Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BBM 43 ( Maafkan aku,,,)



Keesokan harinya,,


Mae datang lebih pagi dari kemarin. Dan sang Bos besar beserta asistennya belum datang. Mae sudah terlihat ceria seperti biasa lagi. Ya,, dia sudah memikirkan semua ucapan sahabat baiknya.


Dia tidak akan melupakan Abang gantengnya, tapi dia akan tetap berusaha belajar membuka hatinya untuk pria lain. Dan Mae merasa, apa yang di ucapkan Zanza semalam, ada benarnya.


Waktu sepuluh tahun bukanlah waktu yang sebentar. Dan saat itu, Mae masih kecil. Belum tentu Abang gantengnya itu masih ingat padanya. Sementara selama sepuluh tahun ini, Abang gantengnya itu sama sekali tidak sekalipun memberi kabar padanya.


Walaupun Abang gantengnya pernah memberinya sebuah kalung dan mengatakan kalau dia akan selalu ingat padanya, namun kenyataannya tidak seperti itu. Jangankan datang untuk menemuinya, hanya sekedar surat ataupun pesan melalui email atau whatsapp saja, sama sekali tidak ada.


Saat ini, Mae sedang berusaha menata kembali hatinya. Kalaupun dia harus menunggu, mau menunggu sampai kapan. Sementara tidak ada kepastian sama sekali dari Abang gantengnya. Mae menarik nafas panjang dan membuangnya perlahan.


" Semangat Mae,,, loe pasti bisa. " gumam Mae menyemangati dirinya sendiri.


Baru saja Mae ingin duduk, tiba-tiba saja pintu ruangan Sang Bos terbuka. Dan masuklah dua sosok manusia tampan dengan julukan dua beruang kutub.


" Selamat pagi, Tuan Fei. Selamat pagi, Tuan Jack. " sapa Mae sambil memasang senyum termanisnya.


XiaoFei dan Jack sedikit terkejut karena tidak tahu kalau Mae sudah datang.


" Pagi juga Nona Mae. " sahut Jack dengan ramah.


" Mei,, Kau sudah datang,,,? " tanya XiaoFei.


" Sudah Tuan Fei. Palingan,,, baru lima sampai sepuluh menit yang lalu. "


" Cckk,, sudah kubilang, jangan terlalu formal. Jangan memanggilku Tuan. " gerutu XiaoFei sedikit kesal.


" Terus,, harus manggil apaan dong,,,? " tanya Mae bingung sambil menggaruk pelipisnya dengan ujung jari telunjuknya.


" Apa saja, asal jangan Tuan atau Pak. Aku belum terlalu tua. " Mae terdiam sebentar untuk berpikir.


" Apa boleh aku panggil Kak Fei,,? Karena bagaimana pun juga, usiamu jauh diatas ku. "


" Itu lebih baik. " XiaoFei tersenyum puas.


" Tapi kalau didepan karyawan lain, aku tetap harus bicara formal dan memanggilmu Tuan, sama seperti yang lainnya. " Baru saja XiaoFei ingin membuka mulutnya, namun sudah dipotong duluan oleh Mae.


" Aku tidak menerima penolakan. " lanjut Mae tegas. Jack hanya bisa mengulum senyumnya.


" Cckk,, itu kata-kata ku. " gerutu XiaoFei sambil berdecak kesal.


Mae hanya bisa tersenyum. Kekesalan XiaoFei sirna saat melihat senyuman Mae.


" Hah,, ternyata dia sudah kembali seperti biasa. Mungkin kemarin aku terlalu berpikiran negatif padanya. " batin XiaoFei sambil tersenyum.


" Aku ke ruangan ku dulu, Fei. " pamit Jack dan hanya anggukan dari XiaoFei sebagai jawaban.


Jack kembali keluar dan bergegas menuju ruangannya. Banyak berkas dan pekerjaan yang menantinya.


Sementara XiaoFei sudah duduk di kursi kebesarannya, begitu juga dengan Mae.


" Mei,,,. " panggil XiaoFei.


" Ya,,? "


" Kau kemarin kenapa,,? " tanya XiaoFei dengan hati-hati.


