
Assalamu'alaikum,, dan selamat siang.
Seharusnya ini up dua hari yang lalu,, tapi dikarenakan othornya sakit diare sampe lemes tak bertenaga,, jadi baru sempet up sekarang.
Mohon maaf,, dan semoga kalian semua memaklumi nya. Terimakasih,, dan Happy reading,,
***
*
*
*
" Sebaiknya aku pergi membantu Zanza membawa pesanan. Dia pasti sedikit kerepotan. " ujar Jack lalu beranjak dari duduknya, ingin meninggalkan Bos nya dan Mae.
" Pergilah,, " sahut XiaoFei saat Jack melewati dirinya. Membuat Jack mendengus kesal.
" Emm,, Tuan Fei. " panggil Mae sedikit ragu.
" Ya,,? "
" Emm,, Anda yakin ingin makan disini,,? " tanya Mae pelan dan ragu, takut XiaoFei tersinggung.
" Hmm,, aku yakin. "
" Anda tidak takut sakit perut,,,? " tanya Mae lagi.
" Apa setelah makan disini kau akan sakit perut,,? " XiaoFei balik bertanya.
" Tidak, Tuan. " jawab Mae sambil menggeleng.
" Ya sudah,, berarti aku juga tidak akan sakit perut. " ujar XiaoFei dengan santainya.
" Tapi perut saya dan perut anda beda, Tuan. " XiaoFei mengernyitkan dahinya mendengar ucapan Mae.
" Maksudnya,,? "
" Perut anda perut Sultan, Tuan. Tidak bisa makan sembarangan. Beda dengan perut saya dan Zanza. Kami perut orang kampung, bisa masuk makanan apa saja. Tidak ada pantangan, macam ular kadut yang makan apa saja. ". jelas Mae masih dengan bahasa formalnya.
" Kenapa bisa begitu,,,? " tanya XiaoFei sedikit bingung.
" Bisalah, Tuan. Sejak kecil, Anda pasti dikasih makan makanan yang bergizi, sehat dan terjaga kualitasnya. Sementara bagi kami, bisa ketemu makanan aja udah alhamdulillah,,,. Kagak neko-neko ngarepin makanan mahal dan bergizi. " XiaoFei justru tersenyum mendengar penjelasan Mae.
" Kau salah. Kau tidak tahu bagaimana kehidupan Mommy-ku dulu. Dia juga pernah merasakan bagaimana susahnya mencari uang untuk mendapatkan sesuap nasi. Oleh karena itu, Mommy selalu mengajarkan kami untuk selalu bersikap apa adanya. Makan seadanya, tidak boleh macam-macam atau protes apapun yang dimasak Mommy. "
" Oleh karena itu, kami sekeluarga sudah terbiasa dengan kehidupan sederhana. Bahkan selama aku di China, aku dan Jack memilih tinggal di apartemen daripada tinggal di Mansion. Kami lebih sering memasak sendiri,, walaupun tak jarang juga kami pesan diluar. "
" Intinya,,, aku tidak akan sakit perut hanya dengan makan makanan dikantin ini. Kecuali memang mereka masaknya dengan alat dan bahan yang tidak higienis. Siapapun pasti akan sakit perut, tanpa terkecuali. " jelas XiaoFei panjang lebar, membuat Mae menatapnya kagum.
" Ehemm,,, "
Suara deheman Zanza mengalihkan pandangan Mae. Dia duduk disamping Mae dan memberikan mangkok yang berisikan pesanan Mae, yaitu mie ayam dengan bakso.
Begitupun dengan Jack, dia juga duduk disamping XiaoFei dan memberikan pesanan XiaoFei.
" Sepertinya pembicaraan kalian cukup serius. Apakah ada hal yang aku lewatkan,,? " ujar Jack bermaksud menggoda XiaoFei.
" Bì zuǐ ,,,!!! Chīfàn,,,. " tegas XiaoFei.
( Diamlah,,,!! Makan,,.)
XiaoFei mulai mengaduk Mie-nya dan memakannya perlahan. Jack mengangkat bahunya dan ikut makan.
Zanza menyikut lengan Mae, membuat Mae menoleh kearahnya.
" Ada apa'an,,? " tanya Zanza tanpa mengeluarkan suara.
" Ntar gue jelasin pas balik kerja. " bisik Mae dan Zanza mengangguk.
Mereka pun mulai makan dalam diam. Namun sesekali, XiaoFei melirik Mae yang terlihat kepedasan. Keringat mulai memenuhi dahinya, sementara bibirnya memerah karena panas dari rasa pedas sambal di mie ayamnya.
