
[Jadi, apa kau menginginkan kekuatan?]
“Aku…”
Duduk bersandar di tembok batu yang mengurungnya, wajah Yulius menunduk suram ketika pertanyaan itu kembali bergema di dalam kepalanya.
Setelah menyadari bahwa kekuatannya yang sekarang sama sekali tidak berguna, Yulius merasa bimbang dengan apa yang harus dia lakukan.
Dia tidak tau, seberapa keras dia pikir, itu tetap jalan buntu.
Kenyataan yang kejam terus menyudutkannya untuk membuat pilihan— tidak, dari awal dia tidak memiliki pilihan. Satu-satunya cara yang dia miliki dan harus dia pilih adalah dengan bergandengan tangan kepada ‘suara itu’, yang akan meminjamkannya kekuatan untuk keluar dari situasi ini.
Namun, Yulius tidak ingin melakukannya, karena dia tau bahwa jika dia melakukan hal itu.
Sesuatu yang buruk akan terjadi.
Meskipun demikian, dia tidak memiliki pilihan lain.
Jika dia terus termenung dan tidak segera bertindak, Baren akan menghancurkan kota, dan membunuh seluruh penduduk kota yang tak bersalah.
Yulius tidak ingin itu terjadi. Karena itu, satu-satunya cara untuk mencegahnya adalah menggunakan kekuatan ‘Suara itu’, yang mana adalah pilihan terakhir untuk bisa menyelesaikan masalah ini dengan mudah.
Jadi,—
“Aku… akan….. mene—”
‘Bumm!!’
Mengerutkan wajahnya dengan ekspresi yang putus asa, ketika Yulius dengan enggan mencoba untuk menerima tawaran dari ‘Suara itu’. Tiba-tiba, sesuatu yang keras menghantam penjara dan menghancurkannya sampai hancur lebur.
“?!!”
Mata Yulius terbuka lebar. Melupakan semua depresinya, dia segera mengambil kuda-kuda untuk bersiap akan serangan musuh, dan menatap tajam ke arah lubang besar yang tercipta di atasnya.
Saat itu juga, dia mendengar suara seseorang, itu adalah seorang wanita.
“Oh tidak! Ini berlebihan! Apa Tuan Yulius baik-baik saja?!” Mengintip melalui lubang besar itu, adalah seekor naga merah yang sebelumnya, Netherlium Rose.
Tapi, menyipitkan matanya dengan tajam, alis mata Yulius terangkat ketika dia segera menyadari bahwa sosok itu bukanlah naga yang dia kenal.
Dia adalah,—
“Suara itu, mungkinkah kau Nadya?”
“Yah, Tuan Yulius! Saya adalah Nadya!” ujar naga itu, yang tampak sangat senang karena Yulius dengan cepat menebak identitasnya.
“Apa yang terjadi?” tanya Yulius, sembari memiringkan kepalanya keheranan dan menurunkan kedua pedang di tangannya, dia tampak santai dan benar-benar melupakan suasana tegang sebelumnya.
“Sebenarnya saya sendiri juga tidak tau. Ketika saya bangun, tubuh saya sudah seperti ini,” jawab Nadya dalam wujud naganya, dia terlihat sedikit sedih, tapi kemudian dia segera mengubah suaranya menjadi serius. “Tapi, satu hal yang saya tau, bahwa semua ini adalah ulah dari Baren. Tuan Yulius, saya mohon! Tolong hentikan pria itu sebelum semuanya terlambat!”
Yulius mengkedipkan matanya lebar, dan saat dia juga menyadari bahwa waktu yang dia miliki tidak banyak lagi. Yulius tanpa pikir panjang segera melompat untuk keluar dari dalam sana, dan bergerak ke arah Nadya, yang saat ini telah menjadi seekor naga.
“Apa aku benar-benar boleh menaikimu?” Menatap ke arah punggung naga merah itu, Yulius tampak ragu apakah dia benar-benar bisa naik di sana atau tidak.
Tapi, itu adalah kekhawatiran yang sia-sia.
“Tidak masalah. Dengan kekuatan saya saat ini, kita bisa sampai ke kota lebih cepat, jadi tidak ada waktu untuk memikirkan sesuatu yang bodoh.”
“Kau benar.”
Yulius mengangguk, dan dia langsung melompat ke atas punggung Nadya, yang saat ini telah berubah wujud menjadi seekor naga berukuran kolosal.
Setelah itu, dalam satu kepakan sayap yang besar.
“Pegang erat-erat, Tuan Yulius.”
Naga Nadya terbang dan lepas landas dengan kecepatan yang tinggi, itu membuat Yulius sedikit terlambat dalam merespon tekanan udara yang menabraknya.
Dia segera menyesuaikan diri, dan berdiri dengan tegak di atas punggung naga itu yang terbang dengan kecepatan minimal, karena kemungkinan Nadya juga memikirkan luka Yulius yang saat ini menungganginya.
Dia tidak bisa terbang terlalu cepat karena itu akan membebani Yulius dalam mengatasi tekanan udara yang kuat ketika mereka terbang.
