Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 35 ( Apakah aku berkhianat,,?)



Sementara itu,,


Di sepanjang perjalanan, Mae yang biasanya ngebut, mendadak melajukan motornya seperti keong. Membuat Zanza berdecak kesal.


" Ckkk,,, Mae..!! Loe lagi ngapa sih,,,? Motor loe jalannya kayak keong. "


Mae hanya menghela nafas, namun tidak ada niat sedikitpun menaikkan kecepatan motornya.


Mae memutuskan menepikan motornya. Dan dia pun memiringkan badannya, menghadap Zanza.


" Ngape,,,? " tanya Zanza saat Mae menatapnya.


" Zenab,,,. "


" Hmm,,, "


" Gue bingung. "


" Bingung ngape,,,? "


" Nih anak ngapa dah,,,? ngomong sepotong-sepotong,,, lagi sariawan kali ya,,,? " batin Zanza.


" Ngape tadi gue maen ngangguk aje ye, waktu Tuan Fei mao manggil gue, Meimei,,,? " tanya Mae.


" Lah,, emang ngapa kagak boleh,,,? " Zanza balik bertanya. Mae menarik nafas panjang.


" Secara,, nyang manggil gue kayak gitu, cuman abang ganteng doangan. Ati gue tadi bilang kagak boleh, tapi ngapa pala gue maen ngangguk aje,,,? "


" Bisa kagak singkron begitu,,,? " Mae mengangguk.


" Terus gue kudu pegimane,,,? Gue udah terlanjur ngangguk. Masa gue khianatin abang ganteng sih,, Zenab,, ? " tanya Mae lirih. Kali ini Zanza yang menghela nafas panjang.


" Sebelumnya,, maaf ya, Mae. Bukannya gue mau jadi provokator,, tapi abang ganteng loe itu udah sepuluh tahun pergi dan ga pernah ngasih kabar sekalipun. Sepuluh tahun,, Mae. Dan itu bukan waktu yang singkat. "


" Terus kalau memang sekarang ada seseorang yang hadir, berusaha untuk menggantikan posisi abang ganteng dihati loe, apa salahnya,,? Itu kagak salah, Mae. "


" Dan loe ga berkhianat,, karena loe dan abang ganteng loe itu ga ada hubungan apa-apa. Pacaran,, bukan. Tunangan,, juga bukan. Terus berkhianat dari mananya,,,? " jelas Zanza panjang lebar.


Mae hanya diam, mencerna semua ucapan Zanza. Dan semua yang diucapkan Zanza, memang benar adanya. Dia bukan siapa-siapa nya abang ganteng, lalu kenapa dia harus menunggu untuk sekian lama.


Zanza menepuk bahu Mae pelan. Zanza ikut merasa sedih, karena dari raut wajahnya saja sudah dapat terlihat jelas kebimbangan dalam hati Mae.


" Sebaiknya loe pikirin lagi omongan gue tadi. " Mae mengangguk.


Mae membalik badannya dan mulai melajukan kembali motornya menuju rumah Zanza. Mae memang sering mengantar jemput Zanza. Walaupun sebenarnya Zanza mempunyai mobil, namun dia lebih menyukai naik motor bersama Mae.


*


*


*


Keesokan harinya,,


" Hafsa,,,. Kamu dipanggil keruangan Pak Agung. " ujar salah satu karyawan yang satu ruangan dengan Mae.


Mae yang baru saja datang bersama Zanza, terdiam karena kaget. Mae menoleh kearah Zanza, sementara Zanza hanya bisa mengangkat bahunya.


" Iya, Kak. Makasih untuk informasinya. "


Mae meletakkan tas nya dikursi, lalu berbisik pada Zanza.


" Gue tinggal dulu ya. " pamit Mae. Zanza mengangguk.


" Semoga aja ga ada hal buruk. Gue ngerasa kaget, iya. Takut juga iya, waktu Kak Sandra kasih tau kalo loe dipanggil Pak Agung. "


Mulut Mae komat-kamit,, seakan sedang membaca do'a, sebelum dia berjalan menuju ruangan atasannya itu.


*Tok,,


Tok,,


Tok*,,


Mae mengetuk pintu sebelum masuk, hingga sebuah suara terdengar menyuruhnya untuk masuk.


" Masuk,,,. "


Mae membuka pintu dan kemudian masuk kedalam.


" Bapak memanggil saya,,? " tanya Mae dengan sopan dan dengan bahasa yang formal pula.


" Iya, Hafsa. Silakan duduk,,. " Pak Agung menyuruh Mae untuk duduk di kursi yang berhadapan dengannya.


" Baik, Pak. Terimakasih. " Mae pun duduk.


" Begini, Hafsa. Sebenarnya saya juga bingung, tapi karena ini adalah perintah langsung dari atasan, mau tidak mau saya harus menyampaikan nya padamu. "


Wajah Mae berubah tegang saat mendengar ucapan Pak Agung. Apalagi wajah Pak Agung terlihat sedikit bingung untuk menyampaikan nya pada Mae.


" Emm,, sebenarnya ada apa ya, Pak,,? " Mae berusaha setenang mungkin. Walau dalam hati dag dig dug deerr. Pak Agung menarik nafas panjang.


" Mulai hari ini, kamu akan dipindahkan. Kamu akan menjadi asisten Tuan Wakil Presdir. Atau lebih tepatnya, asisten kedua beliau. Karena beliau sendiri sebenarnya sudah memiliki asisten pribadi. "


" Dan saya sendiri tidak tahu, mengapa beliau memintamu untuk menjadi asisten keduanya. "


Mata Mae membulat saking kagetnya dia. Mulutnya bahkan megap-megap seperti ikan yang kekurangan air.


