Become A Last Boss With System

Become A Last Boss With System
Ch.23 - Mengukir keterpurukan



‘Bum! Bum! Bum!’


Suara benturan bergema terus menerus di penjara yang didominasi oleh kegelapan itu. Tidak meninggalkan setitik pun cahaya di sekitarnya.


Bunyi dentuman yang keras seakan terdengar seperti suara bumi yang runtuh. Yulius mengernyit dengan kesakitan ketika dia terus mengayunkan pedangnya ke tembok penjara yang tebal tanpa henti, dia hampir terlihat seperti orang yang telah putus asa dengan segalanya.


“Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Sial! Hancurlah, sialan!!”


Berulang kali dia melakukan hal itu dengan harapan tembok keras itu hancur dan membuat jalan untuknya. Namun, sudah yang ke-seribu kalinya dia mencoba, tetapi sama sekali tidak ada perubahan yang terjadi.


Dinding yang mengurung dirinya masih dengan kuat bertahan, tanpa goresan sedikitpun. Bahkan dengan kekuatan sihir miliknya yang tersisa, Yulius sama sekali tidak bisa menghancurkan penjara tersebut.


Setelah itu, begitu dia ingin menghantamkan pedang hitamnya sekali lagi dengan kekuatan yang meledak, tiba-tiba…


‘Clangg!’


Suara besi yang terjatuh menghentikan langkah Yulius.


“Keh…” Itu membuatnya mengerut dengan tatapan yang suram, ketika dia memandang ke arah kedua tangannya sendiri yang telah mati rasa.


Kedua tangannya gemetar, dan luka melepuh terlihat hampir memenuhi seluruh telapak tangannya.


Karena itu, kedua pedang yang dia pegang lepas dan terjatuh seakan menggambarkan rasa sakit yang dia alami selama ini.


Rasa kecewa, depresi, dan frustasi bergejolak di dalam dadanya.


Sesaat kemudian, dengan tubuhnya yang telah kehilangan semua tenaganya, Yulius terjatuh dan dia berbaring di atas tanah dengan nafas yang terengah-engah.


Sekarang dia benar-benar kelelahan.


Tapi, matanya tetap menolak untuk menyerah. Dia mengunakan seluruh kekuatannya untuk berdiri kembali, tetapi itu tetap gagal.


Kakinya mengeluarkan suara yang berderit, dan Yulius langsung terjatuh kembali begitu dia merasakan rasa sakit yang kejam menyengatnya seperti terkena tusukan jarum dari seluruh tubuhnya.


Stimulasi rasa sakit ke otaknya semakin bertambah, dan itu hanya membuat status yang dia miliki terus menerus menurun dengan sangat drastis.


Menyadari akan betapa lemahnya dia saat ini, bunyi gemeretak mengisi penjara yang kosong, dan Yulius dengan keras membanting tangannya ke tanah, membuat ledakan yang cukup kuat untuk membuat debu-debu di sekitarnya terhempas.


“Sial…” keluhnya, dengan suara yang lirih.


Dia terlihat seperti ingin menangis. Tapi, itu hanya membuktikan bahwa dia benar-benar kecewa dan kesal pada betapa lemahnya dia saat ini, karena tidak bisa melakukan apapun.


Jika dia terus berdiam di tempat yang gelap ini, dia tidak akan pernah bisa menyelamatkan kelompok Nia, yang seharusnya saat ini juga tengah bertarung.


Dia tidak bisa melakukan apapun untuk mereka.


Dengan kekuatan sihir yang habis, dan status yang telah turun drastis hingga mencapai level di mana dia bahkan bisa dengan mudah dibunuh oleh puluhan prajurit.


Jika sekarang dia memaksakan dirinya lagi, dia bisa saja mati karena kelelahan, dan Yulius tau bahwa dia saat ini telah berada diambang batas sisi tersebut.


Dia sangat kenal dengan perasaan sekarat yang dia alami saat ini, karena itu sama persis ketika dia mendapatkan kematian di dunia lamanya.


