Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 29 ( Gadis itu, Mae.)



**Assalamu'alaikum,, dan selamat malam epribadeh,,


Sorry,, othor baru bisa up malem. Othor baru abis jadi Ijah dulu,, maklum emak-emak. Kerjaan di dunia nyata banyak menanti,, Harap maklum ye,,


Happy reading guy's**,,


*


*


*


Hari berganti,, matahari pun mulai beranjak kembali ke peraduan. Perlahan namun pasti, para karyawan mulai beranjak pulang. Begitupun dengan Mae dan Zanza. Mereka pulang setelah seharian berkerja di perusahan Lin,, perusahaan besar dan berkuasa.


Zanza menopang tubuh Mae dan membantunya berjalan keluar kantor. Zanza menuntunnya kearah parkiran motor.


" Loe yakin bisa pulang bawa nih motor,,? " tanya Zanza sedikit khawatir. Mae tersenyum lalu mengangguk pasti.


" Iye,, gue yakin. Haqqul yakin,, gue sanggup bawa nih motor. " Mae berusaha meyakinkan.


" Ya udah,, gue tungguin loe sampe keluar dari sini dulu baru gue ikutan pulang. " jawab Zanza pasrah.


Mae pun naik keatas motornya,, dan menyalakan mesinnya. Mae melambaikan tangannya sebelum melajukan motornya. Zanza membalas lambaian tangan Mae.


Mae pun segera melajukan motornya, pergi meninggalkan perusahan Lin. Tentu saja dengan kecepatan pelan. Dia tidak mau mengambil resiko.


Pulang dengan keadaan seperti ini saja, sang Babeh pasti langsung nangis bombay,, apalagi kalau sampe Mae ngebut dan tambah celaka,, bisa berabe urusannya.


Bisa-bisa si Babeh datang ke perusahan sambil nyerocos tidak jelas. Menyalahi mereka padahal mereka tidak tahu menahu dengan kejadian yang menimpa Mae.


Karena mencari aman,, Mae membawa motornya perlahan, pulang menuju rumahnya. Untung saja tadi Zanza sempat mengobati luka-lukanya, hingga sedikit berkurang rasa sakit dan nyeri nya.


Sementara itu,,


XiaoFei di ruangannya masih menanti kedatangan Jack, yang sedang menyelidiki siapa gadis yang hampir tertabrak tadi.


Sebenarnya, XiaoFei bisa saja membawa gadis itu ke rumah sakit,, namun karena gadis itu bilang tidak apa-apa, maka XiaoFei tidak bisa memaksa.


Bukannya XiaoFei Bos yang kejam, hanya saja gadis itu kekeh bilang tidak apa-apa. Ya, XiaoFei hanya bisa menghargai keputusan gadis itu.


Beberapa saat kemudian, Jack masuk kedalam ruangan XiaoFei tanpa mengetuk. Dan XiaoFei tahu, selain Jack dan sang Mommy, tidak akan ada orang lain yang berani.


" Ini biodata lengkap gadis tadi, Fei. " Jack menyerahkan beberapa kertas pada XiaoFei.


XiaoFei segera mengambilnya dan membacanya dengan cepat. Sesaat kemudian,, XiaoFei menghela nafas panjang sambil menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi.


Raut wajahnya pun berubah, membuat Jack menatap XiaoFei sambil mengerutkan dahinya.


" Kau kenapa,,,? " tanya Jack penasaran dengan perubahan wajah XiaoFei.


XiaoFei tiba-tiba tersenyum kecut, namun matanya terlihat sendu.


" Ternyata itu dia, Jack. Dia Mae-ku. " lirih XiaoFei.


" Mae,,? " ulang Jack, dan XiaoFei mengangguk.


" Maksudmu,, si gadis kecil itu,,? " XiaoFei mengangguk lagi.


" Kau yakin,,,? " XiaoFei mengangguk untuk kesekian kalinya.


" Tapi untuk lebih meyakinkan hatiku,, kita datangi alamat ini. " Jack melihat sekilas alamat yang tertera di kertas itu, lalu mengangguk.


" Baiklah,, kita berangkat sekarang. Lagi pula, ini sudah waktunya jam pulang kantor. "


XiaoFei beranjak dari duduknya, lalu berjalan keluar dari ruangannya, diikuti oleh Jack.


XiaoFei pun segera masuk kedalam mobil, tanpa menunggu Jack membukakan pintu mobil, begitu mereka sampai ditempat parkir khusus.


Jack juga langsung masuk dan duduk di kursi kemudi, lalu mulai menyalakan mesinnya. Jack melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Jack sangat ingat, jalan yang mereka lalui adalah jalan yang sama ketempat yang tempo hari XiaoFei kunjungi, yaitu sebuah pohon besar.


" Fei,,, " panggil Jack. XiaoFei pun menoleh.


" Bukankah itu gadis yang tadi hampir tertabrak,,? " Jack menunjukkan dengan dagunya kearah yang dimaksud.


XiaoFei segera melihat arah yang ditunjukkan Jack. Matanya membulat seketika, melihat gadis tadi duduk di sebuah trotoar. Trotoar yang sama, yang dulu sering XiaoFei duduk bersama dengan Mae kecilnya.


Gadis itu terlihat merenung. Tangannya memegang sesuatu yang dia keluarkan dari balik baju. Benda itu menggantung di leher gadis itu.


XiaoFei melihat mulut gadis itu bergerak, seakan sedang berbicara dengan seseorang namun dia hanya duduk sendiri.


" Apa kita berhenti lalu menghampiri nya, Fei,,? " tanya Jack yang memperlambat laju mobilnya. XiaoFei menggeleng.


" Tidak usah,, kita langsung pergi ke alamat itu saja. " Jack hanya bisa mengangguk.


