Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.28 - Penderitaan tak terlihat



Yulius berbalik, dan dia mulai berjalan mendekati sosok lain yang ada di tempat tersebut. Langkah kaki Yulius terdengar pelan dan sunyi, di mana tidak ada satu pun orang yang berani untuk menghentikannya.


Saat Yulius perlahan-lahan mendekat ke arah mayat Robert yang tergeletak tak berdaya. Dia berlutut di depan pria tua itu, di sampingnya, juga terdapat Nia yang dari tadi telah menangis histeris.


“Tuan Yulius…” Melihat Yulius, suara lirih Nia keluar secara spontan.


Yulius menunduk, sembari melihat tubuh pria tua itu yang tergelatak mati.


“Maaf, aku terlambat,” ujarnya, saat dia menutup kepala Robert yang hancur dengan kain putih bersih yang dia ambil dari sakunya. “Kau telah berjuang.”


“…..”


Nia tidak mengatakan apa-apa, dan dia juga menunduk.


Tapi, saat itu juga, mengingat sosok lain yang telah dia tinggalkan, alis matanya terangkat dan Nia dengan panik segera bangkit dari tempatnya.


“Itu benar, Tuan Yulius! Nona Nadya?!”


“Itu hanya cangkang kosong.” Merespon cepat Nia yang panik, Yulius berkata dengan suara yang rendah.


“Huh?” Itu membuat ekspresi Nia membeku.


“Nadya tidak ada di sana. Jiwanya telah dipindahkan ke tempat lain. Tapi, kau tidak perlu khawatir, dia belum mati. Aku akan mencari cara untuk memindahkan jiwanya lagi, untuk sekarang lebih baik kita menyimpan tubuh itu.”


“Jiwa… dipindahkan… apa yang anda katakan?”


“Seperti kataku, tenanglah sedikit.”


“Keh!”


Nia menggigit gigi belakangnya dengan kesal, dia segera bangkit dan membentak anak itu dengan amarah yang meledak.


“Tuan Yulius, apa yang sebenarnya anda bicarakan?! Bagaimana saya bisa tenang setelah melihat semua ini?!! Tolong jangan main-main!! Seluruh kota telah hancur!! Tuan Robert juga telah mati!! Dan sekarang anda bilang Nona Nadya hanya cangkang kosong!! Jangan bercanda!! Tidak mungkin saya bisa tenang!!”


“…..”


“Ini… Ini semua salah anda…” Suara Nia menjadi semakin lemah, menuntut Yulius atas semua kehancuran yang terjadi, dia menyalahkannya.


Tapi, Yulius tidak mengatakan apapun, dan membiarkan wanita itu memukul-mukul pundak kecilnya sambil menangis terisak-isak.


“Ini semua salahmu… Jika saja kau datang tepat waktu! Ini tidak akan terjadi!”


“….”


“Ada apa?! Kenapa kau diam saja?! Katakanlah sesuatu!”


“….”


“Keh!”


Kesal dengan respon Yulius yang terbungkam, Nia mendecakkan lidahnya. Kemudian, dia meraih bahu Yulius, menjatuhkannya dan menduduki tubuh kecil anak itu dengan mata yang menyala-nyala penuh amarah.


“Kau! Apa kau benar-benar paham dengan situasi ini?! Atau mungkinkah kau tidak peduli karena ini bukan kotamu!! Coba katakanlah sesuatu!! Tuan Yulius— tidak, kau hanya seorang penjajah bajing*n yang sama seperti mereka!!”


Mata Nia melotot dengan urat-urat kemarahan di dahinya, dan dia dengan kuat menekan leher anak itu. Arti kata, Nia berniat untuk membunuh Yulius dengan mencekik lehernya sekuat tenaga.


“….” Sedangkan Yulius tidak melakukan apapun, dia hanya terdiam, menunduk dan tidak memperlihatkan ekspresinya sama sekali.


Tapi,—


“Nia, hentikan itu!”


Kepakan sayap yang besar menerpa tempat tersebut, dan membuat Nia terkejut.


Matanya terkesiap, dan sesaat dia meninggalkan amarahnya.


“Suara ini… mungkin kah?! Nona Nadya?!” Dia segera menoleh, dan di sana dia melihat seekor naga merah berukuran kolosal yang mendarat secara mendadak di tempat tersebut.


Melihatnya, Nia segera berdiri.


“Nona Nadya… betulkah itu anda?” Sedikit ragu, Nia mengulurkan tangannya yang gemetar dan berjalan perlahan mendekati naga tersebut.


Namun, sebelum dia sempat, sosok yang lain juga memperhatikannya.


Di sisi lain, Baren tertawa ketika dia menonton situasi ini.


