Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 46 ( Terungkap 2.)



Mae masih menggelengkan kepalanya. Air matanya semakin mengalir deras. Dia tidak peduli, berada dimana dirinya saat ini. Dia hanya ingin mengeluarkan air matanya saat ini juga, sebagai tanda kekecewaan.


Mae masih sangat tidak percaya, kalau pria yang selama tiga bulan ini ada disampingnya, adalah Abang gantengnya yang ditunggu nya. Sang Bos adalah Abang gantengnya. Lelucon macam apa ini,,, pikir Mae.


"Mèi,,, " panggil XiaoFei lagi, sambil berusaha mendekat pada Mae.


" Abang jahat,,, " ucap Mae pelan dengan suara serak dan bergetar.


" Abang pembohong,,,. " lanjut Mae.


" Maaf,,,. Maafkan Abang, Mèi. " suara XiaoFei seakan tercekat. Sulit sekali untuk keluar, karena dirinya yang menahan untuk tidak ikut menangis.


Mae semakin memundurkan langkahnya disaat XiaoFei maju mendekat. XiaoFei terus berusaha meminta maaf dan membujuk Mae agar mendengar penjelasannya terlebih dahulu.


Namun Mae masih bersikeras tidak mau mendengar. Dia hanya bisa menggelengkan kepalanya, karena masih tidak percaya kalau yang saat ini di hadapannya adalah Abang gantengnya sekaligus Bos besarnya.


" Abang jahat,,,. " ucap Mae berulang kali.


" Maaf, Mèi. "


" Abang pembohong,,. " ulang Mae lagi.


" Maafkan Abang, Mèi. " XiaoFei terus meminta maaf.


" Kalian semua jahat,,!! Penipu,,!! Pembohong,,,!! " pekik Mae dengar air mata yang masih terus keluar dari mata bulatnya.


" Nyonya Mommy,, Tuan Daddy,, Kak Putri, Kak Putra, dan juga Kak Jack. Kalian semua pembohong,,,!! " pekik Mae lagi dengan suara yang mulai serak.


XiaoFei menggeleng. Dia berusaha terus untuk mendekati Mae.


" Tidak, Mèi. Mereka semua tidak salah, ini semua salah Abang. Abang yang jahat, Abang yang salah. " ujar XiaoFei dengan suara yang juga serak karena menahan airmatanya.


" Kalian semua sama. Apa salah Mae, Bang,,? Apa belum cukup Abang pergi tanpa memberi kabar sedikit pun,,? Apa masih belum cukup penantian Mae selama ini,,? Apa masih belum puas Abang menorehkan rasa sakit di hati Mae,,,? " tanya Mae dengan sedikit memekik.


XiaoFei kembali menggelengkan kepalanya. Baru saja dia ingin bicara, Mae sudah mengeluarkan lagi semua unek-unek dan kekecewaan dalam hatinya.


" Engga,,. Kalian emang kagak salah,, semua salah Mae. Mae yang terlalu kepedean karena merasa dekat dengan kalian. Mae hanya orang lain yang merasa begitu percaya diri, sudah menganggap kalau kalian menerima Mae sebagai salah satu bagian dari keluarga kalian."


" Mae hanyalah orang asing yang tiba-tiba datang dan masuk dalam kehidupan keluarga kalian. Mae yang sudah salah menganggap kebaikan kalian. Mae yang salah,,,. Semua salah Mae,,, . " ucap Mae, membuat XiaoFei kembali menggelengkan kepalanya.


Hatinya sakit mendengar ucapan Mae. Dadanya terasa sesak melihat airmata Mae. Bulir bening itu pun akhirnya lolos keluar dari mata XiaoFei.


" Engga, Mèi. Bukan salah Mae,,,. Ini semua salah Abang. Abang yang salah, Mèi. "


Mae tersenyum sinis, dengan airmata yang masih mengalir di pipi chubby nya. Hatinya benar-benar sakit. Semua rasa kecewa, sedih berkumpul menjadi satu.


" Mae mohon, Bang. Jangan ganggu Mae lagi. Udah cukup semua,,,. Mae udah kagak kuat,, sakit hati Mae, Bang. " ucap Mae lirih.


" Mae benci Abang,,,!!! " jerit Mae, lalu dia berlari kencang meninggalkan XiaoFei.


