Betawi Versus Mandarin

Betawi Versus Mandarin
BVM 45 ( Terungkap,, 1 )



Hari ini adalah weekend. Masa magang Mae dan Zanza di perusahaan Lin's Corporation sudah berakhir kemarin. Dan mereka mereka menghabiskan waktu sore hari mereka dengan makan bersama di sebuah restoran mewah, karena XiaoFei yang mentraktir.


Flashback on,,,


Mae, Zanza, Jack dan juga sang Bos, XiaoFei duduk di sebuah meja VIP yang sudah dipesan oleh Jack sejak pagi tadi atas perintah sang atasan.


Mae terlihat duduk dengan gelisah, tangannya saling meremas dan kakinya tidak berhenti bergoyang dibawah meja dan itu tidak luput dari pandangan Zanza.


" Sstt,,, loe ngapa sih, Mae,,,? Romannya gelisah amat. " tanya Zanza dengan berbisik namun masih dapat terdengar oleh XiaoFei dan Jack.


Bukannya menjawab, Mae justru menatap XiaoFei dan mendekatkan wajahnya pada XiaoFei.


" Kenapa,,,? " tanya XiaoFei dengan lembut.


" Kak Fei,,, kita pindah aja nyok. " ucap Mae pelan.


" Ya tapi kenapa, Mèi,,,? " tanya XiaoFei lagi.


" Makanan disini mahal-mahal, Kak. Udah gitu porsinya cuman dikit lagi. Makan tiga porsi aje kagak kenyang, apelagi kalo cuman atu piring. " jelas Mae.


Zanza menutup wajahnya karena malu setelah mendengar ucapan Mae. Sementara Jack sedang berusaha menahan tawanya. XiaoFei hanya tersenyum manis mendengar jawaban Mae.


Zanza memang sudah terbiasa makan di restoran mewah seperti itu walaupun tidak terlalu sering.


" Mendingan kita pindah aja nyok,, makan diwarung lesehan lebih enak, Kak. Murah meriah,, rasanya kagak kalah enak. Porsinya juga banyak,, jadi puas makan nya. "


XiaoFei masih tetap tersenyum saat mendengar ocehan Mae.


" Kita makan disini dua porsi, harganya sama kayak kita berempat makan disono ampe kenyang,,. Beneran dah, Kak. Kita pindah, Nyok. " Mae berusaha membujuk XiaoFei.


Zanza benar-benar sudah menunduk dalam karena malu, sementara Jack sudah tertawa kecil dan terlihat sangat menahannya agar tawanya tidak lepas. XiaoFei kembali tersenyum manis. Dia meraih tangan Mae dan menepuk punggung tangannya pelan.


" Anda tenang saja, Nona Mae. Kita makan disini sampai kekenyangan juga, ga akan bikin Fei jadi bangkrut. " ucap Jack masih dengan menahan tawanya.


" Iye,, Mae tau Kak Jack. Tapi pan sayang-sayang duitnye. Makanan kagak seberapa banyaknya tapi harganya selangit. Jiwa miskin Mae meronta-ronta, Kak. "


Tawa Jack yang sejak tadi ditahan, akhirnya lepas juga. Zanza menepuk dahinya.


" Sstt,,, Mèi. Kamu tenang aja. Pokoknya,, hari ini kita makan disini sepuasnya. Dan untuk makan di warung lesehan, kita bisa makan disana lain kali. Oke,,? " ujar XiaoFei dengan lembut.


Mae mendengus pelan dan akhirnya terdiam saat makanan yang mereka pesan datang. Mae memang sengaja meminta pindah tempat, karena saat dirinya melihat daftar menu, harga yang tertera membuat matanya melotot sampai ingin keluar.


Mae sampai terdiam membisu. Dan yang akhirnya memesan makanan untuknya adalah XiaoFei. Mae hampir menangis saat melihat makanan yang tersaji dihadapannya.


