
Berdiri di depan seluruh pasukannya dengan memakai seragam militer berwarna hitam gelap yang terbuat dari sutra laba-laba hitam, Yulius menyeringai lebar.
Seragam itu memiliki ketahanan serangan sihir dan fisik yang tinggi, itu adalah salah satu item dari peninggalan leluhur Yulius yang masih dia simpan untuk dirinya sendiri.
Sedangkan dikedua sisi pinggangnya terdapat sepasang pedang hitam dengan mulut naga terbuka di gagang pedangnya, dan kegelapan yang menyusuri bilahnya.
Itu adalah pedang kebanggan Yulius, yang dia dapatkan dari merampok para bandit.
Tidak hanya memiliki ketajaman yang mengerikan. Pedang itu juga memiliki efek untuk meningkatkan semua statusnya menjadi dua kali lipat, dan juga efek untuk memberikan status buruk kepada siapapun yang dia tebas, yang dapat membuat musuhnya merasakan mati rasa di seluruh tubuhnya.
Meskipun efek tersebut bisa dihilangkan jika lawannya memiliki item yang dapat menahan semua status buruk. Setidaknya Yulius yakin item itu adalah item yang langka, jadi tidak mungkin itu bisa didapatkan dengan mudah.
“Yah, jika ada. Aku menginginkannya.”
Menatap tajam ke arah ribuan musuh-musuh yang ada di depannya, Yulius terlihat sangat senang. Tubuhnya membara dengan semangat perang, dia merasa sudah tidak tahan lagi untuk membunuh mereka semua.
Rasa haus darahnya meningkat saat dia melihat segerombolan musuh yang akan menjadi makanannya untuk naik level.
“Apa kalian siap? Ini adalah perang pertama kita. Jadi kerahkan semua kekuatan kalian! Jangan menahan diri!! Bersenang-senang lah! Aku akan memimpin kalian semua!!” ujar Yulius kepada para pasukannya yang memberikan tatapan buas ke arah musuh-musuh mereka.
Tampaknya yang tidak sabar dengan ini semuanya bukan hanya dirinya sendiri.
Sekali lagi, ini membuatnya senang.
Dia mengangkat satu pedangnya ke atas, dan saat dia mengayunkannya ke depan…
—Dengan seringai yang kejam, dia berteriak keras.
“Bantai mereka semua!!”
“OOOOOOOOOOOOOOOOOUUUUUUHHHHHHHHHHHHHHH!!!!!!!!”
Raungan yang keras menggelegar di seluruh dataran itu, membuat tanah-tanah bergetar hebat saat para pasukan Yulius mulai menerjang ke medan perang dengan dia sebagai yang terdepan.
Api peperangan telah dikobarkan, dan kelompok Yulius menjadi penyerang pertama.
Seringai anak itu semakin lebar dan lebar.
Itu adalah senyuman dari hasrat gilanya yang terus menjerit menginginkan pertumpahan darah yang lebih banyak.
Yulius berlari, dia melaju dengan kecepatan yang mengerikan, meninggalkan para pasukannya di belakang.
Tubuhnya seakan merobek udara ketika dia menerjang ke arah ribuan pasukan musuh tanpa rasa takut sedikitpun, dengan kedua pedang hitam yang berada di kedua tangannya.
Tapi, tentu saja.
Musuhnya juga tidak akan tinggal diam, mereka menyiapkan pasukan pemanah dan mulai melepaskan ratusan anak panah ke arah pasukan garis depan Yulius.
‘Swuushh!! Swuushh! Swuushh!!’
Menungkik dengan ujungnya yang runcing, ratusan anak panah itu menyerbu pasukan Yulius secara bersamaan.
Namun—
“Jangan takut!! Terus berlari!!”
“Oooooouuuuhhhhhh!!!!”
—Hal itu sama sekali tidak menggetarkan semangat Yulius.
Bagaimanapun, ini masih dalam rencana mereka, atau lebih tepatnya rencana yang telah Albert persiapkan.
Pria tua itu lah yang merancang semua strategi perangnya.
Melihat ratusan anak panah itu yang menerjang pasukan garis depan Yulius, para penyihir yang telah bersiap-siap dengan sihir mereka segara mengirimkan tebasan gelombang dahsyat dari kombinasi sihir angin dan api, yang mana membuat ratusan anak panah itu langsung terbakar habis di atas kepala Yulius.
Itu membuat pasukan musuh terkejut.
Akan tetapi, itu sudah terlambat.
Para pasukan Yulius telah berada tepat di depan mereka, dan pertempuran di antara pasukan garis depan akhirnya pecah.
Sebagai awalan, Yulius melompat tinggi ke tengah-tengah para pasukan musuh dan menghancurkan formasi mereka dengan kekuatan momentumnya yang berhasil menenggelamkan puluhan nyawa.
Namun, tidak cukup sampai di sana, Yulius mulai menebas mereka semua yang mencoba untuk mendekatinya tanpa rasa belas kasihan sama sekali.
