BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 17. Mungkin Dia Gila Atau Buta



Bobby langsung kembali untuk menuju ke pangkalan ojek yang biasanya tempat dia mangkal sambil tersenyum memikirkan tingkah Siska.


Tidak lama kemudian akhirnya Bobby tiba di pangkalan ojek yang dia tuju.


Namun karena melihat sudah ada banyak yang mangkal di situ, Bobby pun kembali berpikir untuk berkeliling lagi di komplek perkampungan untuk mencari calon penumpang lagi.


Di lorong yang sama dimana dia menemukan Siska, Bobby juga melihat seorang wanita yang dia kenal.


"Ojek!?." Tutur Bobby menawarkan.


"Iya Bob! Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah saudaraKu?." Tanya wanita tersebut.


"Bisa! Ayo, silahkan naik!." Ujar Bobby mempersilahkan.


Wanita tersebut pun langsung naik dan langsung duduk.


Keduanya langsung meluncur menuju ketempat yang wanita itu maksudkan.


"Mey! Jika sudah tiba di komplek yang kamu maksudkan, nanti kamu arahkan aku yah!? Karena aku tidak mengetahui letak rumah saudaraMu itu!." Tutur Bobby.


"Iya!." Jawab Meyna singkat.


"Mey! Boleh tidak aku bertanya kepadaMu?." Tanya Bobby.


"Boleh! Apa yang ingin kamu tanyakan?." Balas Meyna.


"Begini! Tadi aku baru saja mengantarkan cewek cantik yang tinggal juga di komplek situ! Apakah kamu mengenalnya?." Tanya Bobby.


"Apakah yang kamu maksudkan itu adalah Siska?." Tanya Meyna ingin memastikan.


"Iya! Sepertinya itu nama yang tadi dia ucapkan!." Jawab Bobby.


"Oh iya! Kemarin saat kami duduk dan ngerumpi! Dia sempat menanyakan siapa kamu! Dan aku pun memberitahukan kepadanya namaMu! Memangnya kenapa?." Tutur Meyna sambil balas bertanya kepada Bobby.


"Oh, jadi kamu yang memberitahukan namaKu kepadanya! Aku pikir siapa!." Balas Bobby.


"Iya! Itu aku yang memberitahukannya! Tetapi itu juga karena dia sendiri yang ingin mengetahui siapa kamu dan namaMu!." Tutur Meyna.


"Tetapi ada hal juga yang harus kamu tahu!." Lanjut Meyna.


"Apa itu?." Tanya Bobby penasaran.


"Sepertinya dia naksir sama kamu!." Tutur Meyna sambil tersenyum.


"Ah, jangan kamu menggodaKu! Tidak mungkin cewek secantik dia mau naksir kepadaKu! Hal itu mungkin terjadi jika dia itu gila atau pun buta! Sehingga dia tidak bisa menilai baik buruknya diriKu ini!." Balas Bobby sambil tertawa karena menganggap apa yang Meyna katakan itu adalah lelucon.


"Jadi kamu tidak percaya dengan kata - kataKu itu? Aku mengatakan hal itu karena benar adanya!." Balas Meyna.


"Jika kamu tidak percaya, tanyakan juga kepada Selly, pasti dia akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang aku katakan tersebut! Karena saat itu Selly juga ada bersama dengan kita!." Tutur Meylan lagi.


"Jadi apa yang kamu katakan itu benar? Tetapi kenapa tingkahnya seperti itu kepadaKu?." Tanya Bobby lagi yang belum percaya dengan apa yang telah Meyna katakan.


"Baiklah! Sebentar jika aku sudah kembali dari rumah saudaraKu, aku akan bertemu lagi dengannya! Aku akan mencoba untuk mengorek tentang apa yang kamu katakan itu!." Ujar Meyna.


"Itu boleh juga! Tetapi kamu jangan mengatakan kepadanya jika aku yang menceritakan hal itu kepadaMu!." Balas Bobby menanggapi perkataan Meyna.


Karena pada saat itu telepon genggam sudah bisa di miliki oleh masyarakat umum, sehingga Meyna langsung menanyakan kepada Bobby, apakah dia memilikinya.


Bobby pun langsung menjawab bahwa dirinya memiliki telepon genggam atau biasa di sebut dengan ponsel.


Setelah mendengarkan jawaban dari Bobby, Meyna pun langsung bertanya.


"Ok! Kalau begitu berapa nomor ponselMu?." Tanya Meyna.


Bobby pun langsung mengatakan nomor ponselnya.


Meyna langsung menyimpan nomor posel milik Bobby dan langsung mencoba untuk menghubunginya.


Ponsel Bobby pun langsung berdering sehingga membuat Meyna yakin bahwa nomor yang di berikan oleh Bobby adalah benar.


"Barusan itu aku yang menelponMu! Simpan saja nomor ponselKu itu!." Tutur Meyna.


"Sebentar nanti aku yang menghubungiMu dan memberitahukan apa yang akan dia katakan kepadaKu!." Lanjut Meyna lagi.