" Ya Allah,,,. Makanan cuman secomot tapi harganye selangit. Ini mah sekali caplok doangan, udeh abis. Kenyang kagak, nyangkut Di kerongkongan doang, iye. Orang kaya mah beda,,, " keluh Mae dalam hati.


Dengan berat hati dan dengan sangat terpaksa, Mae pun akhirnya memakan makanan itu. Rasanya memang enak dan lezat, tapi bagi Mae terasa pahit karena harganya yang mencekik leher.


Mae terpaksa makan karena merasa tidak enak dengan XiaoFei. Bos nya itu memaksa merayakan hari terakhir Mae dan Zanza magang di perusahaannya.


" Kagak bakalannye lagi gue dateng ke tempat ni. Mending duitnye gue buat beli bibit po'on nan buat kebonnye Babeh. Mayan pan,, bisa buat tambahan penghasilan Babeh. " ucap Mae dalam hati.


Mae memaksakan senyumnya saat XiaoFei menatapnya sambil tersenyum pula. Sementara Zanza dan Jack saling menyuapi tanpa peduli dengan dua orang yang ada disamping mereka.


Flashback off,,,


Dan saat ini, XiaoFei sedang duduk diatas motor birunya, di bawah pohon jati besar. Tempat bersejarah baginya, yaitu tempat pertama kali dia bertemu dengan Mae.


XiaoFei berharap, dapat bertemu Mae saat ini. Dan dia sudah memutuskan untuk jujur pada Mae, siapa dirinya yang sebenarnya. XiaoFei sudah siap mengambil resiko, kalau Mae akan marah padanya karena sudah berbohong.


Cukup lama juga, XiaoFei menunggu Mae datang. Hampir setengah jam dia menunggu, karena dia tahu dengan sangat kalau Mae pasti akan selalu datang kesana setiap akhir pekan. Sama seperti dulu.


Dan benar saja,, tak lama kemudian Mae datang. Dari kejauhan, Mae melihat sebuah motor besar berwarna biru yang sangat familiar dimatanya.


Deg,,,


Jantung Mae berdebar kencang. Dan dia berdo'a dalam hati, semoga kali ini memang Abang gantengnya yang datang.


Dengan setengah berlari, Mae menghampiri XiaoFei, yang masih setia duduk diatas motornya.


" Abang ganteng,,,!! " panggil Mae setelah dia mendekat.


Deg,,,


Kali ini, jantung XiaoFei yang berdebar kencang. Gadis yang ditunggu nya sudah datang. Dengan perlahan, XiaoFei menoleh kearah Mae.


Raut wajah Mae berubah saat melihat wajah pemilik motor biru tersebut. Wajahnya sedikit terkejut dan berubah sendu. Dapat terlihat dengan jelas dimata XiaoFei.


" Kak Fei,,, " panggil Mae pelan.


" Mèi,,, "


" Kak Fei ngapain dimari,,,? " tanya Mae.


XiaoFei hanya menatap Mae sambil tersenyum, tanpa menjawab pertanyaan Mae. Mae menjadi salah tingkah karena ditatap oleh XiaoFei.


" Kak Fei,,,. " panggil Mae lagi.


" Kamu apa kabar, Mèi,,,? " tanya XiaoFei membuat kening Mae berkerut.


" Pan baru kemaren kite abis ketemu, Kak Fei. Kabar Mae bae. " jawab Mae dengan setengah bingung.


XiaoFei menghela nafas panjang. Kembali ditatapnya wajah Mae. Ingin sekali XiaoFei meraih tubuh Mae dan memeluknya erat. Melepaskan rindu yang dipendam nya selama ini. Hatinya tersiksa karena berpura-pura tidak mengenali Mae, si gadis kecilnya.


" Apa kau benar-benar sudah lupa padaku, Mèi,,? " lirih XiaoFei, yang kembali membuat Mae semakin bingung.


" Kak Fei lagi ngapa sih,,,? " tanya Mae bingung.


" Kau sudah lupa kejadian disini tiga belas tahun yang lalu,,,? " XiaoFei balik bertanya.


