
Sesampainya di Mansion mewah keluarga Lin,,
XiaoFei berjalan masuk mengikuti langkah XiaoLi. Matanya sibuk memperhatikan keadaan Mansion yang ternyata tidak terlalu banyak berubah. Masih sama seperti dulu,,
Ya,, sudah lama sekali XiaoFei tidak datang kesana, ke negara kelahiran nya. Terakhir saat sang Tuan Besar keluarga Lin, yaitu Lin XiaoLong meninggal, tepatnya enam tahun yang lalu.
Saat itu XiaoFei baru saja lulus sekolah dasar. Sementara kedua adik kembarnya baru saja mendaftar masuk sekolah dasar. Peristiwa meninggal nya Lin XiaoLong, membawa kesedihan yang amat sangat untuk keluarga Lin.
Mereka kehilangan sosok pria tua yang tegas dan arogan diluar namun hangat dan penyayang didalam keluarganya. Sosok panutan yang sangat XiaoFei banggakan selama ini.
" Huānyíng Lǐ shūshu,, Hái yǒu, Huānyíng Lín shàoyé,,, " ucap seseorang saat dipintu masuk, mengalihkan perhatian XiaoFei.
( Selamat datang, Paman Li,, Dan, selamat datang Tuan Muda Lin,,)
XiaoFei menatap tajam seorang pemuda yang seumuran dengannya, mungkin berbeda hanya beberapa tahun diatasnya. Lalu XiaoFei menoleh kearah XiaoLi dan berbisik,,
" Dia siapa, Paman,,? " tanya XiaoFei dengan menggunakan bahasa Indonesia.
XiaoFei berpikir, pemuda tersebut tidak akan mengerti ucapan nya. Karena XiaoFei melihat wajahnya yang berwajah oriental dan lumayan tampan.
" Ohh,, perkenalkan. Dia Jack,, dia yang nanti akan menjadi pengawal sekaligus asisten pribadimu. " jawab XiaoLi yang membuat XiaoFei kembali menatap pemuda tersebut dari atas ke bawah.
" Paman yakin,,? XiaoFei ingin memastikan lagi kalau pendengaran nya tidak salah.
" Kenapa,,? " XiaoLi balik bertanya.
" Aku pengawal untuk apa Paman,,,? Dan untuk asisten,, apakah tidak ada lagi orang yang lebih berkompeten,,? Aku merasa tidak yakin dengannya. " jawab XiaoFei.
Pemuda itu hanya diam, menyimak pembicaraan kedua pria anggota keluarga Lin yang berbeda usia tersebut.
" Paman pikir dia cocok. Dia bisa ilmu bela diri yang sangat lumayan. Dan untuk kecerdasan nya,, jangan kau tanyakan, Fei. " jawaban XiaoLi membuat XiaoFei kembali menatap tajam pemuda tersebut.
" Dengan tubuh nya yang tidak seberapa kekar, Paman bilang dia jago bela diri,,? Dan apakah Paman tidak lihat,,wajahnya itu terlalu dingin macam beruang kutub. " tanya XiaoFei menyindir pemuda tersebut.
" Anda jangan menilai saya dari luarnya saja, Tuan. Walaupun tubuh saya tidak terlalu besar dan kekar, namun saya cukup menguasai ilmu silat dan beberapa ilmu bela diri lainnya. Termasuk kungfu dan taekwondo. " XiaoFei dibuat tidak bisa mengucapkan kata-kata, saat mendengar pemuda itu bicara bahasa Indonesia.
XiaoFei kembali menatap sang Paman, penuh pertanyaan. XiaoLi hanya terkekeh melihat wajah XiaoFei yang bingung.
" Jack ini berasal dari negara yang sama dengan kau tinggali kemarin. Paman bertemu dengannya lima tahun yang lalu, saat Paman berkunjung ke Indonesia. Dia yang menolong Paman saat itu. Dan Paman membawanya kesini, menyekolahkan nya dan memberikannya pelajaran ilmu bela diri. Melatihnya untuk melindungimu. Dan Paman juga sudah mengajarinya ilmu tentang mempimpin perusahaan. Dia akan sangat berguna untukmu nanti. " jelas XiaoLi.
" Dan menurut saya, wajah anda juga tak kalah dingin dari saya, Tuan Muda. " ucapan Jack membuat XiaoLi tertawa, sementara XiaoFei sadar, apa yang dikatakan Jack memang benar.
Wajahnya memang tak kalah dingin dan jutek. XiaoFei menggaruk tengkuk lehernya yang tidak gatal.
" Maafkan aku, Jack. " ucap XiaoFei malu.
" Tidak apa-apa, Tuan Muda. " jawab Jack dengan sopan.
" Dia akan kuliah bersamamu nanti disini. Selain untuk menjagamu, dia juga harus menambah ilmu untuk bisa membantumu mengurus perusahaan nanti. Dia hanya berbeda satu tahun diatasmu. " jelas XiaoLi, membuat XiaoFei tersenyum.
" Baiklah,,, aku suka gayamu. Kau asisten sekaligus teman ku sekarang. " ucap XiaoFei.
" Terimakasih, Tuan Muda. " jawab Jack dengan setengah membungkuk.
" Hei,,, selama aku tidak berada di perusahaan, kau dilarang memanggilku Tuan Muda. " tegas XiaoFei.
