
—Menebas, menebas, dan menebas tanpa ampun.
Mengayunkan kedua pedang hitamnya dengan momentum yang tajam, Yulius seakan menari ketika dia membunuh puluhan, ratusan, hingga ribuan nyawa manusia.
Potongan demi potongan membelah daging musuh-musuhnya seperti kertas, mengoyak mereka menjadi dua dan terus melakukan pembantaian habis-habisan.
Darah merah segar membasahi seluruh tubuhnya, tetapi tanpa henti Yulius terus membanjiri medan perang dengan kekejamannya.
Tawa yang menggelegar keluar dari bibirnya yang menyeringai sadis, menjadikan sosoknya yang haus akan pembunuhan mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Tapi, tanpa dia sadari, ketika dia tengah menikmati semua itu.
‘Sesuatu’ yang berada di dalam dirinya mulai bergejolak. ‘Sesuatu’ itu berdetak layaknya jantung yang bernyawa.
Sekali, dua kali, dan tiga kali. Mempercepat detakannya, tubuh Yulius semakin memanas, hatinya membara dalam kesenangan akan kehancuran.
Dia bertambah semakin kuat dan cepat, membantai musuh-musuhnya tanpa memperdulikan yang lainnya. Menebas, menebas, dan terus menebas—
(Apa ini?)
“Ahahahahahahahahaha!!!”
(Aku tidak bisa mengendalikan tubuhku?!)
Membelah tubuh musuhnya menjadi dua, memotong seluruh anggota tubuh mereka menjadi beberapa bagian, dan mencungkil kepala mereka dengan ayunan pedang yang sangat kejam.
‘Sesuatu’ di dalam diri Yulius semakin memanas.
Darahnya seakan mendidih, dan otaknya seakan meleleh. Perasaan panas di dalam tubuh Yulius membakar hasrat membunuhnya dan membuatnya semakin merajalela.
Jiwanya menjadi semakin buas, dan Yulius terus membunuh semua orang yang dia lihat. Sembari tertawa keras, dia membunuh musuh-musuhnya tanpa ampun.
(Sial! Aku harus segera bangun! Ini bukan aku! Orang ini bukan diriku!)
“Ahahahahahahahahaha!!!”
“Ti-Tidak! Tolong ampu—“
‘Srekk!!’
Mengayunkan pedangnya, Yulius menusuk kepala musuhnya yang memohon ampunan dan kemudian menendang tubuhnya yang sudah menjadi mayat.
“Eeekkk! Ku-Kumohon, tolong aku!”
Prajurit musuh lainnya yang melihat Yulius segera melarikan diri dengan menyedihkan. Terlihat dari mata mereka yang telah kehilangan keinginan untuk bertarung. Hanya ada ketakutan dan keputusasaan di wajah mereka.
Dia bukan lagi seorang prajurit.
Tapi, melompat dengan kecepatan kilat, Yulius membelah tubuh prajurit itu menjadi dua secara vertikal, dan tubuh prajurit itu terjatuh dengan dua badan yang terpisah.
Menghamburkan darah dan organ dalamnya, dia berubah menjadi mayat lainnya.
(Hei! Sudah cukup! Hentikan!)
“Ahahahahahahaha!!”
Mencoba dengan keras untuk menghentikan tubuhnya sendiri yang mengamuk seperti monster, Yulius terus berteriak dan berjuang untuk merebut kembali kendalinya.
Namun, dia gagal.
Tubuh aslinya sama sekali tidak mendengarkan perintahnya.
Seperti hewan buas yang hanya berfokus untuk memenuhi hasratnya, tubuh Yulius membantai semua musuh-musuhnya dengan brutal. Tidak ada lagi seni atau keanggunan di dalam teknik pedangnya.
(Itu bukan diriku! Hei, apa yang kau lakukan padaku?!)
“Ahahahahahaha!!!”
Menciptakan lebih banyak mayat-mayat musuh. Medan perang dipenuhi oleh jeritan demi jeritan yang menggelegar, membuat tempat itu menjadi neraka hidup.
“Tuan Yulius! Semua musuh telah mencoba untuk mundur! Kita disuruh untuk terus mendorong mereka seperti ini oleh Tuan Albert!— Eh, Tuan Yulius?”
