
Seketika suasana berubah gara-gara Jack dan Babeh Mae. XiaoLi dan Tuan Wang hanya bisa terkekeh. Sementara XiaoFei menatap tajam Jack.
" Berani sekali kau menghina calon mertuaku, Jack...!! " ucap XiaoFei tegas dan tanpa sadar keceplosan.
Membuat beberapa pasang mata sontak menatap XiaoFei penuh tanya. Mereka adalah Babeh Mae, Tuan Wang dan juga XiaoLi. Sementara Jack hanya cengengesan, karena XiaoFei yang masih belum sadar karena sudah keceplosan.
" Ekhem,,, " XiaoLi berdehem membuat XiaoFei menoleh menatap sang Paman. XiaoFei masih belum sadar akan ucapannya barusan.
" Paman kenapa,,? " tanya XiaoFei. Jack mendekatkan wajahnya pada XiaoFei dan kemudian berbisik.
" Kau baru saja keceplosan, Fei. " bisik Jack, membuat XiaoLi mendelik seketika.
XiaoFei menutup wajahnya dengan satu tangannya. Menutupi wajahnya yang memerah karena malu. XiaoLi dan Jack terkekeh, sementara Babeh Mae dan Tuan Wang masih berusaha mencerna ucapan XiaoFei.
" Emm,,,. Maksud ucapan loe ape ye, Fei,,? Babeh salah denger ape loe nyang salah ucap,,? " tanya Babeh Mae dengan wajah bingungnya.
Babeh Mae bergantian menatap XiaoFei dan juga Jack, menanti penjelasan salah satu dari mereka. XiaoFei diam masih dengan menutup wajahnya sementara Jack cengengesan melihat tingkah XiaoFei.
" Tidak, Beh. Babeh kagak salah dengar. Fei juga tidak salah ucap. Apa yang Babeh dengar barusan itu, benar. " sahut Jack masih cengengesan.
XiaoFei seketika menurunkan tangannya lalu menatap Jack dengan tajam. Bahkan matanya melotot, bukannya takut, Jack justru tertawa.
" Biar Fei aja yang jawab, Beh. Jack takut kesalahan bicara. " ucap Jack.
" Jelasin ame Babeh, Fei. " tegas Babeh Mae.
" Jelaskan juga pada Yéyé, Fei. " ucap Tuan Wang seraya berdiri dan mendekat kearah XiaoFei dan Babeh Mae.
XiaoFei masih terdiam dan menarik nafas panjang untuk sesaat, lalu menatap XiaoLi. Dan sang Paman pun mengangguk, karena teringat akan seorang gadis yang pernah XiaoFei ceritakan namun tidak pernah menyebut nama saat baru saja tiba di China sepuluh tahun yang lalu.
XiaoFei kembali melihat kearah Babeh Mae dan Tuan Wang yang kini berdiri dihadapannya, meminta penjelasan. XiaoFei kembali menarik nafas panjang sebelum akhirnya menjelaskan pada kedua pria tua yang ada di hadapannya.
" Dulu memang Fei hanya menganggap Mae sebagai Adik saat pertama kali bertemu. Sampai akhirnya Fei pergi ke China dan disana Fei baru menyadari perasaan Fei yang sebenarnya. Awalnya Fei sempat menyangkalnya, karena Fei pikir Fei hanya kesepian karena tidak ada Mae dan Fei hanya rindu padanya. "
" Namun ternyata, setelah sepuluh tahun berlalu, bayangan Mae tidak bisa hilang dari pikiran Fei. Dan nama Mae sudah tertulis dalam hati Fei. Oleh karena itu, selama di China, Fei tidak pernah sekali pun berhubungan dengan wanita manapun. Bahkan sampai ada gosip kalau Fei itu menyimpang karena kemana-mana selalu bersama Jack. "
" Padahal pada kenyataannya, hati Fei sudah tertutup untuk wanita lain. Hingga akhirnya Fei kembali kesini dan tanpa sengaja kembali bertemu dengan Mae, ditempat pertama kali kami bertemu. Hanya saja Mae tidak mengenali Fei, karena saat itu Fei menggunakan helm. Dan saat Fei pun pura-pura tidak mengenali Mae. "
" Awalnya Fei juga tidak mengenali Mae. Namun di satu kejadian saat Mae hampir terserempet mobil, dan tanpa sengaja Fei melihat kalung yang dipakai Mae. Itu adalah kaling pemberian Fei, sebelum Fei pergi. Sejak saat itu, Mae dipindah tugaskan menjadi asisten Fei. "
" Dan semakin hari, rasa dihati Fei semakin besar karena setiap hari bertemu dengan Mae. Hingga,,,, " XiaoFei menghentikan ceritanya.
" Hingga ape, Fei,,? " tanya Babeh Mae dengan tidak sadar.
XiaoFei menatap sendu Babeh Mae dan kemudian menundukkan kepalanya.
