Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 6 ( Mae,,, Mae,,, )



Mata XiaoFei membulat tak berkedip, menatap Mae yang masih mengoceh dengan logat betawi nya. Mulut XiaoFei menganga, ingin bicara tapi tidak bisa.


Melihat XiaoFei yang terdiam sambil menatapnya, Mae kemudian tersadar, lalu spontan menutup mulutnya dengan tangannya.


Begitu Mae terdiam, XiaoFei tertawa kecil. Membuat Mae terpana dengan wajah tampan XiaoFei yang tertawa. Mae tersipu dan pipinya memerah.


" Kamu lucu. " ucap XiaoFei di sela-sela tertawanya, membuat Mae merengut dan mengerucutkan bibirnya. XiaoFei semakin tertawa melihatnya.


XiaoFei mengacak rambut Mae karena gemas. Rasa risih yang tadi menggelayuti nya, kini telah hilang. Berganti dengan rasa iba setelah mendengar ucapan Mae tadi.


Walaupun ucapan Mae terdengar sangat lucu dan unik di telinga XiaoFei, namun inti dari ucapannya terdengar sungguh miris.


Anak perempuan kecil yang lucu, manis namun ceriwis itu, harus merasakan kehilangan kasih sayang dari seorang Ibu.


Sementara XiaoFei dan adik kembarnya itu, masih sangat manja dengan sang Mommy, yaitu XiaoYue.


XiaoFei mengajak Mae duduk di pinggir trotoar tersebut. XiaoFei merasa tidak enak hati, karena sempat merasa kesal dengan Mae.


" Maafin pertanyaan Kakak tadi ya. " ucap XiaoFei pelan. Mae tersenyum.


" Kagak pa pe, Bang. Mae mah udeh biase. Emang Nyak nya Mae aja, nyang udeh tega ninggalin anaknye. " lagi-lagi Mae keceplosan, keluar logat Betawi nya.


XiaoFei kembali terkekeh, sementara Mae menepuk pelan bibirnya.


" Het dah,,, nih mulut kagak ade rem nye. Nyeplos mulu dari tadi. Bikin malu Mae aje,, " gerutu Mae pelan. Sangat pelan,, namun masih dapat didengar XiaoFei.


" Kamu lucu. Itu tadi logat Betawi kan,,,?? " tanya XiaoFei.


Mae sedikit terkejut mendengar nya. Bisa-bisanya abang gantengnya ini tahu bahasa asli Jakarta. Mae menelan salivanya.


" Abang tau,,? " XiaoFei mengangguk.


" Sedikit. Pernah lihat acara di salah satu aplikasi online. Lucu tapi unik. " jawaban XiaoFei membuat Mae tersenyum.


" Kalau boleh Kakak tahu, memangnya Ibu kamu kemana,,? " tanya XiaoFei, sedikit tidak enak hati. Mae menggelengkan kepalanya.


" Mae ga tau, Bang. Babeh kagak pernah cerita, Mae cuma tau kalau Nyak Mae udah pergi ninggalin Mae waktu Mae masih kecil. " jelas Mae, yang lagi-lagi membuat XiaoFei merasa miris mendengarnya.


" Maaf,, Kakak tidak bermaksud membuatmu sedih. " lirih XiaoFei. Mae tersenyum kecut.


" Kagak pa pa, Bang. Mae udah biasa. Mae juga udah ga sedih lagi kok. "


" Emm,,, kapan-kapan kamu Kakak ajak ketemu sama Mommy dan adiknya Kakak, mau ga,,,? "


Seketika wajah Mae bersinar, dan senyumnya melebar.


" Yang bener, Bang,,? " XiaoFei mengangguk.


" Mau, Bang. Mae mau. " jawab Mae dengan sangat antusiasnya.


" Ya sudah,, nanti Kakak kabari lagi, kalau mau kesana. Kakak juga harus bilang dulu sama Mommy. " Mae mengangguk.


XiaoFei beranjak dari duduknya dan diikuti oleh Mae.


" Kakak pulang dulu, ya. Sekali lagi, terimakasih untuk buah rambutan nya. "


Lagi-lagi Mae mengangguk sambil tersenyum.


" Iya, Bang. Sama-sama. "


" Ya sudah. Kamu juga pulang,, hati-hati dijalan. Naik sepeda nya di pinggir aja ya,, banyak mobil dan motor. " ujar XiaoFei sambil memakai helm nya.


" Iya, Bang. Abang juga hati-hati. Jangan ngebut bawa motornya. "


XiaoFei mengangguk lalu naik keatas motornya. Tak lupa juga, XiaoFei mulai menyalakan mesin motornya.


" Kakak pulang ya. " pamit XiaoFei. Mae kembali mengangguk.


Tak lupa juga, Mae melambaikan tangannya, saat motor XiaoFei mulai berjalan, menjauh. XiaoFei hanya bisa melihat dari kaca spion nya. XiaoFei tersenyum dari balik helm nya.


Bibir Mae masih terus tersenyum. Dia pun mulai naik keatas sepeda nya dan mulai mengayuhnya. Menjalankan sepedanya pulang kerumah.


*


*


*


" Assalamu'alaikum,,, " ucap XiaoFei, begitu dia sampai dirumahnya.


" Wa'alaikumsalam,,, " sahut kedua adik kembarnya.


XiaoFei masuk sambil menenteng dua buah kantong kresek hitam. Buku komik yang sudah dibelinya, ada didalam tas punggungnya.


XiaoWu dan XiaoZhan terperangah melihat bawaan sang Kakak. XiaoWu cengengesan, sementara XiaoZhan hanya bisa mengulum senyumnya.


" Abang ganteng,, itu pasti dari gadis kecil yang tempo hari ditolong sama abang ganteng kan,,? " tanya XiaoWu sambil menggoda XiaoFei.


Wajah XiaoFei sedikit memerah,, namun dia tidak menggubris ucapan adik kembarnya itu.


" Mommy sama Daddy mana,,? " tanya XiaoFei.


" Kau sudah pulang, Kak,,? " tiba-tiba saja XiaoYue sudah ada disana, begitu juga dengan sang Daddy, yaitu Jimmy.


" Sudah, Mom. Baru saja. " jawab XiaoFei.


Mata Jimmy beralih ke tangan XiaoFei, yang masih memegang dua buah kantong kresek besar.


" Itu apa, Kak,,? " tanya Jimmy, sambil menunjukkan kearah tangan XiaoFei..


" Biasa, Daddy. Dari gadis kecil itu. " bukan XiaoFei yang menjawab, melainkan XiaoWu.


Sementara XiaoYue dan XiaoZhan, hanya bisa mengulum senyum mereka. Jimmy mengernyitkan dahinya, lalu menoleh kearah XiaoYue, seakan bertanya siapa yang dimaksud oleh XiaoWu.


" Gadis kecil yang tempo hari Mommy ceritakan itu loh, Dad. " jelas XiaoYue, seakan mengerti akan kebingungan sang suami.


Jimmy terdiam, berusaha mengingatnya. Sementara XiaoFei meletakkan kantong kresek tersebut diatas meja. XiaoFei duduk di sofa, samping XiaoZhan duduk.


XiaoYue membuka sedikit dan melihat isi dari kantong tersebut. Matanya membulat sempurna, lalu menoleh kearah XiaoFei, seakan bertanya.


" Yes, Mom. Itu dari Mae, gadis kecil yang waktu itu Kakak tolong. "


" Ini,,, segini banyak,,? " tanya XiaoYue sedikit terkejut, melihat isinya.


XiaoFei mengangguk lalu mulai mengambil satu buah rambutan tersebut, mengupas kulitnya, dan memakannya.


" Mmm,,, manis. " ucap XiaoFei.


Jimmy dan XiaoYue saling pandang. Begitu juga dengan XiaoWu dan XiaoZhan. Mereka mengangkat bahu mereka, saat Jimmy menatap kearah mereka.


" Kak,,. Ini,,,? " XiaoYue bingung ingin bicara apa, karena saking terkejut nya.


" Kakak juga tidak tahu, Mom. Tapi Mae bilang, ini dia yang petik sendiri. " ucapan XiaoFei semakin membuat XiaoYue membulatkan matanya.


" Gadis kecil itu memanjat sendiri pohonnya,,? " XiaoFei mengangguk lalu mulai menceritakan sedikit kisah Mae.


Keluarga Jimmy dan XiaoYue memang lebih mengutamakan kebahagiaan keluarga mereka. Dan mereka pun akan saling terbuka, bila ada masalah.


XiaoYue merasa iba setelah mendengar cerita XiaoFei. Wajahnya terlihat sangat sedih. Begitu pun dengan Jimmy, XiaoWu dan XiaoZhan.