Deg,,,


XiaoFei merasa detak jantungnya berhenti saat mendengar ucapan Mae. Sakit,,, sangat sakit. Hingga akhirnya XiaoFei tersadar, kalau Mae sudah berlari menjauh darinya.


XiaoFei meremas dadanya yang terasa sesak dan sakit. Air matanya pun kembali lolos keluar dari matanya. Pandangannya mulai kabur karena terhalang airmatanya.


Hingga,,,


***Cckkiittt,,,,


Brraakkkk***,,,


XiaoFei tersentak kaget, saat mendengar suara bunyi rem mobil yang menabrak sesuatu dengan kencang. XiaoFei menggelengkan kepalanya,,, berharap dan berdo'a kalau itu bukan Mae.


Dengan sekuat tenaga, XiaoFei berlari kencang menuju tempat kejadian yang sudah ramai orang berkerumun. Detak jantung XiaoFei semakin kencang, saat dia sudah benar-benar dekat.


Dia berusaha menerobos kerumunan. Dan matanya membulat sempurna saat dia melihat sosok yang tergeletak dijalan, yang terluka dan berlumuran darah.


Kaki XiaoFei seakan lemas tak bertulang. Jantungnya seakan berhenti berdetak. Perlahan dia mendekat dan berlutut didepan sosok yang tergeletak itu.


Airmatanya kembali keluar. Kepalanya terus saja menggeleng. Seolah dia menolak untuk percaya kalau yang saat ini sedang tergeletak dihadapannya adalah gadis kecilnya, Mae-nya.


" Mèi,,,, " panggil XiaoFei dengan lirih.


XiaoFei mengangkat kepala Mae yang terluka dan berlumuran darah. Dia meletakkan kepala Mae diatas pahanya.


" Mèi,,, " panggilnya lagi.


Namun Mae hanya diam dengan mata yang terpejam. XiaoFei memeluk kepala Mae.


" Rico,,,!! " jerit XiaoFei dengan kencang.


Seorang laki-laki bertubuh kekar, berwajah cukup tampan oriental dan seumuran dengan XiaoFei pun mendekat.


" Wǒ, Shàoyé. " jawabnya setelah dia berada dihadapan XiaoFei.


( Saya, Tuan Muda.)


" Lìjí zhǔnbèi hǎo qìchē,,,!!! " perintah XiaoFei setengah berteriak.


( Siapkan mobil segera,,!!! )


" Shì de,,, " jawab pria yang bernama Rico.


( Baik.)


{ Rico adalah anak dari salah satu pengawal pribadi kepercayaan Tuan Besar Lin XiaoLong yang bernama Leo. Leo sendiri ada dalam cerita Sahabatku Menjadi Pasanganku dalam Bab Pengawal Pribadi. }


Rico adalah salah satu pengawal pribadi XiaoFei, selain Jack. Mereka sudah bekerja sama selama XiaoFei berada di China.


Dan tak lama kemudian,, sebuah mobil berhenti didekat mereka. Rico membantu membukakan pintu mobil, sementara XiaoFei mengangkat tubuh Mae dan membawa masuk kedalam mobil.


Sementara pelaku penabrakan Mae sendiri, sudah kabur saat massa mulai berkumpul. Mobil yang dinaiki XiaoFei melaju dengan kecepatan tinggi menuju rumah sakit.


XiaoFei masih terus memeluk kepala Mae yang berada di pangkuannya. Airmatanya masih terus mengalir. Mulutnya terus saja bergumam tidak jelas.


" Mèi,,,. Buka matamu. Abang mohon,,, jangan tinggalin Abang. " lirih XiaoFei.


XiaoFei mengecup pucuk kepala Mae dengan lembut.


" Bangun, Mèi. Abang mohon, bangun. " ucap XiaoFei lagi.


" Jangan tinggalkan Abang, Mèi. Abang tidak sanggup. Jangan hukum Abang seperti ini. Abang mohon,, bangun. Dan hukum Abang dengan cara apapun, tapi bukan seperti ini, Mèi. Abang ga sanggup. " ucap XiaoFei lirih.


Rico melirik XiaoFei dari balik kaca spion. Baru kali ini, dia melihat sang Tuan Muda keluarga Lin kacau seperti itu.


