
Singkat cerita,,
Waktu enam tahun sudah berlalu. Saat ini, XiaoFei dan Jack sedang melanjutkan kuliah S-2 nya. Dan bekerja di perusahaan Lin selepas pulang kuliah.
XiaoFei yang kemana-mana selalu berdua dengan Jack, membuat banyak berita miring tentangnya. Salah satunya adalah dia ' belok' alias terong makan terong.
Karena tidak pernah ada satu pun wanita yang dekat dengannya. XiaoFei selalu bersikap dingin dan menjauh saat ada wanita yang ingin mendekatinya. Apalagi saat ini, XiaoFei sudah memasuki usia dua puluh empat tahun. Namun XiaoFei tidak pernah ambil pusing.
Begitu juga dengan Jack. Dia sudah mengetahui cerita tentang 'gadis kecil' nya XiaoFei. Gadis kecil yang sudah enam tahun ini menempati hatinya XiaoFei yang paling dalam. Jack menjadi satu-satunya sahabat, pengawal sekaligus asisten pribadinya XiaoFei. Tempatnya berbagi cerita dan berkeluh kesah.
Jack selalu menghalangi setiap wanita atau rekan bisnis yang berusaha mencari tahu atau mendekati XiaoFei. Oleh sebab itu, gosip itu makin santer terdengar.
*
*
Sementara itu,, di negara lain..
Di sebuah sekolah SMA elit,, terlihat ramai orang lalu lalang. Kebetulan hari ini adalah pembagian raport sekaligus kenaikan kelas.
Salah satu siswi berwajah manis namun sedikit jutek, sedang tersenyum bahagia. Bagaimana tidak,, saat ini sang Ayah sedang memujinya karena dia menjadi salah satu siswi berprestasi.
" Neng,,. Babeh bangga banget ame loe. Nilei loe cakep-cakep, dapet piagam lagi. Babeh bener-bener bahagie. " ucap Babeh Mae dengan mata yang berkaca-kaca. Lebay,,
Ya,, siswi itu adalah Mae. Saat ini usianya sudah tujuh belas tahun, dan naik ke kelas XII. Mae tersenyum sambil tersipu malu.
" Iye, Beh. Mae juge seneng. " sahut Mae.
" Loe mo pulang bareng Babeh sekarang ape ntar, Neng,,? " tanya Babeh Mae.
" Mae ntar aje, Beh. Belakangan,, mo ketemuan dulu ame Kak Putri. Maren udeh janjian. " jawab Mae.
" Ya udeh,, Babeh pulang duluan ye. Ntar ati-ati loe bawe motornye. Jangan ngebut,, " Mae mengangguk lalu meraih tangan sang Babeh dan mengecup punggung tangannya.
" Babeh juge ati-ati. " Babeh Mae mengangguk.
" Assalamu'alaikum,,, "
" Wa'alaikumsalam,,, "
Babeh Mae pun beranjak pergi meninggalkan Mae sendiri di lorong sekolah. Mae sedang menunggu Putri( XiaoWu).
" Hai,, " sapa seorang pria muda tampan.
Mae menoleh dan wajahnya berubah dingin dan jutek. Namun tidak mengurangi kecantikannya. Dia benar-benar berubah,, menjadi sosok wanita cantik dan manis.
" Ada apa,,,? " tanya Mae ketus.
" Selamat ya,,, kamu menjadi salah satu siswi berprestasi. " ucap pria tersebut.
Pria itu adalah Kakak kelas Mae, dan dia bernama Dimas Atmadja. Sejak awal Mae sekolah disana, Dimas memang selalu berusaha untuk mendekati Mae. Namun tidak pernah digubris oleh Mae. Karena dalam hati Mae sudah terpatri satu nama dan didalam pikiran Mae sudah dipenuhi satu wajah. Yaitu,, si Abang ganteng alias XiaoFei.
" Makasih,, " Jawa Mae masih dengan nada ketus.
