
Mereka pun segera bergegas pergi menuju Bandara. Tuan Wang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu perempuan satu-satunya di keluarga Wang. Karena semua cucunya adalah laki-laki.
Tuan Wang pun tak berhenti berdo'a untuk kesembuhan cucunya, yang sedang berjuang untuk sadar dari komanya.
" Mae,,,. Děng děng Yéyé. " batin Tuan Wang.
( Mae,,,. Tunggu Kakek.)
XiaoLi dan Tuan Wang segera bergegas masuk kedalam jet pribadi milik keluarga Lin, begitu mereka sampai di Bandara. Sebelumnya mereka mengambil koper yang berisi pakaian mereka, yang sudah diantar oleh asisten XiaoLi maupun Tuan Wang.
Selama dalam perjalanan, Tuan Wang tidak pernah berhenti berdo'a dalam hati, agar cucunya bisa kuat bertahan dan dapat segera sadar dari komanya. XiaoLi dapat merasakan kekhawatiran Tuan Wang yang terlihat begitu gelisah dan tidak sabar, ingin segera sampai di Indonesia.
*
*
*
Sementara itu,,,
Jack sedang menunggu kedatangan jet pribadi milik Keluarga Lin. Dia mendapatkan panggilan telepon dari XiaoLi beberapa jam yang lalu, agar menjemputnya di Bandara. Tentu saja, XiaoLi juga berpesan, agar Jack tidak memberitahukan kedatangannya pada sang Adik dan juga keponakannya.
Setelah setengah jam menunggu, akhirnya XiaoLi dan Tuan Wang pun tiba. Jack segera menghampiri dan memeluk XiaoLi.
" Huānyíng, Shūshu. " ucap Jack sambil melepaskan pelukannya. XiaoLi tersenyum.
( Selamat datang, Paman.)
" Bagaimana kabarmu, Jack,,? Bagaimana perasaaanmu saat kembali ke negara kelahiranmu,,,? " tanya XiaoLi.
" Kabarku baik, Paman Li. Dan aku sangat senang kembali kesini. Walau aku masih belum sempat mengunjungi tempat lamaku. " sahut Jack lalu menoleh kearah Tuan Wang.
" Huānyíng, Wáng Xiānshēng. " sapa Jack pada Tuan Wang.
( Selamat datang, Tuan Wang.)
" Xièxiè, Jack. " sahut Tuan Wang.
Mereka pun kemudian pergi setelah saling sapa. XiaoLi menyuruh Tuan Wang untuk beristirahat terlebih dahulu di Apartemen milik XiaoLi. Namun Tuan Wang menolak dengan tegas.
" Sebaiknya Paman beristirahat dahulu. Paman pasti lelah setelah perjalanan yang cukup lama tadi. " ucap XiaoLi, saat mereka sudah berada didalam mobil. Tuan Wang langsung menggeleng.
" Tidak usah, Li. Paman ingin langsung kerumah sakit. Paman tidak sabar ingin melihat keadaan cucu Paman. " tolak Tuan Wang.
" Tapi,,, "
" Paman mohon, Li. "
XiaoLi hanya bisa menghela nafas panjang.
" Baiklah, Paman. "
" Jack,,. Antarkan kami ke rumah sakit. " perintah XiaoLi pada Jack.
" Hǎo de, Li Shūshu." sahut Jack.
Jack pun segera melajukan mobilnya menuju rumah sakit. XiaoLi tidak memberitahukan kedatangannya dan juga Tuan Wang pada XiaoFei maupun XiaoYue.
Setelah menempuh perjalanan hampir satu jam, mereka pun sampai di rumah sakit tempat Mae dirawat.
Dapat terlihat dengan jelas ketidaksabaran diwajah Tuan Wang. Dan XiaoLi pun memakluminya. Jack pun membawa mereka menuju ruang perawatan Mae.
Jack pun sudah mendatangkan Dokter terbaik atas permintaan XiaoFei, namun ternyata Mae masih betah dalam tidur panjangnya. Tapi setidaknya, Mae sudah berhasil melewati masa kritisnya.
Jack mengetuk pintu setelah mereka sampai didepan pintu ruangan Mae dirawat. Dan didalam ada XiaoFei dan juga Babeh Mae. Mereka berdua masih setia menanti Mae sadar.
Tok,, Tok,, Tok,,,.
XiaoFei dan Babeh Mae, sontak melihat kearah pintu saat pintu itu terbuka. Mata XiaoFei membulat sempurna begitu melihat siapa yang masuk. Dia benar-benar terkejut.