" Hingga akhirnya, Mae tau kalau Fei adalah si Abang gantengnya. Mae marah,,. Fei sudah berusaha menjelaskan. Bahkan saat itu pun Fei sudah ingin mengungkapkan perasaan Fei yang terpendam selama ini. Namun sebelum Fei menjelaskan, Mae sudah terlanjur marah, sangat marah. Dan dia juga berteriak kalau dia membenci Fei, karena Fei merahasiakan siapa Fei sebenarnya. "
" Saat Mae bilang kalau dia membenci Fei, saat itu juga Fei merasa shock dan hati Fei terasa sakit,, sangat sangat sakit. Bahkan Fei sampai tidak sadar kalau Mae sudah berlari, menjauh dari Fei. Fei tersadar, saat mendengar suara rem mobil menabrak sesuatu dan banyak orang berkerumun. Dan ternyata dia adalah Mae. "
XiaoFei mengakhiri ceritanya, Babeh Mae dan Tuan Wang menatap XiaoFei yang menangis. Babeh Mae mengepalkan kedua tangannya, menahan marah.
" Maafkan Fei, Beh. Fei sadar, kalau ini semua salah Fei. Fei yang sudah membuat Mae celaka. " ucap XiaoFei dengan suara yang mulai serak karena menangis.
Babeh Mae yang awalnya ingin marah dan ingin memukul XiaoFeipun mengurungkan niatnya, saat teringat XiaoFeiyang selalu menjaga dan sangat mengkhawatirkan keadaan Mae. Dia pun juga menatap kondisi XiaoFei saat ini. Benar-benar sangat kacau.
Penampilannya walaupun bagi orang lain masih bisa dibilang rapi, tapi bagi seorang keturunan keluarga Lin,, itu seperti tidak terurus. Wajahnya yang terlihat pucat, mata yang sembab karena menangis. Dan jangan lupakan lingkaran hitam di bawah mata XiaoFei serta rambut halus yang mulai tumbuh diatas dan dibawah bibir.
Babeh Mae menghela nafas panjang. Dia mendekat pada XiaoFei dan menepuk pelan bahunya.
" Sekali lagi, maafkan Fei, Beh. " lirih XiaoFei sambil terisak.
Hatinya sakit,,, benar-benar sakit. Dan dadanya terasa sesak, nyeri hingga terasa susah untuk bernafas.
" Iye,, iye,,. Udeh Babeh maapin. Ini semue kagak sepenuhnye saleh loe. " ujar Babeh Mae kembali menepuk-nepuk bahu XiaoFei.
Tuan Wang hanya terdiam sejak tadi. Sungguh miris kisah percintaan cucunya itu. Sama-sama saling mencintai tapi masih belum sadar dan belum saling terbuka, namun sudah mendapat cobaan.
Tuan Wang kembali duduk disamping ranjang Mae. Dan tangannya kembali menggenggam tangan mungil Mae. Seakan dia tengah menyalurkan kekuatan serta kasih sayangnya untuk Mae.
Tangan yang satu lagi mengusap kepala Mae lembut. Ditatap nya wajah Mae dengan sendu. Tuan Wang menarik nafas panjang.
" Bukalah matamu, cucuku. Kakek ingin mendengar suaramu yang memanggilku Yéyé. Apa kau tidak ingin tahu kalau kau masih mempunyai seorang kakek,,? " Tuan Wang berdo'a dalam hatinya.
XiaoFei sudah merasa sedikit lebih tenang karena sudah mendapatkan maaf dari Babeh Mae. Kini hanya tinggal berharap agar Mae dapat segera membuka matanya, dan dia juga berharap mendapatkan kata maaf dari Mae.
XiaoFei menatap tubuh Mae yang masih diam terbaring diatas ranjang. Suasana didalam kamar Mae seketika hening,, hanya terdengar suara yang keluar dari salah satu alat yang berada di samping ranjang Mae.
" Emm,, Paman Li,, Fei,, Tuan Wang dan juga Babeh,,. Saya permisi,, harus segera kembali ke kantor. " pamit Jack tiba-tiba,, memecah keheningan didalam kamar itu.
" Baiklah, Jack. " sahut XiaoLi dan Tuan Wang berbarengan.
" Iye, Jek. Makasih ye,, buat semuenye. " ucap Babeh Mae.
" Hmm,, aku serahkan semua urusan kantor padamu, Jack. " ujar XiaoFei dengan suaranya yang sedikit serak.
" Kau tenang saja. Fokuslah pada Mae dulu. " sahut Jack sambil menepuk bahu XiaoFei.
" Xièxiè,,, " lirih XiaoFei.
( Terimakasih,,)
" Bù kèqì,,, " sahut Jack, lalu keluar dari kamar Mae.
( Sama-sama,,)
Tugas dikantor masih menunggunya, dan itu tidak sedikit. Jack pergi setelah dia menghela nafas panjang lalu pergi meninggalkan rumah sakit.
Sebenarnya Jack merasa sedikit lelah karena harus mondar-mandir kantor dan rumah sakit, saat ada beberapa berkas yang harus ditandatangani langsung oleh XiaoFei. Namun dia berusaha untuk tidak menunjukkannya pada XiaoFei ataupun Babeh Mae.
" Semoga Mae segera bangun dari tidur panjangnya. Kasihan Fei dan juga Babeh. Bahkan kini ada Tuan Wang yang ternyata adalah Kakek kandung Mae. Hahh,,, semoga semua berakhir dengan baik-baik saja dan bahagia. " Jack berdo'a dalam hatinya, sambil menyetir mobil.
*
*
*
Maaf cuma sedikit,,
Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya, Kakak.
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌**