Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 13 ( Kakak Pergi, Mei,,,)



Singkat cerita,,,


Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa, sudah hampir tiga tahun, Mae dan XiaoFei berteman. Pertemanan yang cukup unik, antara anak SD dengan anak SMA.


Perbedaan umur mereka pun cukup jauh, yaitu tujuh tahun. Mae masih sering datang ke istana XiaoFei. Walaupun hanya beberapa bulan sekali, namun Mae sudah cukup dekat keluarga Sultan tersebut.


Dan setiap kali Mae datang ke rumah XiaoFei, Mae pasti selalu membawakan hasil kebun sang Babeh. Tentu saja dengan seijin dari Babeh Mae. Kadang XiaoYue dan Jimmy merasa tidak enak, namun Mae selalu bilang kalau itu Babehnya yang memaksa, padahal sudah jelas kalau dirinya lah yang sering memaksa sang Babeh.


XiaoYue Dan Jimmy sendiri tidak merasa keberatan dengan pertemanan Mae dengan anak-anak nya. Selain karena memang Mae anak yang ceria, kisah pilu Mae juga yang membuatnya diterima dan disayangi oleh keluarga XiaoYue.


Dan saat ini, XiaoFei sedang menantikan hasil ujian sekolah yang sudah dilaksanakan beberapa hari yang lalu.


XiaoFei hanya tinggal menunggu hasil ujian apakah dia lulus dengan hasil yang memuaskan atau tidak.


Tapi hanya ada satu masalah yang saat ini sedang dipikirkan XiaoFei. Masalah setelah dia lulus nanti, harus segera kembali ke negara kelahiran nya. Yaitu negara yang menggunakan bahas Mandarin.


Dia harus meneruskan kuliahnya disana dan belajar tentang perusahaan sang Tuan Besar keluarga Lin pada paman nya yaitu Lin XiaoLi. Kakak sepupu sang Mommy yang kini memegang penuh kendali perusahaan Lin atas perintah Kakek Lin XiaoLong.


XiaoFei yang memang cenderung dingin dan menjauh dari teman sekolah nya, hanya mempunyai satu orang teman yang unik dan sedikit aneh, yaitu Mae.


Selain karena Mae masih kecil, dia juga tidak mengetahui asal usul yang sebenarnya tentang keluarganya. Jadi XiaoFei merasa cukup aman berte dengan nya.


XiaoFei kini merasa bimbang untuk memberitahu kan pada Mae mengenai kepergiannya dari negara ini. XiaoFei merasa berat, namun itu sudah perjanjian yang dia berikan pada sang GrandPa yaitu Lin XiaoLong.


XiaoFei pun melarang keluarganya untuk memberitahu mengenai rencana kepergian nya itu. XiaoFei hanya sedang menunggu waktu yang tepat. Dan waktu yang tepat itu adalah hari ini.


XiaoFei bahkan sudah dari jauh-jauh hari memesan sebuah kalung dengan liontin berinisialkan huruf depan namanya, yaitu LXRD. Dia ingin memberikannya sebagai hadiah kenangan untuk Mae.


Terasa berat memang,, dia sudah merasa nyaman berteman dengan gadis kecil inik tersebut. Namun janji tetaplah janji, dan itu harus ditepati.


Saat ini, XiaoFei sedang mengendarai motor besarnya menuju tempat biasa dia bertemu dengan Mae.


Dari kejauhan, tampak Mae sedang berdiri menunggu XiaoFei dengan senyuman menghiasi bibirnya. XiaoFei yang melihatnya hanya bisa menarik nafas dengan berat.


Motor XiaoFei mendekat ketempat Mae berdiri. XiaoFei memarkirkan motornya dipinggir jalan. Dia menatap Mae dari balik helmnya dengan tatapan yang sulit diartikan, hanya XiaoFei dan othor yang tahu artinya.


