BOBBY'S LIFE STORY

BOBBY'S LIFE STORY
Bab 20. Mengantar Iin



Disaat matahari pagi baru saja menyingsingkan cahayanya, Bobby dengan penuh semangat sudah bersiap untuk melakukan aktivitas seperti biasa.


Pemuda itu kini berniat untuk menjemput Iin yang semalam baru saja ditawarkan untuk diantarkan olehnya.


Setelah merasa sepeda motor yang biasa di pakainya telah siap untuk digunakan serta dirinya telah siap untuk narik ojek, Bobby pun segera meluncur dengan santainya untuk menjemput Iin.


Tidak membutuhkan waktu yang lama bagi Bobby hingga bisa tiba di depan rumah Om Guntur dimana Iin berada.


Bobby pun memarkirkan sepeda motornya dan segera berjalan menuju ke rumah om Guntur seraya memberikan salam.


"Selamat pagi!". Ucap Bobby dengan ramah dan penuh percaya diri.


"Selamat pagi! Eh, nak Bobby! Mau menjemput Si Iin yah!?". Balas seorang wanita paruh baya yang tidak lain adalah ibu dari Iin.


"Iya! Aku mau menjemput dan mengantarkan dia ke tempat kerjanya". Jawab Bobby tanpa beban.


Mendengar jawaban Bobby, wanita itu pun segera membalikkan tubuhnya dan berjalan sambil berkata.


"Nak Bobby, tunggu sebentar yah! Tante mau menyusul Si Iin". Ujarnya sambil melangkahkan kakinya untuk menuju ke kamar putrinya tersebut.


Om guntur yang melihat Bobby segera berkata.


"Eh Bobby! Kenapa diluar saja? Ayo masuk! Lebih baik duduk dahulu sambil menunggu Si Iin". Ucap pria itu menawarkan kepada Bobby.


Mendengar tawaran Om Guntur, Bobby pun menolaknya secara halus dengan cara bercanda.


"Tidak perlu Om Guntur, akukan masih sangat muda, jadi tidak mengapa kalau sedikit lebih lama berdiri". Ucap Bobby sambil tersenyum menatap kearah Om Guntur.


"Oh, jd begitu yah!? Padahal saya ingin menawarkan minuman hangat untukMu". Balas Om Guntur setelah mendengar lelucon Bobby.


"Tidak usah om Guntur, itu pasti akan merugikan buat om Guntur, sebab aku biasanya minum minuman dingin namun panasnya nanti berasa saat sudah berada didalam". Balas Bobby sambil melebarkan senyumannya.


"Oh kalau minuman yang itu, nanti sebentar malam saja, sebab jika masih pagi - pagi begini, tidak baik jika dilihat orang". Balas Om Guntur sambil tertawa.


"MenurutKu tidak ada yang tidak baik atau pun yang baik dimata orang, jika sifat dan tingkah laku seperti diriKu ini, sudah bisa dipastikan tidak baik jika dilihat orang". Balas Bobby sambil tersenyum menatap kearah Om Guntur seakan mengisyaratkan bahwa maksud perkataannya itu hanyalah sekedar bercanda.


Om Guntur yang mendengar perkataan Bobby langsung menanggapi dengan serius.


"MenurutKu, lebih baik sikap dan tingkah laku kita terlihat seperti diriMu yang terlihat tidak baik, namun hati serta pikiran kita tetap baik terhadap orang lain".


"Dari pada sikap dan tingkah laku yang terlihat sok suci, namun hati dan pikiran terhadap orang lain tidak baik".


"Bagaimana menurutMu Bob!?". Tutup Om Guntur sambil bertanya kepada Bobby.


Mendengar perkataan Om Guntur, Bobby hanya bisa tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal dan berkata.


"Entahlah! Aku juga bingung harus berkata apa".


Saat keduanya sedang berbincang - bincang, Iin Pun kini sudah keluar dari kamarnya dan sudah siap untuk berangkat ke tempat kerjanya.


Bobby yang melihat gadis yang di jemputnya mulai melangkah keluar dari dalam rumah itu, segera menutup pembicaraannya dengan Om Guntur.


"Om Guntur! Nanti kita lanjutkan lagi pembicaraan kita, aku mau mengantarkan Iin terlebih dahulu ke tempat kerjanya".


Om Guntur pun langsung menanggapi perkataan Bobby dengan menganggukkan kepala sambil berkata.


"Baiklah! Hati - hati di jalan!".


Bobby pun segera menyambut kedatangan Iin.


"Kamu sudah siap?".


"Iya!". Jawab Iin singkat.


Bobby pun segera melangkahkan kakinya dan menuju ke arah tempat dimana sepeda motor miliknya terparkir.


Sang gadis pun mengikutinya dari belakang.


Setelah tiba ditempat dimana motornya berada, Bobby segera naik dan menghidupkan sepeda motor tersebut.


"Ayo naik!". Ucap Bobby sambil menatap kearah Iin.


"Sudah siap?". Tanya Bobby lagi.


