
" Permisi, Tuan. Saya Hafsa dari divisi marketing. " ucap Mae dengan mata menatap kebawah.
" Mendekat lah, Mèi. "
Sontak Mae langsung mengangkat pandangannya mendengar panggilan tersebut,, dan matanya membulat saat melihat siapa yang ada dihadapannya sambil tersenyum menatap Mae.
Dan seseorang memasang wajah datarnya yang berada dibelakang Wakil Presdir itu pun ikut tersenyum tipis sambil menatap Mae.
Mae benar-benar shock dibuatnya. Matanya menatap kedua orang itu tanpa berkedip. Bahkan mulutnya terbuka lebar, saking terkejutnya.
" Mèi,,,. " panggil XiaoFei lagi, karena melihat Mae yang terdiam karena terkejut.
Mae pun tersadar dari keterkejutannya karena panggilan XiaoFei. Mae merasa malu sekaligus tidak enak karena tidak mengenal siapa Wakil Presdir nya.
" Maafkan saya, Tuan. Kalau selama ini saya sudah bersikap kurang ajar pada Tuan. Maaf juga, karena saya tidak mengenali Anda. " Mae sedikit menundukkan kepalanya sambil mengucapkan permintaan maaf.
XiaoFei merasa sedikit kesal melihatnya. Dia sangat tidak menyukai perubahan sikap Mae yang begitu formal padanya.
" Ckk,,, bersikaplah seperti biasa, Mèi. Aku bukanlah seseorang yang gila hormat. Dan jujur aku tidak menyukai perubahan sikapmu yang sekarang. " protes XiaoFei sambil berdecak kesal.
Mae mengangkat wajahnya dan menatap XiaoFei bingung.
" Tapi,,, Anda kan,, "
" Haishh,,,. Lupakan formalitas saat kita hanya bertiga, bukankah kita teman,,? ".
Mae sedikit memundurkan tubuhnya karena terkejut mendengar ucapan XiaoFei.
" Teman,,,? " ulang Mae, dan XiaoFei mengangguk sambil tersenyum.
" Tapi,,,. "
" Aku tidak menerima penolakan, Mèi.!! " potong XiaoFei dengan tegas.
" Hahh,,, mengapa ucapan Anda seperti Nyonya Mommy,,? " gerutu Mae pelan, namun masih dapat didengar oleh XiaoFei dan Jack.
Baik XiaoFei dan Jack, sama-sama mengulum senyumnya.
" *Dia Mommy ku, Mèi. Jelas saja sama. " batin XiaoFei.
" Tentu saja sama, Nona. Mereka Ibu dan Anak, dan bukan hanya Anda yang diancam seperti itu,, saya juga, bahkan hampir setiap hari. " batin Jack*.
" Anda adalah Wakil Presdir dan Tuan Jack adalah asisten Anda. Bagaimana bisa saya bersikap seperti biasa,,? " protes Mae lagi.
" Tentu saja bisa, selama kita hanya bertiga. Kau boleh bersikap formal hanya saat ada karyawan lain. " jawab XiaoFei santai.
" Terdengar kabar kalau Wakil Presdir dan asisten nya mendapat julukan dua beruang kutub, benarkah,,? " tanya Mae, masih dengan bahasa formalnya.
Tangan XiaoFei sudah gatal ingin menjitak kepala Mae, karena dia rindu dengan Mae yang biasa ceplas-ceplos.
" Benar, Nona. " Jack yang menjawab karena XiaoFei hanya diam.
" Kok bisa,,,? Kalian berdua kan ganteng, masa disamain ama beruang kutub,,? Kotok kali tuh mata yang ngeliatnya. " cerocos Mae membuat XiaoFei kembali tersenyum.
" Akhirnya,,, keluar juga tuh logat sakti yang membuat ku selalu rindu. " ucap XiaoFei dalam hati.
Sementara Jack hanya bisa mengulum senyumnya saat logat unik Mae keluar.
" Ck,, ck,, ck,,. Muka kayak aktor Mandarin, bisa-bisanya dibilang mirip hewan,, Wahh,, kurang ajar tuh orang. Perlu diperiksa matanya,,,. " gerutu Mae pelan.
" Seperti itulah sikapmu yang seharusnya,, dan aku suka itu. " Ucapan XiaoFei membuat Mae langsung menutup mulutnya rapat.
Dia baru sadar kalau dia sudah keceplosan. Wajahnya sudah memerah karena menahan malu.
" Maafkan atas kekurang ajaran saya, Tuan. " Mae kembali bersikap formal, membuat senyuman dibibir XiaoFei luntur.
" Kembali seperti tadi, Mèi. Berhentilah bersikap formal padaku. " protes XiaoFei.
" Tapi Tuan,,, "
" Aku tidak suka,, dan ini perintah. " tegas XiaoFei, membuat Mae menghela nafas.
" Ya,, ya,, ya,,. Baiklah bila itu maumu. Lalu dimana mejaku,,? " tanya Mae mengalihkan pembicaraan.
XiaoFei menunjuk sebuah meja yang masih ada didalam ruangannya dengan menggunakan dagunya. Mae pun menoleh kearah yang dimaksud XiaoFei.
" Lalu dimana meja Tuan Jack,,? " tanya Mae lagi kembali menatap XiaoFei.
" Saya berada di ruangan sebelah, Nona. " jawab Jack.
" Bagaimana bisa,,? Anda adalah asisten pertama dan saya kedua, bagaimana bisa saya disini sementara Anda diruang sebelah,,? ".
" Kenapa tidak bisa,,? " XiaoFei balik bertanya.
" Jelas tidak bisa. Harusnya aku berada satu ruangan dengan Tuan Jack, karena kami sama-sama asisten Tuan Fei. " jawab Mae.
" Tidak bisa,,!! " tegas XiaoFei membuat Mae mengerutkan dahinya.
" Kenapa tidak bisa,,,? " tanya Mae.
" Bukan muhrim. " jawab XiaoFei dengan asal.
" Tapi kita juga bukan muhrim. Lagipula, Tuan Jack adalah atasanku. "
" Lalu siapa atasan Jack,,? " XiaoFei mulai berdebat dengan Mae, dan dia menyukai itu.
" Tuan Fei. " jawab Mae.
" Jadi aku yang lebih berhak memutuskan kau berada di ruangan mana. " tegas XiaoFei.
Jack hanya menatap keduanya yang sedang berdebat ringan. Dia mengulum senyumnya, XiaoFei dan Mae terlihat bagai sepasang suami istri yang sedang meributkan masalah sepele.
" Tapi,,,. "
" Aku ti,,,, "
" Kau tidak menerima penolakan. " potong Mae dan XiaoFei tersenyum.
" Baiklah,,,. Terserah padamu, Tuan yang tidak menerima penolakan. " ucap Mae dengan menekankan kalimat terakhir. Julukan yang diberikan Mae pada XiaoFei.
Mae sudah lelah berdebat, dia pun beranjak menuju mejanya. XiaoFei menatapnya sambil tersenyum.
" Aku ke sebelah dulu, Fei. " bisik Jack dan XiaoFei hanya mengangguk.
Mulutnya sibuk menggerutu dan XiaoFei pun duduk di kursi kebesaran nya. Sesekali dia melirik Mae, yang terlihat mulutnya sedang komat-kamit karena menggerutu.
XiaoFei mengulum senyumnya, karena sudah puas membuat Mae satu ruangan dengannya. Setelah itu dia kembali fokus pada pekerjaan nya.
*
*
*
Sore harinya,,,
Jam kerja kantor pun selesai. XiaoFei merasa harinya berlalu dengan cepat karena merasa ditemani Mae dan puas menatap Mae diam-diam.
Sementara Mae merasa harinya dilalui dengan berat, karena harus satu ruangan dengan Bos besarnya. Mae takut melakukan kesalahan, karena dia merasa kalau dia hanyalah anak magang.
Senyum XiaoFei terukir di bibirnya sepanjang hari, Jack sampai menggelengkan kepalanya melihat kelakuan sang Bos.
Mae keluar dari dalam lift dengan wajah lesu dan langsung disambut dengan kening berkerut dari Zanza, yang sudah menunggunya.
" Mae,,. Loe ngape,,,? " tanya Zanza dengan berbisik. Tangannya merangkul Mae.
Bukannya menjawab, Mae justru menghela nafas panjang membuat Zanza semakin bingung. Zanza ingin bertanya lagi namun dia urungkan karena melihat wajah Mae.
Mereka pun keluar dan menuju halaman parkir untuk mengambil motor Mae. XiaoFei dan Jack memperhatikan keduanya dari kejauhan.
" Fei,,,. Apa kau memberinya terlalu banyak pekerjaan,,,? " tanya Jack melihat wajah lesu Mae. XiaoFei menggeleng.
" Tidak. Memang kenapa,,? " XiaoFei balik bertanya.
" Apa kau tidak lihat wajahnya,,,? " XiaoFei kembali menatap Mae dengan seksama.