“… Aku harus melakukan sesuatu.” Berkata dengan suara yang lemah dan wajah yang dipenuhi oleh rasa lelah, Yulius sekali lagi mencoba untuk berdiri.


Tapi, dia tetap gagal.


“Gargh!!”


Otot-ototnya menjerit, dan tumpuan dari tulang kaki Yulius retak, membuatnya seakan menerima sengatan listrik secara tiba-tiba, dan kemudian, dengan bunyi gedubuk keras, tubuhnya kembali terlentang di atas tanah.


Melihat ke atas, itu hanya ada kegelapan. Ini membuatnya ragu apakah dia sebenarnya menutup mata atau tidak, karena semua penglihatannya serupa.


Hanya ada kegelapan, kegelapan, dan kegelapan.


Hal tersebut membuat Yulius dengan frustasi mengigit bibirnya.


“Sial…”


Menumpahkan semua kekecewaannya yang dramatis, dengan semua penolakan batin yang selalu menuntutnya untuk berjuang. Dalam kesendirian dan kelelahan yang mendalam, Yulius menutup matanya.


Sebuah tanda bahwa dia benar-benar telah menyerah.


Namun…


Saat itu juga, sebuah suara yang misterius memecah keheningan di sekitarnya.


[Apa kau ingin kekuatan? Kalau begitu, gunakan saja kekuatanku,] ujar suara itu, yang tidak tau entah berasal dari mana. Tapi, keyakinan bahwa dia berada di sana adalah sebuah kenyataan yang tak terpatahkan. [Kau bisa meminjam kekuatanku, jadi gunakanlah sesuka hatimu.]


“Tidak.”


Mengangkat suaranya, Yulius dengan keras menolak penawaran tersebut.


Wajahnya tenang, dan itu jelas adalah pemikiran tanpa ragu-ragu.


Bahkan Yulius sama sekali tidak penasaran dengan suara itu, tentang dari mana dia berasal dan siapa dia sebenarnya, balasan Yulius terkesan acuh tak acuh.


Karena Yulius tau, bahwa yang dia dengarkan saat ini adalah sebuah harapan terburuk yang harus dia lepaskan dan tidak boleh sampai dia gunakan.


Sebab itu bukan kekuatannya.


[Apa kau yakin? Bukankah kau tidak memiliki kekuatan lagi yang tersisa. Bahkan, ‘Keserakahan’ sama sekali tidak merespon hasrat konyolmu lagi. Kau terlihat sangat menyedihkan saat ini.]


“Apa yang kau inginkan?”


Suara itu datar, tanpa menonjolkan emosi apapun sama sekali, terdengar seperti suara pria yang berat dan mekanikal. Jadi, Yulius tidak tau, apa yang sebenarnya suara itu pikirkan dan apakah dia benar-benar bisa berpikir?


Suara misterius itu berdengung langsung di dalam kepalanya. Itu artinya mereka memiliki satu kepala dengan dua pemikiran. Tapi, tidak saling bersama satu sama lain.


[Itu adalah pertanyaanku. Apa yang kau inginkan? Yang jelas saat ini kau pasti sangat membutuhkan sebuah kekuatan. Jadi gunakan saja aku, dengan statusmu yang sekerang, kau pasti bisa mengendalikanku selama beberapa menit.]


“Apa yang kau inginkan?” Tidak menggubris topik yang berlangsung, pertanyaan yang sama kembali terulang, dengan suara yang dipenuhi ketidaksabaran.


[Gunakan kekuatanku, dan mengamuk lah sepuasmu, itu keinginanku.]


“Ditolak.”


[Kau benar-benar anak yang dingin. Tidak bisakah kau sedikit mengerti diriku? sejak kau bertarung, aku telah menahan semua hasratku untuk ikut bertarung, jadi aku ingin kau memuaskanku.]


“Sudah kubilang ditolak.”


[Apa kau yakin ingin membiarkan kotamu hancur?]


