Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 41 ( Benarkah ini cinta,,?)



Sementara XiaoFei sedang menggerutu dalam hati, lain lagi hal nya dengan Jack. Saat Zanza mengatakan kalau keningnya sakit karena menabrak punggung Jack, seakan menabrak dinding, membuat Jack menghentikan langkahnya.


Zanza ikut berhenti saat melihat Jack berhenti. Jack menghadapkan tubuhnya hingga mereka berdua saling berhadapan. Zanza menatap Jack dengan bingung, sementara tangannya masih mengusap keningnya.


Kedua tangan Jack tiba-tiba saja menangkup di kedua pipi Zanza, membuat Zanza tersentak kaget sambil mengerjapkan matanya berulang-ulang.


Jack melihat kening Zanza dengan intens, membuat jantung Zanza berdegup kencang. Matanya lekat menatap wajah tampan Jack, yang hanya berjarak beberapa centi saja dari wajahnya.


Bahkan, Zanza pun dapat merasakan hembusan nafas Jack. Mata Zanza beralih menatap bibir Jack, yang menurut Zanza sangat sek*si.


" Enyak,, Babeh,,,. Tolongin Zanza,,,. Bisa-bisa Zanza kena serangan jantung mendadak kalau begini caranya. Zanza ga kuat natap muka Tuan Jack lama-lama. " batin Zanza meringis.


Zanza dan Jack bahkan tidak menyadari kalau mereka sedang menjadi pusat perhatian satu kantor, karena mereka masih berada di kawasan sekitar kantin kantor.


Jack yang awalnya hanya ingin menggoda Zanza dengan melihat keningnya, justru beralih menatap wajah Zanza yang terdiam mematung karena tindakan Jack.


Jack menatap mata Zanza yang indah dan bulu mata yang cukup lentik walau tanpa bulu mata palsu. Kemudian pandangannya turun ke hidung Zanza yang kecil dan mancung.


Hingga akhirnya, netra Jack menatap bibir Zanza. Bibir mungil berwarna pink muda namun sedikit tebal, membuatnya terlihat sangat sek*si, walau tanpa lipstik.


" Si*al,,,. Kenapa aku ingin sekali merasakan bibir ini,,,? Ingin ku kecup dan sedikit **********, pasti terasa manis. " batin Jack.


Jack baru kali ini merasa aneh karena detak jantungnya yang berdebar kencang. Dan baru kali ini juga, Jack merasa tertarik dengan lawan jenis. Selama ini, dia sudah banyak menemui wanita cantik dengan tubuh yang sinyal, namun tidak satupun yang menarik perhatiannya.


Tetapi entah kenapa, sejak pertama melihat Zanza, hatinya merasa sedikit tertarik dengan kecantikannya. Ditambah lagi dengan kepolosan dan keunikannya yang hampir sama dengan gadis pujaan Bos besarnya, membuat Jack semakin ingin mengenal lebih jauh Zanza.


Mereka berdua saling tatap tanpa peduli saat ini mereka ada dimana. Hingga sebuah bunyi pesan masuk diponsel Zanza, menyadarkan mereka.


" Ehem,, ehem,,. " Jack berdeham, berusaha mengalihkan rasa malunya, sementara Zanza menunduk sambil melihat ponselnya.


Wajahnya terasa panas, dan sudah pasti pipinya memerah karena malu. Namun Zanza berpura-pura sibuk dengan ponselnya.


" Ada apa,,? Apa ada hal penting,,? " tanya Jack saat melihat Zanza yang fokus pada ponselnya.


Padahal Zanza hanya sedang berusaha mengalihkan rasa malunya. Zanza menggeleng pelan dengan wajah masih menunduk.


" Tidak ada, Tuan. Tapi saya harus segera kembali keruangan saya, karena waktu istirahat saya sudah habis. " jawab Zanza sambil berusaha menetralkan hatinya.


" Begitukah,,,? Baiklah,, ayo. "


" Emm,, tidak usah Tuan. Saya sendiri saja, lagipula saya juga ingin ke toilet sebentar. " dusta Zanza.


" Baiklah,, kalau begitu. Silahkan. "


" Terimakasih, Tuan. Kalau begitu, saya permisi. " pamit Zanza dan Jack hanya mengangguk.