XiaoFei menggelengkan kepalanya pelan dan menahan senyumnya. Bagaimana tidak pedas, kalau Mae menambahkan saus cabai dan sambal yang cukup banyak hingga warna Mie-nya berubah merah.
Walau sebenarnya dalam hati, XiaoFei sedikit khawatir kalau Mae akan sakit perut. Sementara yang sedang dikhawatirkan justru asyik menikmati makanannya.
" Emm,, Tuan Fei. Maaf sebelumnya,, apakah Anda tidak merasa malu makan disini,,? " tanya Zanza setelah dia selesai makan.
" Kenapa aku harus malu,,? " XiaoFei balik bertanya.
" Secara Anda kan Bos besar. Biasanya para Bos dan atasan pasti memilih makan di restoran atau cafe. Dan Anda memilih makan dikantin dengan menu makanan yang sederhana dan murah meriah. Apakah Anda tidak takut akan di pergunjingkan oleh para karyawan Anda,,? " XiaoFei justru tersenyum, begitu juga dengan Jack.
" Aku tidak takut,, dan buat apa malu. Semua manusia itu SAMA dimata Tuhan. "
" Lagipula,, Mommy-ku selalu mengajarkan kami anak-anaknya untuk selalu hidup sederhana dan apa adanya. Kami pun sudah terbiasa mandiri. Bukan begitu, Jack,,? " Jack mengangguk.
" Apalagi saya, Nona. Sejak kecil, saya hidup penuh kekurangan. Kami harus bekerja agar dapat makan. Dan keberuntungan saya yang membawa saya mengenal keluarga Lin dan diangkat sebagai bagian dari keluarga mereka."
" Namun saya tidak pernah melupakan sedikit pun dari mana saya berasal. " jelas Jack.
" Hsstt,, tapi,,, Anda tadi berdebat dengan Tuan Fei, masalah makan dikantin. " ujar Mae yang masih merasa kepedasan.
" Itu karena saya merasa khawatir,, takut Fei sakit perut karena tidak terbiasa makan ditempat seperti ini. "
" Kalau sampai Fei sakit gara-gara makan dikantin,, bisa habis saya dihajar Mommy. " lanjut Jack membuat Zanza dan Mae terkekeh,, sementara XiaoFei melotot pada Jack.
" Sudah,,,. Sebaiknya kita kembali, waktu istirahat sudah hampir habis. " ucap XiaoFei mengalihkan pembicaraan.
" Yok, Nab. Kita masuk kedalam. " ajak Mae sambil merangkul lengan Mae.
"Mèi,,,. Kau masuk bersamaku, biar Jack yang mengantar Zanza kembali ke ruangannya. " tegas XiaoFei.
" Hahh,,,??!! " Zanza dan Mae melongo dengan kompaknya.
" Haishh,,,. "
XiaoFei segera meraih tangan Mae dan melepaskan rangkulan tangan Mae pada Zanza. XiaoFei menarik tangan Mae, dan berjalan masuk kedalam kantor.
" Jack,,!!. Kau antar Zanza. " perintah XiaoFei tegas.
" Cih,,,. Dasar Bucin,,, " gumam Jack pelan sambil menahan kesal.
" Tidak usah, Tuan Jack. Saya bisa masuk kedalam sendiri. " Zanza menolak dengan halus.
" Sudah,,!! Ayo cepat. " Jack berjalan mendahului Zanza sambil memasukkan tangannya kedalam saku celana.
Zanza menghela nafas panjang untuk sesaat lalu berjalan mengikuti Jack. Dia berjalan dibelakang Jack sambil menunduk. Hingga,,,
Zanza tanpa sengaja menabrak punggung Jack yang berhenti tiba-tiba. Zanza mengusap keningnya yang terbentur punggung kokoh Jack.
" Apa kau pengawalku,,,? " tanya Jack ketus. Zanza menggeleng cepat.
" Bukan, Tuan. "
" Lalu kenapa kau jalan dibelakangku,,,? "
Zanza pun langsung pindah ke samping Jack, dan mereka pun mulai berjalan berdampingan. Zanza masih mengusap keningnya. Jack melirik dari sudut matanya.
" Apakah sakit,,? " tanya Jack dengan nada pelan. Zanza mengangguk tanpa menjawab.
" Benarkah,,? " tanya Jack lagi.
" Benar, Tuan. Punggung Anda keras,, berasa kejedot tembok saya tadi. " jawab Zanza dengan polosnya membuat Jack mengulum senyumnya.
" Benarkah,,? " lagi-lagi Zanza mengangguk, membuat senyum Jack melebar.
" Dia lucu,,, seperti Nona Mae. Mereka berdua benar-benar perempuan unik dan polos. " batin Jack.
