
" Mom,, Dad,,,. Fei berangkat dulu. " pamit XiaoFei, setelah mereka selesai sarapan bersama.
" Mom,, Dad,,. Jack juga berangkat ya. "
XiaoFei dan Jack menyalami XiaoYue dan Jimmy dengan mencium punggung tangan keduanya.
XiaoFei memakai mobil kesayangannya yg sudah lama tidak dipakainya. Karena mobilnya kemarin, masih ditinggal di perusahaan Lin. Mereka pulang bersama dengan naik mobil XiaoYue.
" Fei,,,. Itu motor siapa,,? " tanya Jack sambil melirik kearah motor balap milik XiaoFei.
" Motorku. " singkat, padat dan jelas jawaban yang dilontarkan oleh XiaoFei.
Dan dengan santainya, XiaoFei masuk kedalam mobil dan duduk di kursi samping kursi kemudi. Jack yang menatap motor XiaoFei, ikut masuk kedalam mobil.
Jack menyalakan mesinnya dan perlahan mulai jalan meninggalkan garasi Mansion milik sang Mommy.
" Kau menyukai warna biru,,? " tanya Jack setelah mobil mereka berada dijalan raya.
" Memang kenapa,,? " XiaoFei balik bertanya, namun tatapan nya masih tetap melihat keluar jendela.
" Mobil dan motor mu, berwarna biru. " jawab Jack, matanya masih fokus pada jalanan.
" Begitulah. "
Jack memilih diam,, dia tahu kalau saat ini, XiaoFei dalam mode irit bicara. Percuma mengajaknya bicara kalau hanya dijawab singkat, padat dan jelas.
" Perempatan lampu merah didepan, lurus saja. " Jack mengernyitkan dahinya karena ucapan XiaoFei.
" Bukannya kita harusnya belok ke kanan kalau ingin ke kantor,,? " Jack bingung.
" Lakukan saja apa ku ucapkan. "
Jack hanya bisa menghela nafas panjang. Dan saat lampu berubah hijau, Jack berjalan lurus.
" Didepan nanti, putar balik. " Jack hanya mengangguk dan menuruti perintah XiaoFei.
Tak jauh setelah putar arah, XiaoFei menatap lurus kedepan. Sebuah pohon besar dan tinggi , berdiri kokoh disana.
" Berhenti didepan pohon besar itu. "
Lagi-lagi, Jack melakukan apa yang diperintahkan XiaoFei. Jack dengan perlahan, menepikan mobilnya didekat pohon besar itu.
XiaoFei turun dari mobil dengan tatapan masih berada di pohon besar itu,, tepatnya dibawah pohon.
XiaoFei menatapnya penuh kerinduan. Perlahan, ingatan sepuluh tahun yang lalu, muncul kembali.
Jack pun ikut melihat kearah pohon besar tersebut, tanpa turun dari mobil.
" Perasaan tidak ada apa-apa,,. Apa yang sedang dilihatnya,,? " batin Jack bingung.
" Mae,,,. Aku datang. " gumam XiaoFei pelan dan lirih.
" Aku merindukanmu, Mae. Sangat merindukanmu,,,. " ucap XiaoFei dalam hati.
Sepuluh menit sudah berlalu, XiaoFei berdiri disana. Jack melirik kearah jam tangannya, lalu menghela nafas panjang.
" Fei,,,. Kita sudah terlambat,, " seru Jack.
XiaoFei menoleh sekilas kearah Jack, lalu menarik nafas. Dia kembali menatap trotoar yang berada dibawah pohon itu untuk sesaat. Dan kemudian, dia masuk kedalam mobil.
" Maaf,, lama. " ucap XiaoFei.
Jack tidak menjawab, dia hanya melajukan mobilnya menuju kantor. Diliriknya XiaoFei yang masih menatap luar jendela.
" Tempat apa itu tadi,,? " tanya Jack sambil membelokkan stir mobilnya.
" Tempat pertama kali aku bertemu dengannya." jawab XiaoFei dengan wajah sendu.
" Gadis kecil itu,,? " XiaoFei mengangguk.