Darah mulai berserakan, dan potongan daging beserta organ dalam musuh mulai bertumpukan membentuk sebuah gunung besar yang terdiri dari berbagai anggota tubuh manusia.
Di sana, Yulius tertawa sadis saat dia membunuh mereka semua tanpa ampun. Seringai lebarnya memberikannya kesan sebagai seorang iblis perang.
“Ahahahahahahahaha!! Saatnya memanen exp gratis!!” teriaknya dengan keras yang membuat medan perang menjadi pembantaian habis-habisan.
Itu membuat para pasukan musuh terguncang, dan pasukan Yulius dapat dengan mudah membunuh mereka semua, dikarenakan formasi mereka yang sudah hancur berantakan.
“Se-Serang mereka!! Jangan biarkan formasi kita runtuh!! Atur kembali—“
“Kau benar-benar pria yang berisik.”
Tidak membiarkan prajurit musuh itu mendapatkan kembali kendali mereka, Yulius segera memotong siapapun yang dia lihat berteriak untuk mengatur formasi, sehingga membuat pasukan musuh takut untuk bersuara.
Tidak ada satupun dari mereka yang bisa menghentikan momentum Yulius. Cara bertarungnya yang halus dan kejam membuat mereka semua takut untuk mendekatinya.
Tapi, jika mereka diam saja, juga tidak ada gunanya. Jadi mereka mulai mengumpulkan lebih banyak pasukan dan memfokuskannya untuk menyerang Yulius, meskipun itu hanya menambah tumpukan mayat lainnya.
“Ayo, berjuang lebih keras lagi! Beri aku lebih banyak kesenangan!!”
Melakukan apapun yang dia inginkan, Yulius membunuh mereka semua.
Dia membunuh orang-orang yang mulai melarikan diri.
Dia membunuh orang-orang yang memohon ampunan kepadanya.
Dia membunuh semua musuhnya dengan seringai iblis di wajahnya.
Gejolak perang yang hebat membuat pertempuran ini menjadi semakin intens.
Tapi, di sisi lain.
Memperhatikan pasukan garis depan yang berhasil menembus pasukan musuh, Albert tampak begitu senang.
Dia benar-benar tidak salah untuk membuat anak itu maju ke garis depan.
“Baiklah, mari kita lihat apa yang akan musuh lakukan selanjutnya. Apa kah mereka dapat menghentikan badai ini?” gumam Albert dengan senyuman yang sadis sembari memperhatikan gerak-gerik musuh.
Dia tampaknya juga terbawa suasana perang. Tubuhnya seakan terinfeksi oleh semangat peperangan yang telah lama dia lupakan.
“Oh, mereka membuat getaran yang baru. Kurasa sudah saatnya untuk menggerakkan penunggang kuda. Kalian, beritahu komandan Robert untuk segera bergerak sesuai rencana,” pinta Albert dengan tegas, kepada prajurit di sekitarnya yang bertujuan untuk menyampaikan informasi kepada rekannya.
“Baik!!” Prajurit itu segera pergi dan menjalankan apa yang diperintahkan.
Dia berlari kencang menuju pasukan penunggang kuda yang dikomandokan langsung oleh komandan Robert dengan tombak kebanggaannya yang telah lama tidak dia gunakan.
“Begitu, jadi sudah saatnya ya.”
Mendengar pesan dari prajurit itu, Robert mengangguk dan dia mulai menatap tajam ke arah medan perang.
“Kalian semua! Musuh telah membuat getaran baru, mereka mulai mengerahkan pasukan garis belakang mereka! Ini sudah saatnya untuk bagian kita!!” teriak Robert dengan penuh semangat.
Setelah itu, dia mengangkat tombaknya ke depan, dan meraung dengan keras.
“SERANGGGGGGG!!!!!!!!!”
“OOOOOUUUUUUUHHHHHHHHHHH!!!!!”
Para prajurit yang lain mulai mengikuti Robert dari belakang, sembari mengendarai kuda mereka untuk menerjang langsung ke arah pasukan musuh.
Teriakan mereka terus berlanjut begitu kuda mereka melesat kencang, seperti tombak angin yang mengobrak-abrik medan perang.
Seperti itu, mereka mulai menyerang pasukan musuh yang berusaha kabur, dan menggiring mereka kembali masuk ke dalam lingkaran pembantaian Yulius.
Para penunggang kuda berputar-putar mengelilingi pasukan musuh, sembari membunuh mereka yang mencoba untuk melarikan diri.
Berjalannya waktu, lama semakin lama, jumlah pasukan musuh mulai terkikis dan tumpukan mayat bertebaran di mana-mana.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sedangkan di sisi lain, di tempat yang sedikit jauh dari medan perang.
Seorang pria kurus dengan pakaian mewahnya berteriak marah.
“Sial! Sial! Sial! A-Apa yang sebenarnya terjadi?!! Jika begini terus aku bisa kalah!! Apa yang harus kulakukan?!! Tidak ada yang bilang kalau mereka sekuat itu!! Kenapa ini bisa menjadi begini?! Bukankah seharusnya aku yang menang!!”