"Mey! Apa Siska punya ponsel?." Tanya Bobby.


"Iya! Siska memiliki ponsel!." Jawab Meyna.


"Apakah nomor ponselnya ada padaMu?." Tanya Bobby lagi.


"Iya! Aku menyimpannya! Kenapa? Kamu mau menyimpannya juga?." Tanya Meyna.


"Kalau kamu mau memberikannya kepadaKu, pasti aku akan menyimpannya!." Tutur Bobby sambil tersenyum.


Bobby langsung merogoh sakunya dan meraih ponsel di dalamnya dan lansung memberikannya kepada Meyna.


Gadis itu pun langsung mengetik nomor HP miliki Siska dan menyimpan di kontak HP milik Bobby.


"Ini HPmu! Aku sudah menyimpannya!."


"Nanti kamu lihat saja dikontakMu yang nama Siska, itulah nomor HPnya!."


"Thks yah Mey!?." Ucap Bobby dengan perasaan yang sangat senang.


Mereka berdua pun terus bercakap - cakap sambil Meylan menjadi navigator bagi Bobby untuk mengarahkannya sehingga bisa tiba di tempat tujuan mereka.


Setelah tiba, Meyna pun langsung memberikan uang ongkos ojek kepada Bobby.


Pemuda itu pun segera kembali dan berpikir untuk pulang kerumahnya dan membersihkan tubuhnya serta mengganti pakaiannya.


Sebab bagi seorang tukang ojek, bukan hanya pelayanan yang baik saja yang harus di pertahankan melainkan kebersihan serta kerapiannya juga selalu menjadi sorotan bagi setiap penumpang.


Sehingga seorang tukang ojek harus sopan dalam berperilaku, santun dalam bertutur kata, bersih, rapih dan harus menggunakan parfum.


Hal itulah yang selalu Bobby lakukan setiap harinya disaat dia akan melakukan aktivitasnya sebagai tukang ojek.


Setelah selesai, Bobby pun segera mengisi perutnya sebelum dirinya kembali beraktivitas kembali.


Akhirnya Bobby kembali menunggangi kuda besinya itu dan meluncur lagi untuk menuju ke pangkalan ojek.


Seperti biasanya saat itu adalah jam untuk banyak orang selesai beraktivitas dengan pekerjaan mereka, sehingga penumpang di pangkalan Bobby pun membeludak.


Tukang ojek dipangkalan tersebut terkadang mulai kelabakan dengan para penumpang yang sudah mengantri di pangkalan tersebut karena kekurangan ojek.


Keadaan tersebut berlangsung hingga dua jam lamanya dan akhirnya keadaan kembali seperti semula disaat bukan jam peledakan penumpang.


Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 20:15.


Sebuah angkot berhenti tepat didepan pangkalan ojek tempat Bobby mangkal.


Terlihat Seorang gadis turun dari angkot tersebut.


Wajah gadis itu langsung dikenali oleh Bobby.


"Siska! Iya ini Siska!." Gumam Bobby didalam hatinya.


Saat gadis itu turun dari mobil angkot, ekor matanya sempat melirik Bobby yang sedang duduk di bangku panjang yang tersedia di pangkalan mereka.


Siska sempat tersenyum simpul kepadanya.


Hal itu juga sempat dilihat oleh rekan seprofesinya.


Karena rekannya duduk bersebelahan dengannya, sehingga pria itu pun segera mencolek pinggang Bobby dan berkata.


"Sepertinya senyuman itu memiliki makna yang sangat dalam kepadaMu!." Ucap pria itu yang ingin mengoda Bobby sambil tersenyum.


"Apakah kamu sudah gila? Mana mungkin gadis secantik itu mau denganKu!?." Tutur Bobby ingin mengelak.


Setelah Siska selesai membayar biaya angkot, gadis itu pun segera berbalik dan pandangannya langsung mengarah ke tempat dimana Bobby berada.


Sedangkan rekan - rekan tukang ojek yang lain langsung menanyakan kepada gadis itu apakah dia ingin naik ojek atau tidak.


Namun Siska hanya memberikan jawaban kepada mereka.


"Aku mau Bobby saja yang mengantarkanKu! Sebab tadi dia telah mengantarkanKu namun belum membayarnya!."


"Dan aku berjanji untuk sekalian saja membayarnya saat aku pulang nanti!."


"Oleh karena itu aku mau Bobby saja yang mengantarkanKu!."


"Maaf yah!?." Tutup Siska seakan merasa tidak enak dengan keputusannya tersebut.


Sebab di pangkalan ojek itu, harus mengikuti sesuai dengan jalur yang sudah ditentukan.


Siapa yang lebih dulu tiba di pangkalan, maka dialah yang akan mengantarkan penumpang terlebih dahulu.


"Yah sudah! Tidak mengapa kok!."


"Oh, begitu yah!? Hati - hati! Itu modus!."


"Ha...ha...ha...ha...ha...ha!."


Ucap rekan - rekan Bobby yang menggoda Siska dan langsung tertawa terbahak - bahak sambil menatap kearah Bobby.


~Bersambung~