Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.8 - Persiapan perang



Setelah mendapatkan surat resmi yang menyatakan deklarasi perang. Saat ini Yulius bersama dengan Robert, Albert dan personel militer lainnya tengah berkumpul untuk mendiskusikan tentang strategi perang.


Mereka sekarang berada di pangkalan militer yang telah mereka dirikan tepat di dataran Tolbas, yang nantinya akan menjadi medan perang mereka.


“Robert, jelaskan situasinya saat ini!” pinta Yulius yang sekarang memakai seragam militernya yang berwarna hitam gelap.


Robert yang mendengar itu mengangguk, dan dia mulai menjelaskan tentang situasi mereka saat ini, sembari memainkan bidak-bidak yang telah dipersiapkan di atas peta.


“Seperti yang telah kalian ketahui, lawan perang kita kali ini adalah Viscount Teresan. Dia mengajukan surat resmi deklarasi perang kepada kita seminggu yang lalu dan hari ini akan menjadi hari penentuannya.


Setelah saya mengirim pasukan pengintai untuk memantau situasi di sana. Kita mengetahui bahwa pasukan Viscount berjumlah sekitar 10.000 prajurit, sedangkan di sisi kita memiliki sekitar 3.000 prajurit.


Dapat dibayangkan bahwa ini akan menjadi pertempuran yang berat.”


Mendengar jumlah pasukan musuh yang berjumlah lebih besar dari yang mereka duga, para personel lainnya mulai mengerutkan wajah mereka dengan ekspresi yang pahit.


“10.000 ya… Tuan Robert, bisa jelaskan lebih rinci tentang pasukan mereka?” tanya salah satu personel yang juga termasuk veteran dari keluarga Luciffer.


Untuk menjawabnya, Robert memainkan para bidaknya sekali lagi.


“Mereka memiliki 1.000 pasukan berkuda, 5.000 prajurit garis depan, 3.000 prajurit garis belakang, 500 pemanah, dan 500 penyihir,” Jelas Robert dengan suara yang tegas, membuat seluruh tempat itu jatuh ke dalam keheningan.


Ini benar-benar membuat kepala mereka terasa sakit untuk memikirkan seberapa putus asanya situasi mereka saat ini.


Sama sekali tidak terlihat jalan keluar untuk mengatasi situasi ini.


Keluarga Luciffer hanya memiliki 1.500 prajurit garis depan, 500 penunggang kuda, 400 pemanah, dan 100 penyihir. Itu adalah perbedaan jumlah yang sangat besar.


Semua orang tampak berpikir dengan sangat keras dan berdebat tentang apa yang harus mereka lakukan. Membuat beberapa strategi dan berimajinasi apakah itu adalah strategi yang bagus atau tidak.


Mereka juga mengatakan untuk menggunakan beberapa budak ke dalam tenaga kerja, tapi seseorang menolaknya dengan sangat keras.


Meskipun mereka kekurangan personel, membuat orang yang tidak tau bertarung untuk maju ke medan perang. Itu hanya akan membuat kekacauan nantinya. Namun, tampaknya ada beberapa budak yang bisa bertarung, jadi mereka memutuskan untuk mengambil beberapa dari mereka yang bisa bertarung saja.


Ini mungkin menambah sedikit kekuatan pasukan, tapi itu hanya sedikit.


Pada akhirnya ini sama sekali tidak menjadi solusi untuk menuju kemenangan.


“Bagaimana dengan pendapat kerajaan tentang ini?” tanya salah satu personel.


Dia menatap ke arah wajah Albert, yang berdiri di sebelah Yulius, sebagai ajudannya. Namun, pria tua itu dengan wajah yang masam menggelengkan kepalanya.


Di sana mereka sama-sama menggertakkan gigi dan menggigit bibir mereka sembari mengernyit dengan ekspresi yang pahit.


Tapi, inilah kenyataan.


Jelas, bahwa kerajaan sama sekali tidak memperdulikan bangsawan miskin kelas Baron seperti keluarga Luciffer, jadi tidak ada alasan kerajaan untuk bertindak sebagai moderator jika mereka ingin menyelesaikan masalah ini dengan negosiasi.


Ini adalah jalan buntu.


Akan tetapi, di saat semua orang sedang berpikir dengan serius. Terdapat satu orang yang sama sekali tidak memperdulikan masalah yang sedang berlangsung.


Itu adalah Yulius.


(10.000 prajurit. Jika aku berhasil membunuh 1.000 dari mereka, kira-kira berapa banyak exp yang akan kudapatkan ya? Mungkin ini akan menjadi kesempatan yang bagus untuk menaikkan levelku, akhir-akhir ini aku terlalu sibuk dengan pekerjaan manajemen sampai lupa untuk meningkatkan levelku sendiri. Kalau begitu, di perang kali ini, aku harus lebih banyak membunuh.)


Dia berpikir dengan ekspresi yang serius dan tenang, membuat wajah para personelnya menatap Yulius dengan mata yang penuh kekaguman.


