
Tiba saatnya XiaoFei maju kedepan kelas untuk memperkenalkan dirinya. Dengan gaya santainya, XiaoFei berjalan sambil memasukan kedua tangan kedalam saku celana nya.
XiaoFei memasang wajah datar dan tatapan tajamnya.
" Selamat pagi,,. Perkenalkan nama saya Raja Dirgantara. Saya berasal dari sekolah Citra Mandiri. Salam kenal. " ucap XiaoFei santai yang membuat kelas kembali heboh karena pekikan beberapa murid perempuan.
" Ada yang ingin bertanya,,? " tanya sang guru, membuat XiaoFei menghela nafas, menahan kesal dan malas.
" Lagi-lagi,,? haruskah selalu ada sesi tanya jawab,,? Menyebalkan,,. " keluh XiaoFei dalam hati.
" Saya, Pak. " seru seorang murid wanita berambut ikal dengan dandanan sedikit menor, membuat XiaoFei merasa mual.
" Silahkan,, Bunga. " jawab sang guru yang bernama Willy.
" Gue mau tanya dong,,, kok loe bisa ganteng sih,,? " tanya Bunga dengan genit.
" Hhuuuuu,,,, " sahut murid satu kelas.
" Kalau untuk hal itu, anda bisa bertanya pada kedua orangtua saya. " jawab XiaoFei dengan malas.
" Ada lagi yang ingin bertanya,,? " tanya Pak Willy.
" Saya, Pak. " seru seorang murid perempuan berambut panjang.
" Silahkan, Nadia. " ucap Pak Willy.
" Loe udah punya pacar belum,,? " tanya gadis itu yang bernama Nadia dan lagi-lagi mendapatkan sorakan dari murid sekelas.
XiaoFei harus menahan kesalnya dengan menarik nafas dan membuangnya kasar, dan menjawab dengan nada sinis.
" Maaf,, saya bukan tipe orang yang suka membuang waktu untuk hal yang tidak berguna seperti itu. "
Jlebb,,,
Nyesek ga tuh,,,
Nadia langsung terdiam karena malu setelah mendengar jawaban dari XiaoFei.
" Saya ingin bertanya, Pak. " seorang murid laki-laki berkacamata.
" Silahkan Alvin. " jawab Pak Willy.
" Nama keluargamu sama dengan salah satu nama dari beberapa keluarga yang berpengaruh di negara ini, yaitu keluarga Dirgantara. Apa kau salah satu anggota keluarga Dirgantara yang terkenal itu, yang salah satu anggota keluarganya telah menikah dengan keluarga besar Lin dari negara C,,? " tanya Alvin.
XiaoFei terdiam untuk sesaat, lalu tersenyum tipis. Senyum yang jarang diperlihatkan nya, membuat murid perempuan yang ada dikelas itu semakin klepek-klepek.
" Apakah saya terlihat mirip bila menjadi anggota keluarga Dirgantara itu,,? " tanya XiaoFei.
" Ya. " jawab Alvin singkat.
" Tapi sayang sekali, saya bukan termasuk anggota keluarga mereka. Keluarga kami hanya keluarga biasa, yang kebetulan memiliki nama keluarga yang sama dengan perusahaan besar itu. " jawab XiaoFei berusaha mengelak dengan tetap bersikap santai.
"Oooo... " hanya satu huruf itu yang terdengar dikelas.
" Ada lagi,,? " tanya XiaoFei. Kelas hening seketika.
" Apa saya sudah boleh kembali ke kursi saya, Pak,? " tanya XiaoFei pada Pak Willy.
" Silahkan Raja. " jawab Pak Willy.
XiaoFei pun berjalan kembali ke kursinya dan menghela nafas lega.
" Akhirnya,,,. Benar-benar sangat membosankan. " sungut XiaoFei dalam hati.
Setelah acara perkenalan yang sangat membosankan menurut XiaoFei, kegiatan belajar mengajar pun dimulai. Saat pelajaran dimulai, XiaoFei sibuk fokus mendengar dan memperhatikan Pak Willy menerangkan.
Sesekali tangannya mengetik di laptop nya. Ya,, sekolah itu menggunakan laptop sebagai sarana belajar mengajar. Maklum,, sekolah elit.
Waktu istirahat pun tiba, XiaoFei mengeluarkan bekal yang sudah disiapkan sang Mommy. Ya,, XiaoFei memang agak pemilih dalam hal makanan. Dia hanya mau makan makanan yang dimasak oleh sang Mommy.
Salah satu murid laki-laki yang tadi bertanya, datang menghampiri XiaoFei
" Hai,, kau tidak ke kantin,,? sapa Alvin.
XiaoFei menggeleng sambil membuka kotak bekal makan siang nya.
" Tidak. Aku tidak terbiasa masakan orang lain, aku hanya mau makan masakan Mommy ku. " jawab XiaoFei dengan wajah datarnya.
" Jadi kau adalah ' anak mommy ' ,,,? " ejek Alvin.
" Cih,, terserah kau mau bicara apa, aku tak peduli. Mommy ku adalah cinta pertama ku, cahaya penerang dalam hidupku. Julukan apapun yang akan kalian berikan padaku, itu tidak akan menjadi sebuah masalah untukku. " XiaoFei berdecih dan masa bodo.
