
Siang harinya,,,
Mae melihat jam tangannya, lalu beranjak dari duduknya, membuat XiaoFei mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.
" Kau mau kemana, Mèi,,,? " tanya XiaoFei yang melihat Mae mendekati pintu ruangannya.
" Istirahat, Tuan. Ini sudah waktu jam makan siang. " jawab Mae.
XiaoFei pun melihat jam dindingnya, dan memang benar, sudah waktunya makan siang. XiaoFei beranjak dari duduknya dan mendekati Mae.
" Kau mau makan siang dimana,,? "tanya XiaoFei lagi setelah dia berada disamping Mae.
" Saya mau makan siang di kantin, Tuan. Sama si Zenab. "
" Zenab,,,? " ulang XiaoFei, membuat Mae menepuk bibirnya pelan.
" Maksud saya, Zanza. Dia teman magang saya sekaligus teman kuliah saya, Tuan. Anda pernah bertemu dengannya di basement. " jawab Mae meralat nama Zanza, sahabatnya.
XiaoFei terdiam sesaat dan berusaha mengingatnya. Dia mengangguk-anggukan kepalanya setelah dia mengingat kejadian sata di basement.
" Ahh, dia. Aku mengingatnya. "
" Apa aku boleh ikut ke kantin bersamamu,,? " lanjut XiaoFei.
Uhuk,, uhuk,, uhuk,,,
Mae terbatuk karena tersedak salivanya sendiri, saat mendengar ucapan yang keluar dari mulut atasannya itu.
" Anda,,,? Ke kantin,,,? " ulang Mae, dan XiaoFei mengangguk pasti.
" Anda yakin,,,? " XiaoFei mengangguk lagi.
" Ciuss,,,? " XiaoFei mengernyitkan dahinya, namun tetap mengangguk.
Baru saja Mae ingin menyahut, Jack masuk.
" Fei,,,. Ayo kita makan siang. " ajak Jack yang melihat XiaoFei sudah berdiri didekat pintu masuk.
" Ini aku juga sedang mengajak Mèi makan siang bersama. " jawab XiaoFei tanpa mengalihkan pandangannya dari Mae.
" Oh ya,,? Baguslah kalau begitu. Kita makan siang dimana,,? " tanya Jack, sementara Mae hanya diam. Namun matanya tetap menyaksikan kedua atasannya itu bicara.
" Kantin. " jawab XiaoFei singkat.
" Shénme,,,??!! " pekik Jack kencang saking kagetnya dengan jawaban XiaoFei.
( Apa,,,,??!!)
" Haish,,,. Méi bìyào hǎn,,. " XiaoFei menjauhkan sedikit kepalanya sambil menutup kuping kanannya.
( Tidak usah berteriak.)
" Nǐ xiǎng zài shítáng chīfàn ma,,? " XiaoFei mengangguk.
( Kau ingin makan di kantin,,?)
" Nǐ shì rènzhēn de,,,? " Jack bertanya sambil meyakinkan kalau pendengarannya tidak salah.
( Kau serius,,?)
" Jackie Putrawan,,,!! " XiaoFei menyebut nama lengkap Jack dengan tegas, membuat Mae melotot dan menatap Jack penuh tanda tanya.
" Nama Anda sungguh Indonesia sekali, Tuan Jack. " ucap Mae yang langsung mendapat tatapan tajam dari XiaoFei.
" Tentu saja, Nona. Karena saya lahir dan besar disini. " jawaban Jack semakin membuat Mae membulatkan matanya.
" Benarkah,,,? Tapi wajah dan logat bicara Anda lebih ke orang China, Tuan,,? " tanya Mae, penasaran.
" Mungkin karena saya lebih lama berada disana daripada disini, Nona. Lima belas tahun saya disana. " jelas Jack.
" Hiks,, hiks,, hiks,, saya sungguh iri padamu Tuan. " Mae berpura-pura menangis.
" Kenapa,,? " XiaoFei bertanya sambil mengerutkan dahinya.
