Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 32 ( Aku merindukannya,,,)



** Assalamu'alaikum,,,


Othor up lagi,, tapi maaf, masih jarang up karena kondisi kesehatan othor.


Selamat membaca,, dan jangan lupa kopinya. **


*


*


*


Sementara Elang dan anak buahnya membawa Dimas ke kantor polisi,, XiaoFei dan Jack memutuskan untuk kembali.


" Kita ke Mansion Mommy atau ke apartemen, Fei,,? " tanya Jack, yang saat ini sedang melajukan mobilnya.


" Kita ketempat biasa dulu. " Jack mengangguk.


Jack sudah paham, 'tempat biasa' yang dimaksud oleh XiaoFei. Jack pun membelokkan stir mobil dan menuju ketempat yang dimaksud XiaoFei.


" Fei,,,. " panggil Jack.


" Hmm,,, " sahut XiaoFei tanpa menoleh kearah Jack. Saat ini, dia sedang melihat keluar jendela.


" Sepertinya itu Mae. "


Seketika XiaoFei langsung menoleh kearah yang dimaksud Jack. Dia melihat Mae yang sedang duduk diatas motornya, sambil menunduk dan memegangi sebuah liontin yang berasal dari kalungnya.


Mae terlihat seperti orang yang sedang berbicara, hanya saja bicaranya itu ditujukan untuk kalung yang dia pegang.


" Kau tidak ingin turun dan menyapanya,,? " tanya Jack dengan tatapan masih melihat kearah Mae.


" Tidak. Belum saatnya. " jawab XiaoFei singkat.


Setelah mengamati Mae dari kejauhan, motor Mae mulai terlihat bergerak. Sepertinya dia akan segera pergi. Sementara mobil XiaoFei masih betah berdiam diri disana.


" Apa kau tidak ingin melarangnya menggunakan motor,,? Lihatlah,, dia masih saja mengebut, padahal tangan dan kakinya masih terluka karena insiden kemarin. " Jack menatap ngeri Mae yang melajukan motornya dengan kencang.


" Dia memang unik. Dan mungkin saat ini, mengebut sudah menjadi salah satu hobinya. " jawab XiaoFei dengan santai.


" Tapi itu bahaya, Fei. "


" Dia memang menyukai hal yang menantang dan berbahaya. Apa kau tahu hobi unik Mae lainnya,,? " tanya XiaoFei lalu menoleh kearah Jack.


" Apa,,? "


Bukannya menjawab, XiaoFei justru mengalihkan pandangannya, menatap lurus kedepan. Dia tersenyum sambil membayangkan masa lalu.


" Dia sangat suka memanjat pohon. " Jack membulatkan matanya, mendengar ucapan XiaoFei.


" Dulu,, saat dia mempunyai masalah atau dirinya sedang merasa sedih karena teringat akan sosok Ibu kandung nya,, maka dia langsung memanjat pohon dan berdiam diri diatas pohon sambil memakan buahnya. Entah itu pohon rambutan, jambu atau mangga. "


" Mae bahkan memberinya istilah kegiatannya itu dengan sebutan 'nangkring diatas po'on '. Bisa kau bayangkan, seorang gadis kecil punya hobi seperti itu,,? " XiaoFei sampai tersenyum sendiri, sementara Jack hanya bisa menggelengkan kepalanya.


" Dan karena keunikannya itulah, yang membuatku sulit untuk melupakannya. Dan berpaling hati darinya. Apalagi kalau logat uniknya itu sudah keluar, mungkin kau sendiri akan dibuat menahan senyummu. "


Lagi-lagi, XiaoFei tersenyum sendiri. Jack sampai dibuat melongo mendengar ucapan XiaoFei. Dia tidak menyangka, kalau bos nya itu sudah bucin akut.


" Setiap akhir pekan kami bertemu disini, dia selalu membawa buah yang dipetiknya sendiri dan memberikannya untuk Mommy. Karena begitu banyak dan sering, Mommy sampai membagikannya pada para maid dan penjaga. "


" Tak jarang juga, Mommy membawanya untuk Oma Desy dan Opa Jay. Mereka sangat menyukainya. Dan kini, aku justru merindukan keduanya. " mata XiaoFei berubah sendu.


Dia merindukan Oma dan Opa nya. Sementara GrandPa Radith dan GrandMa Rahma, sudah kembali pada Sang Pencipta. Begitu pun, dengan Tuan dan Nyonya Besar Lin, Lin XiaoLong dan Farah atau Lin XiaoFa. Mereka semua sudah meninggal.