Dengan setengah berlari, Zanza beranjak pergi meninggalkan Jack, lalu masuk kedalam lift. Sementara Jack hanya menatap punggung Zanza yang menjauh dan menghilang saat masuk kedalam lift.


Jack tersenyum, dan tangannya memegang da*da nya. Jantungnya masih berdetak kencang walau tidak sekencang tadi.


" Wǒ de tiān,,. Ada apa dengan diriku,,? Apakah aku tiba-tiba punya sakit jantung,,? " ucap Jack dalam hati.


( Ya Tuhan.)


Jack pun beranjak pergi dari tempat itu. Dia kemudian masuk kedalam lift, dan menekan tombol dimana ruangannya berada.


*


*


*


Sementara itu,,


XiaoFei dan Mae sudah berada didalam ruangannya. Mereka berdua masih diam semenjak mereka keluar dari dalam lift.


Mae fokus pada pekerjaannya, sementara XiaoFei sesekali melirik Mae yang sejak tadi diam dan hanya fokus pada laptopnya.


Hingga pandangannya beralih pada pintu yang terbuka dan masuklah sang asisten yang sejak tadi ditunggu nya.


" Jack,,, "


" Fei,,, " panggil mereka berbarengan.


" Kita ke ruanganku saja. " XiaoFei mengangguk dan beranjak dari duduknya.


XiaoFei mendekat kearah Jack. Lalu berhenti sesaat sebelum dia keluar ruangan.


" Mèi,,,. Aku ke ruangan Jack sebentar. " ucap XiaoFei pada Mae, membuat Mae mengalihkan pandangannya.


" Baik, Tuan. " jawab Mae, lalu kembali fokus pada laptopnya, membuat XiaoFei menghela nafas panjang.


XiaoFei pun keluar mengikuti Jack, masuk kedalam ruangan Jack. Dengan gontai, dia duduk disofa, diikuti oleh Jack.


" Kau kenapa,,? " tanya Jack, melihat wajah lemas XiaoFei.


" Entahlah. Sejak tadi dia hanya diam, sejak kejadian aku menggandeng tangannya saat keluar dari kantin. " jawab XiaoFei lesu.


" Apakah mungkin kalau dia marah, Jack,,? " tanya XiaoFei tiba-tiba.


" Entahlah,,. Tapi kenapa dia harus marah,,,? " Jack balik bertanya, membuat XiaoFei kembali menghela nafas panjang.


" Karena dia tadi sempat bercerita, kalau selama ini dia tidak pernah dekat ataupun bergandengan dengan laki-laki lain selain Babehnya. " jelas XiaoFei.


" Shì zhēn de ma,,? " XiaoFei mengangguk.


( Benarkah,,?)


" Bukankah itu bagus. " XiaoFei mengernyitkan dahinya.


" Maksudku,, Bukankah itu artinya dia benar-benar masih ori,, alias belum tersentuh sedikitpun. Sudah sangat jarang kan, ada gadis seperti itu di jaman sekarang. " jelas Jack.


" Kau benar, Jack. Wajar saja kalau dia marah,,. " sahut XiaoFei lalu menghela nafas.


" Aku akan minta maaf setelah ini. " lanjut XiaoFei. Jack mengangguk lalu tersenyum.


" Lalu,,,. Kau tadi ingin bicara apa,,? " tanya XiaoFei, yang kembali ingat tujuannya keruangan Jack.


" Ahh,, kau benar. Aku hampir lupa. " Jack menepuk dahinya. Dia mendekatkan tubuhnya pada XiaoFei.


" Aku sepertinya punya penyakit jantung. " ucap Jack dengan serius, membuat XiaoFei tersentak kaget.


" Benarkah,,,? " Jack mengangguk.


" Kau tahu dari mana,,? " tanya XiaoFei penasaran.


Jack pun bercerita. Dan tawa XiaoFei menggema diruangan Jack, setelah Jack selesai bercerita. XiaoFei bahkan memegangi perutnya. Matanya pun sampai mengeluarkan air mata, hingga membuat Jack merengut kesal.