Tapi, Nadya tidak akan mengatakannya. Karena dia yakin Yulius hanya akan marah dan terus memaksanya untuk terbang semakin kencang, jadi dia diam saja.
Kemudian,—
“Nadya, apa kau mengenal pria itu?” tanya Yulius. Dia curiga.
Dari cara dia menyebut nama Baren sebelumnya, itu membuat Yulius merasa yakin bahwa ada kesan yang dalam di antara hubungan Baren dan Nadya.
Nadya yang ditanyai, matanya menunduk sedih, dia terlihat menyesal.
Melihat itu, Yulius merasa salah karena sudah menanyakannya.
Tapi, kemudian, dengan suara yang lemah, Nadya mulai menceritakan tentang cerita yang terjadi sebelum dia berada di posisi saat ini, yang berkaitan dengan Baren dan dirinya.
Nafas kecil keluar dari mulut naganya, dan Nadya berkata.
“Sebelumnya, kami adalah seorang teman.”
“Eh?” Yulius terkejut, dan Nadya tersenyum murung ketika melihat reaksi Yulius.
Lagipula, itu wajar saja. Melihat perilaku dan tindakan di antara Baren dan Nadya, mereka jelas adalah minyak dan air, yang tidak akan pernah bisa bersatu. Jadi, pernyataan bahwa sebenarnya mereka adalah teman adalah kejutan yang wajar.
Nadya melanjutkan, dengan suara yang rendah.
“Lebih tepatnya, kami adalah teman masa kecil. Aku, Nia, dan Baren, dulu kami sering bermain besama ketika berada di pedesaan, dan itu benar-benar kenangan yang indah.
Dulunya Baren adalah anak yang energik, dia selalu mengoceh-oceh tentang kehebatan berpedangnya dan suatu hari akan menjadi seorang petualang yang terkenal. Dia juga sering bertengkar dengan Nia karena mereka selalu memperebutkan tentang siapa yang akan menikahiku.
Aku tidak membenci kehidupan kecil itu. Tapi…”
Selama mereka terus bersama, tanpa disadari ikatan itu semakin kuat dan membuat mereka menjadi semakin sulit untuk dipisahkan.
Selain itu, karena Baren terus menerus melamarnya untuk menikah, suatu hari Nadya pernah berjanji akan menjadi pengantin masa depannya. Itu adalah janji masa kecil, tetapi bagi mereka itu adalah sesuatu yang berharga.
Hubungan cinta di antara mereka juga selalu berkembang sepanjang waktu, Nadya mempelajari berbagai hal sebagai seorang anak tunggal dari penguasa desa, sedangkan Baren berjuang keras untuk ilmu pedangnya.
Terkadang mereka juga melakukan kencan bersama, dan jujur saja itu adalah kenangan yang indah untuk Nadya. Orang tua Nadya juga setuju jika di masa depan ketika mereka sudah cukup umur, mereka akan dinikahkan.
Tapi, ketika waktu itu akhirnya akan tiba…
Sesuatu yang tidak terduga terjadi, itu adalah sebuah bencana.
Viscount datang dengan niat untuk bermain-main, dia mencuri hasil panen para penduduk desa, meniduri banyak wanita di sana, dan menangkap beberapa penduduk untuk dijual sebagai budak.
Selain itu, mungkin karena saat itu dia melihat Nadya dan Baren yang memiliki hubungan dekat satu sama lain.
Pria itu dengan buruk berniat untuk mengambil Nadya dari Baren.
Awalnya keluarga Nadya menentang hal itu, tapi mereka tidak bisa melakukan apa-apa ketika sebuah bilah pedang tajam diulurkan di leher mereka, dan ancaman-ancaman lainnya dilontarkan.
Nadya yang telah tidak tahan untuk melihat semuanya, dia dengan enggan menerima tawaran untuk menjadi istri Viscount dan mengikutinya.
“… Baren yang mendengar itu tanpa diberitahu apapun sebelumnya. Tentu saja, dia pasti akan merasa sangat terkhianati olehku, dan sejak saat itu aku tidak lagi mendengar kabarnya.”
Nadya menunduk sedih atas kesalahan yang dia buat dimasa lalu. Mengingat kembali semua kenangan itu, dia sangat menyesal.
Mengupas semua rasa bersalah yang tak pernah tersampaikan, kali ini dia berniat untuk menyelesaikan semuanya.
“Karena itulah, Tuan Yulius! Saya mohon! Tolong hentikan Baren sebelum dia menghancurkan kota!” teriak Nadya sekali lagi, dengan suara memohon yang sangat lirih.
Yulius yang mendengar itu, merenungkan kembali ceritanya.
“Apakah itu artinya pria itu saat ini berniat untuk membalaskan dendamnya kepadamu, dengan menghancurkan seluruh kota yang telah lama kau bangun. Apakah begitu?”
“Yah, anda benar.” Tanpa ragu, Nadya mengangguk.
Yulius yang mendengar itu melipat bibirnya, dan dia diam membeku dengan ekspresi yang datar. Pada saat pikirannya masih melambung di udara, dia mengangkat alisnya ketika dia menyadari bahwa ada sesuatu yang salah.
“Eh, tunggu sebentar. Bukankah itu artinya…”
Alasan kota diserang karena balas dendam dari Baren, dan balas dendam itu juga terjadi karena Nadya yang telah selingkuh.
Jika dipikir-pikirkan baik-baik, Baren marah sampai dia ingin menghancurkan seluruh kota, jelas itu adalah tindakan yang wajar. Lagi pula Nadya lah yang pertama kali membuat ulah. Dia menipu pria itu. Jadi, seharusnya bukan hal yang aneh jika pria itu ingin menghancurkan kota.
“Jika begitu….”
(… Berarti ini bukan salahku jika kota hancur, kan?)
Memikirkan hal itu, hati Yulius menjadi sedikit lebih damai. Meskipun dia tau jika Albert ada di sini, gagasan itu pasti akan ditolak dan dia akan diceramahi tanpa ampun.
Namun, itu sudah cukup untuk membuatnya merasa sedikit lebih tenang.
Diam-diam, Yulius menghela nafas lega.
Membayangkan bahwa kota telah hancur, itu benar-benar membuat Yulius merasa bersalah, karena sebelumnya dia tidak berhasil mengalahkan Baren untuk menyelesaikan tanggung jawabnya sebagai seorang penguasa.
Tapi, sekarang itu bukan lagi tanggung jawabnya.
Nadya lah yang seharusnya bertanggung jawab, dan menghadapi masalah ini secara langsung dengan Baren, karena ini adalah masalah mereka.
Ikut campur ke dalamnya adalah sesuatu yang sangat merepotkan.
Namun, meskipun demikian, Yulius tidak memiliki pilihan lain untuk menyelesaikan masalah ini dengan kekuatannya sendiri.
Jika mempertimbangkan kerusakan kota, dia tidak ingin sampai melibatkan lebih banyak nyawa tak bersalah yang menghilang, jika semisalnya Nadya dan Baren bertarung di tengah kota.
Melihat wujud Nadya saat ini yang merupakan salah satu dari [Dragon Lord], sudah dapat dipastikan siapa di antara mereka yang akan menang.
Tapi, jelas kerusakan yang ditimbulkan juga tidak akan sedikit.
Untuk itulah, Yulius perlu membereskan masalah ini seorang diri.
(Seperti yang kuduga, wanita ini adalah biang masalah yang mengecewakan.)
“Baiklah, mari kita bereskan ini.”
“Saya benar-benar tidak tau bagaimana harus berterima kasih kepada anda, Tuan Yulius. Saya mohon, tolong hentikan pria itu untuk saya.”
(Aku akan melakukannya, tapi bukan untukmu.)
Berdiri di atas punggung Nadya, dengan rambut dan bajunya yang berkibaran diterpa angin kencang, Yulius menatap kosong ke sebuah udara. Dia terlihat sangat serius.
Ketika Nadya heran tentang apa yang sedang Yulius lakukan, anak itu tiba-tiba membuka matanya lebar. Dia benar-benar terlihat sangat terkejut pada apa yang dilihatnya, seakan-akan memenangkan lotere dengan hadiah yang besar.
“I-Ini?!”
“?”
Di sisi lain, Nadya memiringkan kepalanya kebingungan.
Namun Yulius mengabaikan hal itu, dan pandangannya terus terpaku kepada udara kosong yang ada di depannya. Di mana, di sana matanya dengan jelas melihat sebuah papan berwarna biru yang memperlihatkan statusnya saat ini.
Setelah sekian lama tidak dia buka, akhirnya dia buka juga, dan itu benar-benar melakukan peningkatannya dengan sangat drastis.
[Nama: Yulius vera Luciffer]
[Level: 100 >> Rank Up!]
[Kekuatan: 2500]
[Kepintaran: 2500]
[Kecepatan: 2500]
[Ketahanan: 2500]
[Pesona: 500]
[Keahlian: Sihir Api (Lv.10), Sihir Air (Lv.5), Sihir Tanah (Lv.4 >> 5), Sihir Angin (Lv.8), Sihir Kegelapan (Lv.10), Sihir Cahaya (Lv.5), Mahir Pedang (Lv.10), Bela Diri (Lv.10), Mata Elang (Lv.5), Ahli Ranjang (Lv.10), Penilai (Lv.10)]
[Keahlian Baru >>> Keserakahan (Lv.5), Raja Kecil (Lv.5), Seni Pedang Terkutuk (Lv.3), Kerakusan (Lv.1)]
[Keahlian Khusus: Kebangkitan Iblis (Lv.%*@)]
[Poin Keahlian: 80]
[Title: Bangsawan Baron, Kepala Keluarga Luciffer, Reinkarnator, Pewaris Sah, Pendekar Beringas, Calon Raja Iblis]
[Title baru >>> Pengemban Tujuh Dosa Besar, Benih Seorang Raja]
[Inventory >>>]