
Iin yang pulang dan tidak di jemput oleh Bobby langsung bertanya kepada para tukang ojek di pangkalan mengenai keberadaan Bobby.
Dan dirinya pun mendapatkan jawaban jika Bobby saat ini sedang duduk bersama dengan Mamang untuk meneguk minuman keras.
Mendengar penyampaian dari rekan seprofesi Bobby, Iin pun bertanya "Apakah ada yang tahu dirumah siapa mereka saat ini?"
"Aku tahu!" Ucap Adi.
"Kalau begitu, tolong antarkan aku ke tempat dia berada." Pinta Iin.
Adi segera mengantarkan wanita itu ke tempat dimana Bobby berada.
Ditengah perjalanan Adi pun angkat bicara "In, jangan kau katakan jika aku yang mengantarmu ke tempatnya, bisa habis diriku dihajar olehnya jika dia mengetahui." Dengan nada yang cemas.
"Iya, aku juga tidak mungkin membuatmu kena masalah karena telah mengantarkan diriku." Balas Iin menanggapi perkataan Adi.
"Aku mengantarmu sampai disini saja." Ucap Adi sambil menghentikan sepeda motor miliknya.
"Terus, dimana rumah yang kau maksudkan itu?" Tanya Iin.
Adi pun menjelaskan dan menunjuk salah satu rumah yang terletak tepat di persimpangan jalan yang tidak sulit untuk bisa ditemukan.
"Baiklah...ini bayaranmu! Terima kasih karena sudah mengantarkan aku kesini." Ucap Iin sambil menyerahkan sejumlah uang.
Setelah Adi menerima uang dari Iin, dengan cepat pemuda itu memutarkan sepeda motor miliknya untuk segera pergi dari tempat itu sebelum Bobby melihatnya.
Iin segera berjalan untuk mendekati rumah yang ditunjukkan oleh Adi kepadanya.
Saat jarak Iin masih sekitar belasan meter untuk tiba di halaman rumah itu, dia kini sudah bisa mengenali suara Bobby yang saat itu sedang bercerita.
Iin langsung terdiam setelah mendengar apa yang sedang Bobby ceritakan, dimana dirinya sedang terluka oleh perbuatan seorang wanita yang dia cintai.
"Apakah itu benar-benar dirinya?" Pikir Iin merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar.
Wanita itu pun mencoba untuk tetap kuat dan ingin memastikan jika itu benar adalah pria yang dia cintai.
Dengan berat Iin melangkahkan kakinya dan menuju memasuki pekarangan rumah Pasla.
Saat Iin memasuki pekarangan, Mamang langsung bisa melihatnya dan berkata sambil berbisik "Bobby...ada Iin."
"Apa katamu?" Tanya Bobby.
Mamang tidak bisa lagi memberitahukan untuk yang kedua kalinya, sebab Iin sudah berdiri didepan pintu masuk rumah Pasla.
Saat melihat suara itu benar milik Bobby, Iin tanpa berkata sepatah kata pun segera berbalik dan pergi dari tempat itu.
Bobby yang melihat hal itu tidak mengejarnya, karena dirinya tidak ingin lagi bertambah pusing untuk membujuk Iin.
Mamang pun langsung berkata "Bob...kau tidak boleh bersikap seperti itu, sebab apa yang kau lakukan, sama halnya dengan apa yang Siska lakukan kepadamu...untuk itu aku menyarankan kepada mu, saat ini untuk mengejar Iin." Tutur Mamang menasehati.
Bobby terdiam sejenak memikirkan perkataan Mamang dan akhirnya bangkit untuk mengejar wanita itu.
Untung saja Iin belum terlalu jauh pergi dari tempat itu, sehingga tidak perlu menggunakan sepeda motor untuk mengejarnya.
Bobby pun segera menggenggam tangan Iin dan berkata "Mengapa kau sudah datang dan pergi lagi? Apakah kau sedang memarahiku?" Tanya Bobby seakan tidak melakukan kesalahan.
"Bob...sepertinya aku terlalu dibutakan dengan perasaanku kepadamu, sehingga aku terlalu mempercayaimu." Balas Iin dengan nada suara yang sendu.
"Apa maksud dari perkataan mu itu?" Tanya Bobby yang kini memasang wajah bingung menatap Iin.
"Apa lagi yang ingin kau katakan untuk bisa membodohi ku lagi?" Tanya Iin sambil membalas tatapan Bobby dengan tatapan mata yang tajam meskipun air mata terus mengalir membasahi pipinya.
"In...aku ini memang bukanlah pria yang sempurna, aku memiliki begitu banyak kekurangan...untuk itulah aku pernah berkata kepadamu agar bisa menerimaku apa adanya... apakah kau telah melupakannya?" Balas Bobby mencoba untuk mencari celah agar bisa meluluhkan hati Iin.
"Aku tahu itu dan masih mengingatnya...tetapi itu bukan berarti kau bisa menduakan aku." Ucap Iin menanggapi.
"Apakah hanya sebesar itu rasa cintamu kepadaku?" Tanya Bobby.
"Ayo kita kembali...tidak baik kita berdebat disini...coba kau lihat, mereka sedang melihat kita berdua." Ucap Bobby membujuk Iin mencoba untuk mengalihkan pembicaraan.