" Li Shūshu,,,. " ucap XiaoFei, lalu beranjak dari duduknya kemudian memeluk XiaoLi.
XiaoLi hanya tersenyum sambil menepuk-nepuk pelan punggung XiaoFei.
" Kau kurusan. " ucap XiaoLi, membuat XiaoFei tersenyum kecut. XiaoFei kemudian menoleh kearah Tuan Wang.
" Wáng Yéyé,,. " sapa XiaoFei dengan sopan.
Tuan Wang tersenyum.
" Fei Shàoyé. " sapa Tuan Wang ramah.
Lalu mata tua Tuan Wang melihat ke arah ranjang, yang terdapat Mae tengah berbaring tak berdaya dengan berbagai alat menempel ditubuhnya.
Seketika, airmata keluar dari sudut mata tuanya. Dadanya terasa sakit dan perih, melihat cucu perempuannya tengah berbaring tak berdaya.
Tuan Wang mengalihkan pandangannya karena tidak kuat melihat keadaan Mae. Hingga pandangannya bertemu dengan Babeh Mae yang juga sedang menatap Tuan Wang.
" Wang,,,? Fei tadi bilang die Wáng Yéyé, berarti die bapaknye Maria,,? Ya Allah,,, die kemari bukan mo ngambil anak aye pan,,,? " batin Babeh Mae bertanya-tanya.
" Kau yang bernama Mansyur,,? " tanya Tuan Wang, dengan sedikit terbata dan kaku, karena sudah lama dia tidak bicara bahasa Indonesia.
Sebelum meninggal, Tuan besarnya yaitu Lin XiaoLong, Kakek Mommy XiaoYue, selalu menyuruh anak buahnya untuk belajar bahasa Indonesia. Karena cabang perusahaan Lin ada di Indonesia, oleh karena itu, salah satu syarat anak buah, karyawan dan para pemegang saham wajib belajar bahasa Indonesia.
Babeh Mae tersadar dari lamunannya saat Tuan Wang menyapanya dan sudah berada dihadapannya. Babeh Mae menatap Tuan Wang dengan gusar dan sedikit takut.
Bukan takut apa-apa,, dia hanya takut kalau Tuan Wang akan mengambil Mae dan membawanya pergi darinya. Karena bagaimana pun juga, dalam tubuh Mae mengalir darah keturunan keluarga Wang.
" Beh,,,. " panggil XiaoFei, karena melihat Babeh Mae yang terdiam, membuat Babeh Mae tersentak kaget.
" Iya, Tuan. Saya yang bernama Mansyur. " sahut Babeh Mae dengan bahasa formalnya. Karena tidak mungkin dia menggunakan logat Betawi nya pada Tuan Wang, yang masih kagok berbahasa Indonesia.
Tiba-tiba saja,,,
" Tuan,,,!! Apa yang anda lakukan,,,? " pekik Babeh Mae dengan kencang saat Tuan Wang tiba-tiba saja setengah bersujud didepan Babeh Mae.
XiaoLi, XiaoFei dan Jack sangat terkejut dengan tindakan Tuan Wang. Suasana haru seketika.
" Maafkan pria tua ini, Mansyur. Maafkan aku,,, karena sebagai seorang Ayah tidak bisa mendidik anaknya dengan benar. Bahkan dengan teganya meninggalkan bayinya yang masih sangat kecil. "
" Maafkan aku, yang sama sekali tidak mengetahui pernikahan kalian. Aku tidak mengetahui menantuku, bahkan juga sama sekali tidak tahu, tentang keberadaan cucu perempuanku. Aku terlalu membebaskan Renata, dan terlalu percaya padanya. Aku benar-benar pria tua bodoh dan tidak tahu apa-apa. Maafkan aku,,,.Maafkan,,,." ucap Tuan Wang sambil terisak masih dengan setengah bersujud.
Babeh Mae menggeleng sambil terus berusaha membujuk Tuan Wang untuk berdiri.
" Tidak, Tuan Wang. Jangan pernah bersujud pada manusia, apalagi manusia sepertiku yang penuh dosa dan kekurangan. Bangunlah, Tuan. Saya mohon,, jangan seperti ini. "
" Aku mohon maafkan aku,,,. " lirih Tuan Wang.
" Saya sudah memaafkan Tuan, karena Tuan tidak bersalah dan tidak tahu apa-apa. Lagipula, sebagai umat muslim,, kami wajib memaafkan kesalahan orang lain. Bangunlah, Tuan. " sahut Babeh Mae.