Dengan langkah yang terasa berat, XiaoFei turun dari motornya dan mendekat kearah Mae. Tak lupa, dia membuka helmnya. Dadanya terasa sedikit sesak, dan dia pun sedikit bingung untuk memulai pembicaraan.


XiaoFei duduk dipinggir trotoar diikuti oleh Mae. XiaoFei kembali menarik nafas panjang dan membuangnya dengan kasar.


" Kamu udah nunggu dari tadi, Mei,,? " tanya XiaoFei. Mae menggeleng.


" Belum, Bang. Palingan baru sekitar sepuluh menit. Abang habis dari toko buku lagi ya,,? " Mae balik bertanya. Dan kali ini, XiaoFei yang menggeleng.


" Kakak langsung dari rumah, ada yang mau Kakak omongin sama Mei. " jawab XiaoFei, dan itu terasa sangat berat untuk diucap.


" Apaan, Bang,,? " tanya Mae dengan tidak sabaran sambil menghadap kearah XiaoFei. Lagi-lagi XiaoFei menarik nafas sebelum akhirnya kata itu terucap.


" Mei,,. Hari ini Kakak datang mau pamit sama Mei. " ucap XiaoFei pelan.


" Memangnya Abang mau kemana,,? " tanya Mae tidak dapat menyembunyikan keterkejutan nya. Raut wajahnya berubah, senyumnya menghilang.


Saat ini, Mae juga baru naik kelas ke kelas enam SD. Dia masih memanggil XiaoFei dengan panggilan Abang, sangat berbanding terbalik dengan wajah tampannya.


" Besok Kakak mau pergi ke negara China, untuk kuliah disana. Kamu disini sekolah yang benar, yang rajin. Jangan sering keluyuran, kasihan Babeh kamu. " jelas XiaoFei membuat mata Mae mulai berkaca-kaca.


XiaoFei menarik nafas dan tangannya masuk kedalam kantong hoodie nya.


" Ini hadiah dari Kakak. Kamu simpan baik-baik. Kakak akan sangat lama berada disana. Siapa tau saja saat kamu sudah dewasa nanti, kita bisa bertemu lagi. Dan Kakak pasti akan bisa mengenali kamu kalau kamu masih memakai ini. "


XiaoFei memberikan Mae kalung dengan liontin bertuliskan huruf inisial nama asli XiaoFei. LXRD. XiaoFei pun membantu memakaikannya pada leher Mae.


" Ingat,,. Kamu jaga baik-baik ya. "


Mae mengangguk sambil meneteskan air matanya, dia sedikit tidak rela kalau abang ganteng nya itu harus pergi jauh darinya. Mae melepaskan gelang tali yang berwarna hitam dari tangannya.


" Ini dari Mae. Maaf,, Mae cuma bisa kasih ini, soalnya Mae kagak tau kalau abang ganteng besok mau pergi. " Mae memakaikan gelang itu di pergelangan tangan XiaoFei.


" Terimakasih. Kakak terima hadiah dari kamu. "


" Kakak harus pulang sekarang. Masih ada beberapa barang yang belum selesai Kakak packing. Kamu jaga diri baik-baik. Jangan nakal, dan jangan sering keluyuran. Kamu itu anak perempuan, harus pintar jaga diri. " nasihat XiaoFei lalu berdiri duduknya.


" Kakak pergi ya,,. "


Maesaroh hanya bisa mengangguk pasrah. Mulutnya seperti terkunci, hanya airmata yang keluar dari pipinya. XiaoFei merasa tidak tega, dia pun memeluk Mae.


" Kakak pamit ya. Kalau kita berjodoh, kita pasti akan ketemu lagi. " Mae mengangguk dalam pelukan XiaoFei.


Tak lama kemudian, XiaoFei pun melepaskan pelukannya. Ibu jarinya menghapus airmata Mae.


" Kakak pergi. "


Mae lagi-lagi hanya bisa mengangguk, XiaoFei pun pergi dari tempat itu dengan langkah yang terasa berat. Dia sudah terbiasa dengan kehadiran Mae, entah bagaimana hari-hari nya nanti di negara China.


