Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.22 - Semakin tenggelam



Bulan merah membuka rongga malam yang gelap. Itu seakan menyoroti pertarungan yang sedang berlangsung, di mana suara gemuruh dan jeritan keras menggelegar disegala arah.


‘Sting!’


Pedang hitam menangkis cakar yang panjang.


Mengambil langkah mundur, Yulius menerjangnya sekali lagi. Membawa dua pedang hitam di kedua tangannya, dia mengayunkannya kuat ke arah Baren, yang telah berubah menjadi monster.


Monster itu memiliki dua tanduk seperti banteng di atas kepalanya, sisik-sisik hitam di sekujur tubuhnya, mata emas cerah seperti predator, dan sepasang sayap panjang seperti seekor capung.


Itu merupakan perubahan yang terjadi berkat kekuatan Lonceng Sang Pengembala, yang mana bahan utama dari lonceng tersebut adalah tulang dari salah satu monster kuno yang dianggap sebagai [Monster Hari Akhir].


Tidak ada yang tau pasti seperti apa wujud dan namanya. Dia hanya diceritakan sebagai Raja dari para monster, menelan setengah dari dunia, dan dikalahkan oleh 6 Pahlawan terkuat di masa itu.


Tapi, tidak ada yang jelas apakah monster itu mati atau disegel. Banyak rumor yang mengatakan bahwa dia sudah mati, tetapi ada juga rumor kalo dia masih hidup dan saat ini hanya tersegel.


6 Pahlawan berhasil memotong tubuh monster itu menjadi beberapa bagian.


Sehingga, banyak orang yang mulai mencari keberadaan dari bagian-bagian tubuh monster tersebut. Karena itu dapat di jadikan kekuatan atau item sihir dengan kekuatan yang dahsyat.


Contohnya seperti [Lonceng Sang Pengembala], dengan kekuatan untuk mengendalikan berbagai jenis monster tanpa batas.


Namun, jika itu dihancurkan, maka kekuatan yang terkandung di dalamnya akan mulai meluap dan memakan siapapun yang ada di dekatnya untuk dijadikan sebagai wadah.


Meskipun lonceng itu hanya terbuat dari secuil tulang [Monster Hari Akhir] tersebut, tapi itu sudah lebih dari cukup untuk menghancurkan satu negara sekaligus.


“Khuku, menyedihkan! Ini membosankan! Kau benar-benar sangat lemah! Terlalu lemah! Apa rasa takut itu membuatmu menjadi semakin rendah?! Kau bahkan tidak bisa menyentuhku sekalipun!”


“Keh!”


Yulius menggigit gigi belakangnya, dan dia mulai meningkatkan kekuatannya.


Dia mengayunkan kedua pedang hitamnya dengan semua kekuatan yang dia miliki. Namun, itu ditangkis, dihindari, ditangkis, dipukul mundur, ditangkis, dihindari, ditangkis, ditangkis, ditangkis—


Semua gerakan dan tenaga yang dia kerahkan berakhir dengan sia-sia.


Dahinya mengernyit sakit ketika Baren menangkis semua serangannya. Kekuatan di antara mereka benar-benar berbeda jauh.


Alasan utamanya karena tubuh Yulius sudah dari tadi mencapai batasnya.


Dia telah kehabisan hampir semua kekuatan sihirnya, bahkan statusnya juga sudah menurun drastis, karena rasa lelah yang tak tertahankan.


Sejujurnya, itu tidak aneh jika dia telah tumbang sejak lama, tetapi anak itu dengan keras kepala terus menolak kematian dan terus bertarung.


“Kau menyebalkan, apa kau seekor kecoak? Berhentilah merengek pada kehidupan bodohmu itu. Kau sudah semestinya mati saja,” ujar Baren dengan dingin, tatapannya terkesan merendahkan ketika dia melihat Yulius yang mati-matian terus bertahan dari serangannya dengan sangat menyedihkan.


Dia memukul Yulius, menendangnya, dan membuatnya terluka di mana-mana. Tapi, anak itu tetap bangkit dan berdiri untuk melawannya, sekalipun darah telah membasahi seluruh keringatnya.


Api ganas di tatapan mata Yulius belum padam, semangat itu terus membakar tubuhnya sampai melampaui batas dan membuatnya terus bertahan.


‘Tes’


Darah mengalir dari dahi Yulius dan menetes.


Nafasnya terasa berat, tenggorokannya serak, dengan tubuh yang berdiri lemah, dia menghunuskan pedangnya sekali lagi seakan putus asa. Pandangan matanya berdenyut-denyut dan sedikit kabur.


Rasa sakit juga menjerit dimana-mana, tapi Yulius tidak peduli.


Itu membuat Baren mendecak kesal, dia bertanya-tanya, “Untuk apa kau berjuang sampai sejauh itu?” Dia tidak mengerti. Karena dia pikir seharusnya anak itu bukan tipe orang yang akan melakukan sesuatu sampai sejauh ini.


Dia adalah orang yang akan dengan mudah membuang segalanya, jika itu menyangkut sesuatu yang membuatnya tidak senang atau suka.


Jadi, —


Baren terus berpikir.


“Kau seharusnya tau bahwa kau tidak akan pernah bisa menang melawanku. Tubuhmu sudah lama mencapai batasnya, dan aku tau kau bukanlah orang bodoh yang rela untuk mengorbankan nyawamu di sini. Tapi, kemana semua usaha yang kau lakukan untuk ini?” tanyanya sekali lagi. Dia benar-benar heran.