Iin yang mendengarkan ucapan Bobby langsung menatap ke arah yang dimaksudkan oleh pemuda itu. Dan benar saja, sudah ada beberapa orang yang melihat kearah mereka berdua.
Bobby pun segera menarik tangan wanita itu untuk kembali ke rumah Pasla.
Awalnya Iin masih mengeraskan hatinya dan tidak ingin mengikuti kehendak Bobby. Namun setelah beberapa saat kemudian, akhirnya wanita itu pun mengikuti apa yang diinginkan oleh pemuda itu.
Keduanya kembali berjalan perlahan menuju ke rumah Pasla.
Bobby sendiri kini mulai berpikir untuk bisa meluluhkan hati wanita itu agar dirinya tidak lagi ingin mempermasalahkan apa yang baru saja dia dengar.
"In...lebih baik kau duduk menemaniku malam ini, sebab aku sangat membutuhkanmu." Ucap Bobby.
"Apakah aku sangat dibutuhkan disaat hatimu disakiti oleh wanita lain?" Balas Iin.
"Bukan seperti itu...tetapi aku juga masih ingin mencari seorang wanita yang sanggup untuk bertahan dengan sikapku ini." Tutur Bobby lagi.
"Apakah kamu sudah tidak waras? Bagaimana mungkin ada wanita yang mau bertahan dengan sikap yang seperti itu?" Balas Iin menatap heran.
"Mungkin ada...dan aku pikir itu dirimu." Ucap Bobby santai.
"Sial! Apakah aku hanya akan menjadi tempat pelariannya saja disaat merasa kecewa dengan wanita yang lain?" Pikir Iin merasa tidak percaya dengan cara berpikir Bobby.
Keduanya pun kini memasuki ruang tamu kediaman Pasla dan segera duduk di kursi yang telah tersedia.
Iin tidak bisa mengangkat wajahnya karena merasa malu jika dilihat matanya yang sembab oleh Pasla dan Mamang.
"Iin...hubungan percintaan itu terkadang sangat membingungkan...Om Pasla pun pernah merasakan hal itu, sebab Om Pasla juga pernah muda dan pernah melewati hal itu." Tutur Pasla.
"Jika kau berpikir untuk memperjuangkan cintamu, kau jangan pernah sekali pun merasa ragu untuk melangkah serta berjuang dalam mempertahankannya...itu menurut Om Pasla... tetapi mungkin lain halnya dengan Iin." Pasla mencoba untuk menasehati.
"Jika hubungan itu tidak pernah menghadapi suatu permasalahan, mana bisa kita mengetahui jika pasangan kita benar-benar mencintai kita... untuk itu setiap hubungan harus melewati setiap tantangan dan cobaan yang akan datang menghampiri." Lanjut Pasla.
"Hubunganku dengan istriku saja tidak luput dari hal itu...jika Iin tidak percaya, coba Iin tanyakan sendiri kepada tante Sintje (istri Pasla)?"
"Apa yang baru saja kau dengar itu belum seberapa dengan apa yang tante Sintje alami saat berpacaran dengan Om Pasla...dan jika dia tidak bertahan, pasti saat ini kau tidak bisa melihat kebahagiaan kami setelah berumah tangga."
"Jadi menurutku...setiap perjuangan itu pasti memiliki hasilnya dan semua itu tergantung diri kita sendiri yang berpikir, bagaimana kebahagiaan yang kita inginkan? Sebab kebahagiaan itu hanya hal yang semu yang tidak bisa di jelaskan atau pun digambarkan."
"Sla! Sudahlah...dia tidak membutuhkan nasihat mu itu...apa lagi diriku." Bobby menyela perkataan Pasla.
"Mang! Cepat tuangkan minuman itu kepadaku, malam ini aku ingin minum sepuasnya." Lanjut Bobby.
"Bob...sudahlah...itu tidak baik bagi kesehatanmu." Ucap Iin hendak mencegah Bobby agar tidak minum lagi.
"In...tenang saja, aku tidak akan sakit hanya karena mengkonsumsi minuman ini...kau lihat tubuhku ini...apakah selemah yang kau pikirkan?" Balas Bobby.
"Jika kau terus minum, aku akan pulang." Ucap Iin lagi.
"Bob, sudahlah...kau temani saja Iin...biar aku sendiri yang akan menghabiskan minuman ini." Sambung Mamang.
"Mang! Apakah kau pikir aku sudah tidak sanggup untuk minum lagi?" Tanya Bobby dengan penekanan.
"Bukan begitu maksudku, akan tetapi lebih baik kau menikmati kebersamaan mu dengan Iin untuk malam ini agar beban pikiranmu dapat berkurang." Balas Mamang.
"Baiklah...jika itu maumu, aku akan menurutinya." Tutur Bobby mengiyakan saran dari Mamang.
"In, ayo kita pergi ke rumah ku saja." Ajak Bobby sambil berdiri dan menggenggam tangan wanita yang duduk disampingnya.
Iin pun ikut berdiri dan mengikuti pemuda itu sambil berpikir "Apakah aku terlihat bodoh karena masih mau mengikuti keinginan Bobby?"
Wanita itu tidak bisa tenang dengan situasi yang dia hadapi saat ini. Karena awalnya dia merasa sangat kecewa setelah mendengar dan mengetahui masalah yang Bobby hadapi sehingga membuatnya seperti itu.
~Bersambung~