Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 19 ( Meminta Bantuan)



***Assalamu'alaikum,,, dan selamat malam.


Maap,, othor up nya kemaleman. Sedikit sibuk anter jemput plus nungguin bocah sekolah,, belum lagi kerjaan rumah yang ga ada habisnya,,,. Maklum deh ye,, emak emak yak begono dah,, ada aja kerjaannya,, kagak kelar-kelar.


Oke deh,, happy reading,,


Dan jangan lupa like, vote dan comment nya***.


*


*


*


Keesokan harinya,,,


Mae dan Zanza sedang bersiap untuk pulang setelah mata kuliah nya selesai. Mae sedang merapikan buku dan alat tulisnya kedalam tas punggung mungilnya. Tak lupa juga, laptop nya dimasukan kedalam tas khusus laptop.


Baru saja Mae dan Zanza beranjak bangun dari duduknya, tiba-tiba saja salah satu teman kampusnya datang memberitahu kalau Mae dipanggil ke ruang dosen yang bernama Bu Wida.


Mae mengucapkan terimakasih pada temannya itu. Dan Mae serta Zanza hanya bisa saling pandang dan penuh kebingungan. Ada apa gerangan,,,?.


Zanza mengantar Mae sampai kedepan ruang Bu Wida. Mae menyerahkan tas laptop nya pada Zanza.


" Gue masuk dulu,, "


Zanza mengangguk dan menunggu sambil memeluk tas laptop Mae. Sementara Mae masuk kedalam ruangan Bu Wida setelah dia mengetuk pintu terlebih dahulu.


" Selamat siang, Bu,,. " sapa Mae sopan.


" Silakan masuk, Hafsa. Dan silahkan duduk. "


Mae pun mengangguk lalu berjalan mendekat kemudian duduk di kursi yang berhadapan dengan Bu Wida.


" Ibu memanggil saya,,? " tanya Mae dengan sopan namun sedikit penasaran.


Bu Wida menarik nafas untuk sesaat. Wajahnya terlihat sangat tidak baik-baik saja, membuat Mae semakin penasaran.


" Begini Hafsa,,. Sebelumnya Ibu mohon maaf, apabila ucapan yang akan Ibu sampaikan nanti membuatmu kecewa. Namun Ibu juga tidak bisa berbuat apa-apa,, Ibu hanya melaksanakan perintah dari atasan. " Mae mengerutkan dahinya,, dia benar-benar dibuat bingung karena ucapan Bu Wida.


" Ini,,, sebenarnya ada ya, Bu,,? "


" Sekali lagi Ibu minta maaf,, semua diluar kendali Ibu. Mulai hari ini,, Rektor memutuskan beasiswa kamu dicabut. "


Mae tersentak seketika mendengar ucapan Bu Wida. Ditatap nya Bu Wida penuh pertanyaan.


" Beliau bilang,, pihak dari perusahaan Lin sendiri yang memutuskan untuk memberhentikan beasiswa mu. Dan alasan jelasnya, Ibu juga kurang paham. " lanjut Bu Wida.


Mae seketika merasa lemas, namun dia juga tidak bisa protes apalagi menyalahkan Bu Wida. Mae menghela nafas panjang.


" Baiklah, Bu. Saya mengerti dan saya paham. Kalau begitu, saya permisi. " Mae berniat untuk beranjak dari duduknya, namun,,,


" Tapi kamu jangan khawatir Hafsa,,. Begitu ada beasiswa lagi,, Ibu pasti akan membantu mu untuk bisa mendapatkan nya kembali. "


Mae hanya bisa mengangguk sambil tersenyum pasrah.


" Terimakasih, Bu. Saya permisi,, " pamit Mae dan Bu Wida hanya bisa menganggukkan kepalanya.


Mae keluar dari ruangan itu, dengan lemas. Seperti kehilangan tenaga. Mae menghampiri Zanza yang tengah menunggunya dengan wajah sendu. Zanza mengerutkan dahinya, melihat raut wajah Mae.


" Loe ngapa, Mae,,? " pertanyaan Zanza langsung membuat airmata Mae menggenang seketika.


" Loe ngapa,,,? " Zanza mulai terlihat panik.


Tangan kanannya menangkup di pipi Mae dan menepuk nya pelan.


" Beasiswa gue dicabut, Zae. " ucap Mae lirih, namun membuat Zanza cukup terkejut.


" Kok bisa,,? " Mae menggeleng, lalu mulai menceritakan kejadian tadi didalam ruangan Bu Wida.


Zanza terdiam untuk sesaat, dan kemudian teringat akan sesuatu. Zanza menepuk kening Mae, membuat Mae terlonjak kaget dan kesal.


" Suee,, loe. Bikin gue kaget aja. " sungut Mae kesal.


" Ssttt,,,. Jangan-jangan ini ulah si Dimas,,? " bisik Zanza, dan langsung membuat Mae melotot seketika.


Mae kembali teringat ancaman yang sudah Dimas ucapkan kemarin. Benar-benar gerak cepat si Dimas.


Mae menunduk lesu, tangannya meraih tas laptop dari tangan Zanza. Dia pun berjalan dengan lesu menyusuri lorong kampus. Mereka pun berjalan menuju kantin kampus, karena waktu juga sudah menunjukkan jam makan siang.


Mae dan Zanza memesan bakso dan es jeruk. Wajah Mae benar-benar lesu dan tak bersemangat.


Braakk,,,


Mae terlonjak kaget,, begitu juga dengan beberapa mahasiswa yang ada meja tersebut, saat Zanza menggebrak meja.


Zanza terseyum malu sambil menganggukan kepala nya, sambil menangkupkan kedua tangannya didepan dada seraya mengucap kata maaf.


