
Karena tidak ingin ditinggalkan oleh Bobby, Sintia pun menurunkan Natan tepat di depan pintu masuk terminal agar dia bisa menggunakan mobil angkot untuk bisa kembali ke rumahnya.
Natan sontak saja merasa terkejut dengan keputusan Sintia itu, sehingga ia kembali berkata.
"Sin, antarkan kami ke tempat dimana kau menjemput kami sebelumnya, mengapa kau ingin menurunkan kami ditempat ini?" Pinta Natan.
"Tan, apa bedanya kau ku antarkan ke tempat sebelumnya dan juga jika kau turun disini? Bukankah kau hanya membutuhkan sekali naik mobil angkutan kota untuk bisa sampai di rumah mu?" Balas Sintia dengan nada yang tinggi.
"Sin, akan tetapi akan lebih manusiawi jika kau menurunkan ku ditempat sebelumnya." Ucap Natan lagi.
"Tan, sebaiknya kita turun disini saja." Sambung Siska dan langsung turun dari mobil.
"Sis, aku tidak menyuruh mu untuk turun disini, sebab aku yang mengajakmu untuk ikut...tetapi karena Natan terus memprovokasi ku sehingga terjadi masalah ini, sehingga aku tidak ingin dia masih bersama dengan kita saat menjemput Bobby." Sintia menjelaskan.
"Ohh, tidak apa-apa kok, aku juga tidak merasa tersinggung dengan perkataanmu tetapi sama seperti dirimu yang harus berpihak kepada Bobby, aku juga harus ikut bersama Natan." Balas Siska.
Sintia hanya bisa terdiam setelah mendengar perkataan Siska. Dan menatap ke arah Linda seakan memberi isyarat untuk tetap tinggal didalam mobil.
Linda pun segera mengurungkan niatnya untuk turun dari dalam mobil.
Karena Siska sudah turun dari mobil Sintia, akhirnya Natan pun mengikuti apa yang Siska lakukan.
Setelah keduanya turun, Sintia pun berkata.
"Sis, sorry yah!? Nanti aku menghubingimu lagi." Ucap Sintia.
"Iya, sudah...aku tidak apa-apa kok." Balas Siska.
"Aku pergi dulu yah!?" Ucap Sintia dan segera pergi meninggalkan keduanya.
Mobil yang dia kendarai kini meluncur menuju ke arah dimana mobil bus yang ditumpangi oleh Bobby berhenti.
Saat keduanya tiba Sintia langsung bisa melihat Bobby yang turun dari mobil bus yang sebelumnya dia hentikan.
Sintia segera turun dari mobil dan langsung berjalan menuju ke tempat dimana Bobby berada.
"Bob, ayo kita pergi." Ajak Sintia.
"Aku belum ingin pergi." Jawab Bobby.
"Terus, apa yang akan kau lakukan disini?" Tanya Sintia.
"Aku ingin pergi bersama dengan Alex." Jawab Bobby sambil menatap ke arah sopir bus tersebut.
"Jika nona mau, bisa ikut bersama dengan kita kok." Sambung Alex.
"Sebenarnya kalian mau kemana?" Tanya Sintia penasaran menatap Alex.
"Kami berdua ingin pergi menemui seorang teman kami untuk sedikit pemanasan." Jawab Alex sambil tersenyum.
"Sedikit pemanasan? Maksudnya apa itu?" Tanya Sintia dengan bingung.
"Biasa, miras..." Jawab Alex.
Bobby seakan tidak memperdulikan apa yang keduanya bicarakan.
"Lex, mana rokokmu?" Tanya Bobby.
"Itu ada di dasbor!" Jawab Alex.
Bobby pun segera pergi untuk menemukan apa yang dia inginkan.
"Baiklah, kalau begitu aku ikut kalian, tetapi dengan catatan, Bobby harus pergi bersama denganku." Tutur Sintia.
Wanita itu segera kembali ke mobilnya dan bertanya kepada Linda.
"Lin, apakah kau mau ikut bersamaku?"
"Mau pergi kemana?" Tanya Linda.
Ikut bersama Bobby dan teman sopir bus itu... bagaimana? Apa kau mau?" Jawab Sintia dan kembali bertanya.
"Terus, kita pulangnya jam berapa?" Linda balik bertanya.
"Menurutmu, jam berapa harus pulang?"
"Aku diijinkan oleh kedua orang tuanku hanya sampai jam sembilan malam." Jawab Linda.
"Baiklah, aku usahakan sebelum jam sembilan aku sudah mengantarkanmu pulang." Ucap Sintia sambil tersenyum.
"Lin, apa cemilan yang kau mau?" Tanya Sintia.
Itu karena mobil Sintia diparkir berdekatan dengan sebuah gerobak yang dibuat sedemikian rupa sehingga bisa dijadikan seperti warung berjalan yang menjual kebutuhan setiap calon penumpang atau penumpang yang baru saja turun dari bus di terminal itu.
Linda pun menyebutkan cemilan yang dia inginkan sesuai yang dia lihat.
Sintia segera membelikannya dan tidak lupa juga membeli sebungkus rokok untuk di berikan kepada Bobby.
Sintia pun memberikan apa yang dia beli kepada Linda.
"Thks yah Sin!?" Ucap Linda setelah menerima pemberian Sintia.
Sintia hanya menanggapinya dengan senyuman dan kembali pergi ke arah dimana Bobby berada.