Dia pun kembali menaikkan laju mobilnya, pergi menuju alamat yang dimaksud oleh XiaoFei. Hingga tak lama kemudian, mereka pun sampai di nama jalan yang tertera pada alamat itu.


Jantung XiaoFei semakin berdetak kencang, karena masih ingat dengan sangat, jalan itu adalah jalan yang sama untuk menuju rumah sekaligus perkebunan dan empang kepunyaan Babeh Mae.


Jack menghentikan mobilnya di sebuah warung kopi kecil yang berada di samping mobilnya. Ada beberapa ibu-ibu yang sedang mengobrol disana.


" Jack,,. Coba kau tanya pada salah seorang yang ada sana, apakah mereka kenal dengan Mae. " Jack mengangguk lalu menurunkan kaca mobilnya.


Ibu-ibu itu memekik kencang saat melihat wajah tampan Jack. Sementara XiaoFei menyandarkan kepalanya disandaran kursi mobil sambil menutup matanya dengan lengannya.


" Selamat sore Ibu-ibu cantik. Saya mau tanya sesuatu, boleh,,,? " tanya Jack sopan namun terdengar sedikit menggombal.


" Boleh,, boleh,,. " sahut Ibu-ibu rempong tersebut kompak, menganggukan kepalanya sambil cengengesan melihat wajah tampan Jack.


" Apa diantara Ibu-ibu ini ada yang kenal dengan gadis yang bernama Mae,,,? " tanya Jack lagi.


Ibu-ibu itu terdiam untuk sesaat lalu salah seorang Ibu dengan menggunakan daster rumahan dan badan yang sedikit gempal mengeluarkan suaranya.


" Mae anaknye Babeh Mansyur bukan,,? Yang juragan empang dimari,,? " Ibu itu balik bertanya.


Jack menoleh kearah XiaoFei, dan XiaoFei hanya menganggukkan kepalanya melihat Jack yang menatap nya. Jack kembali mengalihkan pandangannya ke arah Ibu-ibu tadi.


" Iya Bu, benar. Rumahnya dimana ya, Bu,,? " tanya Jack lagi.


" Ohh,,, si Mae. Rumah disono, ganteng. Masuk kedalam gang yang itu. " Ibu tadi menunjuk kearah sebuah gang yang berada di seberang jalan warung.


Jack melihat arah yang ditunjuk Ibu tadi, lalu kembali menoleh menatap Ibu-ibu tadi, dia pun tersenyum, membuat Ibu-ibu rempong itu menjerit.


XiaoFei sampai menutup telinganya, saking kencangnya Ibu-ibu menjerit. Dia memegang dadanya karena sempat kaget lihat tadi.


" Ya Alloh,,, ganteng si loe, Tong. " seru si Ibu berdaster kuning dan berbadan kurus.


" Iye, bener. Pemandangan bagus ini mah. " sahut si Ibu yang memakai kaos dan celana pendek.


" Terimakasih untuk informasi nya, Ibu-ibu. Saya permisi. " Jacke menaikkan lagi kaca mobilnya.


" Buru-buru amat, Tong. Mampir dulu napa. " seru Ibu berbadan gempal tadi. Jack hanya tersenyum lalu sedikit menganggukkan kepalanya sebelum kaca mobil itu benar-benar tertutup.


Jack menarik nafas lega lalu mulai menjalankan kembali mobilnya.


" Kita kesana atau bagaimana, Fei,,? " tanya Jack.


" Kita pulang. " jawab XiaoFei singkat.


Penyelidikan nya sudah berakhir dan semua tebakan yang ada didalam pikirannya, benar semua. Gadis tadi adalah Mae, si gadis kecilnya.


" Untung tadi cepat aku menutup kacanya, Fei. Kalau tidak,,, " Jack menggelengkan kepalanya sambil bergidik ngeri.


Jack menoleh kearah XiaoFei yang mendadak diam. XiaoFei terlihat memejamkan matanya namun Jack tahu kalau XiaoFei tidak tidur.


Jack menghela nafas lalu melajukan mobilnya menuju Mansion Mommy XiaoYue, tanpa Jack bertanya lagi pada XiaoFei.


Sementara itu ditempat tadi,,


Disaat Mae ingin membelokan motornya, tiba-tiba saja,,


" Mae,,,,!! "


Mae menepikan motornya lalu menoleh kearah warung kopi tadi tempat Jack bertanya. Mae melihat seorang ibu yang tadi berbadan sedikit gempal memanggil namanya sambil berdiri.


" Ngape Mak,,,? " tanya Mae sedikit berteriak.


" Tadi ada yang nyariin elu. Naek mobil,, cowok,, orangnya ganteng banget dah,, kayak artis China. " jawab Ibu tadi, lagi-lagi sambil berteriak.


Mae terdiam untuk sesaat, mencerna ucapan si Ibu tadi.


" Ade nyang nyariin gue,,? cowok,,? ganteng kayak artis China,,? Sape ye,,? Masa abang ganteng gue,, kagak mungkin pan ye,, " batin Mae bertanya-tanya.


" Oh iya, Mak. Makasih inpo nya. " sahut Mae lalu kembali menjalankan motornya, sementara si ibu tadi menggerutu.


" Het dah si Mae,, belon juga rapi gue nanya-nanya, udah kabur aja dia. "


Mae melajukan motornya dengan berbagai pertanyaan yang muncul di pikirannya. Dia bahkan sampai melupakan apa yang dilakukan sang Babeh saat melihatnya terluka.


*


*


*


~~ **Bersambung,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak.


Lope lope sekebon kopi,, karena othor suka ngopi,, 🤭🤭🤭


Salam love and peace dari othor,,


❤❤✌✌*


*