Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 9 ( Firasat tidak enak. )



Babeh Mae pun melajukan mobilnya pergi dari tempat itu. Dan tidak lama kemudian, sebuah mobil mewah berhenti didepan Mae.


Mae melihat mobil itu dengan takjub.


" Bujug dah,,,. Nih mobil keren amat yak,, mulus benerrr,,,. ampe bise buat ngaca. " seloroh Mae.


Tiba-tiba saja, kaca pintu mobil itu terbuka. Mae membulatkan matanya saat melihat siapa yang ada didalam mobil tersebut.


" Abang ganteng,,,??!! "


XiaoFei tersenyum lalu turun dari mobilnya dan berjalan menghampiri Mae.


" Udah lama, Mei,,? " sapa XiaoFei.


" Belon, Bang. Baru banget nyampe,, paling baru lima menitan. " jawab Mae tanpa dia sadari, logat uniknya keluar lagi.


XiaoFei menunduk kebawah dan melihat barang-barang yang ada didekat kaki Mae. XiaoFei mengerutkan dahinya. Dilihatnya satu buah box putih besar dengan satu kantong plastik besar ikan yang hidup, dan berenang mondar-mandir didalam plastik.


" Ini apa, Mei,,? " tanya XiaoFei dengan perasaan yang sedikit tidak enak.


" Ohh,,, ini dari Babeh. " jawab Mae singkat.


" Tuh kan,, bener firasat aku tadi pagi. " batin XiaoFei lesu.


* Flashback on,,,


Pagi-pagi sekali setelah sarapan, XiaoFei pergi ke garasi rumahnya. XiaoFei memanaskan mesin sebuah mobil mewah berwarna biru terang.



XiaoFei memang penggemar warna biru. Motor sport nya berwarna biru, begitu juga dengan mobilnya. Dinding di kamarnya pun berwarna biru dengan banyak tempelan poster tokoh komik Conan Edogawa dan pembalap motogp senior Valentino Rossi.


" Tumben kau panasin mesin mobil, Kak,,? Mau dipakai mobilnya,,? " tanya Mommy nya yaitu XiaoYue, yang tiba-tiba saja ada dibelakangnya.


XiaoFei menoleh lalu tersenyum kearah sang Mommy.


" Iya, Mom. " jawab XiaoFei.


" Tumben,,? bukannya kau nanti mau jemput si Mae,,? " tanya XiaoYue lagi.


" Iya, Mom. Fei lagi ingin bawa mobil aja. " jawab XiaoFei dengan asal.


XiaoYue mengernyitkan dahinya sambil menatap tajam kearah putra sulungnya itu. XiaoYue mendekap kedua tangannya didadanya.


" Benarkah,,? " selidik XiaoYue.


XiaoFei menghela nafas, Mommy nya ini memang tidak bisa dibohongi. Dengan wajah memelas, XiaoFei menatap sang Mommy.


" Fei punya firasat kalau Mae pasti membawa sesuatu yang aneh lagi untuk Fei, Mom. " ucap XiaoFei pelan, namun XiaoYue malah tersenyum.


" Kau terlalu banyak berpikir, sayang. " XiaoYue menepuk bahu XiaoFei pelan.


" Tapi perasaan Fei sedikit tidak enak, Mom. " ucap XiaoFei lirih.


" Fei,,,. Kenapa kau jadi berubah lucu seperti ini, semenjak kenal dengan si Mae,,? " goda XiaoYue.


" Mom,,,!! "


XiaoYue malah tertawa lalu beranjak pergi, meninggalkan XiaoFei yang merengut kesal.


* Flashback off,,,


" Mom,,, firasat ku benar kan,,?. Nanti Mommy jangan kaget begitu Mae sampai dirumah. " batin XiaoFei lagi.


" Bang,,,!! Kita mau berangkat kapan, kalau abang nya bengong aja dari tadi,,? " suara cempreng Mae menyadarkan lamunan XiaoFei.