" Setelah ini kamu mau ga, aku ajak makan siang, Mae,,? " tanya Dimas dengan suara lembut.
Wajah Mae memerah karena menahan marah, saat dia mendengar Dimas memanggilnya Mae.
" Jangan pernah panggil gue dengan nama itu,,!! Karena hanya orang tertentu saja yang boleh manggil gue Mae. " tegas Mae, menahan marah.
" Oke,, oke,, sorry. Kalau gitu, aku panggil kamu Mei aja ya,,, biar lebih akrab. " ucapan Dimas semakin membuat kemarahan Mae naik sampai ke ubun-ubun.
" Jaga mulut loe. Hanya satu orang yang manggil gue dengan nama itu. Dan itu udah pasti bukan loe,,,!! Paham loe,,, " pekik Mae marah, lalu meninggalkan Dimas begitu saja.
Dimas mengepalkan tangannya. Dia benar-benar tersinggung dan marah karena ucapan Mae.
" Lihat saja nanti, Maesaroh Hafsany. Aku akan membuatmu bertekuk lutut padaku. " gumam Dimas kesal, lalu beranjak pergi.
" Mae,,,!! " panggil seseorang.
Mae menoleh, lalu tersenyum manis. Dia pun menghampiri orang itu, yang ternyata adalah Putri(XiaoWu).
" Kak Putri,,,. "
" Kamu kenapa,,,? Wajahmu tampak sedang kesal. " tanya Putri(XiaoWu).
" Biase noh, Kak. "
" Dimas lagi,,,? " Mae mengangguk.
" Pan udeh Mae bilangin,, jangan pernah manggil Mae dengan nama Mae. Panggilan Mae ntu cuma buat orang tertentu aje. Eh,,, die malah sekarang manggil Mae pake nama Mei,,. Kagak tau ape,, cuman atu orang nyang boleh manggil Mae begono,,? " cerocos Mae kesal.
XiaoWu terkekeh,, mereka berjalan kerarah tempat parkir.
" Iya,,, cuma Kak Raja(XiaoFei) aja yang boleh manggil begitu. " ucap XiaoWu membuat Mae mesam mesem.
" Selamat ya, Mae. Kamu jadi salah satu siswi berprestasi. Kakak bangga sama kamu, Mommy sama Daddy juga pasti bangga. "
" He,, he,, he,,. Makasih Kak. " XiaoWu terdiam untuk sesaat. Dia sedikit ragu untuk bicara.
" Mae,, ada yang mau Kakak omongin sama kamu. " Mae seketika berhenti berjalan, diikuti oleh XiaoWu.
" Kakak mau pamit sama kamu. " Mae sontak terkejut mendengarnya.
" Pamit,,,? Jangan bilang kalo Kakak mo pegi juga ninggalin Mae kayak Abang ganteng,,,? " tanya Mae dengan suara parau. Matanya sudah berkabut.
XiaoWu menghela nafas panjang. Kemudian mengusap bahu Mae perlahan.
" Kakak harus pergi kuliah ditempat Kak Raja sekarang. Tapi Kakak cuma ambil S-1 aja. Kalau Kak Raja kan harus sampai S-2. Kamu ga pa-pa kan Mae,,? " dengan berat hati, XiaoWu terpaksa jujur.
" Kak Putra(XiaoZhan) juga ikut,,? " XiaoWu mengangguk pelan.
Air mata mengalir sempurna di pipi mulusnya. Dia benar-benar sedih karena harus kembali di tinggal pergi jauh oleh orang terdekatnya.
" Maafin Kakak, Mae,,. " ucap XiaoWu pilu, dia lantas memeluk Mae.
" Mae ngerti kok Kak. Mae kagak ape-ape. Salam aje ye,, buat Abang ganteng kalo Kakak ketemu. " ucap Mae, sambil berusaha menahan air matanya supaya tidak lagi keluar, dia melepas pelukan XiaoWu.
" Iya, Mae. Itu pasti. Kamu disini hati-hati ya. Harus tetap semangat, dan tetap berprestasi seperti tadi. " Mae mengangguk.