Dan ternyata benar,, wajah Mae terlihat lesu dan tidak bersemangat. XiaoFei sampai dibuat bingung sendiri.
" Dia kenapa, Jack,,? " tanya XiaoFei yang langsung mendapat tatapan tajam dari Jack.
" Kenapa kau bertanya padaku,,,? Bukankah seharian kau yang bersamanya,,? " Jack balik bertanya.
Sementara itu, Mae bukannya naik keatas motornya, dia justru bersandar lemas. Mulut Zanza sudah gatal ingin bertanya.
" Please,, Mae. Jujur ama gue,, Loe ngape,,? " tanya Zanza.
" Hah,,,. Gue rasanya pengen ditelen bumi aja dah. "
" Lah,, ngapa emangnya,,? " tanya Zanza lagi.
" Loe tau ga,, muka apa bentukan dari Wakil Presdir perusahaan kita,,, ? Beserta asisten nya. " Mae balik bertanya.
Zanza terdiam sesaat dan berpikir, kemudian dia pun menggeleng.
" Kagak. Kan cuma ada gosip yang bilang kalau mereka itu galak, jutek, kagak banyak omong, dan sekalinya ngomong, pedes banget kayak mulut netizen, makanya mereka dapet julukan dua beruang kutub. Emang ngapa sih, Mae,,? Loe bikin kesalahan terus diomelin gitu,,,? " Mae menghela nafas lalu menggeleng.
" Ternyata gosip itu tidak semuanya benar. Gue bukannya takut tapi justru gue ngerasa malu. "
Kening Zanza langsung berkerut bahkan Zanza sampai menggaruk pelipisnya.
" Gue makin kagak ngerti. " sahut Zanza yang kembali membuat Mae menarik nafas.
" Loe tau mereka itu siapa,,? " Zanza menggeleng.
" Mereka itu,, yang mendapat julukan dua beruang kutub,, ternyata adalah si Huang dan si Wang Yibo. "
Mata Zanza membulat. Dia bahkan sampai mengorek lubang kupingnya karena takut salah dengar.
" Tunggu,, tunggu. Maksud loe,, mereka Tuan Fei sama Tuan Jack,,,? " Mae mengangguk.
" Sumpeh loe,,,? " Zanza menatap Mae tajam.
" Sumpeh,,, gue kagak bo'ong. "
" Suer,,,? " Zanza masih tidak percaya.
" Suer te kewer-kewer. " sahut Mae sambil menunjukan dua jarinya, jari tengah dan jari telunjuk.
Zanza langsung menutup mulutnya dengan ujung jarinya.
" Ya Alloh,,, Mae. Loe beneran ini,,? Loe kagak lagi mabok lem aibon kan,,? " sontak Mae langsung menoyor kepala Zanza.
" Suee,, loe. Emang gue anak bocah,,. " sungut Mae membuat Zanza nyengir. Mae menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
" Gue malu, Zenab. Gue pengen resign tapi gue baru sebulan magang. Tapi kalo gue lanjut,, rasanya gue kagak punya muka buat ngadepin mereka. Secara gue kemaren sok akrab banget ama mereka. "
Sebenarnya Zanza ingin tertawa ngakak, tapi dia merasa tidak tega melihat wajah lesu Mae. Dua pasang mata melihat Mae dan Zanza dari balik mobil. Bahkan salah satu diantaranya menatap Mae sendu.
Kenapa Mae harus merasa malu dan tidak enak, sementara dia hanya merasa biasa saja. Bahkan dia sempat merasa kehilangan sosok Mae yang sebenarnya. Ya,, orang itu adalah XiaoFei dan Jack.
Rasanya XiaoFei ingin keluar dari tempat persembunyiannya lalu segera memeluk Mae. Dan mengatakan kalau dia adalah Abang ganteng nya, yang pergi sepuluh tahun yang lalu.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Mohon maaf kalau othore jarang up,, karena kesibukan othor di dunia nyata. Othor juga sekarang gampang lelah karena sedang hamil.
Bagi yang tidak sabar menunggu, silahkan skip. Dan bagi yang masih setia menunggu, othor ucapkan banyak terimakasih.
Othor juga nulis novel hanya sekedar mengisi waktu luang, bukan karena mencari cuan. Bahkan keempat novel othor ga ada satupun yang mendapatkan gaji.
Terimakasih untuk yang sudah mau mampir, membaca dan meninggalkan jejak.
Lope lope sekebon kopi buat kalian
Salam love and peace dari othor.
❤❤✌✌*
**