*
*
*
Sementara itu,,
Wajah Mae memerah karena XiaoFei masih menggandeng tangannya saat masuk kedalam kantor. Beberapa karyawan melihatnya dan mulai berbisik, membuat Mae tertunduk karena malu.
" Tuan,,,. " panggil Mae pelan dan masih menunduk.
" Hmm,,, "
" Bisakah Anda melepaskan tangan Anda,,,? Kita menjadi pusat perhatian. " lanjut Mae lirih membuat XiaoFei menatap sekitar mereka.
Dan benar saja, beberapa karyawan masih melihat, melirik bahkan saling berbisik.
" Apa yang kalian lihat,,,??!!!. " tegas XiaoFei.
" Apa kalian tidak punya pekerjaan,,,??!! " lanjut XiaoFei masih dengan tegas dan tatapan tajamnya.
Para karyawan itu segera menunduk dan berbalik kembali ketempat mereka masing-masing. Siapa juga yang mau berurusan dengan Wakil Presdir dan asisten nya yang terkenal dingin dan tegas.
" Sudah kan,,. " ucap XiaoFei lembut sambil tersenyum.
" Tapi,,, bisakah Anda lepaskan tangan Anda,,? "
" Hahh,, baiklah. " dengan sedikit tidak rela, XiaoFei pun melepaskan tangannya dari tangan Mae.
Mereka pun kembali melanjutkan perjalanan mereka menuju ke ruangan XiaoFei, dengan berjalan berdampingan. Mae masih tertunduk karena malu, sekaligus jantungnya merasa berdetak sangat kencang.
Selama ini, memang Mae belum pernah sekali pun dekat dengan seorang pria. Jangankan bergandengan tangan,, ngobrol berdua saja hampir tidak pernah. Dan kini,, tiba-tiba saja tangannya digandeng oleh seorang pria yang menjabat sebagai atasannya.
Mae benar-benar merasa malu. Sungguh,,,
Mereka masuk kedalam lift. XiaoFei melirik Mae yang berada disampingnya masih tetap menunduk. Membuatnya sedikit kesal, karena sejak tadi Mae hanya diam.
" Apa kau marah, Mèi,,,? " tanya XiaoFei. Mae menggeleng, namun masih tetap menunduk.
" Lalu kenapa sejak tadi kau hanya diam dan terus menunduk,,? Apa dibawah sana ada sesuatu,,,? " Mae kembali menggeleng.
" Lalu,,,? "
" Saya,,, saya malu, Tuan. " jawab Mae pelan,, entah hilang kemana keberanian dan sikap masa bodonya itu.
" Malu,,,? " Mae mengangguk.
" Malu kenapa,,,? " tanya XiaoFei lagi, bahkan dia menghadapkan tubuhnya pada Mae.
" Karena,,, karena Tuan tadi udah gandeng tangan saya. " XiaoFei mengulum senyumnya.
" Lalu,,? "
" Kita diliatin orang, Tuan. "
" Biarkan saja. " jawab XiaoFei cuek.
" Tapi saya kan kagak pernah gandengan tangan ama cowok, Tuan. Bisa didodet leher saya ama Babeh,, " jawab Mae membuat XiaoFei menahan tawanya. ( Didodet itu sama juga seperti digorok atau dipenggal)
" Benarkah,,,? " Mae mengangguk.
" Kau belum pernah bergandengan tangan dengan pria manapun,,? " Mae mengangguk lagi.
" Pernah sih,, tapi cuma ama Babeh doang. " XiaoFei kembali mengulum senyumnya.
" Berarti kau belum pernah pacaran,,? " tanya XiaoFei, membuat Mae langsung mengangkat wajahnya.
" Boro-boro pacaran,, deket ama cowok aja kagak pernah. Kata Babeh,, bukan muhrim. Kagak boleh deket-deket ama cowok. " sahut Mae, kembali ceplas-ceplos.
" Kita bukan muhrim,, dan sekarang kita berdekatan. Berduaan lagi,,. Kau tidak takut Babehmu tahu,,? " goda XiaoFei.
Sontak Mae langsung menjauhkan tubuhnya dari XiaoFei, membuat tawa XiaoFei lepas.
" Kau lucu, Mèi. Benar-benar lucu,,, " ucap XiaoFei masih tertawa, membuat Mae cemberut.
XiaoFei menatap bibir Mae yang mengerucut, membuatnya terpaksa harus menelan salivanya. XiaoFei mengalihkan pandangannya,,
" Si*al,,,. Mengapa ingin sekali mengecup bahkan ******* bibir itu,,,? " gerutu XiaoFei dalam hati.
*
*
*
~~ **Bersambung,,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌**
***