" Kita kerumah Oma dan Opa saja, Jack. "


Jack mengangguk lalu mulai melajukan mobilnya perlahan. Mereka akan pergi ke kediaman keluarga Dirgantara. Dia sudah sangat lama tidak datang.


Tentu saja XiaoFei, selama sepuluh tahun ini XiaoFei berada di China dan baru pulang beberapa hari yang lalu.


*


*


*


*Kita tinggalkan XiaoFei yang sedang melepaskan rindu pada Oma dan Opa nya.


Hari senin pun tiba,, hari sibuk diawal pekan, bagi mereka yang bersekolah ataupun bekerja*.


Saat ini, Mae sedang berdiri didepan pintu lobby kantor. Dia menunggu kedatangan seseorang. Mae berdiri sambil memegang sebuah tas kain yang berisikan buahan dari sang Babeh.


Mobil XiaoFei yang dikendarai oleh Jack, memasuki halaman depan kantor. Mereka melihat dengan jelas, Mae yang sedang berdiri menunggu seseorang.


Jack membawa mobil XiaoFei ke tempat parkir khusus para petinggi perusahaan Lin.


" Jack,, ". Jack menoleh kearah XiaoFei, setelah dia selesai memarkirkan mobilnya.


" Pergilah kesana, dan tanyakan ada apa dia berdiri disana sendirian. " Jack mengangguk lalu keluar dari mobil, setelah dia mematikan mesin mobilnya terlebih dahulu.


XiaoFei menurunkan kaca jendela mobil, dan melirik kepergian Jack dari kaca spion.


" Selamat pagi, Nona. " sapa Jack setelah dia sampai didepan Mae.


Mae menoleh dan tersentak kaget melihat orang yang ada dihadapannya.


" Wang Yibo,,,. " gumam Mae spontan.


" Ya,,,? " Jack mendengar saat Mae mengucapkan sesuatu.


Mae segera menutup mulutnya sambil menggelengkan kepalanya.


" Tidak, Tuan. Bukan apa-apa,, " Mae tersenyum karena malu.


" Ohh,, baiklah. Maaf,, kalau boleh saya tahu, Nona sedang apa berdiri disini sendirian,,? " tanya Jack sopan.


Tentu saja harus sopan, karena Jack tahu dan sangat paham, gadis yang ada dihadapannya saat ini, adalah seseorang yang sangat penting bagi Bos nya.


" Saya sedang menunggu seseorang, Tuan. " jawab Mae dengan bahasa formal. Terdengar sangat canggung baginya.


" Orang yang tempo hari menolong saya, Tuan. "


Jack tersenyum dan menganggukkan kepalanya.


" Mari ikuti saya, Nona. Orang itu juga ingin bertemu dengan anda. " Jack memiringkan badannya sambil mengulurkan tangannya, menunjukkan jalan.


" Benarkah,,? Dia sudah sampai,,? " tanya Mae membuat Jack kembali tersenyum.


" Silahkan, Nona. "


Mau tidak mau, Mae pun mengikuti langkah Jack. Jantungnya berdetak sedikit kencang, hatinya sedikit ragu akan kebenaran yang diucapkan oleh Jack tadi.


Sesampainya di tempat parkiran khusus,, Mae melihat XiaoFei berdiri sambil bersandar di mobil mewahnya. Dengan setengah berlari, Mae menghampiri XiaoFei.


Jack tersenyum simpul sambil menggelengkan kepalanya, yang kini berada di belakang Mae.


" Benar-benar gadis yang unik,,. Tidak ada anggun-anggun nya sama sekali. " batin Jack.


" Tuan,,. Anda disini,,? " tanya Mae, begitu dia sampai dihadapan XiaoFei.


XiaoFei hanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya. Ditatap nya wajah Mae yang sudah sangat dirindukannya itu.


" Apa kau mencariku,,? " tanya XiaoFei dengan lembut.


" Cih,,,. giliran dengan Mae, suaranya begitu lembut. Kalau denganku, suaranya begitu ketus dan tegas. Dasar,, Bos Bucin,,. " gerutu Jack dalam hati.


Tiba-tiba XiaoFei melirik Jack dengan tajam, seakan dirinya tahu kalau Jack sedang menggerutu dalam hatinya. Jack pun langsung menundukkan kepalanya.


