselnya kini nama Siska yang muncul.


"Apa lagi yang dia inginkan?" Pikir Bobby dan tidak mengangkat panggilan tersebut seraya memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku.


Di tempat Siska.


"Sial...mengapa dia tidak mengangkat panggilan ku? Apa yang sedang dia lakukan saat ini?" Pikir Siska.


Wanita itu pun kembali menelpon Bobby.


Di tempat Bobby.


Bobby yang kembali mendapatkan panggilan dari Siska, kini tidak ingin memperdulikan lagi panggilan tersebut.


Setelah panggilan itu berakhir, Bobby segera mengatur ponselnya ke profil diam agar tidak merasa terganggu dengan panggilan Siska.


Di tempat Siska.


"Sial...kenapa sudah beberapa kali tetap saja dia tidak ingin menjawab panggilanku? Apakah dia telah mengetahui jika aku ingin putus darinya!?" Pikir Siska dengan perasaan jengkel.


"Baiklah, aku akan segera mengakhiri hubungan kita lewat pesan saja." Pikir Siska lagi dan segera melakukan hal itu.


Setelah beberapa saat mengirimkan pesan kepada Bobby, tidak ada balasan dari pemuda itu.


Meskipun ingin putus dari Bobby, namun Siska merasa sangat jengkel karena tidak ada balasan dari pemuda itu.


"Sebenarnya apa yang dia inginkan?" Pikir Siska lagi.


Ponselnya terus berada di genggamannya untuk menunggu balasan dari pemuda itu, namun setelah sejam menunggu, akhirnya Siska kembali melepaskan ponselnya itu diatas meja belajarnya.


"Tetapi bagaimana mungkin dengan panggilan sebanyak itu dia tidak mengetahuinya? Apakah dia sengaja mengabaikan pesan dan panggilan dariku?"


"Bagaimana mungkin sikapnya berubah secepat itu terhadapku? Apakah itu berhubungan dengan kejadian saat dia datang menjemputku!?"


"Tidak! Aku harus bertemu dengannya untuk berbicara."


Wanita itu tidak menyadari jika sudah ada Selly yang berdiri sambil memperhatikan tingkah lakunya itu.


Dan saat Siska bergumam, Selly bisa mendengarnya dan langsung menanggapi.


"Siapa yang ingin kau temui?" Selly melontarkan pertanyaan.


Siska langsung terkejut setelah mendapatkan pertanyaan dari Selly.


"Selly...! Mengapa kau tidak mengetuk pintu sebelum masuk?" Tutur Siska dengan nada yang tinggi.


"Untuk apa aku mengetuk jika pintumu sedang terbuka?" Balas Selly dengan nada yang datar.


"Kau membuatku terkejut!" Ujar Siska lagi.


"Siapa yang membuatmu hingga terlihat gelisah seperti itu?" Balas Selly bertanya.


"Sudahlah, kau tidak perlu tahu." Ucap Siska tidak ingin menjawab pertanyaan dari Selly.


"Aku pikir, setelah punya pacar baru, kau akan terlihat bahagia...ternyata aku keliru telah berpikir seperti itu." Ucap Selly lagi.


"Siapa bilang aku tidak merasa bahagia? Menurutku aku merasa sangat bahagia saat ini." Balas Siska menanggapi ucapan Selly.


"Terus mengapa kau terlihat sangat gelisah?" Tanya Selly lagi.


"Itu karena Bobby tidak membalas pesan dan tidak menerima panggilan telepon dariku." Jawab Siska dengan nada yang ketus.


"Ohh...jadi begitu yah!?" Ucap Selly menanggapi dan langsung duduk di samping Siska sambil menatapnya dengan senyuman yang mengejek.


"Kenapa kau menatapku seperti itu? Apakah kau sedang mengejekku?" Tanya Siska sambil mencubit pinggang Selly.


Selly pun langsung terperanjat dan hanya terkekeh dengan apa yang Siska lakukan kepadanya.


"Cepat katakan saja...apakah kau sedang merindukan Bobby?" Ledek Selly lagi.


"Cepat pergi, kau hanya menambah beban dalam pikiranku!" Ujar Siska.


"Cie...cie...ternyata dia merasa terbeban dengan rasa rindunya itu." Ledek Selly lagi.


"Sel! Sudahlah, aku telah mengakhiri hubunganku dengan Bobby lewat sms, jadi kau tidak perlu meledekku seperti itu." Ungkap Siska.


"Ohh...jadi seperti itu yah!? Terus, mengapa kau merasa gelisah? Jika kau telah mengakhiri hubunganmu dengan Bobby, setidaknya kau harus merasa senang dong!? Mengapa terlihat sebaliknya?" Selly menanggapi.


"Iya juga sih...mengapa aku bisa merasa seperti ini!?" Tutur Siska.


"Sebaiknya kau menghubungi pacar barumu itu agar bisa menghilangkan kegelisahan yang kau rasakan itu." Selly menyarankan.


"Benar juga...baiklah, kau pergi saja, aku ingin menghubungi pacar baruku itu." Ucap Siska.


"Ternyata kau kejam juga...setelah mendapatkan saran dari ku, kau begitu entengnya menyuruhku untuk menjauh...hah!?" Tutur Selly dan langsung menggelitik Siska.


Kamar tidur Siska kini riuh dengan suara kedua wanita itu yang saling berbalas-balasan menggelitik satu dengan yang lain.


Sedangkan Bobby sendiri kini hanya fokus untuk mengumpulkan uang dari profesinya sebagai tukang ojek.


Pemuda itu tidak memperdulikan apa pun yang ada di ponselnya meskipun itu Sintia atau Iin yang akan menghubungi dirinya.


Pikiran Bobby pada hari itu masih seperti biasanya yang tidak merasa terbeban dengan sesuatu yang berhubungan dengan hati dan perasaannya.


Di tempat Siska.


Wanita itu segera melakukan apa yang disarankan oleh Selly.


Namun dia hanya mendapatkan kekecewaan juga dari apa yang dia lakukan, sebab pacar barunya itu tidak menanggapi juga apa yang dia lakukan.


"Sial...apakah hari ini semua pria senang membuat diriku merasa jengkel?" Siska mengumpat.


Untung saja Selly pada saat itu sudah tidak lagi berada di kamarnya.


Jika wanita itu masih berada di kamarnya, pasti dia akan mendapatkan ledekan.


"Apa yang dia lakukan sehingga tidak membalas pesan dan tidak mengangkat panggilan telepon dariku?" Gumam Siska lagi.


Wanita itu kembali mencoba untuk menelpon kekasih barunya itu, namun hal yang sama dia terima, sehingga membuatnya merasa lebih frustasi dengan apa yang dia alami.


"Benar-benar sangat menjengkelkan...apakah aku harus memutuskan juga hubungan ku dengannya?" Gumam Siska yang di maksudkan kepada pacar barunya.


Setelah menimbang-nimbang, akhirnya Siska memutuskan untuk keluar dari kamarnya dan stay di pores rumah Selly untuk menunggu Bobby lewat.


~Bersambung~