Mendekati Yulius yang tengah asik memburu para musuh yang melarikan diri, prajurit itu menaikkan alisnya heran ketika dia melihat mata Yulius yang memerah.
Itu bukan lagi kondisi di mana matanya terbasahi oleh darah, tapi itu benar-benar memerah. Seperti mata seekor monster, mata Yulius memerah secara penuh dan dengan seringai yang bengis, dia melompat ke arah prajurit itu.
Mengayunkan pedangnya, dia mencoba untuk membunuh rekannya sendiri.
“–Hk!!”
‘Stingg!!’
Namun, sebelum dia berhasil membelahnya. Seorang pria tua dengan tombak besar di tangannya menangkis serangan Yulius dan melindungi prajurit itu.
Dia adalah—
“Hei, Tuan Yulius! Apa yang terjadi pada anda?!! Apa yang anda lakukan?!! Tuan Yulius, saya mohon tolong hentikan semua ini!!” teriak Robert.
Dia segera mengetahui ada sesuatu yang salah dan langsung bergerak cepat untuk melindungi prajurit yang hampir dibunuh oleh Yulius.
“Ahahahahahaha!!!”
“Keh! Apa dia telah termakan oleh hasratnya sendiri?!!”
Mengerutkan wajahnya, Robert tampak kesulitan ketika dia mencoba untuk menahan kekuatan Yulius, tulang keringnya berderit.
Seketika itu juga, dia segera mendorong tubuh anak itu menjauh, dan mengambil jarak yang sesuai untuk serangan tombaknya.
“Tuan Yulius!! Apa yang terjadi?!” teriak Robert mencoba untuk menyadarkannya, “Hei Tuan Yulius!! Cepatlah kembali!! Apa anda ingin memperlihatkan sosok anda saat ini kepada Nona Chengshi?!!” lanjutnya yang terus bertahan dari serangan Yulius.
Robert terlihat mati-matian hanya untuk menghindari semua serangan Yulius yang sangat cepat dan kuat.
Tapi, untungnya itu masih bisa dia baca dengan baik. Karena serangannya yang tidak memandang teknik, Robert bisa memprediksi dan menghindari semua serangan brutal Yulius.
Namun, dia merasakan sedikit keanehan dari tubuh Yulius, dimana serangannya semakin lama semakin bertambah cepat.
“Gggh!”
Itu membuat Robert semakin kesulitan untuk menghindarinya.
Ketika Yulius mencoba untuk menusuk kepalanya, didetik-detik terakhir Robert. Dia berhasil menghindari serangannya.
Tapi, sayangnya, pipi dia sedikit tergores oleh pedang Yulius, dan itu langsung memberikannya status buruk yang menjadi efek dari pedang hitam tersebut.
Seluruh tubuhnya langsung mati rasa, tubuh Robert gemetar dan dia dengan susah payah memegang tombak besarnya.
Dia tidak bisa lagi bergerak.
Sedangkan Yulius yang melihat itu, tanpa ragu berjalan mendekati Robert yang berlutut. Matanya masih memerah bercahaya, dan seringai kejam terlukis di wajahnya.
Melihat kondisinya yang dalam bahaya, Robert menggertakkan giginya dan mencoba menggunakan seluruh tenaganya untuk bergerak.
Namun, itu sudah terlambat.
Ayunan pedang yang tajam telah diturunkan, dengan niat untuk membunuhnya.
Sosok Yulius bagaikan malaikat kematian tanpa kemanusiaan saat dia berencana untuk membelah tubuh Robert menjadi dua dengan tebasan vertikal.
“Ggghh….. Tuan… Yulius...” Robert memelas, dengan suara lirihnya yang mengenaskan.
Pandangan Robert penuh dengan darah, dia samar-samar menatap ke arah kematiannya. Ke arah bilah hitam tajam yang mencoba untuk memotongnya.
Setelah itu, pada saat yang bersamaan...
Pedang Yulius diayunkan.
‘Srakk!!’
Darah merah mulai mengalir, dan menciprat ke segala tempat.
Tapi—
“Hah?”
Matanya terbuka lebar, dia tercengang ketika dia melihat tubuh Yulius yang menusuk tubuhnya sendiri.