Memegangi kedua kepalanya dengan wajah yang pucat dan keringat dingin yang bercucuran, Kamuel mulai panik melihat pasukannya yang mulai terpukul mundur.
Di sini, di tempat ini, dia mengumpulkan semua pasukan penunggang kudanya yang dia perlukan untuk melindungi markasnya. Jadi, jika dia ingin mereka bertarung, dia juga harus ikut bertarung.
Tapi, dia takut untuk melakukannya.
Dia pikir itu akan baik-baik saja melihat perbedaan jumlah di antara mereka. Dia pikir, dia bisa menang hanya dengan duduk diam dan bersantai-santai.
Akan tetapi, kenyataannya lebih kejam dari yang dia duga.
“Dasar para sampah itu! Jika saja mereka lebih berguna, pasti ini tidak akan terjadi!! Lagian ada apa dengan kepala keluarga mereka itu?!! Maju langsung ke medan perang dan membantai pasukanku seperti orang gila! Bagaimana bisa dia sekuat itu?! Ini seharusnya tidak mungkin!! Aku tidak ingin kalah!!”
Masih sakit dengan dirinya sendiri, Kamuel mulai memikirkan rencana dengan seluruh tubuhnya yang masih gemetar ketakutan ketika dia berpikir bahwa dirinya akan kalah.
Namun, begitu mendapatkan ide, senyuman lebar terlukis di bibirnya.
“Itu benar, aku harus menyuruh pasukan penyihir untuk menyerang!! Jika aku menyerang mereka dengan sihir ledakan yang kuat! Aku yakin monster itu juga akan mati!!” teriaknya yang merunjuk kata monster kepada Yulius.
Dia segera bertindak, menyuruh prajuritnya untuk memberi perintah para penyihirnya mengirim sihir ledakan ke tengah-tengah medan perang.
“Tunggu! Tuan Kamuel! Jika kita melakukan itu, pasukan kita juga akan terkena dampaknya, dan mereka akan semakin kacau!!” Protes dengan perintah Kamuel, prajurit itu menolaknya.
Namun, itu membuat Kamuel semakin marah.
“Apa kau ingin melawanku?!! Aku tidak peduli dengan itu!! Selama monster itu mati!! Pengorbanan mereka adalah hal yang kecil!! Cepat lakukan saja!!” Dia mendesak prajurit itu lebih keras dan mengancamnya untuk segera bergerak.
Tidak bisa melawan. Prajurit itu menggigit bibirnya dengan ekspresi yang pahit, dan dia dengan enggan menerima perintah tersebut.
“Baik, akan segera saya la—“
“Permisi, Tuan Kamuel! Ada kabar buruk di antara pasukan kita!!”
Namun, sebelum prajurit itu menyelesaikan kalimatnya, seorang prajurit lain menyela masuk ke dalam percakapan, dan berlutut di depan Kamuel.
Itu membuat pria tersebut mengernyit dengan jengkel, tetapi sebelum dia berhasil meledakkan emosinya kepada prajurit itu. Telinganya dibuat terbakar oleh informasi yang diberikan oleh prajurit tersebut.
“Lapor, Tuan Kamuel! Semua pasukan penyihir kita telah musnah!!”
“Huh?”
Membuat ekspresi yang tercengang, wajahnya membeku dalam keputusasaan.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Di tempat lain, 500 penyihir yang berdiri di bawah perintah Kamuel. Semuanya terbantai habis hanya dibuat oleh seorang gadis kecil yang menggemaskan.
Rambut putih cantik gadis itu berkibar di sudut medan perang, dan mata violetnya yang indah berkilau kejam saat dia membantai ratusan nyawa manusia tanpa rasa belas kasihan sedikitpun.
Dia tidak lain adalah Emi, seorang Elf cantik yang membunuh semua penyihir itu menggunakan sihir angin yang dapat menebas lawannya tanpa ampun menjadi beberapa potongan daging.
“Umm… Guru bilang untuk menjadikan tubuh mereka semua menjadi pasukan undead. Setelah itu, pergi dari tempat ini sebelum ketahuan…”
Menaruh jari telunjuknya di depan pipinya dengan imut, Emi tersenyum lebar saat dia menyatakan hal itu dengan tatapan mata yang polos.
Setelah itu, dia mulai merubah seluruh mayat-mayat yang berada di sana menjadi pasukan zombie yang berjalan mengikuti perintahnya.
Satu per satu, begitu lingkaran pentagram bersinar terang mengelilingi mayat-mayat tersebut dengan warna yang gelap.
Mereka yang mati tiba-tiba bangkit kembali, dan berubah menjadi mayat hidup dengan jiwa yang kosong.
“Baiklah semuanya, ayo ikuti Emi~!” teriak gadis itu dengan suara yang lucu.
Sembari membawa ratusan pasukan undead di belakangnya.