Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.6 - Permusuhan



Sesampainya di sana, Yulius memandang pintu kamar dan mendengus.


“Lin, tunggu sebentar,” pintanya, membuat Lin memiringkan kepalanya dengan bingung atas perintah yang aneh itu.


Namun, tidak menggubrisnya, Yulius segera membuka pintu dan masuk ke dalam ruangan itu sendirian. Saat itu juga, mata Lin melebar, dia terkejut begitu melihat seisi ruangan yang berantakan.


Tetapi, yang lebih membuatnya heran adalah…


Bahwa gadis yang seharusnya tidur di sana sudah tidak ada.


“Tuan muda, ini—“


Merasa curiga dengan situasi tersebut, Lin ingin mendekati tuannya. Namun, Yulius segera menyela dengan suaranya.


“Apa kau pikir aku tidak melihatmu?” Mengangkat kepalanya, Yulius mendongak.


Di sana, dia melihat seorang gadis kecil dengan baju putih bersih yang sedang menempel di langit-langit seperti superhero laba-laba yang dia kenal.


“Kau tidak memiliki hak paten untuk melakukan aksi itu.”


“Hyaahhh?!!” Meraung marah, gadis itu tiba-tiba menerjang Yulius.


“Haha, aku suka anak yang penuh semangat.” Melangkah sedikit tanpa meninggalkan kakinya di lantai, Yulius dengan mudah menghindari serangannya.


“Kau akhirnya sudah bangun, aku tidak ingin membuatmu tidur lagi. Jadi, bisa kau tenang sebentar,” lanjutnya, dengan kedua tangan di saku celananya, yang memohon sambil menghindari serangan gadis itu dengan santai.


Tapi, seakan tidak mendengarkannya, gadis itu terus menerus menyerangnya, menggunakan cakar tajam yang telah diperkuat dengan sihir kegelapan.


“Tuan Muda!”


“Jangan khawatir, aku baik-baik saja.”


Tidak tahan hanya dengan berdiam diri dan menonton, Lin meneriakkan keinginannya untuk segera membantu.


Namun, Yulius menolaknya dan dia hanya bisa mengenyah kembali lidahnya, sembari melihat tuannya yang bertarung— tidak. Daripada bertarung, itu lebih seperti… bermain-main.


“Hiyaah!!”


“Ahaha, kau tidak bisa mengenaiku.”


Semua serangan yang gadis itu lancarkan sangat kuat, dan dia juga sangat lincah. Tapi, tidak satupun serangannya berhasil mengenai Yulius.


Bahkan, itu membuat Yulius tertawa ketika melihat gadis itu yang menyerangnya dengan suara teriakan yang lucu.


“Baiklah, sudah cukup. Bisa kau tenang sebentar?” Mengatakan hal itu, Yulius menangkap gadis itu yang melompat ke arahnya, hampir seperti menangkap seekor kucing yang menyerang.


Memegang bajunya, dia menghentikan pergerakan dari gadis itu. Namun, gadis itu masih dengan ganas mencoba untuk menyerang Yulius. Mengayun-ayunkan tangannya yang mencoba untuk mencakar Yulius.


Lin yang melihat itu segera maju dan memegang kedua tangan gadis tersebut.


“Nona, tolong tenanglah! kami tidak akan menyakiti anda! Semuanya baik-baik saja, anda sudah tidak perlu khawatir lagi!” Dia mencoba untuk menenangkannya yang terus memberontak dengan liar.


Saat diangkat dari lantai, kakinya mulai menendang secara sembarang dan tangannya terus mencoba untuk melepaskan diri dari pegangan Lin.


Tatapan mata dari gadis tersebut terlihat tajam, itu bukanlah tatapan yang seharusnya dimiliki oleh manusia. Itu adalah tatapan seekor hewan buas.


Meskipun dia seseorang Elf yang cantik. Sungguh mengecewakan untuk melihatnya yang tidak bertingkah elegan seperti Elf yang Yulius bayangkan.


“Haahhh…”


Menghela nafas panjang, Yulius mendekati Elf tersebut.