Di sana, mata Yulius juga terlihat mulai kembali mendapatkan cahayanya.
“A-Apa kau… pikir… aku akan membiarkannya….. keparat!!” umpat Yulius, yang dengan suara yang serak mencoba untuk menghentikan dirinya sendiri.
“Tuan Yulius!!” Robert terkejut.
Saat itu juga, status buruknya mulai menghilang, dan dia mendapatkan kembali kekuatannya untuk bergerak. Dia buru-buru mendekati Yulius, tapi anak itu segera menghentikannya.
“Jangan mendekat!! Aku baik-baik saja!!”
“Tapi—“
“Jangan khawatir, perangnya masih berlanjut! Kau lakukan saja tugasmu untuk memenangkan perang ini!! Ini adalah perintahku!! Cepat pergi!!”
Menahan semua gumpalan darah yang muntah dari mulutnya, Yulius mati-matian mempertahankan kesadarannya untuk mengatakan itu kepada Robert.
Robert menggigit bibirnya dengan ekspresi yang pahit. Tapi, dia tidak lagi membantah, dan setelah memberikan salam hormat kepada Yulius, dia segera pergi, melanjutkan perang yang masih belum selesai.
Mereka masih belum menang, karena pimpinan musuh masih hidup.
“Robert, menangkan perang ini!” ujar Yulius dengan senyuman yang getir.
Robert mengambil kembali tombaknya dan membungkuk kepada Yulius.
“Sesuai keinginan anda, Tuanku!”
Setelah itu dia pergi meninggalkan Yulius sendirian di tempat itu.
“Grbghh! Gorrbhh!” Menahan muntah darahnya dengan tangannya, tubuh Yulius berlutut di tempat tersebut.
Dia gemetar, merasakan mati rasa yang mengerikan dari seluruh tubuhnya.
“Ahaha, aku tidak percaya efek dari pedangku akan kurasakan sendiri… Tapi, ini lebih baik. Aku berutang budi kepada Robert…” gumam anak itu dengan senyuman yang mencela dirinya sendiri.
Kemudian, memegang pedang yang masih menusuk perutnya, dia menarik pedang itu dengan mengerahkan semua tenaganya.
Yulius menggertakkan giginya saat dia menahan rasa sakit yang luar biasa.
“Arhghhh! Gaaaarrhhhhh!!!!” Mengerang keras, air mata sedikit menetes dari matanya, dan nafasnya terengah-engah saat dia akhirnya berhasil mencabut pedang itu.
“Keh!” Menutup satu matanya sembari mengernyit kesakitan, Yulius segera menyembuhkan lukanya dengan sihir penyembuhan.
[Heal]
Cahaya hijau memenuhi perutnya, dan perlahan-lahan menutup lukanya.
Sekarang, dia telah berhasil mengendalikan tubuhnya lagi.
“Sial, apa yang sebenarnya terjadi?! Kurasa aku harus menyelidiki tubuhku nanti!” ujar Yulius dengan wajahnya yang mengerut.
Kemudian, dia beralih kembali ke medan perang, matanya menyipit dengan tajam saat dia melihat para pasukan musuh yang mulai mundur.
“…Tapi, kurasa pertama aku harus menyelesaikan ini terlebih dahulu.”
Dia terjun kembali. Tapi, kali ini dia tidak membuang-buang waktunya dengan para pasukan musuh yang melarikan diri. Yulius meluncur langsung ke tempat yang menjadi markas utama musuh.
Di sana, selama mereka membunuh komandan musuh.
Perang ini akan menjadi kemenangannya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Mengobrak-abrik markas utama musuhnya, Yulius mulai mencari komandan mereka.
Dia satu per satu memasuki tenda-tenda yang berdiri di sana, membunuh siapapun yang ada di dalamnya sambil mencari di mana letak komandan mereka.
Saat itulah, mata Yulius menatap penuh curiga ke salah satu tenda yang paling besar di tempat itu.
Matanya menyipit tajam.
Namun—
“Aku sudah terlambat ya,” gumamnya pelan, hampir terdengar seperti hembusan nafas.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Itu adalah tempat yang jauh dari perang, terlalu jauh sampai-sampai suara ledakan dan jeritan yang menjadi orkestra kekacauan itu tidak terdengar lagi.