" Oohh,, kemaren itu, biasa. Kak Fei pasti taulah kalau perempuan lagi PMS,, pasti rada-rada. " dusta Mae.


XiaoFei mengerutkan keningnya sambil menatap Mae bingung.


" PMS,,? Apa itu,,? " batin XiaoFei bertanya-tanya.


" Emm,, Mei. Maaf,, PMS itu,, apa ya,,,? " Mae terdiam namun sedetik kemudian,, tawa Mae pecah. Bahkan sampai terbahak hingga mengeluarkan air mata.


XiaoFei merengut,, bukannya mendapat jawaban, Mae justru tertawa ngakak.


" Kak Fei seriusan kagak tau PMS ntu apaan,,? " tanya Mae disela tertawanya. XiaoFei menggeleng.


" PMS itu salah satu keistimewaan yang perempuan punya, Kak. Apalagi kalau udah dateng, rasanya,, beuuhh,,,. "


" Kadang mules, nyeri sampai melilit. Bahkan ada yang sampai seharian cuma bisa meringkuk dikasur, saking sakitnya. "


XiaoFei terdiam sesaat, memikirkan ucapan Mae. Dan sesaat kemudian, wajah XiaoFei berubah memerah karena malu.


" Maaf, Mei. " ucap XiaoFei pelan, membuat Mae kembali terkekeh.


" Udah paham, Kak,,,? " tanya Mae iseng. XiaoFei mengangguk dengan wajah yang masih memerah karena malu.


Aneh memang,, seharusnya perempuan lah yang malu karena membahas masalah itu. Ini kenapa terbalik,,, justru sang pria lah yang merasa malu.


Mae masih cekikikan saat mulai mengerjakan tugasnya. Sementara XiaoFei, memilih fokus pada layar laptopnya, walau masih menahan rasa malunya.


Ya,, walaupun harus merasa malu, namun XiaoFei merasa lega, karena Mae sudah kembali seperti sedia kala. Kembali menjadi Mae-nya yang ceria dan ceplas-ceplos.


*


*


*


Dan Jack hanya bisa menghela nafas panjang. Rupanya karena terlalu lama menjomblo, membuat Jack menjadi tidak sabar ingin memiliki pasangan hidup.


Dia sebenarnya ingin membicarakan perasaannya pada Zanza, namun dirinya merasa ragu. Akankah Zanza mau menerimanya sementara perbedaan usia mereka cukup jauh, yaitu delapan tahun.


Jack merasa minder. Usianya sudah hampir kepala tiga, hanya kurang satu tahun saja. Dia merasa tua bila harus bersanding dengan Zanza yang usianya masih dua puluh satu tahun.


" Hah,, jalani saja dulu lah. Biar waktu yang akan menjawabnya. Semoga saja, dia memang jodohku. " gumam Jack berusaha optimis.


Sementara yang kini sedang dipikirkan oleh Jack, justru tengah berkutat dengan pekerjaannya. Dia sama sekali tidak memikirkan apapun selain pekerjaannya.


Zanza tipe orang yang santai. Biarlah semua mengalir dengan sebagaimana mestinya. Tidak usah terlalu memaksa, kalau tidak ingin sakit,, begitulah prinsipnya.


Walaupun sebenarnya dalam hati kecilnya, dia sangat menyukai Jack, sang asisten,, namun Zanza masih bisa bersikap biasa dan tidak terlalu mencolok.


*


*


*


Kita kembali ke Mae dan XiaoFei,,


" Mei,,,. " panggil XiaoFei.


" Ya,,? " jawab Mae tanpa mengalihkan pandangannya dari layar laptopnya.


" Boleh aku tanya sesuatu,,? " tanya XiaoFei pelan dan terdengar sedikit ragu.


" Hmm,,, " Mae berdeham sebagai jawaban.


" Kemarin kau bilang kalau kau tidak pernah dekat dengan seorang pria ataupun berpacaran. " XiaoFei terdiam sesaat dan Mae mengangguk, dengan maksud supaya XiaoFei meneruskan pertanyaannya.


" Lalu apakah pernah ada seseorang yang menempati ruang khusus dalam hatimu,,,? " lanjut XiaoFei membuat Mae diam seakan membeku.