Mereka tampak sangat bersyukur memiliki pemimpin hebat seperti Yulius. Meskipun mereka tidak tau bahwa anak itu sama sekali tidak memikirkan tentang masalah perang yang akan mereka hadapi.


Yang ada di dalam kepalanya hanya lah cara-cara tentang bagaimana dia bisa bersenang-senang sambil meningkatkan levelnya di perang kali ini.


Lagipula, baginya perang ini adalah sebuah keberuntungan.


Berbeda dengan monster, manusia memiliki jumlah exp yang sangat besar. Karena itulah, Yulius senang bahwa di perang kali ini akan banyak manusia yang bisa dia bunuh.


(Tapi, jika aku terlalu serakah. Itu akan membuat pasukanku tidak bisa menaikkan level mereka juga. Apa yang harus kulakukan?)


Sembari memikirkan hal itu, diskusi terus berlanjut dengan serius, kecuali Yulius.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, yaitu markas musuh.


Seorang pria yang berumur sekitar 30-an itu tersenyum kotor, sambil mengangkat kakinya ke atas meja. Di depannya adalah sebuah peta yang menggambarkan situasi perang saat ini.


Rambut pirangnya berkibar saat dia tertawa keras melihat situasinya.


“Ahahahaha! Dasar bangsawan kampungan, apa kau benar-benar berpikir bisa mengalahkan Viscount Teresan yang hebat ini hanya dengan 3.000 pasukan?! Seharusnya orang kampung seperti kalian diam saja dan menyerahkan wilayahmu untukku!! Tapi, karena kalian melawan, akan kujadikan ini sebagai pelajaran untuk kalian, karena berani menantangku!” ujar pria itu, sembari menikmati segelas wine yang berada di tangan kanannya.


Pria itu tidak lain adalah kepala rumah tangga dari keluarga Viscount Teresan dan juga pemimpin dalam perang kali ini, yaitu Kamuel Vin Teresan.


Meskipun di tunjuk sebagai seorang pemimpin, dia sama sekali tidak terlihat peduli dengan perang ini. Karena dia yakin bahwa kemenangannya adalah hal yang mutlak.


Pria itu memiliki tubuh yang sedikit kurus, mata cekung berwarna coklat, dan kumis tebal yang melengkung. Dia mengenakan pakaian super mewah dengan banyak perhiasan di seragam militernya.


“Khukuku, ini benar-benar lucu. Aku tidak percaya pihak kerajaan akan langsung setuju begitu saja ketika aku mengirimkan mereka surat untuk membuat keluarga Baron kampungan itu berada di bawah kekuasaanku. Seperti yang kuduga, aku adalah orang yang hebat! Huahahahahahaha!!”


Kamuel tertawa terbahak-bahak, mengejek pasukan Yulius dengan wajah yang sombong. Kemudian, puas dengan dirinya sendiri, dia melirik kembali ke arah medan perang yang ada di depannya.


Matanya menyipit dengan vulgar saat memikirkan kemenangannya yang mutlak.


“Itu mungkin hanya wilayah yang kecil. Tapi, setidaknya aku bisa bermain-main dengan para wanita yang ada di wilayahnya. Oh, itu benar, aku mungkin bisa bermain-main dengan bocah itu juga. Aku akan mempermalukan wanita yang dia sukai di depan matanya sendiri. Ahaha, itu pasti akan sangat menyenangkan!” Kamuel terkekeh, dengan pikiran jahat yang terus berputar-putar di kepalanya.


Ketika itu juga, seorang prajurit memasuki tendanya dengan buru-buru dan dia segera berlutut.


Mendengar pernyataan dari prajurit itu, seringai lebar terlukis di wajah Kamuel.


“Segera perintahkan mereka untuk maju!” pintanya.


“Baik!!”


Prajurit itu segera pergi dan menjalankan perintah yang dia dapatkan.


Sedangkan di sana, dengan suara yang keras, Kamuel tertawa melihat perang yang akan segera di mulai. Dia mengangkat tinggi-tinggi gelas wine di tangannya dan bersorak dengan senyuman yang vulgar.


“Hari ini adalah hari kemenanganku!”


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


—Pangkalan militer pasukan Yulius.


Di sana, berdiri di depan semua orang, dengan Albert di sisinya. Yulius berpidato dengan suara yang keras, untuk meningkatkan moral para pasukannya.


... Atau itulah yang seharusnya terjadi, tapi—


“Hari ini, akan menjadi hari pertamaku di medan perang! Karena itu, aku ingin bersenang-senang menghancurkan musuh-musuhku dan menjadikan ini kesempatan untuk membuatku semakin kuat!


Jangan khawatirkan soal jumlah mereka, kalian sudah lebih dari cukup untuk melebihi kekuatan 10.000 prajurit! Kalian adalah prajurit kebanggan keluarga Luciffer! Karena itu kita tidak akan pernah kalah!!


Lagipula, ini juga akan menjadi panggung yang bagus untuk memamerkan kekuatan dari hasil latihan yang telah kalian jalankan selama ini!