Di sana, Kamuel berlari dengan putus asa.
Masih memakai zirah mewahnya yang saat ini telah ternodai oleh kotoran dan tanah, dia berlari dengan nafas yang terengah-engah.
“Ha… haha… ahahahaha!” Dia tertawa, semakin keras dan keras. Kemudian, dengan senyuman yang sombong, dia berkata, “Aku belum kalah! Itu benar, aku masih belum kalah! Selama aku masih hidup, aku masih bisa membalas mereka!”
Dia benar-benar sangat menyedihkan.
Melupakan semua ludah-ludah dan kematian yang telah dia buat sendiri. Pria itu melarikan diri dari segalanya dan meninggalkan semua yang dia miliki.
“Aku masih belum kalah! Jika aku berhasil kembali ke wilayahku, aku masih bisa menggunakan para rakyat bodoh itu untuk menjadi pasukan bala bantuan!”
Memikirkan hal itu, wajah bodoh Kamuel terlukis di dalam senyuman vulgarnya.
Tapi, saat dia terus berlari dengan langkah kaki yang ceroboh, tiba-tiba dia terjatuh.
“Aduh!! Gggh!”
Dagunya dengan keras menghantam tanah dan rasa sakit mulai menjalar sampai ke seluruh tubuhnya, membuat dia menangis hanya karena hal itu.
“Aaaarrhhh! Ini sakit!! Apa yang—“
Menoleh ke arah belakangnya, hati Kamuel menjerit.
Ekspresinya membeku dalam ketakutan saat dia melihat kedua kakinya yang telah terpotong dan meninggalkannya dengan banyak darah yang mengalir.
“Gaaaarrrrggghhhhh!!! Aaaaaarrrgggghhhhh!!! Kakikuuuuuu!!! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakit! Sakitttttttt!!”
Air matanya mulai banjir, dan dia berteriak keras kesakitan saat dia memegangi kakinya yang telah terpotong dengan tebasan yang rapi.
Setelah itu, tiba-tiba sebuah suara seseorang muncul dari belakangnya.
“Aku pikir ini saja masih belum cukup untuk membayar semua yang telah kau lakukan.”
Suara itu terdengar dingin, sampai-sampai membuat buluh kuduk Kamuel merinding ketakutan.
“Si-Siapa kau?!” Mengumpulkan semua keberaniannya, Kamuel menoleh ke arah pemilik suara tersebut.
Di sana dia melihat seorang anak laki-laki, memiliki rambut hitam yang mengkilap, dan mata merah tua yang menatap Kamuel dengan hasrat membunuh yang luar biasa.
Sosoknya bagaikan malaikat kematian dengan sabit besar yang siap untuk memenggal kepalanya kapan saja.
“Yah, kurasa itu akan terlalu jahat jika kau mati tanpa tau siapa yang membunuhmu. Maka, dengarkan lah baik-baik, aku hanya akan mengatakannya sekali saja.”
Melangkahkan kakinya mendekati Kamuel, kesan kematian mulai merayap dan mencengkram jiwanya dalam keputusasaan.
“Tu-Tunggu! To-Tolong ampuni aku!! Aku akan melakukan apapun untukmu!! Aku akan memberikanmu uang yang berlimpah!! Aku akan memberikanmu semua wanita cantik yang kau sukai!! Karena itulah, kumohon! Tolong jangan ambil nyawaku!!”
“Maaf, tapi aku tidak tertarik,” jawab sosok itu tanpa ragu sama sekali, membuat Kamuel spontan menarik nafasnya.
Kemudian, setelah berdiri tepat di depannya, sosok itu mulai mengayunkan pedangnya dan dengan suara yang dingin dia berkata.
“Namaku adalah Yulius vera Luciffer, ingat itu baik-baik dan matilah.”
Mengangkat pedang hitamnya ke atas, Yulius mengayunkan pedangnya dengan cepat dan memotong kepala Kamuel sampai terlepas.
“Ah?”
Didetik-detik terakhirnya, Kamuel dapat merasakan pandangannya yang terbang dan perlahan-lahan mulai terjatuh ke bawah.
Setelah itu, kegelapan mulai memenuhi penglihatannya.