" Rico,,,!! " panggil XiaoFei dengan suara serak.


" Saya, Tuan. " jawab Rico tegas.


" Hubungi Jack. Bilang padanya untuk segera menjemput Ayah gadis ini. Suruh Jack untuk mengajak kekasihnya. " perinta XiaoFei.


" Baik, Tuan. "


" Hubungi juga Mommy and Daddy. Beritahu mereka rumah sakit yang kita tujuan. "


" Baik, Tuan. "


Rico kembali bicara pada alat khusus yang ada ditelinganya. XiaoFei tidak mau ambil pusing. Saat ini yang ada didalam pikirannya adalah keselamatan Mae, gadis kecilnya.


" Apa masih jauh, Ric,,,? " tanya XiaoFei dengan nada suara mulai panik. Karena darah yang keluar dari kepala Mae, masih terus mengalir.


" Lima menit lagi sampai, Tuan. " jawab Rico sambil melihat kearah arloji nya.


XiaoFei sedikit menarik nafas lega, karena mereka hampir sampai dirumah sakit. XiaoFei kembali memeluk kepala Mae. Kemejanya sudah berubah warna, karena terkena darah Mae.


Tak lama kemudian, mereka pun tiba dirumah sakit. Mobil berhenti tepat didepan ruang UGD. Rico turun terlebih dahulu, untuk membukakan pintu mobil.


" Bāng bāng wǒ,,,. " perintah XiaoFei pada Rico.


( Bantu aku.)


Rico dengan sigap membantu XiaoFei keluar sambil membawa Mae. XiaoFei menggendong tubuh Mae ala bridal style.


" Bantu aku urus semua administrasi rumah sakit atas nama Maesaroh Hafsany. " perintah XiaoFei lagi, sebelum dia beranjak masuk kedalam rumah sakit.


" Baik, Tuan. " sahut Rico.


Rico pun masuk kedalam rumah sakit untuk mengurus semua administrasi. Sementara XiaoFei sudah membawa Mae kedalam ruang UGD, dan dibantu oleh beberapa suster.


XiaoFei menunggu dikursi sementara beberapa suster membawa Mae masuk kedalam ruang UGD, untuk ditindaklanjuti.


XiaoFei duduk dengan gelisah. Dia menggaruk kepalanya dengan kedua tangannya. Lalu mengusap wajahnya dengan kasar.


Dia menyesal,, benar-benar menyesal karena sudah berbohong pada Mae. Kedua tangan XiaoFei saling meremas saat dia menunggu.


Entah kenapa, dia merasa kalau waktu begitu lama berlalu. Keadaan XiaoFei benar-benar kacau. Rico melihat keadaan Tuan mudanya dari kejauhan.


Rico menggelengkan kepalanya sambil menghela nafas. Dia benar-benar tidak percaya, kalau Tuan Mudanya yang terkenal dingin, bisa jadi kacau seperti itu hanya karena seorang gadis.


" Benar-benar tidak bisa dipercaya. " gumam Rico saat melihat XiaoFei yang berdiri mendekat kearah pintu ruang UGD, lalu kembali duduk.


Rico mengamati dari kejauhan sambil menunggu keluarga Lin datang. Rico sebenarnya melihat saat kejadian Mae ditabrak. Hanya saja, dia merasa kalau itu bukanlah bagian dari tugasnya.


Tugas utamanya adalah menjaga keselamatan Tuan Mudanya. Termasuk XiaoWu dan XiaoZhan. Dan dia selalu mengawasi dari kejauhan. Itu adalah perintah dari XiaoFei.


Tak lama kemudian,,, keluarga Lin datang, dengan wajah panik dan khawatir. Rico menghampiri dan memberi hormat dengan sedikit membungkukkan tubuhnya.


" Tuan,, Nyonya. " sapa Rico dengan hormat.


" Dimana, Fei,,,? " tanya XiaoYue.


" Tuan Muda ada disana, Nyonya. " jawab Rico sambil menunjuk kearah XiaoFei duduk.


Mereka pun bergegas menghampiri XiaoFei, yang masih gelisah menunggu pintu ruangan yang ada dihadapannya itu terbuka.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Maaf kalau ada typo. Soalnya othor udah ngantuk berat. Jangan lupa untuk tinggalkan jejak.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌😊**


**