" Tuan Jack sangat pintar berbicara bahasa Mandarin. Aku juga ingin,,,, " Mae sedikit merengek, sepertinya dia lupa, kalau yang ada dihadapannya saat ini adalah Bos nya.
" Apa kau ingin belajar dariku, Nona,,? " tanya Jack, berusaha memanas-manasi XiaoFei.
" Bolehkah,,,? " Mata dan wajah Mae langsung berbinar cerah, menatap Jack.
" Tidak Boleh,,!! " tegas XiaoFei cepat, menjawab pertanyaan Mae, membuat Mae langsung menoleh menatap XiaoFei.
" Kenapa memangnya,,? " tanya Jack dengan mengulum senyumnya.
" Aku yang akan mengajarinya. " jawab XiaoFei lalu menatap Mae dan tersenyum padanya.
" Tapi dia kan tadi meminta aku yang mengajarinya. " Jack sedang ingin memancing emosi XiaoFei rupanya.
" Sekali tidak,, tetap tidak. Aku yang mengajarinya bahasa Mandarin nanti. " tegas XiaoFei lagi.
" Kenapa kau begitu memaksa,,? " tanya Jack lagi.
" Terserah padaku,,. Disini aku Bos nya. "
Baru saja Jack ingin bicara lagi, namun suara Mae membungkamnya.
" Maaf sebelumnya, Tuan. Kalau anda berdua masih ingin berdebat, lebih baik saya duluan ke kantin nya. Zenab pasti sudah menunggu saya cukup lama. " ucap Mae sambil melihat jam tangannya.
Dia merasa sudah telat dan Zanza pasti sudah menunggu nya lama. Mae melirik kearah dua pria dihadapannya itu, yang sedang menatap balik Mae.
" Ayo kita pergi. " XiaoFei langsung merangkul lengan Mae, dan menariknya menuju lift, membuat Jack melotot melihatnya.
Sementara Mae terdiam membisu melihat tangan sang Bos yang melingkar di lengannya. Matanya berkedip-kedip, mulutnya terkunci, namun kakinya tetap melangkah mengikuti sang Bos menariknya. Jantungnya berdetak sangat kencang dan tak beraturan.
Dengan sedikit berdecak kesal, Jack mengikuti langkah keduanya. Sang Bos yang tersenyum sementara Mae yang terdiam dengan raut wajah bo*dohnya.
XiaoFei baru melepaskan rangkulan tangannya saat mereka sudah sampai didalam lift. Jack mendekat dan berdiri disamping XiaoFei.
" Benar-benar serius,,? " ulang Jack dan lagi-lagi XiaoFei hanya mengangguk sebagai jawaban.
" Baiklah,, terserah padamu. Jangan mengeluh padaku kalau kau sakit perut. " bisik Jack lagi dan kemudian menjauhkan tubuhnya dari XiaoFei.
Mae masih terdiam karena shock akan perbuatan XiaoFei tadi. Bagaimana bisa atasannya bersikap seperti itu padanya,,? seakan mereka adalah teman baik.
Ting,,
Pintu lift terbuka dan memperlihatkan sosok Zanza yang memasang wajah cemberut.
" Maaa,,, " baru saja Zanza ingin berteriak,, namun mulutnya kembali menutup saat matanya melihat dua sosok pria tampan yang adalah Bos besar dan asistennya.
Zanza sedikit memundurkan tubuhnya dengan sedikit membungkuk.
" Mae pe'a,,. Ngapa pake bawa-bawa Bos besar dan asistennya sih,,,? Jadi kagak bebas kan. " batin Zanza menggerutu.
Mae keluar dari lift lalu merangkul lengan Zanza.
" Tolongin gue, Zenab. " bisik Mae memelas.
XiaoFei dan Jack ikut keluar dari lift lalu mengikuti Mae dan Zanza yang sudah bergerak menuju kantin. Zanza melirik dari sudut matanya.
" Bos ngikutin kita,,? " bisik Zanza dan Mae mengangguk pelan.
" Ngapain,,,? " tanya nya masih berbisik pelan.