" Bapak jangan bercanda. " Mae menganggap ucapan dari sang atasan hanyalah gurauan semata.


" Saya tidak bercanda, Hafsa. Ini permintaan langsung dari beliau. "


" Tapi saya hanya karyawan magang, Pak. "


" Itu dia yang membuat saya bingung, Hafsa. Tapi perintah beliau itu mutlak dan harus segera dilaksanakan. "


" Baiklah, Pak. Saya siap. " ucap Mae dengan lantang dan mantap. Pak Agung tersenyum.


" Bagus,,. Bereskan barang-barang mu, lalu pergilah keruangan beliau. Ruangan beliau ada di lantai dua puluh lima. Saat sampai disana, kamu bisa bilang pada sekretaris beliau kalau kamu adalah Hafsa dari divisi marketing. "


" Baik, Pak. Kalau begitu, saya permisi. "


Pak Agung mengangguk, dan Mae pun keluar dari ruangan itu dengan sedikit lemas. Zanza mengernyitkan dahinya melihat kedatangan Mae. Wajahnya terlihat suram dan tidak bersemangat.


" Mae,,,. Loe ngape,,,? " tanya Zanza sambil berbisik.


Mae hanya menghela nafas panjang tanpa menjawab dan dia membereskan tas nya. Barang-barang penting yang ada dimeja, dia bawa.


" Mae,,. Jangan bilang kalo loe,,,? " Mae menggeleng cepat sebelum pertanyaan Zanza selesai.


" Terus,,,? " tanya Zanza lagi.


" Gue dipindahin ke lantai dua puluh lima. " jawab Mae pelan namun cukup membuat Zanza terkejut setengah hidup.


" Lantai dua puluh lima,,? " Zanza memastikan dan Mae mengangguk.


" Itu bukannya ruangan,, " Mae mengangguk.


" Ruangan wakil Presdir. "


" Ngapain loe pindah kesono,,,? " Mae menggeleng sambil mengangkat kedua bahunya.


" Gue pergi dulu ya, Zenab. Bye,,, " pamit Mae lirih.


Zanza beranjak dari duduknya lalu memeluk Mae. Seakan Mae ingin pergi berperang.


" Jaga diri loe ya. "


" Ckk,, lebay loe. Emang gue mo perang,,? " Zanza cengengesan lalu melepaskan pelukannya.


Mae pun segera pergi dari ruangan itu dan bergegas menuju lift. Ditekan nya tombol lantai dua puluh lima. Dengan hati yang masih dag dig dug deerr,,, lift naik dengan cepat menuju lantai dua puluh lima.


Tring,,,


Pintu lift pun terbuka saat sampai dilantai yang dituju. Mae keluar dari lift sambil terus membaca do'a. Karena jujur, Mae belum tahu wajah dari wakil Presdir. Hanya tersiar kabar kalau wakil Presdir dan asisten nya terkenal dingin dan mendapat julukan beruang kutub.


Perlahan, Mae mendekat ke meja sekretaris. Kakinya sedikit bergetar saat melangkah.


" Permisi, Kak. "


Sang sekretaris mengangkat wajahnya dan menatap Mae. Dia tersenyum ramah.


" Ya,,? Ada yang bisa saya bantu,,? ".


" Emm,,, saya dari divisi marketing dan saya mendapat perintah dari Pak Agung untuk datang kesini untuk menemui Wakil Presdir. " jelas Mae sedikit gugup.


" Ohh,,, apakah kamu yang bernama Maesaroh Hafsany,,? " tanya Sekretaris itu. Mae mengangguk.


" Iya, Kak. Benar, saya Hafsa. "


" Silahkan masuk. Tuan Wakil Presdir sudah menunggu didalam bersama dengan asistennya. " ucap Sekretaris itu sambil menunjuk keruangan yang pintunya tertutup rapat.


Mae menelan salivanya, dan itu terasa susah seperti tersangkut. Mae berusaha tersenyum.


" Terimakasih, Kak. Saya permisi. " pamit Mae. Sekretaris itu tersenyum dan mengangguk.


" Gue dipanggil Kakak,,,. Berasa kayak masih sekolah aja gue,,, " batin Sekretaris itu sambil terkekeh dan menatap punggung Mae.


Dengan perlahan dan sedikit gemetar, Mae mendekat kearah pintu. Sedikit ragu, tangan Mae terangkat ingin mengetuk pintu.


Setelah menarik nafas dan berusaha tenang, Mae pun mengetuk pintu.


Tok,, tok,, tok,,


" Masuk,,. "


Mae merasa kenal dengan suara itu. Perlahan, Mae membuka pintu.


" Permisi, Tuan. Saya Hafsa dari divisi marketing. " ucap Mae dengan mata menatap kebawah.


" Mendekat lah, Mèi. "


Sontak Mae langsung mengangkat pandangannya mendengar panggilan tersebut,, dan matanya membulat saat melihat siapa yang ada dihadapannya sambil tersenyum menatap Mae.


Dan seseorang memasang wajah datarnya yang berada dibelakang Wakil Presdir itu pun ikut tersenyum tipis sambil menatap Mae.


Mae benar-benar shock dibuatnya. Matanya menatap kedua orang itu tanpa berkedip. Bahkan mulutnya terbuka lebar, saking terkejutnya.


*


*


*


~~ ***Bersambung,,


Maaf,, othor jarang up. Karena kesibukan di dunia nyata, dan othor juga sedang hamil, othor jadi sering ngerasa cepet lelah dan ngantuk.


Semoga readers mau memaklumi nya.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.


Lope lope sekebon kopi.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌**


*