Mae terdiam dengan mata yang membulat karena terkejut.


" Disini,,, tiga belas tahun yang lalu. Pertama kali kita bertemu. Kau,,, gadis kecil ceriwis yang tomboy yang menangis karena rantai sepeda yang rusak. "


Mata Mae semakin membulat, mendengar ucapan XiaoFei. Jantungnya semakin berdebar kencang. Mae mundur selangkah dan menatap XiaoFei tajam.


" Tiga belas tahun yang lalu,,,? Tidak mungkin kan kalo Kak Fei adalah,,,, " batin Mae.


Mae menggelengkan kepalanya. Menatap XiaoFei tidak percaya. Dia semakin mundur menjauh dari XiaoFei.


" Kagak mungkin,,,. Kagak mungkin,,, " gumam Mae dengan mata yang mulai berkabut.


" Mèimei,,,. Aku yang memanggilmu dengan panggilan itu. Apa kau tidak ingat,,,? " tanya XiaoFei, membuat Mae semakin menggelengkan kepalanya.


Mae masih tidak percaya dengan apa yang didengarnya.


" Kau tau dari mana,,? Apa kau memata-matai ku,,? " tanya Mae dengan suara yang bergetar.


Mata XiaoFei pun ikut berembun. Dia menggeleng. Perlahan dia mendekat kearah Mae yang berusaha menjauh darinya.


" Tentu saja aku tahu, Mèi. Kita pertama kali bertemu disini. Selama tiga tahun kita sering berjumpa disini setiap akhir pekan. Kita duduk dipinggir trotoar itu. Kau,,, adalah gadis kecilku yang ceriwis dengan logatnya yang unik. Apa kau tidak mengenaliku, Mèi,,,? "


Air mata Mae pun lolos. Mengalir mulus di pipinya. Kepalanya kembali menggeleng. Dia masih tidak percaya kalau XiaoFei sang atasan adalah abang gantengnya.


" Kau,, Satu-satunya gadis kecil yang memanggil ku dengan panggilan Abang ganteng. Kau,, yang selalu membawakan ku buahan setiap kali kita bertemu disini. "


" Kau,, yang selalu berteriak memanggil ku Abang ganteng, saat motorku mulai mendekat kesini. Kau,, gadis kecilku yang menyebut mansion Mommy dengan sebutan rumah gedong. "


" Aku,, aku adalah Abang ganteng mu, Mèi. Aku yang sudah meninggalkan mu di sini sendiri, sepuluh tahun yang lalu. Aku,,, Abang ganteng mu yang memberikanmu sebuah kalung sebagai hadiah perpisahan kita. "


" Aku,,, Abang ganteng mu yang pergi sepuluh tahun yang lalu dan tak pernah memberi kabar sekalipun. Aku datang, Mèi. Abang ganteng mu kini sudah datang. Dia kembali. " jelas XiaoFei panjang lebar.


Mae masih menggelengkan kepalanya. Air matanya semakin mengalir deras. Dia tidak peduli, berada dimana dirinya saat ini. Dia hanya ingin mengeluarkan air matanya saat ini juga, sebagai tanda kekecewaan.


Mae masih sangat tidak percaya, kalau pria yang selama tiga bulan ini ada disampingnya, adalah Abang gantengnya yang ditunggu nya. Sang Bos adalah Abang gantengnya. Lelucon macam apa ini,,, pikir Mae.


" Mèi,,, " panggil XiaoFei lagi, sambil berusaha mendekat pada Mae.


" Abang jahat,,, " ucap Mae pelan dengan suara serak dan bergetar.


" Abang pembohong,,,. " lanjut Mae.


" Maaf,,,. Maafkan Abang, Mèi. " suara XiaoFei seakan tercekat. Sulit sekali untuk keluar, karena dirinya yang menahan untuk tidak ikut menangis.


*


*


*


~~ **Bersambung,,,


Jangan lupa tinggalkan jejaknya.


Salam love and peace dari Othor..


❤❤✌✌**