XiaoWu memeluk Mae lagi, dan seketika tangis Mae kembali pecah. Berat,, sedih dan sepi karena harus kembali ditinggal orang terdekat nya.
XiaoWu melepaskan pelukannya. Dan tersenyum pada Mae.
" Kakak pamit pulang duluan ya. " Mae kembali mengangguk.
" Salam buat Mommy, Daddy sama Kak Putra. " Kali ini XiaoWu yang mengangguk.
XiaoWu kembali berjalan dan mendekati mobilnya. Mae hanya terdiam menatap kepergian XiaoWu. Hingga mobil yang ditumpangi XiaoWu pergi menjauh dan tak lagi terlihat.
Tiba-tiba saja,,, bahu Mae ditepuk seseorang dengan kerasnya, membuat Mae memekik kaget sekaligus sakit. Mae menoleh dengan wajah kesalnya.
Orang itu hanya nyengir melihat wajah kesal Mae. Seketika Mae menoyor kepala orang itu.
" Sue, loe. Zenab,,, " sungut Mae.
" Zanza,, Mae. Nama gue Zanzabilla, bukan Zaenab. " protes Zanza,, salah satu sahabat Mae sejak mereka SMP.
" Nama gue Maesaroh Hafsany. Pade manggil gue, Hafsa. " seru Mae.
" Bodo,,. " Mereka tertawa bersama.
" Eh,, tadi loe ngapa,,? Gue liat, loe tadi nangis ya,,? Mata loe merah noh,,, " tanya Zanza.
Wajah Mae seketika berubah sendu lagi. Dia menghela nafas panjang.
" Kak Putri ama Kak Putra mo kuliah keluar negri. Ke tempatnya Abang ganteng,, " jawab Mae lirih.
Zanza mengelus punggung Mae, berusaha menenangkan nya dan memberinya kekuatan. Mae sudah menceritakan tentang Abang ganteng nya pada Zanza. Begitu pun dengan XiaoWu dan XiaoZhan. Namun baik Mae ataupun Zanza, masih belum tahu identitas asli mereka.
" Sabar,,. Kan masih ada gue,,. " Mae mengangguk lalu tersenyum.
" Kita makan-makan nyok,,. " Zanza mengangguk.
Mereka pun kemudian pergi dengan menggunakan motor Mae. Ya,, Mae lebih memilih naik motor daripada mobil. Karena Mae mengikuti kebiasaan XiaoFei, naik motor.
*
*
*
Kembali ke negara China,,
XiaoFei sedang sendiri didalam kamar. Dia termenung sambil melihat keluar jendela. Menatap indahnya langit cerah dinegara itu.
XiaoFei sedang merindukan gadis kecilnya, yang saat ini sudah beranjak dewasa. XiaoFei sudah mendapat kabar dari XiaoWu, kalau gadis kecilnya itu hari ini menjadi salah satu siswi berprestasi disekolah.
Mae dan XiaoWu memang satu sekolah, hanya berbeda kelas. XiaoWu adalah Kakak kelas Mae. XiaoFei memang selalu mendapat kabar mengenai Mae, namun dia sama sekali tidak mau kalau XiaoWu ataupun sang Mommy, mengiriminya foto Mae.
XiaoFei bersikeras, bahwa takdirlah yang akan menentukan nasib jodoh mereka. Apakah mereka berjodoh atau tidak,, XiaoFei tidak ingin memaksa. Hanya wajah masa kecil Mae yang selalu terpatri didalam ingatan XiaoFei.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Mohon maaf untuk para pecinta Mae,, othor belum bisa tiap hari up. Semenjak hamil,, tangan kanan othor bermasalah. Sering merasa kebas, nyeri dan kesemutan. Siang malam sakitnya selalu datang. Mungkin bawaan hamil kali ye,,
Jangan lupe ame like,, vote, comment ame kopinye,,
Mae belonan ngopi.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌***