Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 49 ( Tuan Wang )



Jack melihat kearah XiaoFei yang masih menunduk sambil menutup wajahnya. Bahu XiaoFei sedikit bergetar. Dia tahu, kalau Bos nya itu sedang menangis.


Jack tahu dengan sangat, perjuangan cinta yang dipendam sang Bos selama sepuluh tahun ini. Bahkan sampai sekarang, masih belum terungkapkan seluruh rasa itu.


Mae ditempatkan di ruang ICU. Tidak boleh ada yang menemani,, dan hanya satu per satu yang diperbolehkan untuk melihatnya. Itu pun hanya beberapa menit saja.


XiaoFei merasa dunianya seakan runtuh seketika. Belahan hati dan jiwanya kini sedang berjuang untuk hidup. Dan XiaoFei merasakan penyesalan yang teramat sangat atas yang menimpa sang pujaan hati.


Andai,,, dia jujur sejak awal pada Mae.


Andai,,, dia selalu memberikan kabar pada Mae.


Andai,,, dia mengungkapkan perasaannya yang sebenarnya pada Mae.


Andai,,, Andai,, dan masih banyak Andai yang ada dia dalam pikiran XiaoFei.


Babeh Mae masih terdiam dan berdiri didepan pintu ruang ICU, dengan lesu dan mata yang sembab. Tangannya memegang kaca pintu ruangan itu. Sementara, XiaoFei duduk di kursi tunggu sambil menatap Babeh Mae dengan sendu.


Dirinya semakin merasa amat sangat bersalah. Jack dan Zanza masih setia menemani XiaoFei. Sementara Mommy XiaoYue, Daddy Jimmy serta kedua adik kembar XiaoFei, yaitu XiaoWu dan XiaoZhan memilih untuk pulang.


Tangan Jack masih menggenggam erat tangan Zanza, seakan menyalurkan kekuatan agar Zanza bisa tetap kuat dan tidak menangis lagi.


" Jack,,,. " panggil XiaoFei dengan suara lirih dan sedikit serak.


" Hmm,,, " Jack hanya menjawab dengan berdeham.


" Carikan dokter terbaik untuk merawat dan mengobati Mae. Bahkan kalau perlu, datangkan langsung dari luar negeri. " perintah XiaoFei, masih dengan wajah tertunduk sedih.


" Baiklah. " jawab Jack dan terdiam untuk sesaat.


Jack kembali menatap XiaoFei yang kembali melihat kearah pintu ruang ICU,, dan bertanya dengan sedikit ragu.


" Nǐ hái hǎo ma,,? "


( Kau tidak apa-apa,,?)


" Hmm,,, " jawab XiaoFei lirih dan dapat terlihat tatapan matanya yang kosong. Jack menghela nafas lesu.


Dia tau, bos sekaligus sahabatnya itu sedang tidak baik-baik saja.


" Kau mau kupesankan makanan,,,? " tanya Jack lagi. XiaoFei hanya menggeleng.


XiaoFei kemudian beranjak dari duduknya dan menghampiri Babeh Mae.


" Beh,,,. Sebaiknya Babeh pulang dan beristirahat. Biar Fei yang menunggu disini. " ujar XiaoFei pada Babeh Mae.


" Tapi Fei,,,. Mae,,, "


" InshaAllah,, Mae pasti kuat. Dan bisa melewati masa kritisnya. Dan bisa segera sadar dari koma nya. " lanjut XiaoFei berusaha meyakinkan Babeh Mae dan membujuknya untuk istirahat.


Walau dalam hati kecilnya, XiaoFei juga merasa pesimis akan kesembuhan Mae,, namun dia berusaha untuk tidak menunjukkan nya dengan bersikap tegar.


Babeh Mae menghela nafas panjang untuk sesaat lalu kembali menatap pintu ruang ICU tersebut, ruangan dimana Mae sedang berjuang untuk tetap hidup. Kemudian Babeh Mae menganggukkan kepalanya.


" Ya udeh,, Babeh pulang. Babeh titip Mae ya, Fei. Kalo ade ape-ape,, loe kabarin Babeh, ye. " ujar Babeh Mae dengan lesu.


" Itu pasti, Beh. " XiaoFei kemudian menoleh kearah Jack.


" Jack,,. Antarkan Babeh pulang. " perintah XiaoFei.


Baru saja Jack dan Zanza ingin beranjak dari duduknya, suara Babeh Mae kembali terdengar.


" Ehh,, kagak usah, Fei. Biar Babeh pulang sendiri aje. Kasian si Jek pasti capek. "


" Engga apa-apa, Beh. Saya ga capek kok. Lagipula saya juga mau antar pulang Zanza. " sahut Jack.


" Beneran nih,,, kagak ngerepotin,,? " tanya Babeh Mae.


" Bener, Beh. " tegas Jack.


" Ya udeh deh,, Babeh ikut loe, Jek. "


Babeh Mae kembali melihat kearah pintu ruang ICU.


" Babeh titip Mae ya, Fei. " lirih Babeh Mae.


" Iya, Beh. " sahut XiaoFei.


" Tanpa Babeh minta pun,, Fei akan menjaga Mae. Mulai saat ini dan mulai detik ini. " batin XiaoFei.


Babeh Mae, Jack dan Zanza pun pergi meninggalkan XiaoFei sendiri yang setia menunggu Mae. XiaoFei menghela nafas panjang sambil menatap pintu ruang ICU.


*


*


*


Waktu berlalu dengan cepat. Tak terasa sudah seminggu, Mae masih tertidur dalam komanya. Namun Mae sudah melewati masa kritisnya. Hanya saja,, Mae masih ingin tertidur dan masih tidak mau bangun.


XiaoFei masih dengan setia menunggu Mae sadar dari komanya. Dia sangat berharap, saat Mae membuka mata, yang pertama kali dilihatnya adalah dirinya.


XiaoFei duduk di kursi samping ranjang Mae. Tangannya mengenggam tangan Mae. Hatinya terasa perih setiap kali dia melihat Mae dengan berbagai alat yang menempel pada tubuhnya.


Semua urusan kantor, XiaoFei serahkan pada Jack. Sementara semua keperluan XiaoFei, selalu diantar oleh Mommy XiaoYue atau XiaoWu.


*


*


*


Sementara itu,, di negara nun jauh disana, tepatnya di negara China.


Seorang pria paruh baya sedang duduk berhadapan dengan cucu dari Tuan besarnya yaitu Lin XiaoLi.


# Percakapan disini seharusnya menggunakan bahasa Mandarin. Hanya saja,, othor ribet kalau harus men-translete nya. Semoga reader dapat mengerti.


" Ada apa Tuan Muda memanggil saya,,? " tanya pria paruh baya tersebut yang tak lain adalah Tuan Wang.


" Paman,,,. Berapa kali Li harus bilang,, jangan panggil Li Tuan Muda. " tegas XiaoLi, yang membuat Tuan Wang terkekeh.


Pria tua yang masih terlihat gagah itu duduk bersandar dikursinya.


" Baiklah, Li. Ada apa hingga kau memanggil pria tua ini datang kesini,,? " tanya Tuan Wang.


Wajah XiaoLi berubah serius, membuat Tuan Wang mengerutkan dahinya.


" Ada apa ini,,? Sepertinya cukup serius. " batin Tuan Wang bertanya-tanya.


" Paman,,,. Sebelumnya Li ingin bertanya. Apa Paman tahu kalau Renata pernah menikah dengan orang Indonesia,,? " tanya XiaoLi yang sontak membuat Tuan Wang terkejut.


" Apa maksudmu, Li,,,? " Tuan Wang justru balik bertanya.


XiaoLi menarik nafas panjang sebelum dia menjelaskan.


" Semua berawal saat dulu Paman dan Kakek datang berkunjung ke Indonesia untuk memenuhi undangan dari besan Kakek yaitu Tuan Dirgantara, tepatnya 23 tahun yang lalu. Apa Paman ingat,,,? "


Tuan Wang terdiam untuk sesaat dan berusaha untuk mengingat kembali kejadian yang sudah sangat lama itu. Dan kemudian Tuan Wang mengangguk.


" Iya, Paman sudah ingat. Lalu,,? "


" Bukankah Renata ikut,,? " XiaoLi balik bertanya.


Tuan Wang kembali mengangguk. XiaoLi pun mulai menceritakan bagaimana Renata bisa menikah disana tanpa sepengetahuan Tuan Wang, hingga dia mempunyai anak namun kemudian ditinggal pergi.


Cukup lama waktu yang diperlukan untuk XiaoLi bercerita dari awal hingga kejadian saat ini, yaitu Mae koma.


Tuan Wang memegang dadanya yang tiba-tiba terasa sakit dan sesak. XiaoLi yang menyadari nya, menjadi cemas.


" Paman,,. Apa kau tidak apa-apa,,? " tanya XiaoLi khawatir.


Saat XiaoLi ingin berdiri dan mendekat, Tuan Wang mengangkat tangannya, membuat XiaoLi mengurungkan niatnya.


" Paman tidak apa-apa. Paman hanya terkejut dan sama sekali tidak menyangka kalau Renata, anak Paman bisa sampai sekejam itu. Dimana hati dan pikirannya sebagai seoarang Ibu,,?. Bahkan sampai saat ini, dia seperti tidak pernah mengingat sama sekali tentang anaknya. " lirih Tuan Wang.


Terlihat jelas kesedihan di wajah tuanya. XiaoLi menghela nafas panjang.


" Lalu bagaimana keadaan cucuku sekarang, Li,,? " tanya Tuan Wang, membuat XiaoLi kembali menghela nafas panjang.


" Masih sama, Paman. Dia masih dalam keadaan koma. " jawab XiaoLi sendu.


Keluar air dari sudut mata tua Tuan Wang. Cucunya sedang berjuang untuk bertahan hidup,, sementara dia sebagai Kakek kandungnya sama sekali baru mengetahui keberadaan nya.


" Paman ingin kesana, Li. " tegas Tuan Wang.


" Baiklah, Paman. Li akan mengantar Paman. Dan Li mendapatkan kabar ini dari XiaoYue, Paman. " Tuan Wang mengangguk.


" Satu jam lagi, kita berangkat, Paman. Li sudah menyiapkan jet pribadi milik Kakek. Kita bersiap dahulu. "


" Baiklah,,. Paman akan langsung ke Bandara. Paman akan menghubungi orang rumah untuk membawakan keperluan Paman selama disana. " XiaoLi mengangguk.


Mereka pun segera bergegas pergi menuju Bandara. Tuan Wang sudah tidak sabar untuk bertemu dengan cucu perempuan satu-satunya di keluarga Wang. Karena semua cucunya adalah laki-laki.


Tuan Wang pun tak berhenti berdo'a untuk kesembuhan cucunya, yang sedang berjuang untuk sadar dari komanya.


" Mae,,,. Děng děng Yéyé. " batin Tuan Wang.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa untuk tinggalkan jejaknya.


Terimakasih dan


Salam love and peace dari othor,,


❤❤❤✌✌**


***