" Kasihan sekali gadis kecil itu. Pantas saja,, dia jadi sedikit tomboy sampai-sampai bisa memanjat pohon. Bagaimana bisa seorang Ibu, tega meninggalkan anaknya yang masih sangat kecil itu,,? Dimana hati nurani nya, sebagai seorang perempuan sekaligus sebagai seorang Ibu,,? " XiaoYue merasa marah dan geram pada Ibu Mae.


Jimmy mengelus pelan punggung sang istri, berusaha untuk menenangkan nya.


" Sabar Mom,,,. Tidak semua anak mempunyai seorang Ibu, yang hatinya lembut,baik dan penyayang seperti Mommy. Benarkan anak-anak,,,? Ketiga anak itu pun mengangguk.


" Makanya, Mom. Awalnya Kakak merasa risih dengan tingkahnya,, namun setelah mendengar ceritanya, Kakak justru merasa iba dan kasihan. Makanya Kakak menerima pemberiannya. " ujar XiaoFei.


" Tapi ini banyak banget, Kak,,,. " pekik XiaoYue sementara yang lain terkekeh.


" Kan bisa kita bagikan untuk para maid dan security, Mom. " jawab Jimmy dengan lembut.


" Kakak keatas dulu ya, Mom. Kakak gerah,, mau mandi dulu, setelah itu shalat. Kakak belum shalat. " pamit XiaoFei.


XiaoYue mengangguk,, dan XiaoFei pun beranjak dari duduknya, berjalan menuju kamarnya. Sementara XiaoYue memandang buah rambutan tersebut sambil menghela nafas.


*


*


*


Sementara itu,,,


Mae masih mengayuh sepedanya, namun dari jauh, Mae sudah melihat sang Babeh menunggunya didepan rumah, sambil bertolak pinggang.


Mae menelan salivanya,, sedikit tercekat.


" Pasti Babeh mau marah lagi nih,,,. " batin Mae.


" Maeeee,,,,!!!! " teriak sang Babeh, saat Mae berniat berbalik arah.


Dengan terpaksa, Mae pun kembali menjalankan sepedanya, mendekat kearah sang Babeh, yang tengah menanti nya.


" He,, he,, he,,,. Eh,, Babeh. Assalamu'alaikum,,, " Mae cengengesan lalu mengucap salam.


" Wa'alaikumsalam,,, " sahut Babeh, masih dengan wajah menahan kesal.


" Babeh ngapain dimari,,,? " tanya Mae basa basi.


Babeh Mae ingin sekali menjewer telinga Mae,, namun ditahannya dengan segenap jiwa.


" Anak Babeh nyang ca'em,, nyang botoh,, nyang cerewet,,, Mae abis dari mane,,? " tanya Babeh Mae berusaha lembut. Mae kembali cengengesan.


" He,, he,, he,,. Mae abis ketemuan ame abang ganteng Mae. "


" Oohh,,,. Terusannye Mae bawa apaan kesono,,? " tanya Babeh Mae lagi.


" Piss,, Beh. Piss,,, damai,, kite damai,, " Mae menunjukan dua jarinya, jari telunjuk dan jari tengah., ✌✌✌.


" Pas,, pis,,,. Emang dasar loe ye,, pengen banget Babeh pites. Loe apain po'on rambutan Babeh,,,? "


" Kagak Mae apa-apa ini, Beh. Cuman Mae petik doangan. Dikit, Beh,, dikit,,. "


" Oohh,,, cuman dikit. Dikitnye berape plastik, Neng,,? "


" Cuman dua, Beh. "


" Dua nye,, gede ape kecil, Neng,,? "


" Nyang biase, Beh. Nyang kalo bocah jual dipasar dua rebuan. "


" Bujukkk,, Nenggg,,,!!!!! Loe bener-bener ye,,, "


" Kaboor,,,, "


Mae lari dan diikuti oleh sang Babeh.


" Abang gantengggg,,,!!!! Tolongin Mae,,,,!!! " teriak Mae sambil berlari, berusaha mengindari tangkapan sang Babeh.


Mae,,, Mae,,, emang bener-bener loe ye,,,!!!


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa untuk tekan like, vote, comment dan hadiahnya, biar Kak Ull makin semangat up nya.


Salam love and peace dari Kak Ull,,


❤❤✌✌*


***