XiaoYue tersenyum malu karena ketahuan melamun.


" Kita berangkat sekarang. "


XiaoFei membukakan pintu mobil untuk Mae, namun Mae hanya terdiam mematung, sambil terus menatap mobil XiaoFei.


" Kenapa, Mei,,? " tanya XiaoFei bingung.


" Bang,,, Mae naek angkot aja ya. Mae takut mobilnya kotor,, gara-gara Mae naik mobil abang. " jawaban Mae membuat XiaoFei sontak tertawa.


" Udah,,, masuk cepetan. " XiaoFei sedikit mendorong tubuh mungil Mae, agar mau masuk kedalam mobil.


XiaoFei segera menutup pintu mobilnya, begitu Mae masuk. XiaoFei mengalihkan pandangannya pada barang bawaan Mae. XiaoFei menghela nafas panjang dan membuangnya kasar. Mau tidak mau, XiaoFei membuka pintu bgaasi mobilnya dan memasukan barang-barang tersebut.


Untung saja masih muat, kalau tidak,, dengan berat hati ikan-ikan tersebut berada di kursi belakang mobilnya. XiaoFei meringis sedih membayangkannya.


XiaoFei segera masuk kedalam mobilnya, begitu dia selesai dibagian bagasi. XiaoFei menyalakan mesin mobilnya. Namun dia urung melajukan nya.


XiaoFei membantu Mae memasang seatbelt nya yang memang belum Mae pasang.


" Kalau naik mobil, harus pakai sabuk pengaman nya, Mei. Biar aman dan selamat. " ucap XiaoFei.


" Iya, Bang. Maap,, Mae kan baru kali ini naek mobil cakep, keren, mulus lagi. Mengkilap bener,, ampe Mae bisa ngaca. " sahut Mae, membuat XiaoFei tersenyum.


XiaoFei segera melajukan mobilnya, meninggalkan tempat itu. XiaoFei masih tidak habis pikir, baik Mae atau sang Babeh bisa-bisanya kepikiran membawakannya ikan nila hidup.


" Entah apa isi dalam box putih tadi,,? Aduh,, aku benar-benar dibuat sakit kepala oleh si Mae. " batin XiaoFei lirih.


Pintu pagar otomatis itu, terbuka dengan sendirinya saat mobil XiaoFei berada tepat didepannya. Security mansion tersebut membungkukkan sedikit badannya, begitu melihat mobil siapa yang masuk.


Mae dibuat terperangah dengan mansion yang ada dihadapannya. Mata Mae membulat sementara mulutnya terbuka lebar, membuat XiaoFei yang melihatnya kembali tertawa.


Mobil XiaoFei berhenti, dan XiaoFei pun turun dari mobilnya, sementara Mae,,, masih saja bengong didalam mobil XiaoFei.


XiaoFei menepuk dahinya,, lalu menggelengkan kepalanya. XiaoFei mendekat ke pintu mobil dan membukanya.


" Mei,,,. " panggil XiaoFei, namun tidak ada sahutan.


" Mei,,,!! " panggil XiaoFei dan kali ini lebih kencang.


Mae tersadar dan merasa malu. Namun rasa kagumnya melebihi rasa malunya. XiaoFei membantu Mae membuka seatbelt nya.


" Bang,,,!! Ini rumah apa istana,,? Abang kagak salah alamat kan,,? Abang kagak nyasar kan,,? " berbondong pertanyaan keluar dari mulut Mae sambil dia keluar dari mobil XiaoFei.


XiaoFei tidak menjawab nya, dia justru memanggil salah seorang security nya.


" Pak,, tolong bantu keluarkan dan bawa masuk kedalam barang yang ada didalam bagasi, ya. " ucap XiaoFei.


" Baik, Tuan Muda. " sahut security itu.


XiaoFei menggandeng tangan Mae, lalu membawanya masuk kedalam mansion milik orangtuanya.