" Kami selalu bertemu disana setiap akhir pekan. Dan dia selalu membawakan ku berbagai macam hasil kebun Babehnya, dalam porsi yang banyak tentu nya. " kenang XiaoFei sambil tersenyum kecil.
" Ya,, kau pernah menceritakan nya, dan itu membuatmu merasa tidak enak, kan,,? " XiaoFei mengangguk.
" Bahkan,, awalnya aku merasa malu dan risih. Namun lama kelamaan,, aku menjadi terbiasa. Bahkan hidupku menjadi lebih berwarna saat bersamanya. " XiaoFei tersenyum sendiri sambil menatap lurus kedepan, seakan mengingat masa lalu nya.
" Benarkah,,? Kupikir sejak awal, kau selalu memujanya. "
" Awalnya aku merasa biasa saja,, namun saat akan pergi ke China dalam waktu yang lama, aku menyadari, kalau aku merasa berat berpisah dan jauh darinya. "
" Dan itu semakin terasa, saat aku sudah ada di China. Aku menyayanginya,, merasa rindu walau baru berpisah. Tapi aku berusaha menguburnya saat itu, karena aku berpikir, dia hanyalah seorang gadis kecil. Mungkin aku hanya menyayangi nya sebagai adikku sendiri. "
" Setelah aku dewasa dan mengerti arti apa itu cinta dan kasih sayang, aku justru semakin tidak bisa melupakannya. Bahkan aku sudah berusaha untuk membuka hatiku untuk wanita lain, tapi semua nihil dan percuma. "
" Tingkah konyolnya yang tomboy,, senyum manisnya,, dan suara cemprengnya yang selalu memanggilku Abang ganteng. Tidak ada yang bisa mengalihkan hati dan ingatan ku tentangnya. "
" Bisa kau bayangkan,, wajahku yang oriental ini harusnya dipanggil Gēgē,, justru dipanggil Abang,,? Bukankah itu lucu dan memalukan,,? " XiaoFei sampai terkekeh sendiri, sementara Jack hanya fokus mendengarkan.
Sementara itu,,
Beberapa saat setelah mobil XiaoFei pergi dari tempat bersejarah bagi XiaoFei itu,, Mae juga datang.
Dengan menggunakan motornya, Mae duduk diatas jok motornya dan menatap sendu pohon tersebut.
" Abang ganteng,, Mae kangen. Kapan Abang pulang,,,? " gumam Mae.
Mae tersadar dari lamunannya saat sebuah pesan masuk. Mae membulatkan matanya setelah membaca pesan tersebut.
" Mampus,,!! Gue telat,,. "
Mae segera melajukan motornya dengan kecepatan tinggi. Bahkan tanpa Mae sadari, mobil XiaoFei yang berada didepannya, Mae menyalip nya.
Jack yang melihat sebuah motor menyalipnya dengan kecepatan tinggi, hanya bisa menggeleng kan kepalanya.
" Kenapa, Jack,,,? " tanya XiaoFei saat melihat Jack menggeleng.
" Gadis yang naik motor tadi, seperti nya ingin cari mati. Dia membawa motornya dengan sangat kencang, tanpa peduli dengan keselamatan nya. " jawab Jack setengah kesal.
XiaoFei hanya tersenyum kecil.
" Do'akan saja,, semoga gadis itu selamat sampai tujuan. Mungkin dia sudah terlambat atau ada urusan yang sangat genting. " jawab XiaoFei berbaik sangka.
" Tapi tetap saja, Fei. Keselamatan itu juga penting. " tegas Jack.
" Baiklah,, terserah padamu. Kita sudah sampai kan,,? " Jack mengangguk.
XiaoFei dan Jack keluar dari mobil setelah Jack memarkirkan mobilnya.
" Bukannya itu gadis tadi, Fei,,? " Jack menghentikan langkahnya saat melihat seorang gadis masuk kedalam lobby kantor.
Gadis yang tadi dilihat Jack naik motor sambil mengebut.
" Mungkin dia salah satu karyawan disini. Dan benarkan,, dia pasti sudah terlambat. " XiaoFei ikut melihat arah pandangan Jack.