Alvin yang merasa diabaikan pun merasa marah dan tersinggung. Dia pun belalu sambil mengejek lagi.
" Dasar anak Mommy.. ".
XiaoFei menganggap ucapan Alvin hanyalah angin lalu. Dengan perlahan, XiaoFei memakan bekalnya itu.
" Cih,, dasar pengganggu. Tidak berguna. " gerutu XiaoFei dalam hati.
Setelah menghabiskan bekal makan siangnya, tak lupa pula dia membaca doa dan mengucap hamdalah.
XiaoFei kembali melanjutkan membaca buku komik kesukaannya sambil mendengarkan lagu dari headphone nya. Menunggu waktu istirahat selesai.
Lima belas menit kemudian, bel istirahat selesai pun berbunyi. XiaoFei kembali memasukkan headphone dan buku komiknya kedalam tas. Dia kembali fokus pada pelajarannya.
Hari hampir menjelang sore saat jam pelajaran XiaoFei berakhir. Dengan santai dan memasang wajah datar sekaligus cueknya, XiaoFei berjalan menuju tempat parkir, dimana motornya berada.
XiaoFei naik keatas motornya setelah dia menggunakan jaket dan helmnya. Tak dipedulikan nya jeritan dan pekikan siswi perempuan yang melihatnya. XiaoFei menyalakan mesin motornya dan mulai melajukannya perlahan.
Ditengah perjalanan, fokus XiaoFei teralihkan kearah pinggir jalan. Dia melihat seorang gadis kecil seumuran dengan kedua adik kembarnya.
XiaoFei menepikan motornya dan menghampiri anak kecil itu. Gadis kecil yang masih menggunakan seragam merah putihnya itu, sedang duduk menangis sambil menundukkan kepalanya hingga menempel pada kedua lututnya.
" Adik manis,, kamu kenapa,,? " tanya XiaoFei lembut.
Gadis kecil itu mengangkat wajah sembabnya dan menatap XiaoFei dengan memelas. Gadis kecil berkuncir dua dan terlihat cukup manis dimata XiaoFei.
" Abang gantengartis ya,,? " tanya gadis kecil polos membuat XiaoFei terkekeh.
" Bukan, gadis manis. Kakak juga seorang pelajar sama kayak kamu. " jawab XiaoFei seraya mengacak rambut gadis kecil itu.
" Oo,,, " mulut gadis kecil itu membulat sebagai jawaban.
" Kamu kenapa,,? Kok nangis dipinggir jalan begini,,? " XiaoFei mengulang pertanyaan nya.
" Itu, Bang. Rantai sepeda Mei copot, Mei ga bisa pasangnya lagi. Rumah Mei masih jauh, Bang. " adu gadis kecil yang menyebut dirinya Mei.
" Oh ini,,? Kakak bantu mau,,? " Mei langsung menganggukkan kepala.
XiaoFei berjongkok dan mulai mengutak-atik rantai sepeda milik si Mei. Setelah beberapa saat, rantai sepeda itu pun kembali terpasang pada tempatnya.
Tangan putih XiaoFei menjadi kotor penuh dengan oli bekas yang menempel pada rantai sepeda itu.
" Sudah selesai gadis manis. " ucap XiaoFei dan gadis kecil itu bersorak girang.
" Terimakasih, Abang ganteng. " seru gadis kecil itu.
" Nama kamu siapa, gadis manis,,? " tanya XiaoFei seraya membersihkan tangannya dengan tisu basah.
" Namaku Maesaroh, tapi aku maunya dipanggil Mei. " jawab si Mei polos membuat XiaoFei tersenyum.
" Kamu tahu bahas Mandarin ga,,? " Mei menggeleng.
" Dalam bahasa Mandarin,, Mèimei itu artinya adik perempuan. Memang pas panggilannya untuk kamu, gadis manis. " jelas XiaoFei yang dibalas dengan senyum sumringah si Mei sambil bertepuk tangan girang.
" Sekali lagi, Mei ucapin terimakasih ya, Abang ganteng. Semoga kita bisa berjumpa lagi. " ucap Mei dengan suara cempreng nya sambil menaiki sepedanya.
" Iya, Sama-sama. Ya, sudah. Kamu pulang gih sana. Hati-hati ya,, pelan-pelan aja kayuhnya, biar ga copot lagi rantainya. " sahut XiaoFei.
" Iya, Bang. Bye,, Abang ganteng. " seru si Mei seraya mengayu sepedanya dan melambaikan tangannya.
" Bye,,!!! Hati-hati,,,!! " XiaoFei pun balik berseru kencang.
XiaoFei tersenyum sambil memandangi punggung gadis kecil itu yang semakin menjauh. XiaoFei kembali memakai helmnya, dan melanjutkan perjalanan nya yang tertunda.
( Tanpa XiaoFei sadari, gadis kecil itulah yang nantinya akan menghiasi hari-hari XiaoFei dimasa depan. )
****
Itulah awal perjumpaan XiaoFei dengan Meimei alias Maesaroh. Kita lanjutkan kisahnya besok ya,,,
~~ ***Bersambung,,
Jangan lupa untuk tekan like, vote, comment dan hadiahnya, biar Kak Ull makin semangat up nya.
Salam love and peace dari Kak Ull,,
❤❤✌✌***
****