“…..”


Tapi, Yulius hanya terdiam.


Dia tidak mengatakan apa-apa, seolah-olah dia tidak ingin memberikan sedikitpun informasi kepada musuhnya. Itu membuat kesan yang kuat bahwa saat ini Yulius sedang menyembunyikan sesuatu.


Jadi, sekalipun dia kesal dengan semua ocehan monster itu, dia harus tetap tenang, agar tidak dengan ceroboh membocorkan semuanya.


“….”


Kemudian, dengan gerakan yang pelan, dia menoleh. Arah pandangannya menatap tajam ke sebuah perang yang berada di tempat lain.


“Cih!”


Seketika itu juga, dengan kecepatan kilat, Yulius mulai menyerang.


Menggunakan kedua pedangnya, dia mencoba untuk menebas monster itu. Namun, bahkan tidak menoleh sedikitpun, Baren menangkisnya tanpa masalah.


“Begitu, sekarang aku paham.” Berkata dengan suara yang rendah, bibir Baren mulai terangkat seperti iblis.


Itu membuat Yulius mendecakkan lidahnya.


Dia mulai menjadi semakin buas, mati-matian dengan kekuatannya yang tersisa, Yulius terus menyerang Baren dari segala arah.


Itu adalah taktik yang serupa ketika dia melakukan latih tanding bersama Nia, tetapi dengan kekuatannya yang 3 kali lipat lebih kuat dari yang dia gunakan saat bersama Nia.


Menyerang dengan brutal, dan kemudian melompat lagi. Yulius terus menerus mengulangi perputaran dari kekuatan hancurnya itu kepada Baren.


Tapi, dia tetap gagal untuk mengalihkan perhatian monster itu.


“Aku paham, sekarang aku paham. Jadi begitu. Memang benar, seharusnya seperti itu. Bagaimanapun, kau tetap seorang penguasa, jadi tindakan ini, dan semua perjuanganmu selama ini. Pantas untuk diapresiasi, kau luar biasa.”


“Sial! Apa yang kau lakukan?! Bukankah kau ingin membunuhku!” teriak Yulius, dia terlihat sudah berada di ambang keputusasaannya.


Namun, Baren tidak peduli, dia berkata dengan suara yang datar.


“Tidak, itu akan membosankan. Aku telah menemukan permainan yang jauh lebih menarik,” ujarnya, menatap Yulius dengan senyuman bengisnya yang mengerikan.


“Aaaahhhh!!”


“Ahahahahahaha! Apa itu?! Apa ini usaha terakhirmu, pecundang?!!”


Yulius mengernyit, dia mulai meraung dan tanpa henti terus menyerang Baren dengan seluruh kekuatan yang dia miliki, dia terlihat sangat putus asa. Namun, dia bahkan tidak pernah berhasil menyentuh monster itu sekalipun.


Melihat hal tersebut, Baren tertawa keras mengejek usaha terakhirnya.


Setelah itu,—


“Kalau begitu, bocah. Selamat tinggal…”


—Monster itu mulai mengepakkan sayap capungnya dengan kecepatan yang kencang, dan dia mulai terbang menjauh dari Yulius. Sehingga itu membuat anak tersebut hanya menebas udara kosong.


Tujuan kepergian Baren, tidak lain adalah…


“Keparat…” keluh Yulius, dengan suaranya yang lirih dan cemas.


Ketika Baren dengan kecepatan kilat terbang lurus menuju kota Renwell. Di mana saat ini kelompok Nia masih tengah bertarung dengan monster-monster yang telah lepas kendali.


Jika sekarang Baren pergi ke sana dan menyerang kelompok Nia.


Tidak diragukan lagi kalau kota akan hancur dan mereka semua yang ada di sana hanya akan menjadi mainan dan makanan untuk para monster-monster.


Yulius yang menyadari hal itu, dengan cepat mulai berlari mengejar Baren.


Tapi,—


“Kau benar-benar menyebalkan, tunggulah di sana dengan manis. Aku akan membawakanmu oleh-oleh kepala dari rekan-rekanmu.”


Melihat Yulius yang mulai mengejar, Baren berhenti di atas udara, dan dia menggunakan sihir tanah untuk mengurung Yulius di dalam sebuah kurungan.


“?!”


Mata Yulius terbuka lebar. Dia terkejut ketika merasakan tanah di sekitarnya mulai bergetar dan kemudian terangkat dalam bentuk segitiga dari segala arah.


Bumi seakan terkelupas, dan mulai bergabung menjadi satu.


Sesaat kemudian, jalannya terhalangi.


Tanpa dia sadari, dirinya telah terkurung di sebuah penjara tanpa cahaya yang berbentuk setengah dari bentuk bola, dan tidak meninggalkan sedikitpun celah untuk dia keluar.


“Aku telah menggunakan sihir dalam jumlah yang besar untuk membuat itu. Jadi, untuk sementara waktu kau tidak akan bisa keluar dari sana. Nikmati saja waktumu ketika aku membunuh semua teman-temanmu, ahahahahaha!!”


Mengatakan itu, Baren tertawa keras, dan dia langsung pergi meninggalkan Yulius dengan senyuman sadis yang terlukis di bibirnya.