" Katanya sih mau ikut kita makan dikantin, Nab. " jawab Mae dengan lemas.
" Terus ngapa loe lemes begini,,? " Zanza menatap wajah dan tubuh Mae yang lemas.
" Ntar gue ceritain. " Zanza hanya mengangkat bahunya.
XiaoFei dan Jack hanya mengikuti sambil menatap dua gadis yang saling berbisik dihadapan mereka berdua.
Sesampainya dikantin, kehadiran XiaoFei dan Jack membuat suasana dikantin yang biasa riuh, menjadi sunyi senyap.
Hanya terlihat beberapa karyawan yang saling berbisik namun mata mereka menatap dua pria tampan kebanggaan Lin's Corporation.
Mae dan Zanza duduk di sebuah meja kosong. Begitu pun dengan XiaoFei dan Jack, mereka duduk saling berhadapan dengan Mae dan Zanza yang duduk bersebelahan.
" Tuan,,,. Anda yakin ingin makan disini,,? " tanya Zanza dengan sedikit ragu.
XiaoFei langsung mengangguk pasti sementara Jack hanya diam sambil melirik XiaoFei.
" Baiklah,, kalau begitu saya yang akan memesan. Anda dan Tuan Jack ingin memesan apa,,? " tanya Zanza sementara Mae hanya diam sambil menunduk.
" Kau ingin pesan apa, Mèi,, ? " bukannya menjawab pertanyaan Zanza, XiaoFei justru bertanya pada Mae.
Mae tersentak kaget lalu mengangkat wajahnya dan menatap XiaoFei. Sementara yang ditatap hanya menunjukkan senyum manisnya.
" Aa,, sa-saya pesan Mie ayam bakso, Tuan. " jawab Mae gugup.
" Baiklah. Kalau begitu pesananku disamakan saja dengannya. Kau mau pesan apa, Jack,,? " XiaoFei menoleh kearah Jack.
" Apakah disini ada ayam geprek,,,? " tanya Jack sambil menatap Zanza.
" Ada, Tuan. Anda mau sambal dengan level sedang atau pedas, Tuan,,? " Zanza balik bertanya.
Baru saja Jack ingin menjawab, namun sudah keduluan oleh XiaoFei.
" Tolong sambelnya yang sedang saja. Karena mulutnya sudah terlalu pedas untuk makan sambal yang levelnya pedas. Terimakasih, Zanza. " jawab XiaoFei sambil tersenyum kecil, membuat Jack mendengus kesal.
Zanza menjadi semakin gugup melihat senyuman sangat Bos besar dan wajah kesal sang asisten.
" Ba-baik, Tuan. "
Zanza pun segera memesan sementara Mae kembali menundukkan wajahnya, karena melihat XiaoFei kembali menatap Mae sambil tersenyum.
" Aihh,, si Bos mah,,,. Ngapa dari tadi ngeliatin bae, dah. Pan jadi malu gue,, mana pake senyum-senyum segala lagi. Kagak tau ape,, senyumnya itu manis banget,, bise bikin gue diabetes. " ucap Mae dalam hati.
Jack melirik XiaoFei yang masih setia menatap Mae yang menunduk. Dia menghela nafas panjang dan kembali menggerutu dalam hati.
" Cih,, dasar Bucin. Sejak sepuluh tahun yang lalu, masih saja seperti itu. Haishh,, memalukan saja tingkahnya itu. "
" Bié bàoyuànle,, " tegas XiaoFei tanpa menoleh kearah Jack.
( Berhentilah menggerutu )
" Cih,,, " Jack hanya berdecih sebagai jawaban.
" Sepertinya kau berbakat jadi cenayang, Fei. " lanjut Jack sedikit meledek.
Sementara yang diledek, hanya masa bodo. Dan masih menatap Mae yang tertunduk malu.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.
Maaf,, kalau penulisan bahasa Mandarin dan translate nya ada kesalahan, othor hanya mengikuti Goggle translate.
Terimakasih untuk yang masih setia menunggu othor up,
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌***
***