Tapi, saat itu juga—


Setelah itu, gadis tersebut langsung berbalik dan mengubah mangsanya menjadi Lin yang terlihat tidak berdaya.


Akan tetapi—


“Aku harap kau bisa berhenti sampai di situ.”


Suasana yang mencekam tiba-tiba meledak di dalam ruangan, membuat kulit putihnya merinding ketakutan, seperti dialiri oleh listrik statis.


Gadis itu terdiam, begitu sadar bahwa Yulius mengobarkan hasrat membunuhnya yang luar biasa, itu membuat tubuhnya menciut dan gemetar ketakutan.


“Tuan Muda, hentikan!” teriak Lin.


Mendengar itu, Yulius mengangkat bahunya dan menghilangkan hasrat membunuhnya sesuai yang Lin inginkan.


“Maaf-maaf, aku tidak sengaja,” ujarnya dengan santai, tanpa rasa bersalah sedikitpun. Membuat Lin menghela nafasnya dengan panjang.


“Benar-benar... Tuan Muda, anda tidak boleh membuatnya takut seperti ini. Dia hanya anak-anak, anda tidak boleh membullynya! Bukankah anda sendiri yang bilang jika anda ingin merawatnya? Maka anda tidak boleh melakukannya seperti tadi! Anda harus merawatnya dengan benar! Anda tidak boleh menakutinya, apa anda mengerti?” Lin menegur, dan menceramahi Yulius dengan cemberut, karena telah menggunakan kekerasan untuk menakuti gadis itu.


Tapi, seolah menikmatinya, Yulius memberikan senyuman yang indah di dalam hatinya ketika dia melihat Lin yang marah.


Wajahnya seolah tercerahkan saat Lin dengan pipi merahnya memarahi Yulius.


(Aaah~ Dia tetap imut walaupun sedang marah. Jika bisa aku ingin dia terus memarahiku.)


Lin tidak sadar dengan pikiran Yulius saat ini, dan dia beralih kembali ke gadis Elf itu.


Dia segera berdiri dan berjalan mendekati gadis itu yang menciut di lantai dengan tubuh yang masih gemetar ketakutan seakan-akan sampai saat ini, rasa dingin dari hasrat membunuh Yulius masih menghantuinya.


Melihat itu, Lin dengan lembut memeluknya.


“—Hah?!”


Suara kejutan datang dari sisi lain, tapi Lin sama sekali tidak memperdulikannya.


“Tidak papa, semuanya baik-baik saja. Sudah tidak ada lagi yang perlu kamu takutkan. Saya ada di sini untuk menolongmu.”


“Hiks… Hiks…”


“Ya yah, anak pintar. Sekarang kamu sudah aman.”


Melekat kepadanya, Lin mengelus lembut kepada gadis tersebut, dan terus memeluknya dengan penuh kasih sayang. Mereka terlihat seperti memiliki keharmonisan yang dapat membuat hati siapapun terasa hangat.


Namun, anehnya Yulius sama sekali tidak merasa demikian.


Melihat gadis itu yang terlalu lengket dengan Lin, urat kecemburuan muncul di dahinya dan dia segera mencoba untuk melepaskan mereka berdua.


“Oi, ini bukan saatnya untuk—“


“Grawrr!!” Menggigit seperti anjing, begitu Yulius mengulurkan tangannya. Gadis itu dengan marah mencoba untuk menggigitnya dan dia spontan menarik kembali tangannya


“Sudah sudah, tidak perlu berkelahi lagi.” Lin segera menenangkannya, dan memeluk gadis itu lebih erat lagi, yang mana membuat mata Yulius berkedut-kedut dengan kesal.


(A-Apa apaan ini… Jangan bilang?!)


“Apa dia mencoba untuk merebut posisiku?”


Suaranya keluar seperti hembusan nafas, sehingga itu tidak terdengar oleh Lin dan gadis itu yang sedang berpelukan dengan penuh kasih sayang.


Di sana, Yulius menyatu dengan udara.


Berubah menjadi mahkluk monoton yang diabaikan oleh dunia.