Tanpa berkata, Sintia langsung menggandeng salah satu lengan Bobby dan menyandarkan kepalanya ke bahu kekasihnya itu serta memasukkan sebungkus rokok yang dia beli kedalam saku celana Bobby.
"Bagaimana Lex? Apakah sudah selesai pekerjaan mu?" Tanya Bobby.
"Iya, ayo kita pergi." Jawab Alex dan langsung mengajak Bobby.
Setelah Bobby dan Sintia pergi, Alex kembali berteriak memanggilnya.
"Bob! Kalian duluan saja, aku akan mengikuti kalian dari belakang!"
Bobby menghentikan langkahnya dan berpikir.
"Sepertinya bus itu tidak bisa memasuki gang untuk menuju ke rumah Hendra."
"Sin, sebaiknya Alex bareng bersama kita saja, sebab bus miliknya itu tidak bisa memasuki gang yang akan kita lewati nanti." Tutur Bobby.
"Ajak saja dirinya untuk naik ke mobilku." Balas Sintia.
"Lex! Bus itu biar saja terparkir disitu, kau naik bersama kami dimobil ini." Teriak Bobby.
"Memangnya kenapa?" Teriak Alex bertanya.
"Sebab bus itu tidak bisa memasuki gang yang akan kita lewati nanti." Balas Bobby.
Mendengar jawaban dari Bobby, Alex segera mengunci semua pintu bus itu dan langsung berjalan menuju ke tempat dimana Bobby berada.
Setelah sampai,Wlex segera naik dan duduk dikursi dimana Linda terlebih dahulu sudah duduk disitu.
Sedangkan Bobby dan Sintia duduk di depan dengan Sintia yang mengendarai mobil itu.
Mereka pun segera pergi ke tempat yang menjadi tujuan mereka.
Karena rumah Hendra hanya berjarak satu kilometer dari terminal, sehingga tidak membutuhkan waktu yang lama bagi mereka untuk bisa tiba.
Karena gang itu mentok di depan rumah Hendra, sehingga Hendra merasa bingung saat mobil Sintia terparkir tepat di depan rumahnya.
Namun rasa itu langsung hilang setelah melihat sosok yang turun dari mobil itu yang ternyata sangat dia kenal.
"Hei Bob! Setelah beberapa bulan ini kita tidak bertemu, ternyata kau sudah memiliki sebuah mobil." Sambut Hendra sambil tersenyum.
Candaan seperti itu sudah biasa bagi Bobby dan Hendra, sehingga Bobby hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
Hendra juga merasa terkejut saat melihat paras wanita yang turun dari kursi sopir, sehingga membuatnya bertanya-tanya.
"Siapa wanita cantik ini? Jangan bilang dia ini adalah pacarnya Bobby." Pikir Hendra.
"Hai! Perkenalkan, aku Sintia, pacar Bobby!" Ujar Sintia memperkenalkan dirinya.
"Apa? Kau ini pacarnya Bobby? Apakah aku tidak salah dengar?" Hendra menanggapi.
"Iya, itu benar." Sintia menegaskan.
"Hebat juga kau Bob! Bagaimana bisa kau memiliki pacar secantik ini!?" Ucap Hendra sambil menatap seakan tidak percaya kepada Bobby.
"Kau pikir aku terlalu buruk untuk bisa memiliki pacar seperti dia?" Bobby menanggapinya sambil tersenyum.
"Ohh, ternyata kau ikut juga...tumben kau datang menemuiku!? Apakah kau baru mengingatku?" Ujar Hendra ditujukan kepada Alex.
"Mengapa kau berkata seperti itu kepadaku? Bukankah Bobby juga baru datang mengunjungi mu juga?" Balas Alex.
"Memang Bobby baru datang mengunjungiku juga, namun kau itu lebih lama darinya." Ucap Hendra.
"Apakah kau tidak mempersilahkan kami untuk masuk?" Ujar Bobby.
"Memangnya kalian mau duduk di pores saja atau mau duduk didalam?" Tanya Hendra.
"Kita duduk di pores saja." Jawab Bobby.
"Itu berarti aku tidak perlu mempersilahkan kalian untuk masuk." Balas Hendra dan langsung tertawa.
Linda yang masih duduk didalam mobil, segera diajak Sintia untuk turun juga.
Sikap Linda itu karena dia tidak ingin juga menjadi bahan candaan Hendra terhadap Alex.
Saat Hendra melihat Linda, dia segera menatap ke arah Alex dan berkata.
"Apakah kedatangan kalian berdua ini sekedar menunjukkan bahwa kalian berdua telah memiliki pacar yang cantik?"
"Ohh...aku bukan pacarnya Alex!" Ujar Linda langsung membantah tuduhan Hendra.
"Lex, apa benar begitu?" Tanya Hendra.
"Iya, dia itu temannya Sintia." Jawab Alex.
"Ohh, aku pikir dia pacarmu!? Ternyata tidak. Kalau begitu, sepertinya aku punya peluang untuk bisa menjadi pacarnya." Lanjut Hendra sambil tersenyum menatap ke arah Linda.
Linda pun kini menjadi salah tingkah dengan apa yang Hendra katakan itu sambil tersipu malu.
"Nona, jangan kau masukan dalam hati perkataan ku barusan, aku hanya bercanda saja." Ucap Hendra untuk membuat Linda tidak merasa canggung lagi.
"Ayo, silahkan duduk! Maaf jika rumahku hanya seperti ini." Ucap Hendra lagi.
~Bersambung~