“…..”


Yulius terdiam, dia membisu tanpa bisa berkata-kata lagi.


Kemudian, menggunakan kesempatan ini, suara tersebut terus mendorongnya.


[Jika kau tidak segera pergi dari tempat ini. Kota itu akan hancur, dan seluruh rekan-rekan serta anak buahmu akan mati. Kau yakin ingin membiarkannya?]


“…..”


[Kenapa kau terus menolakku seperti itu? Bukankah kita adalah seseorang yang berada di tubuh yang sama, jadi bisa dibilang kita adalah saudara. Kau tidak seharusnya takut kepadaku. Aku hanya berniat untuk menolongmu.]


“….. Diam.”


[Oh, apa kau sebenarnya takut? Yah, kurasa itu wajar saja. Semenjak kau melihat isi status dari ‘wanita itu’, kau mulai berhenti untuk memakai kekuatanku lagi, dan kau menjadi lebih mengandalkan kekuatan sistem bodoh itu.]


“….. Diam!”


[Kau sudah tidak memiliki waktu lagi, saudara. Kau bukanlah seorang pria dengan jiwa bebal yang selalu ragu-ragu mengambil keputusan di saat yang genting. Kau adalah seorang penguasa, yang sudah semestinya melindungi rakyatnya.]


“….. DIAM!”


[Vincent, kau adalah pria lemah yang tak bisa memenuhi tanggung jawabmu.]


“SUDAH KUBILANG DIAM—!!!”


Berteriak keras, dengan satu tarikan nafas yang besar, Yulius membentak sembari membantingkan tangannya sampai berdarah ke atas tanah, dengan wajah yang melukiskan tentang kemarahan…


Dan keraguannya.


Hal tersebutlah, yang akan dijadikan celah oleh suara tersebut, untuk dengan mudah menerobos masuk melalui hati Yulius yang terdalam.


[Jadi…]


Kali ini, suaranya terdengar sedikit ber-emosi, dengan perasaan senang yang seakan berhasil menjatuhkan Yulius di dalam telapak tangannya.


Dia bertanya, sebuah pertanyaan sederhana yang bisa dijawab oleh siapapun.


[… Apa kau menginginkan kekuatan?]


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Di sisi lain, dengan pandangan mata basah yang melihat bulan di dekat jendela koridor. Lin sedari tadi telah melamun terdiam sembari menatap langit, namun tatapannya seolah melihat sesuatu yang lebih jauh lagi daripada langit.


Dia dengan cemas menekan kedua tangannya di depan belahan dadanya, menahan semua gejolak emosi yang terus meluap-luap.


Perasaan khawatir yang tulus terus dia panjatkan, kepada seseorang yang menjadi sosok dari target kasih sayangnya.


“Tuan Muda…” ujar Lin, yang terdengar seperti helaan nafas.


Rasa tidak nyaman yang terus menggebu-gebu di hatinya, sama sekali tidak bisa berhenti. Sehingga itu terus membuatnya tetap terbangun di setiap malam.


Kemudian…


Detik berikutnya,—


‘Buk!’


—Lin tiba-tiba terjatuh, sembari menggenggam erat dada kirinya, dia berlutut.


“Aah?! Aaahh!! Uuugh! Apa yang-?!”


Rasa sakit yang mengerikan mendadak berdenyut-denyut di sekitar dadanya, itu sakit, itu terlalu sakit untuk bisa dia terima tanpa merintih kesakitan.


Lin terlihat sangat menderita oleh rasa sakit itu, yang terus menyerang sampai ke titik dimana dia tidak lagi bisa menahannya. Seluruh tubuh Lin basah oleh keringat.


Kemudian, secara perlahan-lahan, dengan nafas yang tidak teratur, pandangan matanya menjadi semakin buram. Itu mulai menutup dengan perasaan lemah yang terus berputar-putar di dadanya.


“Tuan… muda…….”


Hingga akhirnya, bersama dengan suara yang lirih, Lin menutup matanya.