
❤❤
Assalamu'alaikum,,, dan selamat siang epribadeh,,,
Sebelumnya othor mo minta maap nih. Udah dua minggu othor menghilang tanpa kabar. Bukan maksud untuk hiatus,, cuman kesibukan didunia nyata ngurus dua bocah sekolah, bikin othor repot and sibuk banget. Malah bikin otak othor jadi lemot,, keabisan ide.
Udah gitu,, beberapa hari ini hujan mulu. Dan rumah othor yang rawan banjir, bikin othor harus sibuk bolak balik nguras air yang masuk kedalam rumah.
So,,, maapin othor,, semoga kakak-kakak semua masih setia menanti cerita yang othor buat ini.
Lope lope seempang lele buat kalian semua,,
❤❤❤
*
*
*
*Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa, sudah hampir tiga bulan, Mae dan Zanza magang di perusahaan keluarga Lin. Dan hanya tinggal beberapa hari lagi, waktu magang untuk Mae dan Zanza akan segera berakhir.
Hubungan Mae dan XiaoFei masih jalan ditempat. Tidak ada perkembangan apapun. XiaoFei masih kekeh belum mau mengungkap jati diri yang sebenarnya. Dan tetap menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya pada Mae.
Walaupun sudah dipaksa oleh Jack, namun XiaoFei selalu mengatakan belum waktunya. Mommy XiaoYue dan Daddy Jimmy juga sudah mengetahui kisah XiaoFei dan Mae dari Jack. Namun mereka hanya bisa diam, karena bagaimana pun juga, masalah hati tidak bisa dipaksa.
Mommy XiaoYue dan Daddy Jimmy sangat merestui apabila XiaoFei benar-benar menyimpan hatinya untuk Mae. Karena sejak dulu, keluarga Daddy Jimmy sangat menyukai Mae.
Sementara hubungan Jack dan Zanza, selangkah lebih maju. Jack dan Zanza sudah memperjelas hubungan mereka, yaitu menjadi sepasang kekasih. Tepatnya, satu bulan yang lalu*.
Flashback on,,,
" Fei,,,. Nanti siang kau makan siang sendiri atau bersama Mae. Aku ada perlu. " ucap Jack saat mereka baru sampai diruangan XiaoFei.
XiaoFei mendadak menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap Jack. Dia menatapnya tajam.
" Kau mau kemana,,? "
" Menyongsong masa depan yang cerah. " jawaban Jack membuat XiaoFei mengernyitkan dahinya.
" Cckk,,, Aku bukan pria pengecut seperti dirimu. Aku ingin memperjelas hubunganku dengan Zanza. Umurku sudah hampir kepala tiga. Sudah bukan waktunya bagiku untuk main-main dalam percintaan. "
" Aku ingin mempunyai masa depan yang cerah bersama dengan orang yang aku cintai. Dan aku merasa nyaman saat bersamanya. Aku harus segera mengungkapkan perasaanku pada Zanza. "
" Aku tidak mau keduluan orang lain. Dan aku bukan pria sepertimu yang hanya bisa memendam perasaan dan memberi harapan palsu pada seorang wanita. Secara tidak langsung, kau menyakitinya. "
" Mungkin bagimu itu cukup, hanya dengan melihatnya dan selalu bersamanya. Namun tanpa kepastian,, apa kau yakin dia akan bahagia,,,? " tanya Jack setelah penjelasannya yang panjang kali lebar itu.
XiaoFei terdiam mendengar penjelasan sekaligus pertanyaan yang keluar dari mulut Jack. Tatapannya terlihat kosong, sepertinya dia sedang berpikir.
" Dengarkan aku bicara untuk yang kesekian kalinya. Wanita itu butuh kepastian. Apalagi Mae yang sudah dengan setia menunggumu selama sepuluh tahun. Dan itu bukan waktu yang singkat untuk meragukan isi hatinya lagi. "
" Masih belum cukupkah bagimu untuk tetap diam selama ini,,? " XiaoFei masih terdiam, membuat Jack semakin kesal.
" Dengar,,,. Aku sudah lelah menasehatimu. Kau bukan anak remaja lagi yang masih butuh bimbingan. Pikirkan saja apa yang sudah aku ucapkan. "
" Bila kau masih seperti ini terus, maka jangan pernah merasa menyesal saat Mae memutuskan untuk berhenti menunggu dan pergi dengan yang lain. Ingat itu,,, " tegas Jack.
Dia pun melangkahkan kakinya keluar dari ruangan XiaoFei. Namun saat akan sampai dipintu, Jack berbalik menghadap XiaoFei yang diam mematung.
" Penyesalan selalu datang belakangan. Dan saat kau sadari itu, semua sudah terlambat. "
Jack berlalu pergi, meninggalkan XiaoFei sendiri. Mae memang belum datang, dia sudah ijin akan datang terlambat karena harus ke kampus terlebih dahulu.
XiaoFei kemudian duduk dikursinya. Dia menatap meja Mae yang kosong. Seperti hatinya. XiaoFei menghela nafas panjang. Memikirkan kembali semua ucapan Jack, yang tepat mengenai hatinya.
*
*
*
Siang harinya,,,
Jack mengajak Zanza makan siang di sebuah cafe yang berada tidak jauh dari perusahaan mereka bekerja.
Dan saat ini, Jack dan Zanza sedang menunggu pesanan mereka datang. Jack berulangkali menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan, guna menekan rasa gugupnya.