" Lalu saya harus memanggil anda dengan sebutan apa, Tuan,,? " tanya Jack.
" Karena kau lebih tua dariku, kau boleh memanggilku dengan nama Fei. Sama seperti Paman Li. " jawab XiaoFei.
" Tapi,,,, "
" Aku tidak terima penolakan,,,!! " ucap XiaoFei tegas.
Jack menatap kearah XiaoLi, dan XiaoLi hanya tersenyum sambil mengangguk. Jack menghela nafas.
" Baiklah, Tuan Muda. " jawab Jack pasrah.
" Heii,,, "
" Maaf,,. Baiklah, Fei. "
" Bagus,,. Sekarang antar aku kekamar, aku lelah. " XiaoFei pun masuk kedalam, diikuti oleh Jack.
" Hah,, sejak dulu dia tidak berubah. Masih dingin dan tidak mau dipanggil Tuan Muda. " gumam XiaoLi.
XiaoLi pun beranjak masuk kedalam, menuju ruang kerjanya. Sementara XiaoFei, sudah sampai didepan kamarnya. XiaoFei membuka pintu tersebut. Dan dilihatnya, tidak ada yang berubah sejak terakhir dia datang kesana.
" Terimakasih, Jack. Kau boleh pergi. Aku ingin istirahat dulu, aku terlalu lelah. Nanti kita bicara lagi, aku ingin mendengar cerita tentangmu. " XiaoFei melangkahkan kakinya, masuk kedalam kamar.
" Baiklah, Fei. Selamat beristirahat. " ucap Jack lalu menutup pintu kamar tersebut.
XiaoFei berjalan menuju kearah jendela kamar. Kamar XiaoFei memang berada di lantai tiga. Dia membuka tirai jendela tersebut dan melihat pemandangan luar.
XiaoFei menghela nafas panjang, dan tatapannya menjadi kosong. Dia merindukan suara cerewet dan senyuman dari gadis kecilnya.
XiaoFei masih teringat kata-kata sang Paman, mengenai cinta. XiaoLi menatap gelang hitam ditangan nya.
" Benarkah aku sudah jatuh cinta padanya,,? Pada gadis kecil cerewet itu,,,? Apakah perasaan ku salah, karena jatuh cinta pada gadis kecil yang usianya beda hampir tujuh tahun dariku,,,? Tidak kah ini melewati batas,,,? " gumam XiaoFei bermonolog.
" Biarlah waktu yang menentukan nanti. " ucapnya lagi.
XiaoFei pun beranjak menuju ranjangnya. Tubuh, hati dan pikirannya terlalu lelah. XiaoFei merebahkan tubuhnya, dan memejamkan matanya. Berusaha untuk tidur dan melupakan kepenatan nya untuk sesaat.
Tak lama kemudian,, XiaoFei pun terlelap. Nafasnya terdengar teratur, dan dia memeluk guling nya erat. Entah apa yang dimimpikan nya.
*
*
*
Sementara itu ditempat lain, yang berbeda negara dan dipisahkan oleh jarak.
Mae duduk dengan santainya di sebuah batang pohon rambutan. Sesekali tangannya mengambil buah tersebut, mengupas lalu memakannya.
Namun tatapannya kosong, entah kemana. Kulit rambutan berserakan dibawah sana. Babeh Mae menatapnya dari kejauhan.
Matanya memancarkan kesedihan, dadanya sesak melihat anak perempuan semata wayangnya yang terlihat sangat tidak bersemangat dan sering melamun.
Bahkan sang Babeh pun, merindukan suara cempreng dan cerewet nya Mae. Babeh Mae menghela nafas panjang dan membuangnya kasar.
Babeh Mae meninggalkan tempat itu, dan menitipkan Mae pada salah satu anak buahnya yang sedang memanen rambutan.
" Mad,, Babeh titip Mae ye,,. Noh,, lagi nangkring diatas po'on. Babeh takut, die jatoh gara-gara kebanyakan bengong. " ucap Babeh Mae pada anak buahnya yang bernama Ahmad.
" Siap, Beh. " sahut Ahmad.
Babeh Mae kembali menatap pohon yang dinaiki Mae. Lalu Babeh Mae pun berjalan meninggalkan tempat itu sambil menghela nafas.
Kembali ke Mae,,
" Abang ganteng,,,. Abang udeh sampe ape belon,,,? Baru juga bentaran, Mae udah kangen ame Abang. Pegimane kalo Abang lama disono,,,? Au dah,, Abang masih inget Mae ape kagak,,? Nyang jelas, kalo Mae pasti bakalan inget terus ame Abang. " ujar Mae bermonolog sambil matanya menatap jauh kedepan.
Jari mungilnya, memegang kalung pemberian XiaoFei. Mae menghela nafas panjang, buliran air mengalir di pipinya tanpa bisa dicegah.
Tangan Mae kembali meraih buah rambutan yang ada di sampingnya, lalu mengupas dan memakan nya. Mae melampiaskan kesedihannya dengan makan.
*
*
*
~~ ***Bersambung,,
Jangan lupa like, vote, comment dan kopinye,,
Ditunggu ye ame Mae,,
Salam love and peace dari othor,,
❤❤❤✌✌✌***
****