Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 34 ( Panggilan yang sama.)



Sore harinya,,


Jam pulang kantor akhirnya tiba. Hampir semua karyawan beranjak pulang. Walau ada juga beberapa karyawan yang harus lembur.


Mae kini berada ditempat parkir dan sedang menuju ketempat motornya berada. Hingga sebuah suara cempreng memanggil namanya, membuatnya mendengus kesal.


" Mae,,,!!! Tungguin gue,,!! " teriak Zanza dengan kencang.


" Berisik loe, Zenab,,!! Suara loe kayak toak masjid. " seru Mae tak kalah kencang.


Sementara sepasang mata menatap mereka dari kejauhan sambil mengulum senyumnya. Bahkan kepalanya menggeleng-geleng karena melihat kedua gadis yang berteriak macam tarzan.


" Benar-benar unik. " gumamnya pelan.


Sebuah tepukan di bahunya membuat orang itu tersentak kaget.


" Siapa yang unik,,? " tanya seseorang yang baru saja tiba, yang tak lain dia adalah XiaoFei.


Jack menoleh kearah XiaoFei lalu menunjuk kearah Mae dan Zanza dengan dagunya. XiaoFei mengikuti, dan sesaat kemudian senyumnya mengembang.


" Mereka berdua. Selain unik, nama mereka juga lucu. Yang satu Mae dan yang satu lagi Zenab. " Jack sampai terkekeh sendiri, hingga sebuah pukulan kecil mengeplak kepalanya.


" Gadis unik yang bernama Mae itu calon istri Bos mu. Kau harus sedikit sopan padanya. " ucapan XiaoFei membuat Jack berdecih kesal.


" Cih,,, baru calon istri, belum menjadi istri. Lagipula, belum tentu Mae mau dengan mu, beruang kutub. "


" Dasar asisten ga ada akhlak,, mungkin hanya kau satu-satunya asisten yang berani menjawab pada atasannya. " gerutu XiaoFei lalu berjalan mendekati Mae dan Zanza yang sudah nangkring diatas motornya.


Mae yang baru saja ingin menyalakan mesin motornya, sontak menghentikan niatnya, saat melihat seseorang datang mendekat padanya sambil tersenyum.


Mae merasa tersihir dengan senyuman XiaoFei, dia pun membalas senyuman XiaoFei. Hingga sebuah tepukan di punggung nya, membuatnya meringis.


" Suee loe,, Zenab. Sakit monyong,,,. " seru Mae sambil menoleh kearah Zanza, lupa dengan kehadiran XiaoFei. Sementara Jack yang berada dibelakang XiaoFei, kembali berusaha menahan tawanya.


" Lagian loe,, lama banget kagak jalan-jalan nih motor. " sahut Zanza.


Mae sontak teringat dengan kehadiran XiaoFei. Dia kembali menoleh kearah XiaoFei yang masih tersenyum padanya, hingga membuatnya malu.


" Hai,,,. " sapa XiaoFei.


" Selamat sore Tuan Fei,, dan Tuan Jack. " sapa Mae dan membuat Zanza melihat kearah XiaoFei dan Jack.


Zanza hanya bisa tersenyum kaku, karena malu. Mereka berdua pasti mendengar ucapan Zanza dan Mae.


" Selamat sore juga,, emmm... " XiaoFei berpura-pura tidak mengetahui nama Mae dan Zanza. Mae tersentak karena baru ingat kalau dia lupa menyebutkan namanya tadi pagi.


" Oh iye,, lupa. Nama saya Hafsa dan ini Zanza. Dia sahabat saya sekaligus teman satu magang, Tuan Fei. "


" Oh begitu,,. Selamat sore Zanza. " sapa XiaoFei.


" Se- selamat sore juga, Tuan. " balas Zanza gugup.


" Tapi bukannya namamu itu Mae,,? Tadi pagi kau menyebut dirimu Mae. " tanya XiaoFei masih berpura-pura.


Mae nyengir sambil menggaruk tengkuk lehernya. Dia salah tingkah.


" Maap, Tuan. Tadi pagi saya keceplosan. Mae itu nama panggilan saya untuk orang-orang terdekat saya. " jelas Mae.


" Ohh,,. Jadi karena aku bukan orang terdekatmu, makanya namamu Hafsa, begitu,,? " XiaoFei mengganti sebutannya dari saya menjadi aku.


Mae mengangguk pelan. Dia takut XiaoFei marah dan tersinggung. Namun diluar dugaan Mae, XiaoFei justru tersenyum sambil menganggukan kepalanya.


" Karena aku tidak boleh memanggilmu Mae, bagaimana kalau memanggilmu dengan panggilan Mèimei,,,? ".


Mae tersentak kaget, saat XiaoFei mengucapkan kalimat itu. Untuk sesaat, Mae kembali teringat abang gantengnya. Karena yang memanggilnya seperti itu hanya abang gantengnya.


XiaoFei menjentikkan jarinya didepan wajah Mae agar dia tersadar dari lamunannya. Mae pun tersadar, dia menatap XiaoFei dengan tatapan yang sulit dimengerti.