" Assalamu'alaikum,,, " salam XiaoFei begitu dia sampai didepan pintu rumahnya.


XiaoFei kembali menarik tangan Mae masuk kedalam, diikuti oleh security yang membawa barang-barang bawaan Mae.


" Wa'alaikumsalam,,, " sahut mereka yang ada didalam.


Mae masih mengatupkan bibirnya rapat, namun matanya masih terbuka lebar,, menatap mansion tersebut. Bahkan Mae pun lupa memberi salam saat masuk tadi, karena asyik mengagumi mansion tersebut.


" Mom,,, Dad,,,. " sapa XiaoFei sambil mendekat kearah orang tuanya yang duduk diruang santai menunggu XiaoFei.


" Kakak sudah sampai,,,? " seru XiaoWu sambil berlari turun.


" De,,, jangan lari-lari ditangga. " XiaoYue memperingati putrinya dengan tegas.


XiaoWu tersenyum, lalu berjalan dengan pelan menuruni tangga diikuti oleh XiaoZhan, yang sangat penasaran dengan sosok gadis kecil cerewet yang dimaksud sang Kakak.


XiaoWu tersenyum menatap Mae sementara XiaoZhan menatap tajam kearah Mae. Dilihatnya Mae dari atas kepala sampai ujung kaki.


Mata Mae masih asyik meneliti mansion XiaoFei. XiaoYue dan Jimmy mengulum senyumnya melihat Mae.


XiaoFei menyenggol bahu Mae pelan. Mae pun tersadar, dan wajahnya memerah karena malu.


" Assalamu'alaikum,,, " sapa Mae pelan, sambil menahan malunya.


" Wa'alaikumsalam,,, " sahut mereka semua.


" Tuan,, ini mau diletakkan dimana,,? " tanya Security yang tadi membawa barang bawaan Mae.


" Oh iya, Pak. Letakkan saja didapur. " jawab XiaoFei dan di angguki oleh security itu.


XiaoYue, Jimmy, XiaoZhan dan XiaoWu melihat apa yang dibawa security nya tersebut. Mereka pun mengalihkan pandangannya dan menatap XiaoFei seakan bertanya, apa itu,,?.


" Mom,, Dad,, ini kenalin namanya Maesaroh. Biasa dipanggil Mae. " XiaoFei memperkenalkan Mae pada keluarga nya.


Mae mendekat dan mencium punggung tangan XiaoYue dan Jimmy. Mereka menatap kagum akan kesopanan Mae.


" Nama saya Mae, Tuan, Nyonya. " sapa Mae.


" Hei,, anak manis. Kau bukan pelayan dirumah ini, jangan panggil kami begitu. " tegas Jimmy.


" Benar, cantik. Panggil kami Mommy Daddy. " ucap XiaoYue.


" Mane boleh, Nyonya,,?! Kalo di pelem-pelem, orang kaya ntu biasanye maonye dipanggil Tuan ame Nyonye. " sahut Mae dengan logat uniknya namun dia langsung menutup mulutnya begitu tersadar, membuat keluarga itu tertawa.


" Kak,,,? " XiaoFei mengangguk.


" Hei,, adik manis. Kita itu bukan lagi syuting film. Mommy sama Daddy mana mau dipanggil Tuan sama Nyonya. " sahut XiaoWu sambil terkekeh.


" Namaku Putri, adik nya Kak Raja. " XiaoWu mengulurkan tangannya. Mae menyambut uluran tangan XiaoWu.


" Nama saya Mae. " jawab Mae malu-malu.


Mae lalu menoleh kearah XiaoFei, dan menatapnya penuh tanya.


" Nama abang, Raja,,? " tanya Mae, yang lagi-lagi membuat keluarga itu tertawa. XiaoFei hanya bisa menghela nafas.


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa untuk tekan like, vote, comment dan hadiahnya, biar Kak Ull makin semangat up nya.


Salam love and peace dari Kak Ull,,


❤❤✌✌*


***