" Iya, Tuan. Saya sedang mencari Tuan. Ini,, untuk anda. "


" Namaku Fei,,dan dia adalah Jack. " XiaoFei menunjuk Jack dengan dagunya. Dan Mae hanya mengangguk.


Mae lalu memberikan tas kain yang berisikan buahan tersebut pada XiaoFei. XiaoFei menatap kain itu sambil mengulum senyumnya. Kisahnya terulang kembali.


" Ini apa,,? " tanya XiaoFei lagi, tanpa mengambil tas tersebut.


" Ini buahan dari Babeh Mae. Sebagai ucapan terimakasih, soalnye Tuan udeh nolongin Mae marenan. " tanpa sadar, Mae keceplosan mengeluarkan logat Betawi nya.


Jack melongo mendengarnya, sementara XiaoFei lagi-lagi mengulum senyumnya.


" Ahh,,, aku benar-benar merindukan logat itu,, " ucap XiaoFei dalam hati.


Mae yang tersadar, langsung menutup mulutnya. Dan pipinya memerah karena malu.


" Maaf, Tuan. Saya keceplosan. " ucap Mae pelan.


XiaoFei meraih tas kain tersebut, dan lagi-lagi bibirnya tersenyum.


" Seharusnya tidak usah repot-repot memberikan ini. "


" Babeh bilang tidak repot. Dia sangat berterimakasih, karena Tuan sudah mau menolong saya. Bagi Babeh, saya adalah harta paling berharga, karena saya anak satu-satunya. " jelas Mae.


" Saya ikhlas menolongmu, dan itu sudah menjadi kewajiban saya untuk saling tolong menolong. Dan satu lagi,, bagi orangtua, anak memang harta yang paling berharga, berapapun jumlahnya. Senyum anak adalah kebahagiaan orangtua, dan air mata anak adalah kesedihan orangtua. Jadi,, sudah sepantasnya saya menolongmu kemarin. " jawab XiaoFei dengan bijak.


" Ughh,, so sweet,,. " gumam Mae tanpa sadar, sambil menatap XiaoFei penuh rasa kagum.


Lagi-lagi,, XiaoFei mengulum senyum nya, sementara Jack sedang menutup mulutnya, berusaha agar tawanya tidak keluar. Sejak tadi, dia sangat ingin tertawa.


" Ada lagi,,,? " tanya XiaoFei, menyadarkan Mae.


Mae langsung menggeleng, dan wajahnya kembali tersipu malu. XiaoFei sangat gemas melihatnya.


" Dia benar-benar sudah berubah,,,. Gadis kecilku sekarang semakin cantik. " batin XiaoFei.


" Kalau begitu saya permisi, Tuan Fei dan Tuan Jack. Saya sudah terlambat dan takut ditegur atasan saya. " pamit Mae sambil sedikit membungkukkan badan.


XiaoFei mengangguk sambil tersenyum, begitu juga dengan Jack. Mae pun berbalik badan dan dengan setengah berlari, keluar dari parkiran khusus tersebut. Kembali ke lobby, untuk mengisi daftar absen. Maklum,, anak magang.


XiaoFei menatap punggung Mae yang perlahan kian menjauh. Dia mengenggam erat tas kain tersebut. Jack mendekat kearah XiaoFei.


" Kisah yang dulu, kembali terulang, Jack. " lirih XiaoFei.


" Kita masuk, Fei. Sebentar lagi, kita harus meeting. " Jack mengingatkan tapi tidak ditanggapi oleh XiaoFei.


XiaoFei justru memeluk tas kain itu, seakan dirinya tengah memeluk Mae.


" Aku merindukan nya,,, sangat,, sangat rindu. " Jack menghela nafas sambil menepuk dahinya.


" Dasar Bucin,,, " gumam Jack pelan.


" Apa kau bilang,,,?!! " tanya XiaoFei dengan tegas, sambil menatap Jack dengan tajam.


" Kau benar-benar, Fei. Dengan Mae, suaramu begitu lembut. Tapi denganku,,,. Kau kejam sekali. " gerutu Jack.


" Haishh,,,, " XiaoFei pun beranjak pergi meninggalkan Jack masuk kedalam kantor, tanpa menanggapi ucapan Jack. Jack pun mengikuti XiaoFei dengan setia.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.


Tekan like, Vote, comment dan kopinya.


Lope lope sekebon kopi buat kalian.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌**


**