Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 37 ( Kekesalan Mae.)



Setelah mengeluarkan semua ganjalan dalam hatinya, Mae pun mengajak Zanza pulang. Mae melajukan motornya dengan wajah yang sendu.


Bukan sendu karena sedih atau apa,, melainkan sendu karena merasa sangat,, sangat malu pada wakil presdir dan asistennya.


Sementara dua tokoh yang sedang dipikirkan Mae, keluar dari tempat persembunyiannya setelah motor Mae menghilang dari pandangan mereka. XiaoFei menghela nafas panjang.


" Kenapa dia harus merasa malu dan tidak enak, Jack,,? " tanya XiaoFei dengan lesu.


" Wajar saja, Fei. Bagaimana pun juga, kau adalah atasannya. "


" Tapi aku kan,,, "


" Kau menganggap nya lain, dan aku tahu itu. Tapi apakah dia tahu,,,? " Jack memotong ucapan XiaoFei.


Lagi-lagi, XiaoFei menghela nafas. Rahangnya mengeras karena sedikit kesal, membenarkan ucapan Jack. Dia memang masih belum bisa mengungkapkan siapa jati diri yang sebenarnya pada Mae.


" Kita pulang. " Jack mengangguk.


Mereka pun berjalan menuju mobil dan masuk kedalam. Jack melajukan mobilnya perlahan, keluar dari parkiran. Mereka pulang ke apartemen. XiaoFei sudah terbiasa hidup mandiri.


*


*


*


Akhir pekan pun tiba.


Mae menjalani hari kerjanya dengan menjaga jarak dan masih bersikap formal. Walau kadang sering diprotes oleh XiaoFei, namun Mae tetap bersikeras dengan sikapnya.


Dan kini, XiaoFei menghabiskan hari minggunya dengan melakukan kegiatan yang sudah beberapa lama ini dia tinggalkan karena kesibukannya di kantor. Yaitu pergi ke toko buku dan membaca komik.


Koleksi komik kesukaannya bertambah. Dari mulai cerita Detektif Conan, dan kini dia juga menyukai komik Naruto si Ninja Konoha dan Soul Land ( doulo dalu).


Bagi XiaoFei, usia boleh bertambah. Tapi hobi, tidak bisa diubah. Kegemarannya membaca komik, menjadi salah satu pelampiasannya saat dulu dia rindu pada keluarganya termasuk Mae, saat dia berada di China.


Kini dia kembali lagi ke toko buku langganan nya dulu. Walaupun banyak yang berubah, tapi toko itu masih tetap buka dan berdiri kokoh.


Saat berada ditoko itu, XiaoFei sering lupa waktu. Seperti hari ini. XiaoFei tersadar dia masih berada ditoko buku, saat ada sebuah pesan masuk di ponselnya. Pesan yang berasal dari sang Mommy yang menanyakan kapan dia akan pulang ke Mansion nya.


XiaoFei pun merapikan komiknya dan membayar buku komik yang dibelinya. XiaoFei keluar dari toko itu dengan tas yang berisi dengan komik di punggungnya.


XiaoFei pun naik keatas motornya, motor kesayangan nya, Si Biru. Walaupun ditinggal selama sepuluh tahun, tapi ternyata Sang Daddy begitu sangat pengertian padanya.



Daddy Jimmy tetap merawat dan menservis motor XiaoFei dengan teratur. Karena dia tahu, kalau sampai motor itu kenapa-napa, entah itu lecet atau rusak, bisa terjadi perang Dunia keempat. Daddy Jimmy tidak bisa membayangkan kalau itu sampai terjadi.


XiaoFei melajukannya dengan perlahan. Dia ingin menikmati jalan yang sudah lama tidak dilewati nya.


Entah dorongan dari mana, hatinya mengatakan kalau dia harus pergi ke tempat 'itu'. Tempat kenangan dulu dia bersama Mae.


XiaoFei pun bergegas pergi ke tempat itu. Dalam hatinya, dia berharap disana ada Mae. Sebenarnya dia sudah sangat ingin merengkuh Mae dalam pelukannya, dan mengatakan siapa dirinya.