"Iya!". Jawab Iin.


Keduanya pun kini mulai meluncur ke arah tempat kerja sang gadis.


"Dimana tempat kerjaMu?". Tanya Bobby memecahkan keterdiaman diantara keduanya.


Mendengar pertanyaan Bobby, Iin pun segera memberitahukan toko tempat dirinya bekerja.


Setelah mengetahui tempat dimana Iin bekerja, Bobby segera mempercepat lari sepeda motornya.


Saat merasa lari sepeda motor yang dinaiki oleh keduanya, Iin pun segera berkata.


"Bob! Apakah kamu ingin membunuhKu secara perlahan?". Tanya Iin dengan maksud memberitahukan bahwa kecepatan motor yang mereka kendarai itu sangat kencang larinya.


"Tidak! Ini baru pemanasan saja!". Jawab Bobby dengan senyum kecil yang tergambar di bibirnya.


Tindakan Bobby sendiri pada saat itu agar Iin berpegangan kepadanya atau lebih menyenangkan lagi jika Iin memeluk pinggangnya dari belakang.


Namun hal tersebut tidak terjadi, sebab kini tangan Iin sedang berpegangan di behel belakang sepeda motor yang mereka naiki itu.


Akan tetapi hal itu tidak bertahan lama, sebab disaat sepeda motor tersebut mulai menyelip diantara mobil - mobil ditengah kemacetan, salah satu tangan Iin pun langsung melingkar dan berpegangan di perut six pack milik Bobby.


Merasakan keinginannya sudah mulai terpenuhi, Bobby tidak mengendorkan kecepatan sepeda motor tersebut, melainkan tetap mempertahankan kecepatannya.


Akhirnya kedua tangan milik Iin pun langsung melingkar dari samping kiri dan kanan pinggang Bobby dan merangkul erat tubuh pria itu dari belakang.


Bobby pun langsung tersenyum penuh kemenangan karena memang tujuannya adalah agar Iin memeluk dirinya.


Setelah hal itu terjadi, Bobby pun mulai memperlambat laju sepeda motornya dan mulai ingin menikmati kehangatan pelukan gadis yang berada dibelakangnya itu.


Iin yang merasakan kecepatan lari sepeda motor itu mulai melambat, segera menyadari bahwa tujuan Bobby melakukan hal itu adalah agar dirinya melakukan hal yang saat ini sedang dia lakukan.


"Sial! Jadi niatnya sehingga ugal - ugalan agar aku memeluk dirinya! Setelah aku sudah melakukan apa yang dia inginkan, kecepatan lari motor pun kini di perlambat". Iin membantin didalam hatinya dengan perasaan yang sedikit kecewa terhadap Bobby.


Dengan perlahan Iin pun berkata di dekat kuping Bobby.


"Jadi kamu melakukan hal barusan itu agar aku memelukMu?".


Bobby yang mendengar perkataan Iin langsung tersenyum kecil merasa malu karena tujuan dari apa yang dia lakukan sudah di mengerti oleh gadis yang di boncengnya itu.


Bobby tetap dia dan tidak menjawab pertanyaan yang dilontarkan oleh Iin.


Namun kedua tangan gadis itu tetap masih dalam posisi memeluk tubuh Bobby dari belakang.


Karena tidak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulut Bobby untuk menjawab pertanyaannya, Iin pun segera melepaskan kedua tangannya dari posisi yang memeluk tubuh Bobby.


Disaat Bobby merasakan kedua tangan Iin terlepas dari tubuhnya, dengan cepat tangan kiri Bobby meraih kembali kedua tangan gadis itu dan seakan memerikan isyarat dengan gerakan tangannya agar gadis itu tetap mempertahankan posisi kedua tangannya.


Iin yang merasakan perlakuan tangan kiri Bobby langsung memahami maksud dari apa yang tangan Bobby lakukan.


Kedua tangan gadis itu pun kini kembali berpegangan di pinggang jaket yang Bobby gunakan.


Namun kini tubuh bagian dada dari Iin perlahan mulai tercipta jarak dengan punggung Bobby.


Bobby segera meraih kembali tangan gadis itu dan melakukan gerakan seperti menarik tangan gadis itu kedepan agar tubuh bagian dadanya menempel di punggung.


Hal tersebut membuat Iin mulai merasa risih dengan apa yang Bobby lakukan terhadap dirinya.


"Bob! Kenapa kamu memperlakukanKu seperti ini?". Tanya Iin dengan nada suara yang terdengar seperti memprotes kepada Bobby.


"Kenapa? Apakah kamu tidak menyukainya?". Balas Bobby menanggapi pertanyaan Iin.


"Kalau iya, kenapa?". Tanya Iin lagi.


"Tidak kenapa - kenapa! Jika kamu tidak mau memeluk diriKu, yah sudahlah...tidak perlu berkata seperti membetak begitu, aku juga sadar dengan kekuranganKu". Balas Bobby seperti tidak ingin lagi untuk melanjutkan aksinya.


~Bersambung~