
XiaoFei sedang merindukan gadis kecilnya, yang saat ini sudah beranjak dewasa. XiaoFei sudah mendapat kabar dari XiaoWu, kalau gadis kecilnya itu hari ini menjadi salah satu siswi berprestasi disekolah.
Mae dan XiaoWu memang satu sekolah, hanya berbeda kelas. XiaoWu adalah Kakak kelas Mae. XiaoFei memang selalu mendapat kabar mengenai Mae, namun dia sama sekali tidak mau kalau XiaoWu ataupun sang Mommy, mengiriminya foto Mae.
XiaoFei bersikeras, bahwa takdirlah yang akan menentukan nasib jodoh mereka. Apakah mereka berjodoh atau tidak,, XiaoFei tidak ingin memaksa. Hanya wajah masa kecil Mae yang selalu terpatri didalam ingatan XiaoFei.
Tok,, tok,, tok,,
Suara ketukan pintu menyadarkan XiaoFei dari lamunannya. XiaoFei kembali fokus pada bukunya.
" Masuk,,, " seru XiaoFei.
Tak lama seseorang masuk, yang ternyata adalah Jack. XiaoFei duduk bersandar dan menarik nafas lega begitu tahu yang masuk adalah Jack.
" Kenapa, Fei,,? " tanya Jack, lalu duduk berhadapan dengan XiaoFei.
" Memangnya ada apa denganku,,? " XiaoFei balik bertanya.
" Wajahmu tidak dapat berbohong, Fei. " XiaoFei kembali menghela nafas panjang.
" Aku merindukannya, dan XiaoWu baru saja memberiku kabar,, gadis kecilku itu menjadi salah satu siswi berprestasi. Aku bangga padanya,, dan aku semakin merindukan nya saat XiaoWu bilang gadis kecilku itu sekarang sudah berubah menjadi sosok yang cantik dan manis. Namun sangat galak. Hah,,, aku galau Jack,, " XiaoFei mengungkapkan kegelisahan hatinya.
" Galau,,,? "
" Ya,,. Galau,,, sangat galau. Ada satu orang siswa yang selalu mengejarnya sejak dua tahun yang lalu. Walau gadisku itu selalu menolak dengan tegas namun tetap saja aku cemas. Karena aku pergi terlalu lama, takut hatinya goyah dan melupakanku. Apalagi kita masih empat tahun lagi disini. "
" Kenapa kau tidak menghubungi nya,,? Jangan bilang kalau kau pasrah pada takdir, kalau jodoh pasti bertemu lagi dan bersatu,,? "
XiaoFei terdiam mendengar ucapan Jack, karena itu memang benar.
" Fei,,,. Yang sudah ada status saja belum tentu bisa LDR-an. Apalagi kau pergi saat dia masih kecil dan masih ada empat tahun lagi kau baru bisa kembali ke Indonesia. Apa kau pikir dia akan selalu ingat padamu, sementara dirimu saja begitu keras kepala tidak mau menghubungi nya,,? " tanya Jack sedikit geram.
" Sudahlah, Jack. Sekarang kita bahas masalah perusahaan saja. Mulai pekan depan, kita sudah harus fokus kesana, karena kita sudah lulus. "
Jack menghela nafas, dan meraih beberapa berkas dari atas meja. Mereka pun kembali mempelajari tentang bisnis perusahaan keluarga Lin, yang begitu besar.
Begitu banyak bisnis didalamnya. Dari mulai perumahan elit, perhotelan, ekspor impor, mall hingga pendidikan. Banyak sekolah dan universitas yang didanai oleh keluarga Lin. Bahkan ada beberapa menjadi kepemilikan keluarga Lin.
XiaoFei sendiri bahkan tidak menyangka kalau keluarga besar sang Mommy, benar-benar begitu kaya dan sukses.Namun sang Mommy tidak pernah sombong dan gelap mata. Selalu rendah hati. Bahkan selalu menyembunyikan identitas aslinya.
*
*
*
Kita tinggalin dulu si XiaoFei dan Jack,, biar mereka konsen belajar dan bekerja.
" Mae,,, " panggil Zanza.
" Hmm,,, "
" Jujur aja nih,, menurut gue ya,, si Dimas tuh kan ganteng,, kaya,, anak Rektor,, terus keluarganya salah satu keluarga tetpandang dikota ini,, kok loe bisa bisanya nolak dia,,? " Mae seketika langsung menghentikan makannya dan menatap tajam ke arah Zanza.
" Pertama,, gue kagak gila harta. Kedua,, yang namanya perasaan itu kagak bisa dipaksa. " jawaban simpel namun tepat keluar dari mulut Mae.
" Lagian ye,, Zenab. Loe belon pernah ngeliat rumahnye abang ganteng gue sih,,,. Halaman samping ame belakang nye aje,, luas benerrr,,, udeh kayak lapangan bola. Belon garasi nye,, udeh kayak deler, mobil nye bejejer,, tinggal pilih mo pake nyang mane. Satpam ame asisten rumah tangga nye aje,, ade belasan. Rumahnye gedong,,, kalo loe liat juge,, mate loe bakalan keluar. " lanjut Mae.