Namun dia masih ingin meyakinkan hatinya terlebih dahulu. Benarkah dia mencintai Mae,,? Atau hanya menganggapnya sebagai seorang adik kecil yang manis,,? Entahlah,,, hanya othor yang tahu,, 🤭🤭🤭.


Senyuman menghias di bibir XiaoFei, saat dari kejauhan sudah terlihat pohon besar yang penuh dengan kenangan.


Namun senyuman itu menghilang, saat dia sudah sampai dibawah pohon besar itu. Harapannya Mae ada disana, pupus sudah. Hanya ada beberapa orang yang lalu lalang dan menatapnya kagum pada motor birunya.


Dengan masih menggunakan helm fullface nya, yang berwarna senada dengan motornya, XiaoFei menatap sendu pohon besar itu. Pohon yang semakin bertambah besar dan kokoh.



Tanpa XiaoFei sadari, sosok yang dia rindukan datang. Sosok itu menatap motor XiaoFei tanpa berkedip. Jantungnya berdebar kencang dan cepat.


Dengan setengah berlari, Mae mendekat kearah motor XiaoFei. Matanya yang sudah berkabut masih terus menatap motor biru itu.


Mae berdiri disamping motor XiaoFei, dengan nafas yang terengah-engah. XiaoFei menoleh saat merasa ada seseorang yang berdiri tepat di sampingnya.


" Abang ganteng. " panggil Mae pelan dan lirih.


Degg,,


XiaoFei ingin menyahut dan memeluk Mae, sosok yang sejak tadi dia nantikan kedatangannya. Namun dia urung melakukannya.


" Belum saatnya. " batin XiaoFei.


" Kau siapa,,,? " tanya XiaoFei dengan merubah sedikit suaranya.


Helm yang menutupi hampir seluruh wajahnya, hanya mata yang terlihat, membuat Mae tersentak dengan pertanyaan yang terlontar dari mulut XiaoFei.


" Kau,,, kau Abang ganteng kan,,? " tanya Mae dengan suara yang bergetar, dan itu membuat hati XiaoFei sakit.


" Maaf,,. Sepertinya kau salah orang. " Mae menggeleng cepat.


" Enggak,,. Mae ga salah, Mae yakin kalau kamu Abang ganteng. Mae hapal sama motornya. " elak Mae tegas.


" Enggak. Mae yakin dengan sangat, ini motor punya Abang ganteng. Atau,, Jangan-jangan, kamu yang udah nyolong motor Abang ganteng ya,,,? Hayo ngaku,,. "


Gubraakk,,,


Ingin rasanya XiaoFei menjatuhkan tubuhnya saat itu ke jalanan yang beraspal. Bisa-bisanya gadis itu berpikir kalau dia maling motor.


" Jaga mulutmu,,!!. Dan jangan asal menuduh orang sembarangan. " XiaoFei berpura-pura tegas dan marah.


" Tapi ini beneran motor Abang ganteng. " sahut Mae dengan yakinnya.


" Dengar ya, gadis aneh. Aku tidak kenal siapa kau,,? Dan aku tidak kenal dengan Abang ganteng mu itu. Yang jelas,, ini adalah motorku. " tegas XiaoFei lagi.


Dia pun mulai menyalakan mesin motornya. Dengan sigap, Mae memegang lengan XiaoFei dengan kencang.


Degg,,,


Jantung XiaoFei berdetak kencang, apakah dia sakit jantung,,,?. Walaupun beberapa hari ini, XiaoFei dan Mae satu ruangan dan sering bertemu, namun baru kali ini ada kontak fisik diantara mereka.


Bukan,, itu bukan yang pertama. Kontak fisik pertama diantara mereka terjadi saat Mae hampir tertabrak mobil dulu.


Dengan sedikit tidak tega, XiaoFei menepis tangan Mae yang memegang lengannya.


" Maaf,,. Aku harus segera pergi. Permisi,,,!! " pamit XiaoFei lalu mulai melajukan motornya.


" Heiii,,,!!! Tungguu,,!!! Balik ga loe,,,! Balikan ga,, tuh motor. Ntu punya Abang ganteng. " pekik Mae kencang.