Mae menoyor kepala Zanza pelan, membalas kekagetannya tadi. Zanza hanya bisa nyengir sambil menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.


" Sorry,, Mae. Gue kagak sengaja,, reflek tadi. Gara-gara gue keingetan sesuatu. "


" Apaan,,? "


" Nyonya Mommy loe. " bisik Zanza pelan.


" Udah,, kagak usah tapi tapian,, ini menyangkut masa depan loe. "


Mae terdiam untuk sesaat karena merasa ragu. Ditatap nya lagi Zanza, yang menganggukan kepalanya. Mae menghela nafas panjang.


" Ya udah. Ntar gue telepon,, sekarang kita makan dulu. Laper gue,, " ucap Mae saat makanan pesanannya tiba.


Mae dan Zanza pun memilih untuk makan terlebih dahulu. Mae juga harus mengatur kata-kata yang pas untuk bisa disampaikan pada Nyonya Mommy nya.


Walaupun Mae tau dengan sangat pribadi XiaoYue,, namun tetap saja ada sedikit rasa canggung dalam hati Mae. Karena ini berkaitan dengan status kekayaan dan bisnis.


Selesai makan,, Mae dan Zanza pergi agak menjauh dari keramaian. Saat ini mereka berada di halaman belakang kampus yang cukup sepi.


Mae menghubungi XiaoYue sambil sesekali tengok kanan kiri, berjaga-jaga takut ada orang datang. Telepon langsung tersambung,, dan pada dering ketiga, XiaoYue mengangkat teleponnya.


*XiaoYue : " Assalamu'alaikum,, Mae. "


Mae : " Wa'alaikumsalam,, Nyonya Mommy. Ape kabar,, Nyonya Mommy,,? "


XiaoYue : " Alhamdulillah,, Mommy baik. Mae lagi dimana,,? "


Mae : " Mae masih dikampus, Nyonya Mommy."


XiaoYue : " Ohh,,. Ada apa, Mae,,? "


Mae : " Emm,, Nyonya Mommy lagi dimana,,? "


XiaoYue : " Lagi di kantor, sayang. Memang kenapa,,? "


Mae : " Yahh,,, berarti Mae ganggu ye, Nyonya Mommy,,? "


XiaoYue : " Engga kok,, Mommy baru selesai makan siang. Memangnya ada apa sih, Mae,,? "


Mae : " Emm,, begini Nyonya Mommy. Sebenarnya Mae mo minta bantuan sama Tuan Daddy. "


XiaoYue : " Daddy,,,? Bantuan apa, sayang*,,? ".


Mae pun menceritakan masalah pencabutan beasiswa nya pada XiaoYue, membuat XiaoYue yang mendengarnya cukup merasa kaget.


Karena dia sebagai pemilik perusahan Lin yang ada di Indonesia sekaligus pemilik Lin's University & College, merasa tidak pernah mengeluarkan perintah seperti itu.


XiaoYue cukup merasa kesal dengan sikap dan kelakuan Rektor Doni yang bertindak sesuka hati tanpa ada pembicaraan terlebih dahulu dengannya. XiaoYue merasa geram sendiri, tangannya mengepal kuat.


*XiaoYue : " Tapi Mae,, setahu Mommy, perusahaan Lin tidak pernah memutuskan hal seperti itu. "


Mae : " Kok Nyonya Mommy bisa yakin banget,,? "


XiaoYue : " Ya yakin lah, sayang. Kan itu perusahaan tempat Mommy kerja. Dan Mommy yang mengurus bagian itu,, beasiswa untuk kamu dan mahasiswa lain. Perusahaan Mommy tidak pernah mengeluarkan kebijakan pencabutan beasiswa seperti itu. "


Mae : " Jangan-jangan,, ini beneran kerjaan nya Dimas, Nyonya Mommy,,? "


XiaoYue : " Dimas,,,? Siapa*,,? "


Mae pun kembali menceritakan sosok siapa Dimas sebenarnya. Lagi-lagi, XiaoYue hanya bisa geram sambil mengepalkan tangannya, menahan emosi.


*XiaoYue :" Sudah,,. Sekarang Mae tenang,, biar semua Mommy dan Daddy yang urus. Kamu harus tenang, Oke,,? "


Mae : " Beneran Nyonya Mommy,,? "


XiaoYue : " Hmm,,, Besok kamu tunggu kabar selanjutnya dari Mommy. "


Mae : " Makasih ye, Nyonya Mommy. "


XiaoYue : " Ga usah seperti itu,, lagipula Mommy sama Daddy sudah anggap Mae seperti anak kami sendiri. Jadi kamu jangan khawatir, Oke,,? "


Mae : " Oke, Nyonya Mommy. I Love you*,, "


Mae pun memutuskan panggilan telepon dengan senyum yang menghiasi bibirnya. Zanza menatap Mae dengan rasa penasaran.


Mae tersenyum lalu memeluk Zanza, membuat tubuh Zanza sedikit terhuyung kebelakang.


" Ngapa, Mae,,? " tanya Zanza.


" Nyonya Mommy dengan sangat senang hati mengurus semuanya. Gue disuruh tenang dan terima beres. "


Zanza seketika melonjak kegirangan, dan membalas pelukan Mae.


" Apa gue bilang,, Nyonya Mommy pasti mau nolongin. " Mae mengangguk lalu melepaskan pelukannya.


*


*


*


~~ Bersambung,,


Sorry,, cuma dikit. Mata udah sepet banget ini,, udah tinggal lima watt. Dari pada typo dan keluar jalur,, othor udahan dulu ye.


Salam lope an piss dari Mae,,


❤❤✌✌


~~