Mae mengalihkan pandangannya dan menatap XiaoFei dengan raut wajah yang tidak bisa dibaca. Mae menghela nafas panjang untuk sesaat sambil menutup matanya.


Berusaha menetralkan gemuruh dalam hatinya sekaligus rasa sesak yang kembali datang karena kembali mengingat Abang gantengnya. Wajahnya berubah sendu.


XiaoFei merasakan sesak didadanya saat melihat wajah sendu Mae. Tanpa dijawab, XiaoFei sudah tahu jawabannya. Dia menundukkan kepalanya sambil menghela nafas.


" Pada awalnya, memang pernah ada seseorang yang sangat khusus menempatinya selama sepuluh tahun ini. Namun kini,, aku berusaha untuk melepaskannya. " lirih Mae membuat XiaoFei sontak mengangkat wajahnya dan kembali menatap Mae.


" Kenapa,,? " tanya XiaoFei, dengan jantung yang berdebar kencang menanti jawaban Mae.


" Sudah cukup waktu yang ku berikan selama ini. Dia pergi, dan menghilang selama sepuluh tahun tanpa kabar sedikitpun. "


" Zaman sudah canggih,, kalaupun masih belum bisa kembali, setidaknya berilah kabar walau hanya dengan sebuah pesan singkat atau sepucuk surat. "


" Tapi ini,,,,. Jangan sebuat pesan ataupun surat, dia masih mengingatku ataupun tidak, aku juga tidak tahu. " wajah Mae benar-benar sendu dan suaranya terdengar sangat lirih, membuat dada XiaoFei kembali sesak dan terasa sakit.


" Tidak, Mei. Aku ingat,,, dan akan selalu ingat dirimu. Maafkan aku, yang seakan menghilang ditelan bumi. Maafkan aku, yang sudah membuatmu menunggu terlalu lama. Namun jangan lepaskan aku dari dalam hatimu. Aku mohon,,, " lirih XiaoFei dalam hati.


XiaoFei meremas dadanya yang terasa sesak dan sakit saat Mae bilang ingin melepaskannya. Mata XiaoFei tiba-tiba terasa panas dan berkabut.


XiaoFei memejamkan matanya. Sakit,,,, hatinya sakit. Sangat sakit,,, Melihat gadis kecilnya yang tersakiti karena keegoisannya sendiri. Yang dengan percaya dirinya, dia merasa kalau Mae tidak akan pernah melupakannya walau dirinya tidak memberi kabar sedikit pun.


" Sudah saatnya,, aku melepas dan melupakannya. Sudah cukup penantianku selama sepuluh tahun ini tanpa adanya sedikitpun kejelasan. Aku sudah lelah menunggunya. " menatap lurus kedepan dengan tatapan yang kosong dan mata yang mulai basah.


XiaoFei menggelengkan kepalanya. Remasan di dadanya semakin kencang. Sakit,,,, sangat sakit.


" Tidak, Mei. Aku mohon,,, tarik kembali kata-katamu itu. Jangan lepaskan aku,, jangan lupakan aku. " pinta XiaoFei dalam hati.


XiaoFei benar-benar merasa dirinya seorang pengecut, yang tidak bisa mengungkapkan kebenaran dalam hatinya. Tidak bisa mengungkapkan isi hati yang sebenarnya.


" Maafkan aku, Kak Fei. Aku jadi curhat,,. " ucap Mae yang tersadar kalau dia sudah terlalu banyak bicara. Mae berusaha untuk tersenyum.


XiaoFei masih terdiam. Sakit dihatinya membuatnya membisu. Mae kembali fokus pada pekerjaannya. Sementara XiaoFei, hanya bisa menatap Mae dan diam membeku, saat melihat Mae mengusap ujung matanya yang mengeluarkan cairan.


" Haruskah semua terungkap hari ini,,,? " batin XiaoFei.


" Tidak,,,. Belum saatnya,,. " gumam XiaoFei dengan sangat pelan.


XiaoFei menarik nafas panjang dan mengeluarkannya perlahan. Berulang kali dia melakukan itu. Berusaha menghempaskan sesak di dadanya.


*


*


*


~~ **Bersambung,,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kaka.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌*


**