Aku akan berdiri di depan kalian!! Siapapun yang mengetahui kekuatanku jangan takut untuk melangkah maju! Jika kalian takut, saat itulah pedangku yang akan melayang untuk memotong kepala kalian sebagai gantinya!


Dengar!! Ini adalah kesempatan! Sebuah keberuntungan yang diberikan dewa untuk menunjukkan kekuatan kita pada dunia!!


Jadi, jangan pernah mempermalukanku! Dan berjuanglah sampai titik darah penghabisan kalian! Bagi mereka yang berhasil memenggal kepala musuh yang paling banyak, aku akan memberikan kalian cuti selama tiga hari!!


Karena itu, pastikan kalian membunuh musuh sebanyak-banyaknya!!”


“Ooooooouuuuuhhhhhh!!! Hidup Tuan Yulius!!”


“Hidup cuti tiga hari!!”


“Oooouuuuhhh!! Entah kenapa ini membuatku sangat bersemangat!!”


“Mari tunjukkan kepada mereka tentang kekuatan kita!!”


“Aku berjanji setelah perang ini aku akan menyatakan cinta kepada Keren!!”


“Hei tunggu! Siapa yang mengatakan kalimat terakhir itu?!!” Yulius berteriak, dengan wajah yang mengerut bermasalah begitu dia mendengar tanda-tanda bendera kematian di antara sorakan para prajuritnya.


Namun, mereka semua hanya tertawa. Sama sekali tidak terlihat ketegangan di wajah para prajuritnya, dan mereka tampak begitu santai menghadapi perang ini.


Akan tetapi, semangat perang juga telah membara di mata mereka semua.


Masing-masing memiliki motivasi yang berbeda untuk memenangkan perang ini. Tidak satupun dari mereka yang berpikir bahwa mereka akan kalah.


Melihat itu, Yulius tersenyum tipis dan dia kembali pergi menuju barisannya.


Saat berbalik, tatapannya bertemu dengan mata tajam Albert yang dari tadi terus mengirimkan intimidasi seperti seekor predator, membuatnya bergidik merinding.


Kemudian, dengan suara yang dingin, pria tua itu berkata.


“Itu adalah pidato yang terburuk, nol poin.” ujarnya tanpa ampun.


“Uuhh…” Yulius mengeram, tidak bisa membantahnya.


“—Tapi, anda sudah melakukannya dengan sangat baik,” lanjut Albert, membuat Yulius mendapatkan kembali cahayanya, “Saya telah mendengar cerita anda dari Nona Chengshi tentang semua yang anda lakukan selama saya tidak ada.


Dia mengatakan bahwa anda berjuang keras untuk belajar cara mengelola wilayah dengan baik dan berusaha keras untuk membuat para penduduk menerima anda.


Awalnya saya tidak percaya. Tapi, setelah melihat tindakan anda semuanya secara langsung. Saya sekarang mendapatkan keyakinan itu.


Tampaknya anda benar-benar telah berubah.”


Mata Yulius terbuka lebar. Dia tidak percaya Albert akan memberikannya sebuah pujian yang tulus. Dia tidak menyangka akan tiba hari dimana Albert akan menerimanya.


Selama ini, Yulius pikir dirinya terlalu banyak melakukan kesalahan. Sehingga, dia pikir Albert marah atas kekurangannya itu. Yulius selalu menuntut dirinya untuk melakukan yang terbaik dalam menjadi seorang penguasa.


… Dan hari ini, upaya itu akhirnya akan terbalaskan.


Karena itulah, Albert berlutut di hadapan Yulius. Kemudian, dengan wajah yang tertunduk. Dia menyatakan sumpah setianya dengan penuh kehormatan kepada Yulius.


“Di sini, saya akan menerima anda sebagai pemimpin baru dari keluarga Luciffer, dan saya, Albert Varmalion akan bersumpah setia kepada Tuan Baru saya, serta berjanji akan menyerahkan segalanya yang saya punya demi memenuhi semua keinginan Tuan saya, Yulius Vera Luciffer! Saya bersumpah!” tegasnya.


Mendengar itu, Yulius menyeringai lebar. Angin kencang menghembuskan jubah hitamnya, dan dengan suara yang santai, dia menjawab sumpah Albert.


“Persembahkan nyawamu untukku, Albert!”


“Sesuai keinginan anda, Tuan.” Bibir Albert terangkat, membentuk senyuman yang berani. Wajah iblis dari pria tua itu akhirnya menunjukkan sifat aslinya.


“Dengan nyawa saya sendiri, akan saya buat medan perang ini menjadi mimpi buruk bagi mereka yang berani melawan Tuan saya!” Menyatakan kalimat itu dengan senyuman yang gelap, Albert mengobarkan semangat perangnya.


Badai hitam di pertempuran mulai berhembus ke arah musuh-musuh mereka yang menunggu untuk menerima kematian yang paling mengerikan.


Setelah itu, dengan raungan yang keras dari kedua belah pihak.


—Akhirnya perang dimulai.