" Terimakasih,, Mansyur. Terimakasih karena sudah memaafkan pria tua ini. " ucap Tuan Wang sambil berdiri dan dibantu oleh Babeh Mae.
" Tidak perlu berterimakasih, Tuan. Karena bagaimana pun juga, Anda adalah Kakek dari anak saya, yaitu Mae. " jawab Babeh Mae sambil tersenyum tulus.
" Kalau aku benar adalah Kakek dari anakmu,, lalu kenapa kau masih memanggilku, Tuan,,? " tanya Tuan Wang dan membuat Babeh Mae gugup seketika.
" Emm,,, itu,,,. Saya rasa itu tidak pantas, Tuan. Karena saya sudah bukan suami Renata lagi. "
" Kau sekarang memang sudah bukan menantuku lagi,, tapi kau tetaplah Ayah dari cucuku, jadi kau harus memanggilku Papa. " sahut Tuan Wang sedikit memaksa.
" Tapi, Tuan,,,, "
" Aku tidak menerima penolakan. " tegas Tuan Wang.
" Hei,,,!!. Itu slogan keluarga kami, Yéyé. " protes XiaoFei, berusaha mencairkan suasana agar tidak terlalu sedih.
Tuan Wang tertawa diikuti oleh XiaoLi, Jack dan Babeh Mae. XiaoFei pun tersenyum. Setidaknya satu masalah telah selesai. Kini hanya tinggal menunggu Mae untuk bangun dari komanya.
" Boleh aku melihat cucuku,,,? " tanya Tuan Wang.
" Silahkan, Tuan. " sahut Babeh Mae.
" Hei,,,!! Bukankah sudah kubilang, panggil aku Papa. Dan aku tidak menerima penolakan. " tegas Tuan Wang.
" Ampun deh ye,,,. Kagak anak kagak bapaknye,, same-same tukang paksa. " gerutu Babeh Mae dalam hati.
" Tidak usah menggerutu, Syur. Katakan langsung padaku. " ucap Tuan Wang membuat Babeh Mae tersentak kaget. Lalu cengengesan sambil menggaruk tengkuk lehernya.
" Baiklah,,, Papa. " ucap Babeh Mae kaku.
" Bagus,,,. "
Tuan Wang pun mendekat ke ranjang Mae. Matanya kembali basah. Tangan tuanya yang sudah berkeriput, meraih tangan Mae pelan.
Lalu Tuan Wang mendekatkan wajahnya ke wajah Mae, dan mengecup keningnya lembut.
" Mae,,. Bangun sayang,,, ini Kakek. " bisik Tuan Wang pelan ditelinga Mae.
" Kakek datang. Maafkan Kakek yang baru mengetahui keberadaan mu. Bangunlah, cucuku. Kakek ingin kau membuka matamu agar dapat mengenali siapa Kakekmu. " sambung Tuan Wang masih dengan berbisik.
Walaupun Tuan Wang berbisik pelan, namun mereka masih bisa mendengarnya. Suasana kembali haru dan sedih. Tiba-tiba, Jack mendekat kearah XiaoFei yang berdiri disamping Babeh Mae, yang sedang melihat Tuan Wang berbicara dengan Mae.
" Fei,,,. " panggil Jack.
" Himm,,, " sahut XiaoFei tanpa mengalihkan pandangannya.
" Ternyata Babeh bisa juga ya berbicara formal. " ucap Jack, yang sontak membuat XiaoFei menoleh kearah Jack dan Jack mendapatkan pukulan keras di bahunya. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Babeh Mae.
" Sekate-kate loe ye,,,. Mentang-mentang tampang Babeh begini,, dikate Babeh kagak bise sopan. Bener-bener minta digaplok nih bocah,,,. " ucap Babeh Mae kembali pada mode Betawi nya.
Seketika suasana berubah gara-gara Jack dan Babeh Mae. XiaoLi dan Tuan Wang hanya bisa terkekeh. Sementara XiaoFei menatap tajam Jack.
" Berani sekali kau menghina calon mertuaku, Jack...!! " ucap XiaoFei tegas dan tanpa sadar keceplosan.
Membuat beberapa pasang mata sontak menatap XiaoFei penuh tanya. Mereka adalah Babeh Mae, Tuan Wang dan juga XiaoLi. Sementara Jack hanya cengengesan, karena XiaoFei yang masih belum sadar karena sudah keceplosan.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, karena menulis itu tidak mudah.
Salam love and pecae dari othor,,
❤❤✌✌**