Seorang gadis dengan rambut panjangnya berjalan dengan tergesa-gesa, membuat rambutnya terombang-ambing.
Deg,,,
XiaoFei memegang dadanya yang tiba-tiba saja jantungnya berdetak dengan kencang.
" Ada apa dengan jantung ku,,? Apakah aku tiba-tiba terkena sakit jantung,,? " XiaoFei bertanya-tanya dalam hatinya.
" Fei,,. " Jack menepuk bahunya, membuatnya kembali tersadar.
" Sepertinya aku segera mencari tahu siapa gadis tadi dan menegurnya. " lanjut Jack.
" Sudahlah,, Jack. Tidak usah mendramatisir. " ucap XiaoFei sambil berjalan masuk kedalam kantornya, diikuti oleh Jack.
" Tapi tidak bisa dibiarkan begitu saja, Fei. Itu berbahaya untuknya dan juga untuk orang banyak. "
XiaoFei menghentikan langkahnya tiba-tiba, membuat Jack ikut berhenti. XiaoFei berbalik lalu menatap Jack, dan menghela nafas.
" Ayolah Jack,,,. Kenapa sejak kau kembali kesini, kau berubah menjadi cerewet dan rempong,,? Kembalilah seperti dulu, diam dan dingin. Seperti julukan kita,,, "
" Ya,, ya,, ya,,. Dua beruang kutub. Cih,, kenapa kau sangat senang dengan julukan itu,,? " Jack memotong ucapan XiaoFei, membuat XiaoFei terkekeh.
" Sudahlah,, kita masuk. Mommy pasti banyak meninggalkan pekerjaan untuk kita. "
XiaoFei dan Jack berjalan sedikit lemas, karena mereka tahu kalau Mommy XiaoYue meninggalkan banyak pekerjaan yang belum diselesaikan nya.
XiaoFei melirik gadis tadi yang sedang berbicara dengan gadis lainnya. Seperti nya mereka sedikit berdebat, namun sesekali terlihat tertawa.
XiaoFei dan Jack masuk kedalam lift. Sesaat sebelum pintu lift tertutup, tiba-tiba saja,,
" Mae,,,!! "
XiaoFei tersentak kaget mendengar nama yang sangat dikenalnya. XiaoFei berusaha memencet tombol, agar pintu lift itu kembali terbuka. Namun itu sia-sia saja, karena lift sudah bergerak naik keatas.
Jack menatapnya dengan bingung, melihat XiaoFei gelisah dan sedikit panik.
" Kau kenapa, Fei,,? " tanya Jack ikutan panik.
" Shi*t... " XiaoFei memukul dinding lift kesal.
" Hei,,,!! Kau kenapa,,? " Jack memegangi tangan XiaoFei yang kembali ingin memukul dinding lift.
" Sial,,, sial,, sial,,. " XiaoFei benar-benar kesal. Jack menepuk-nepuk pelan bahu XiaoFei.
" Aku mendengar namanya, Jack. " lirih XiaoFei.
" Nama,,? Siapa,,? Gadis kecil itu,,? " XiaoFei mengangguk.
" Kau yakin,,? " lagi-lagi XiaoFei mengangguk.
" Ya,, aku mendengar ada yang berteriak memanggil namanya. Mae,,, " suara XiaoFei terdengar sangat lirih.
" Tapi Fei,, ada banyak yang bernama sama. Belum tentu di gadis kecil mu itu, kan,,. "
XiaoFei terdiam,, lalu menghela nafas kemudian mengangguk.
" Ya,, kau benar Jack. "
" Semoga saja, kau benar, Jack. Tapi entah mengapa, sudut hati ku yang terdalam, yakin kalau itu adalah Mae-ku. " batin XiaoFei.
*
*
*
~~ **Bersambung,,
Jangan lupa tinggalkan jejaknya, Kakak. Biar othor makin semangat up nya.
Lope lope sekebon kopi buat kalian semua,,
Salam love and peace dari othor,,
❤❤✌✌**
**