XiaoFei naik ke motornya, dia menatap Mae sambil memakai helmnya. XiaoFei melambaikan tangannya sebelum akhirnya dia menjalankan motornya, menjauh dari tempat itu.


Air mata Mae semakin deras, begitu motor XiaoFei semakin menjauh. Mae tidak peduli dengan tatapan orang-orang yang memandangnya aneh, bahu nya bergetar karena isak tangisannya.


" Selamat jalan, Bang. Semoga semua cita-cita abang tercapai. Semoga kita bisa berjumpa lagi. " gumam Mae, begitu motor XiaoFei mengilang dari pandangannya.


" Selamat tinggal, Mei. Semoga kita dapat berjumpa lagi suatu hari nanti. Jaga dirimu baik-baik. " ucap XiaoFei dalam hati.


XiaoFei melajukan motornya perlahan, karena matanya yang berkabut. Ya,, XiaoFei tidak bisa menahan airmatanya keluar. Teman satu-satunya, terpaksa harus dia tinggalkan untuk sementara.


Entah,, apakah mereka akan bisa bertemu lagi atau tidak. Hanya takdir Allah yang menentukan, apakah mereka berjodoh atau tidak. Dan itu juga hanya othor yang tahu.


*


*


XiaoFei memarkirkan motornya didalam garasi, setelah dia sampai di Mansion nya. Dengan langkah yang berat, XiaoFei masuk kedalam rumah nya. Tapi sebelum itu, XiaoFei sudah menghapus air mata yang menggenang dimatanya tadi.


" Assalamu'alaikum,,, " ucap XiaoFei pelan saat dia masuk kedalam rumah.


" Wa'alaikumsalam,, " sahut XiaoYue dan Jimmy bersamaan.


" Sudah pulang, Kak,,? " tanya Jimmy. XiaoFei hanya mengangguk lalu duduk disofa dengn lesu.


XiaoYue yang melihatnya, merasa tidak tega. Karena dia sangat tahu, kalau Mae adalah teman satu-satunya sang putra sulungnya itu.


Namun janjinya pada Kakeknya, membuat XiaoYue tidak bisa berbuat apa-apa. Apalagi saat ini, sang Kakek sudah tiada. Akan terasa sangat bersalah bila janji itu tidak ditepati.


" Bagaimana dengan Mae, Kak,,? " tanya XiaoYue sedikit ragu.


" Dia tidak apa-apa, Mom. Hanya sedikit terkejut dan sedih. Dia sempat menangis tadi saat Fei pergi. Fei sebenarnya merasa berat dan kasihan, tapi Fei juga tidak mau membuat GrandPa kecewa diatas sana. " jawab XiaoFei lirih.


Jimmy menepuk-nepuk pelan bahu XiaoFei.


" Tidak apa-apa, Kak. Mungkin untuk saat ini dan beberapa bulan kedepan akan terasa berat. Namun apabila kalian berjodoh, kalian pasti akan ketemu lagi nanti. Tak peduli berapa lama kalian berpisah, pasti kalian akan berjumpa lagi, namun itu semua kembali lagi pada takdir Allah. " XiaoFei mengangguk pelan.


" Fei,, keatas dulu Mom. Masih ada beberapa barang yang belum selesai Fei packing. " pamit Xiao Fei lalu beranjak dari duduknya.


XiaoYue dan Jimmy hanya bisa mengangguk. Terlihat dengan sangat jelas kesedihan dari mata putra sulung mereka itu. XiaoYue dan Jimmy menarik nafas panjang.


Mereka berdoa dalam hati, semoga semua kesedihan ituakna segera berakhir. Baik XiaoFei ataupun Mae dalam keadaan baik-baik saja.


**


~~ Bersambung,,,


**Jangan lupa untuk tekan like, vote, comment dan hadiahnya, biar othor makin semangat up nya.


Salam love and peace dari Kak Ull,,


❤❤✌✌**


****