Menolehkan pandangannya, Nadya dalam wujud naganya mengernyit, dan menatap tajam ke arah sosok monster hitam yang hanya bertubuh setengah bagian.


“Aku tidak memiliki waktu sekarang untuk mengurusmu, Baren.” Suara Nadya tajam, memberikan ancaman yang cukup untuk membuat seluruh mahkluk hidup merinding.


Namun, Baren hanya tersenyum kecil.


“Jangan dingin gitu.” Dan kemudian dia memejamkan matanya.


Nadya mengabaikan hal itu, dan dia kembali menoleh ke arah Nia dan Yulius, yang saat ini tubuhnya tergeletak lemah di atas tanah.


Melihat itu, Nadya mengigit bibirnya dengan frustasi.


“Jadi, anda benar-benar melakukannya, ya.”


“Nona Nadya...?” Bingung dengan perkataan Nadya yang tiba-tiba, Nia memiringkan kepalanya saat dia melihat sosok naga itu perlahan melangkah mendekati tubuh Yulius yang tergeletak.


Di sana, dia dengan lembut mengulurkan jari naganya.


“Aku tau ini tidak akan mengubah apapun. Tapi, kuharap anda bisa sedikit merasa lebih baik,” ujarnya, saat dia mulai merampalkan sihir yang sekarang bisa dia pakai.


[The Cocoon of Light]


Menuturkan mantranya dengan suara yang lembut.


Seketika itu juga, cahaya suci yang terang menyelimuti tubuh Yulius, dan membungkusnya di dalam sebuah kepompong tak terlihat yang mengangkat tubuhnya dari atas tanah.


Kehangatan yang lembut dari sihir penyembuh tingkat tinggi itu meresap di setiap tubuh anak tersebut, dan sedikit menenangkannya dalam penderitaan yang hanya dia yang tau.


Nia yang melihat itu sama sekali tidak mengerti.


“Apa yang anda lakukan, Nona Nadya? Kenapa anda menolongnya?” Nia bertanya, tanpa memiliki niat buruk sedikitpun.


Menjawab itu, Nadya menatap Yulius dengan tatapan yang basah, dan berkata dengan suara yang pelan, sembari menjaga anak tersebut.


“Nia, apa kamu tidak merasakan sesuatu yang aneh di tubuhmu?” tanya Nadya balik.


Tapi, tetap saja, Nia sama sekali tidak mengerti.


“Aneh… saya tidak merasakan apapun yang aneh,” jawabnya, sambil memeriksa seluruh bagian tubuhnya untuk memastikan perkataan Nadya.


Seperti yang dia bilang, tidak ada yang aneh dengan tubuhnya.


Namun, itulah yang menjadi masalah.


“Kamu sekarang tidak lagi merasakan rasa sakit, ataupun kelelahan. Luka-luka yang seharusnya ada di tubuhmu, sekarang juga sudah tidak ada. Apa kamu benar-benar tidak menyadarinya?”


“Hm?” Nia memeriksa tubuhnya sekali lagi, dan saat itu juga alis matanya terangkat, dia terkejut kagum. “Itu benar! Tidak ada lagi luka di tubuhku, dan aku sama sekali tidak merasakan rasa sakit, apa maksudnya ini?”


Nadya menoleh ke arah Yulius yang tertidur di kepompong cahaya. Nia juga menoleh ke arah yang sama dan melihat Yulius.


Di sana, matanya terbuka lebar.


“Ini..!”


Melihat wajah Yulius yang mengernyit dan terus menggertakkan giginya, Nia perlahan-lahan mulai mengerti apa yang dimaksud oleh perkataan Nadya.


Memejamkan matanya, tubuh Yulius terus meronta-ronta tak menentu, seakan-akan sedang menahan rasa sakit yang luar biasa. Dari mata, hidung, mulut dan telinganya juga mengeluarkan banyak darah.


Melihat itu, hati Nia membeku, kakinya terjatuh lemas, dan dia menutup mulutnya sembari terus menyaksikan Yulius yang menderita.


Nadya mengerut saat dia menjelaskannya kepada Nia.


“Saat ini, Tuan Yulius sedang menerima semua ganjaran rasa sakit dari semua orang. Sebagai bayaran atas penyembuhan total seluruh pasukannya, Tuan Yulius harus menerima semua penderitaan mereka. Itulah kenapa dia terlihat sangat menderita. Jadi, aku harap kamu tidak terlalu menyalahkannya, Nia.”


“Aku…” Mata Nia terjatuh, dan dia dengan rasa bersalah menatap tangannya sendiri, yang sebelumnya berniat untuk membunuh Yulius.


“Aku…”


Pada akhirnya, Nia tidak tau harus mengatakan apa lagi dan berhenti di sana.