XiaoFei hanya mengulum senyumnya dari balik helm. Dia menjalankan motornya pelan sambil terus mendengar kata makian yang keluar dari mulu Mae.


" Wooiii,,,!! Budeg loe ye,,,. Balikin kagak,,!! " teriak Mae dengan kencang membuat XiaoFei tergelak dari balik helmnya.


XiaoFei terus menjalankan motornya menjauh dari Mae. Dengan kesal, Mae menghentakkan kakinya.


" Dasar cowok kurang ajar. Pasti dia tuh maling. Gue yakin bener,, dan gue inget banget kalo ntu motor punyaan Abang ganteng gue. Bener-bener breng*sek tuh orang. " sungut Mae kesal.


Dia terus mengumpat orang tadi yang tanpa Mae tahu, kalau orang itu benar-benar si Abang ganteng nya. Dengan hati yang marah dan kesal, Mae pun berjalan menuju tempat motornya terparkir.


Mae memang tadi pergi menggunakan motornya ke tempat itu, hanya ingin membeli martabak telur pesanan sang Babeh. Dan dari tempat penjual martabak itulah, Mae melihat motor XiaoFei yang terlihat familiar dimatanya.


Makanya Mae mendekat dan ingin memastikan penglihatannya. Namun ternyata, si pemilik motor justru membuatnya kesal.


" Neng,,,. Dari mana,,? Nih pesenannya udah siap. " tegur si tukang martabak itu membuat Mae tersadar.


Mae segera mengambil pesanannya dan membayar. Wajahnya masih ditekuk karena kesal. Sementara orang yang membuat Mae kesal, justru sedang tersenyum lebar.


Dia merasa hari ini sungguh spesial. Dan dia merasa beruntung karena sudah mampir ketempat itu. Walau ada sedikit rasa tidak enak karena pura-pura tidak kenal dengan Mae, namun ucapan saat memakinya membuat XiaoFei seakan melepas rindu.


Saat XiaoFei sampai di apartemen nya, senyuman itu masih menghiasi bibirnya. Bahkan saat dia sudah masuk kedalam apartemen nya, wajah XiaoFei masih berbinar bahagia. Membuat Jack bergidik ngeri.


Jack terus memperhatikan semua yang dilakukan XiaoFei. Dikit-dikit tersenyum,,


" Kau sehat, Fei,,,? " tanya Jack sedikit khawatir karena Bos nya itu senyum-senyum sendiri sejak masuk tadi.


" Aku,,,? Tentu saja, aku sehat, Jack. " jawab XiaoFei masih tetap tersenyum.


" Entah kenapa, aku merasa kau seperti orang kesambet. " celetuk Jack namun tidak dianggap serius oleh XiaoFei.


" Benarkah,,,? Dari mana kau tahu istilah kesambet,,? " tanya XiaoFei.


" Tentu saja aku tahu. Sejak aku lahir hingga aku berusia empat belas tahun, aku tinggal disini. Aku bukan orang bodoh yang bisa melupakan negaraku dan tradisinya. " sahut Jack kesal.


" Ya,, ya,, ya,,. Kau benar,, dan aku pun sudah jatuh cinta pada negara ini, walaupun aku tidak lahir disini. Dan aku semakin cinta, karena ada gadis kecilku. "


Jack menyadari sesuatu dari ucapan XiaoFei tadi. Dia menghela nafas panjang sambil menggelengkan kepalanya.


" Pasti dia tadi bertemu dengannya. Dan kurasa itu benar,,. " gumam Jack sambil melihat senyum dan tingkah laku XiaoFei yang sedikit konyol menurutnya.


Jack tak mau ambil pusing. Dia pun pergi ke kamarnya, meninggalkan XiaoFei yang masih tersenyum-senyum sendiri di sofa ruang tamu.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Mohon maaf,, othor sempet up lagi. Selain karena kesibukan di dunia nyata, othor juga baru ada waktu luang sekarang.


Lope lope sekebon buat kalian yang masih setia menanti cerita Mae.


Salam love and peace dari Otht,,


❤❤✌✌**


**