Zanza menggaruk keningnya. Dan menatap Mae yang kembali melahap bakso nya. Kuah yang begitu merah dan pedas, tidak menjadi masalah buat Mae. Pantes aje,,, mulut nye juge pedes bener,,,
" Rumah gedong,,, ? Maksud loe Mansion,,,? " tanya Zanza. Mae mengangguk.
" Sorry,,,. Keingetan dulu,, gue nyebutnye rumah gedong. He,, he,, he,, " Mae meralat sambil nyengir.
" Udeh,,, makan lagi. Kalo kurang nambah aje,, pan gue nyang traktir. " lanjut Mae, membuat Zanza tersenyum sumringah.
" Siap,, bosqu. " Zanza pun melanjutkan makan nya. Tak lupa juga, dia memesan bakso tambahan dan juga minuman dinginnya.
*
*
*
" Wa'alaikumsalam,,, "
XiaoWu masuk kedalam rumah dengan mengucap salam dan disahuti oleh orangtua dan saudara kembarnya.
" Mae bagaimana, Wu,,,? " tanya Mommy XiaoYue saat XiaoWu sudah duduk disofa.
" Alhamdulillah,, Mae berhasil menjadi salah satu siswi yang berprestasi. Bisa jadi modal tambahan buat nanti dia dapat beasiswa saat kuliah nanti. " jawab XiaoWu sambil meraih salah satu minuman dingin yang sudah tersedia diatas meja.
" Memang Mae nanti rencananya mau kuliah dimana,, Wu,,? " tanya Daddy Jimmy.
" Rencananya Mae sih, katanya mau kuliah di kampus punya Mommy. Lin's University & College. "
" Itu bisa Mommy atur tanpa Mae tahu. Lalu tadi kau sudah pamit pada Mae,,? " tanya Mommy XiaoYue.
" Sudah, Mom. Dia sedih dan sempat nangis sambil meluk Wu tadi. Wu jadi ikutan sedih,, Kak Fei aja belum kembali,, ini sudah mau ditinggal pergi lagi. Mae jadi ngerasa sepi. " Wajah XiaoWu terlihat sendu, begitu juga ade ngna Mommy XiaoYue.
" Ya,, habisnya mau bagaimana lagi. Kakakmu tetap kekeh mau disana sementara waktu, mempelajari mengurus perusahaan dari Paman XiaoLi mu. Entah masih berapa lama lagi dia disana,,? " XiaoYue menunduk sedih.
Jimmy mengusap punggung sang istri tercinta. Dia sudah tahu, berapa lama lagi XiaoFei berada di China.
" Kakak bilang masih mau disana sekitar empat tahun lagi, Mom. Kemarin dia menghubungi Daddy. " XiaoYue langsung menoleh kearah Daddy Jimmy.
" Empat tahun, Dad,,,? " Jimmy mengangguk.
" Berarti barengan dengan Wu dan Zhan,, Dad,,? " Jimmy lagi-lagi hanya bisa mengangguk.
XiaoYue langsung merasa tubuh dan kakinya lemas. Wajahnya benar-benar sendu dan sedih. Jimmy kembali mengusap punggung Mommy XiaoYue.
" Rumah kita semakin sepi, Dad. " keluh Mommy XiaoYue lirih.
" Mom,,, kan bisa ajak Mae main kesini. " ucap XiaoWu berusaha menghibur sang Mommy.
" Hah,,,. Bukankah kau tahu sendiri, kalau anak itu sangat susah datang kesini semenjak Fei pergi. "
" Iya juga, ya. " XiaoWu menggaruk keningnya.
" Apalagi ditambah sekarang tidak ada kau dan Zhan. Makin susah lah tuh anak disuruh datang. " sambung XiaoYue.
" Sudahlah, sayang. Jangan bersedih,, kau bisa kembali ke kantor untuk sementara waktu untuk menghabiskan harimu. " Daddy Jimmy terus berusaha memberi pengertian dan semangat.
" Mom,, Dad,,. Wu ke kamar dulu ya, mau meneruskan packing barang. " Mommy XiaoYue dan Daddy Jimmy mengangguk.
XiaoWu beranjak dari duduknya berjalan menuju ke kamar nya. XiaoYue kembali menunduk sedih.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Mohon maaf readers terlope-lope. Othor ga bisa up tiap hari,, dikarenakan jari-jari othor semakin bengkak,, efek bawaan hamil bikin tangan kanan othor sering kram, kebas dan nyeri kesemutan. Rasanya sakit,, cenat cenut.
Ini aja ngetiknya dicicil dikit-dikit,, ga kuat jarinya, pada ngilu, sakit bener.
Othor juga mohon maap,, untuk beberapa hari kedepan, othor tidak bisa up. Kuota othor udah sekarat,, ntr kl ada wifi gratisan, pasti bakalan othor up lagi.
Jangan lupa untuk like, vote, comment and kopinya.
Salam love and peace dari Mae,,
❤❤✌✌***
~~