" Cih,,,. Segitu bahagianya kau mendengar aku mempunyai sakit jantung,,. " Jack berdecih kesal.


XiaoFei berusaha meredakan tawanya, dia harus segera menjelaskan kebodohan Jack. XiaoFei menarik nafas lalu membuangnya perlahan. Dia melakukannya berulangkali, hingga tawanya berhenti, hanya menyisakan senyuman yang terlihat menggelikan.


" Bukan begitu, Kawan. Cckk,, ternyata kawanku ini benar-benar bodoh. " Jack melotot pada XiaoFei.


" Tidak usah melotot padaku, jomblo akut tapi bodoh. " gertak XiaoFei.


" Kau bukan sakit jantung,, tapi kau sedang jatuh cinta. " jelas XiaoFei.


" Shì zhēn de ma,,? " XiaoFei mengangguk.


(Benarkah,,? )


" Sebenarnya aku sempat berpikir seperti itu tadi, hanya saja,, aku sedikit ragu. " ucap Jack.


" Cih,,,. Dulu kau sok mengajariku, mengatakan kalau yang aku rasakan pada Mae selama aku di China itu adalah perasaan cinta. Tapi ternyata,,,, cckk,, cckk,,, cckk,,, " XiaoFei menggelengkan kepalanya.


" Dasar,, sok tahu. " ejek XiaoFei.


Jack terdiam, kembali memikirkan ucapan XiaoFei yang mengatakan kalau dia sudah jatuh cinta pada Zanza, yaitu sahabat dari gadis pujaan sang Bos.


" Benarkah,,? " Jack bertanya-tanya dalam hati.


Jack merasa kalau ini terlalu cepat, kalau dibilang cinta. Mereka baru beberapa kali bertemu dan baru saling mengenal,, bahkan belum ada satu bulan. Jack merasa tidak yakin.


" Bila kau tidak percaya dengan ucapanku,, kau bisa mencari tahu itu di internet. " ucap XiaoFei seakan bisa membaca apa yang pikirkan Jack.


" Aku pergi,,,. Aku ingin minta maaf pada Mae. " lanjut XiaoFei seraya beranjak keluar dari ruangan Jack.


" Benarkah,,,? " gumam Jack tanpa menjawab ucapan XiaoFei.


XiaoFei hanya tersenyum melihat asistennya yang sedang galau karena baru pertama merasakan apa itu cinta. Ya,, tidak beda jauh dengan dirinya.


XiaoFei masuk kedalam ruangannya, dan melihat sosok Mae yang masih fokus dengan pekerjaannya. XiaoFei mendekat dengan perlahan.


"Mèi,, " panggil XiaoFei, membuat Mae mengalihkan pandangannya.


" Ya, Tuan. "


" Duìbùqǐ,,, " ucap XiaoFei penuh sesal.


( Maafkan aku.)


" Hahh,,,? " Mae melongo, seketika XiaoFei menepuk dahinya.


" Maksudku,,, Aku minta maaf. "


" Untuk apa, Tuan,,? " tanya Mae.


" Untuk kekurang ajaran sikapku yang sudah memegang dan menggandeng tanganmu tanpa ijin. Maafkan aku,,, " jelas XiaoFei.


Untuk sesaat Mae terdiam, namun sedetik kemudian dia tersenyum.


" Tidak apa-apa, Tuan. Saya saja yang terlalu kolot. Saya juga minta maaf. " jawab Mae.


" Bukan begitu maksudku, Mèi. "


" Tidak apa-apa, Tuan. Saya tidak marah. " potong Mae cepat, membuat XiaoFei menghela nafas panjang.


" Baiklah,, Terimakasih,, " Mae mengangguk.


XiaoFei dengan terpaksa kembali ke meja kebesarannya, setelah dia melihat Mae kembali sibuk pada pekerjaannya.


XiaoFei menatap Mae sesaat sebelum akhirnya dia mulai kembali fokus pada pekerjaannya. Ruangan itu kembali sunyi, hanya terdengar bunyi suara keyboard dari meja masing-masing.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.


Harap bersabar untuk Bab selanjutnya. Terimakasih untuk yang masih setia di cerita receh ku ini,,


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌**


***