Jack meraih tangan Zanza dan mengenggamnya lembut. Zanza tersentak untuk sesaat dan menatap Jack dengan penuh pertanyaan.
" Za,,. Aku ingin bicara serius denganmu. " Zanza mengangguk dengan jantung yang berdebar kencang.
" Aku memang bukanlah pria romantis, yang membawa seratus bunga mawar, atau memesan salah satu restoran mahal atau menyewa sebuah tempat wisata permainan, hanya untuk mengungkapkan perasaanku. "
" Aku hanyalah seorang pria kaku dan dingin yang baru pertama kali merasakan perasaan yang berbeda pada seorang wanita, yaitu dirimu. Selama ini, tidak sedikit wanita yang berusaha mendekatiku dengan berbagai cara. Namun hatiku justru terpaut padamu. "
Jack menarik nafas panjang membuat Zanza terdiam, menanti kelanjutan ucapan Jack.
" Za,,. Hatiku sudah terukir namamu. Pikiranku sudah terpatri bayanganmu. Dan mataku hanya ada wajahmu. Zanza,, Wǒ ài nǐ. "
Zanza menutup mulutnya dengan tangan kirinya, karena tangan kanannya masih dalam genggaman Jack. Mata Zanza terlihat berkaca. Jack mendekatkan tangan Zanza dan mengecupnya dengan lembut.
Sementara Zanza tidak bisa mengucapkan sepatah kata pun, saking terkejutnya. Dia hanya bisa mengangguk pelan, membuat Jack tersenyum lebar.
" Terimakasih,,, " ucap Jack, Zanza kembali mengangguk.
Jack terpaksa melepaskan genggaman tangannya saat pesanan mereka datang.
" Selamat menikmati,,, " ucap pelayan itu setelah semua pesanan berada diatas meja.
" Terimakasih,, " sahut Jack.
" Maaf,,,. Kau pasti terkejut. " ucap Jack lembut karena melihat Zanza yang masih terdiam.
Zanza tersenyum setelah hatinya sedikit lebih tenang karena pengakuan Jack yang tiba-tiba.
" Aku memang terkejut, Tuan Jack. Namun aku bahagia. "
" Cckk,, dengar. Sekarang kita adalah sepasang kekasih, jadi,,, ubahlah panggilanmu padaku. Karena aku bukan majikanmu. " protes Jack sedikit kesal dengan panggilan Zanza yang ditujukan untuknya.
" Lalu aku harus memanggilmu apa,,? " tanya Zanza dengan wajah polosnya.
" Terserah padamu, asal jangan Tuan. Masih banyak panggilan lain yang terdengar lebih baik dan lebih mesra. " Zanza terdiam untuk sesaat untuk berpikir.
" Bolehkah aku memanggilmu Hubby,,,? Dan kau memanggilku Hunny,,? " tanya Zanza sedikit ragu.
Jack tersenyum lalu mengangguk, membuat Zanza ikut tersenyum.
" Sekarang kita makan dulu, Hon. " Zanza mengangguk.
Mereka pun mulai makan, dan sesekali saling tatap dan saling lempar senyuman. Sepasang kekasih yang baru saja merasakan kebahagiaan karena cinta mereka yang saling bersambut.
*
*
*
Kita tinggalkan sepasang kekasih yang baru jadian itu. Kita lihat seorang jomblo ngenes yang sedang sendiri didalam ruangannya.
XiaoFei memutuskan untuk makan siang di ruangannya. Dia meminta tolong pada salah seorang OB untuk membelikannya makanan dikantin.
Disaat XiaoFei sedang menunggu makan siangnya datang,, sebuah ketukan pintu terdengar.
" Masuk,,,. "
Seseorang masuk setelah mendapatkan perintah. XiaoFei tersenyum saat melihat siapa yang masuk.
" Mèi,,,. "
Ternyata yang baru saja masuk kedalam adalah Mae. Dengan memesang wajah bersalah, Mae mendekat.
" Maaf,, Kak Fei. Aku telat datang,, ada sedikit masalah tadi dikampus. " ucap Mae lirih. XiaoFei kembali tersenyum.
" Tidak apa-apa. Apa semua urusanmu sudah beres,,? " Mae mengangguk.
" Sudah, Kak Fei. "
" Kau sudah makan,,,? " Mae menggeleng pelan.
XiaoFei mengambil ponselnya lalu menghubungi seseorang, yang Mae tidak tahu siapa.
" Kita duduk dulu disofa, sambil menunggu makanan datang. " XiaoFei beranjak dari duduknya lalu berjalan mendekati sofa, diikuti oleh Mae.
" Kak Fei makan sendiri,,? " XiaoFei mengangguk.
" Jack sedang ada urusan diluar. Dan aku terpaksa memesan makanan untukku sendiri, karena kau tidak datang-datang. " Mae merasa bersalah dan tidak enak.
" Maafkan aku,,, " ucap Mae dengan wajah memelas, membuat XiaoFei kembali tersenyum.
" Tidak apa-apa. Karena sekarang, kau juga akan menemaniku makan siang. " Mae menatap XiaoFei lalu tersenyum dan kemudian mengangguk.
Tak lama kemudian, makanan yang dipesan XiaoFei pun datang. Mereka mulai makan, dan sesekali XiaoFei melemparkan senyumnya pada Mae.
Hatinya kembali merasa bahagia, karena dapat melihat wajah Mae, setelah sejak pagi terasa suram baginya.
Flashback off,,,
*
*
*
~~ Bersambung,,
Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya Kakak.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