" Boleh,, Mèi,,,? " tanya XiaoFei.


Entah kenapa hati dan tubuh Mae tidak singkron. Hatinya mengatakan tidak boleh, karena panggilan itu hanya untuk abang gantengnya. Tapi tubuhnya berkata lain, dia menganggukan kepalanya.


XiaoFei kembali tersenyum. Hatinya benar-benar bahagia.


" Xièxiè Mèi,,, " Mae dan Zanza hanya bengong mendengar ucapan XiaoFei.


( Terimakasih, Mei.)


Mae mengedip-ngedipkan matanya sementara Zanza melongo. Mereka tidak mengerti arti dari kata yang diucapkan XiaoFei.


XiaoFei menoleh dan menatap Jack tajam, seakan bertanya, ada apa,,?. Jack balik menatap XiaoFei, seakan menjawab, mereka tidak mengerti ucapan mu, bodoh.


XiaoFei kembali menoleh kearah Mae dan Zanza, dan mulai mengerti dari tatapan Jack.


" Maksudku,, Terimakasih, Mèi. " ralat XiaoFei.


Mae dan Zanza menganggukan kepalanya, dan kemudian tersenyum.


" Kalau begitu, kami permisi, Tuan Fei, Tuan Jack. " pamit Mae.


Hatinya masih galau. Kenapa tadi dia menganggukan kepalanya begitu saja,,?.


" Silahkan, Mèi. " jawab XiaoFei.


" Silahkan Nona Hafsa dan Zanza. Hati-hati dijalan dan jangan ngebut. " Jack menekankan kata jangan ngebut, membuat XiaoFei melotot kearahnya.


" Terimakasih, Tuan Jack. Kami permisi,, " Jack dan XiaoFei mengangguk.


Mae pun menyalakan mesin motornya, dan mulai melajukannya meninggalkan tempat parkir.


XiaoFei memukul bahu Jack dengan cukup keras, hingga membuatnya meringis setelah motor Mae menghilang dari pandangan mereka.


" Apa maksud ucapanmu tadi, Jack,,? " tanya XiaoFei tegas.


" Ckk,,, saya hanya berusaha menyelamatkan calon istri Anda, Tuan Fei. Dengan mengingatkannya supaya tidak ngebut. " mendadak ucapan Jack menjadi sedikit formal karena kesal dengan pukulan yang XiaoFei berikan.


" Cih,,, sok peduli. " sahut XiaoFei.


" Tentu saja, aku peduli, Fei. Apa kau mau menjadi duda bahkan sebelum menikah,,? " celetuk Jack membuat XiaoFei melotot kearahnya, sementara Jack merasa tidak peduli.


Dia pun melangkahkan kakinya menuju tempat parkiran khusus mobilnya. XiaoFei masuk kedalam mobilnya, diikuti oleh Jack.


" Kita ke apartemen, Fei,,? " tanya Jack seraya melajukan mobilnya keluar dari parkiran itu.


XiaoFei hanya mengangguk, dia menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Senyum masih menghiasi bibir XiaoFei, saat dia memejamkan matanya. Dia sedang mengingat kejadian tadi.


" Fei,,, . " panggil Jack.


" Hemm,,,. " XiaoFei hanya menyahuti Jack dengan berdeham.


" Bukankah nama teman dari Nona Mae adalah Zanza,,? Mengapa tadi Nona Mae memanggilnya Zenab,,? " tanya Jack bingung.


" Mungkin itu panggilan akrabnya Mae pada Zanza. Sama seperti hal nya Mae, yang memperkenalkan dirinya dengan nama Hafsa sementara yang aku tahu namanya Mae. "


Jack mengangguk-anggukan kepalanya mengerti dengan penjelasan XiaoFei. Dia pun kembali fokus pada jalanan.


" Kau ingin mampir untuk membeli makanan atau memesan online,,? Atau mungkin kau ingin memasak,,? " tanya Jack lagi.


XiaoFei membuka matanya dan menatap lurus kedepan. Dia diam, berpikir untuk sesaat.


" Kita pesan online saja. Entah kenapa, tiba-tiba aku ingin makan ikan nila goreng. " jawab XiaoFei kemudian.


Jack menoleh seketika kearah XiaoFei, namun sesaat kemudian kembali fokus menyetir.


" Baiklah,,. " sahut Jack singkat.


Dia melajukan mobilnya kembali pulang ke apartement. XiaoFei ingin menikmati kesendiriannya, sambil memeluk tas kain pemberian Mae dan mengenang masa lalu.


*


*


*


~~ ***Bersambung,,


Maaf cuma sedikit, otak othor lagi buntu. Dan harusnya othor up nya semalam. Tapi baru ngetik setengah, othor udah ketiduran. Jadinya othor lanjut siang deh,, setelah kerjaan rumah udah kelar.


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak. Lope lope sekebon kopi.


Salam love and peace dari othor,,


❤❤🙏🙏***


**